
Pagi itu cahaya mentari menembus perlahan gorden putih kamar itu. Asap putih berhembus melayang menuju langit-langit dapur. Bau masakan itu sangat lezat. Wanita itu lihai memotong satu demi satu dari bagian daging itu. Ia mencicipinya lalu tersenyum pada masakan yang baru saja ia selesaikan.
"akhirnya, semoga mamanya tuan wili suka dengan masakanku."
Sehabis sholat subuh, Sasa sudah bergegas untuk menyiapkan masakan yang akan dibawa ke rumah sakit. Ia begitu bersemangat untuk bertemu ibu mertuanya. Sasa berharap aroma makanan ini akan menarik perhatian wanita tua itu, dan ia bisa bangun dari komanya.
Wili sejak tadi masih pulas tidur, ia begitu lelah karna tepat pukul 2 malam panggilan dari anak buahnya di London membuat dia kembali menghidupkan layar komputernya. Ada banyak masalah yang sedang menggerogoti anak perusahaan di sana. Wili baru saja bisa kembali tidur saat azan subuh berkumandang membangunkan umat di kota ini.
Sasa dengan telaten memasukan potongan demi potongan rendang kedalam box makanan. Lalu itu menata meja makan dengan sarapan yang akan disantap oleh tuan rumah. Sasa bergegas menuju kamar Wili untuk membangunkan lelaki itu. ini sudah jam 8 pagi, sesuai permintaan Wili, ia minta dibangunkan jam segitu.
" Tuan, bangun! ini sudah jam 8"
namun wili tidak bergeming.
"Tuuuannn, lihatlah! ayam saja sudah sibuk"
"ckekk, susah sekali bangunnya"
Sasa mencoba berfikir cara apa yang bisa ia lakukan untuk membuat lelaki di depannya ini bangun.
__ADS_1
sasa memutar otaknya, ia menarik selimut yang menutupi Wili, ia pikir mungkin saja lelaki ini akan bangun jika selimut yang menutupi tubuhnya berhasil tersingkir. Namun sasa salah, Ia malah menemukan hal yang berhasil membuatnya berteriak.
"HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA,"
Tubuh wili ternyata hanya menggunakan celana pendek dan itu membuat perut kotak-kotanya terekspos begitu saja. Teriakan sasa tentu membuat wili kaget dan langsung terbangun.
" ahhhh, kenapa kamu berteriak seperti di hutan hah? ini masih pagi"
Namun saya tidak bergeming sambil menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya.
"kenapa hah? "
"aku kira terjadi sesuatu yang besar sehingga kau dengan mudah berteriak seperti monyet di hutan, ternyata hanya karna hal ini saja? aku benar-benar tidak habis pikir dengan dirimu Sasa"
Sasa tetap terpaku diam di hadapan wili. Wili beranjak dari kasurnya dan berjalan ke arah kamar mandi.
"ohh yaa, cepat siap-siap, jangan sampai kau lama yaa!? Wili melenggang memasuki ruangan penuh air itu.
Sasa mengintip dari balik jemarinya. Ia memastikan jika wili sudah menghilang dari hadapannya.
__ADS_1
"Huffff, bikin serangan jantung"
sasa mengelus dadanya. Jantungnya bisa-bisa benar-benar tanggal dari tempatnya jika situasi seperti ini sering terjadi.
Sasa beranjak mengganti pakaiannya. Jika ia belum siap saat wili selesai mandi, itu bisa menjadi masalah besar. Pasalnya iblis itu sudah memperigantinya.
____________________________________________________________________________________
"kau harus paham betul bagaimana penghianatan itu benar-benar ada, agar kau tahu rasanya sakit seperti ini"
Wanita itu menunjuk-nunjuk dadanya. Ia merasa sesak jika harus membahas masalah ini.
"aku tahuu, tapi dia tidak sepenuhnya salah. Kaulah yang pergi meninggalkannya, itu bukan salahnya"
Gadis di depannya meluapkan kekesalannya. Sejak kedatangannya ke kota ini, wanita itu sudah membicarakan tentang upaya balas dendam yang gadis itu sendiri tidak pernah tahu persoalannya. Ia yakin, ini hanya tentang penyesalan yang wanita itu miliki.
" kau itu hanya kesal dengan dirimu sendiri, dengan kebodohanmu!!!"
Wanita itu murka, ia melempar semua hiasan di atas meja. Semua nya jatuh, pecah.
__ADS_1
" Get out right now MIlisa, get out"