Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Kacau


__ADS_3

"Apakah kau tidak tahu siapa yang sedang bersama pak William itu sa?" Adnin bertanya dengan penuh antusias.


"Tentu saja, dia itu kekasihnya rekan kerja mas Wiliam, memangnya kenapa Nin?" Adnin menepuk jidatnya.


"Dia itu mantan kekasih pak William sa, mereka dulu hampir menikah, tapi gagal karena Nona rose itu ketahuan berselingkuh" Adnin menjelaskan dengan wajah yang sulit di gambarkan. Sedangkan Sasa berusaha mencerna apa yang barusan Adnin sampaikan.


"Tapi mereka seperti tidak saling mengenal" Sasa bergumam pelan.


"Dan menurut gosip anak kantor, pak William jadi sedingin kulkas karena patah hati" Adnin menggigit kukunya. Ia juga tidak Percaya dengan apa yang terjadi.


"Jadi...."


"kamu dibohongi sa, masa sih kamu tidak tahu?" Adnin merubah posisi berdirinya.


"Sekarang kamu harus memastikan jika pak William tidak dekat-dekat dengan wanita gatel itu, nanti bisa-bisa pak Wili gagal move on" Perkataan Adnin itu membuat Sasa mendadak menjadi takut.


Beberapa hari ini media sosial selalu dihebohkan dengan berita perselingkuhan. Walaupun tidak saling mencintai, tapi Sasa tidak ingin jika William menyelingkuhinya.


"iyaaa, kamu benar Nin, aku harus menjadi mas Wili"

__ADS_1


Sasa bergegas berjalan menuju pesta kembali, sedangkan Adnin yang hendak menyusul Sasa tiba-tiba mendapatkan telfon. Ia mengurungkan niatnya.


Saat Sasa sampai di pesta, ia tidak menemukan keberadaan William. Sasa berjalan menelusuri kerumunan orang. Ia bahkan berjalan menuju tepian kolam berenang. Di situ memang banyak tamu undangan yang menikmati pesta. Ada yang duduk dan ada yang berdansa.


Sasa sedikit kewalahan berjalan menggunakan sepatu high heels nya. Apalagi kawasan pinggir kolam sangat licin. Saat Sasa hendak menuju kearah meja, ia malah tersandung sebuah kaki dan itu berhasil membuat Sasa terjatuh ke dalam kolam.


"Aaaaa, tolonggg" Sasa tidak pernah bisa berenang, apalagi sekarang ia masih menggunakan sepatu hak yang akan mempersulitnya untuk menyeimbangkan diri di air.


Sasa berteriak dan tubuhnya hilang timbul di permukaan air. Semua tamu mengalihkan perhatiannya ke arah Sasa. Namun tidak ada satupun yang berani menolong Sasa. Wanita itu mulai merasa lemah dan semakin sulit untuk menarik oksigen.


Ketika tubuhnya sudah mulai kehilangan kesadaran, seorang pria langsung meloncat dan membawa tubuh sasa menepi. Asisten Joy dengan sigap memberikan nafas buatan untuk Sasa. Tadi sebenarnya Joy ingin mengawali keberadaan Rose, namun saat Bru saja keluar dari lift ia langsung mendengar keributan dari arah kolam renang. Tanpa pikir panjang, Joy melompat dan berusaha menyelamatkan Sasa.


Sedangkan William yang menyaksikan adegan nafas buatan itu langsung menarik lengan Sasa. Ia tidak peduli dengan kondisi tubuh sasa saat ini. Joy tidak berani untuk menghentikan William.


Di tengah pesta William menyeret paksa tubuh lemah Sasa. Gadis itu mengaduh dan meminta William untuk menghentikan tindakannya.


Sasa hanya bisa menangis, ia bahkan belum sepenuhnya bernafas normal. William menarik Sasa menunjuk kamar, menghempaskan tubuh itu kelantai.


"apa maksudmu hah?" William mencengkram wajah Sasa. Wanita itu hanya bisa menangis.

__ADS_1


"Jawab!" Suara William meninggi. Pria itu memang dalam kondisi tidak terkontrol, ia masih emosi dengan pertemuannya bersama Rose, Ditambah melihat Sasa yang berhasil membuatnya malu di tengah pestanya sendiri.


"apakah kau ingin menghancurkan acaraku? Jadi kau menjatuhkan dirimu di kolam dan berharap ada banyak pria yang akan menolongmu?" Kata-kata William menusuk perasaan Sasa. Wanita itu menangis sejadi-jadinya.


"Apakah jika aku menjelaskannya, kau akan mendengarku?" Suara wanita itu terdengar bergetar.


"Tidak kan? Kau hanya bisa memarahiku tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, jika bukan karena Asisten Joy yang menyelamatkanku, aku mungkin sudah mati" Sasa tidak kuat untuk menjelaskan semuanya kepada William.


"Memangnya kau akan menyelamatkanku? Buktinya kau tidak menyelamatkanku" perkataan gadis itu membuat William melepaskan cengkeramannya dari wajah Sasa. Wanita itu langsung memeluk kedua kalinya. Menenggelamkan wajahnya. Tangisan Wanita itu bahkan terdengar begitu menyedihkan.


William memukul kepalanya, ia kemudian berjalan menuju pintu dan menghempaskan dengan kuat. Asisten Joy yang baru sampai di depan pintu kamar Sasa langsung berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Namun William mengisyaratkan agar ia tidak usah mengganggunya.


William berjalan menelusuri koridor hotel. Sedangkan Joy yang mendengar suara tangisan Sasa langsung masuk ke kamar itu.


"Nona.... apakah anda tidak apa-apa?" Sasa menegakan pandangnya.


"Tuan William tidak bermaksud seperti itu nona, saya sudah memanggil dokter dan para pelayan yang akan membantu anda" Sasa tidak habis pikir dengan apa yang Joy Katakan. Masih juga ia bela William. Pria itu bahkan sudah melukai perasaan Sasa.


"Saya ada urusan nona, bukannya saya tidak ingin membantu anda, tapi..."

__ADS_1


"Pergilah Joy, aku ingin sendiri" Sasa lebih dulu memotong perkataan Joy. Pria itu mengerti dengan kondisi Sasa saat ini. Joy harus menyusul William, pria itu bisa menjadi nekat dalam kondisi seperti ini.


__ADS_2