
Semenjak kejadian berdarah itu, William dirawat intensif di rumah sakit. Asisten Joy bahkan harus turun tangan untuk mengurus semua urusan perusahaan. Lalu bagaimana dengan Rico dan Rose?
Wanita itu sampai kini berhasil kabur. Sedangkan Rico menyerahkan dirinya ke kantor polisi, ia merasa bersalah karena sudah gelap mata menyimpan dendam kepada keluarga Raksana.
Surat akusisi saham itu ternyata percuma saja, semua kepemilikan saham masih atas nama Angel, mendapatkan tanda tangan William tidak akan berubah apapun. Itulah kenapa William mempermainkan mereka dengan begitu mudah memberikan tanda tangannya. William percaya Sasa baik-baik saja hari itu, ada banyak penjaga di rumahnya yang tidak mungkin membiarkan tangan jahat seperti Rose menyentuh nona muda mereka.
Ini sudah hampir 8 bulan William tidak sadarkan diri. Ada kerusakan otak yang membuat pria itu kehilangan kesadarannya. Koma.
Sedangkan Sasa. Wanita itu hamil anak William. Kehamilan itu baru ia ketahui saat usia kandungannya 3 bulan. Sangat terlambat. Tapi Sasa tidak perlu merasa malu ataupun takut. Warga desa sudah tahu jika Sasa memiliki seorang suami, dan anaknya bukanlah anak di luar pernikahan.
Apalagi jika Dewi selalu ada untuk membantunya, Sasa tidak terlalu merasa sedih dengan kondisinya yang tengah hamil dan jauh dari suami. Apa yang SAS harapkan? Bukannya sampai detik ini William tidak mencarinya? Asisten Joy juga tidak pernah memberikan kabar apa-apa. Yang harus Sasa lakukan adalah membesarkan anak dan menjadi ibu yang luar biasa untuknya.
__ADS_1
"Lucu sekali keponakan onty..."
Dewi begitu telaten mengendong keponakan semata wayangnya. Bayi perempuan yang diberi nama Alicia Raksana. Bagaimanapun itu, William tetaplah ayah yang sah untuk Alicia. Pantas baginya untuk mendapatkan nama belakang keluarga Raksana, menggambarkan asal-usul dirinya.
"Cantik sekali, aku tidak bisa berhenti menciumi pipinya yang besar ini.....Muach"
Dewi terlihat gemas. Bayi itu belum genap berusia satu bulan, tapi tubuhnya sudah sangat besar. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa gemas dan tidak tahan untuk menciumi pipinya itu.
Dewi mengembalikan Alicia ke pelukan ibunya. Anak itu sudah sangat lapar, ia butuh secepatnya mengisi tenaga.
"Mbak mau ngurus kerjaan dulu yaa.."
__ADS_1
Sasa mengangguk pelan. Semenjak pindah ke desa, Dewi alias Milisa masih sibuk mengurus pekerjaannya, wanita itu mengalihkan semua bisnisnya ke online. Diluar prediksinya, brand yang ia bangun beberapa tahun yang lalu sekarang berhasil menjadi salah satu brand top dunia.
Beberapa kali saat masa kehamilan Dewi sudah sangat sering menyuruh Sasa untuk ikut pindah dengannya ke London. Tapi Sasa menolak, baginya Landon hanyalah sebuah kota yang sudah memberikan luka mendalam untuknya.
"Anak mama, kamu dan mama akan hidup bahagia. Kamu tida perlu takut ya nak, mama akan selalu ada untuk kamu sayang. Mama janji tidak akan meninggal Alicia sendirian. Kamu akan jadi anak yang luar biasa kuat dan cerdas seperti Papamu. Semoga tuhan memberikan takdir yang baik untuk mu ya sayang...."
Air mata Sasa jatuh. Luruh bersama rasa rindunya yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Semenjak hamil Alicia, banyak hal yang ia rindu dari suaminya itu. Mulai dari aroma tubuh William, masakan pria itu, hingga suara bentakan William yang membuat ia selalu saja mengidam saat hamil. Tapi tentu saja itu tidak pernah terwujud.
Malam itu hujan turun sangat lebat. Bukan hanya kaca kamar Sasa yang menjadi dingin, tapi juga kaya rumah sakit tempat William berbaring. Pria itu menggerakkan jemarinya. Mesin kontrol di dekat William terus saja berbunyi, itu berarti pasien sedang dalam kondisi yang tidak stabil.
(Titttttttt....)
__ADS_1