Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Bohong


__ADS_3

Sasa beberapa menit yang lalu sudah sampai di depan pintu kamar hotel. William tidak ada di sana. Sasa hanya dititipi pesan untuk segera membersihkan diri. Namun setelah itu, 3 orang wanita sudah berada di dalam kamarnya. Mereka mengaku sebagai tata busana dan rias. William lah yang mengirim mereka untuk membantu Sasa.


"Nona, kami memiliki beberapa gaun yang dapat anda coba" Salah satu wanita itu menyusun beberapa gaun di atas kasur. Ada yang berwarna hitam ada pula yang berwarna marun.


"Terserah saja, aku tidak tahu yang mana yang bagus"


Para wanita itu serentak menunjuk ke arah gaun marun. Tinggi gaun itu di bawah lutut Sasa, apalagi ditaburi berlian di sisi dadanya. Itu akan menambah keanggunan Sasa.


"Oke, lalu apa yang harus aku lakukan?" Sasa tampak kebingungan.


"Mari nona, saya akan merias wajah anda, dan yang lainnya akan membantu anda dengan rambut dan jari-jari anda" Salah satu wanita itu mengarahkan Sasa ke meja rias kamar.


Sasa menurutinya. Mereka terlihat telaten mengerjakan tugas mereka.

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain hotel, William sudah sibuk mempersiapkan acara malam ini. Asisten Joy juga berada di sana, ia sedang berbicara dengan manajer hotel.


"Kau atur keamanan hotel ini" Perintah William ke pada Joy. Pria 28 tahun itu dengan sigap langsung menemui manajer hotel dan meminta agar akses cctv bisa diambil alih oleh anak buah William.


"Aku akan kembali ke kamar" William berbisik ke arah Joy dan ia segera bergegas meninggalkan ruangan pertemuan.


Saat sampai di kamar, para ahli tata rias itu sudah meninggalkan ruangan. Mereka berpapasan dengan William dan sedikit membungkukkan tubuh mereka. Itu pertanda jika urusan dan tugasnya sudah terlaksana dengan benar.


William mengalihkan pandangannya ke arah Sasa. Wanita itu terlihat anggun dengan riasan di wajahnya. William terpana.


Namun William tetap terdiam. Pria itu masih terhipnotis dengan paras Sasa malam ini.


"Masss..." Panggilan itu akhirnya berhasil membuat William tersadar. Pria itu lekas berjalan mendekati Sasa. Tangannya begitu dekat dengan kulit Sasa. Apalagi aroma harum gadis itu membuat William salah tingkah.

__ADS_1


"Terimakasih" Sasa kembali sibuk dengan sepatu haknya yang mulai terasa tidak nyaman.


"Bagaimana gaunku mas? Apakah ini tidak akan membuatmu malu?" Tanya Sasa.


"Biasa saja" William berbohong. Ia hanya menutupi perasaannya saat ini.


Sasa yang mendengar itu hanya menekuk wajahnya. Tidak ada pujian. Berharap kepada pria seperti William hanya akan membuang tenaga saja.


"Aku akan bersiap-siap, kita akan keluar bersama" William berjalan menuju kamar mandi. Sejak tadi ia terlalu sibuk mengurus acara, sampai ia lupa jika dirinya bahkan belum bersiap-siap.


 


"Darling....are you ready?" Pria berjas hitam itu berdiri diambang pintu. Menunggu kekasihnya yang tengah memperbaiki riasan.

__ADS_1


"You look so beautiful to night babe!" Wanita itu menyunggingkan senyum saat mendengar pujian dari pria di depannya.


"Aku benar-benar siap untuk membuat dia kembali hancur" Wanita itu mengandeng tangan pria di depannya. Berjalan dengan anggun menuju pintu kamar hotel. Gaun hitam di atas lutut itu tampak menyatu dengan kulit pucat nya.


__ADS_2