Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Apa ciri-ciri jatuh cinta?


__ADS_3

Wajah mereka berjarak sangat dekat. Bahkan Sasa bisa merasakan tarikan nafas Willi. Mereka terdiam. Tidak bergerak. Seakan dua anak manusia itu begitu nyaman dengan posisi mereka saat ini.


30 detik.....


60 detik.....


2 menit......


"kringgg......."


Suara telfon masuk membuat mereka akhirnya tersadar dan buru-buru menjauh. William terlihat salah tingkah. Dia bergegas keluar dari kamar dan meninggalkan Sasa sendiri.


"ahhhh, apa ini" Sasa menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak sangat kencang.


 


Di area resto hotel William uring-uringan. Pikiran tentang Sasa terus saja merasuki otaknya. Sudah 4 gelas kopi yang ia teguk dan pikiran tentang Sasa tidak berhasil hilang dari otaknya. Ini sudah hampir subuh. Kembali ke kamar hotel hanya akan membuatnya semakin parah. Apalagi melihat wajah mungil istrinya. Dia bisa-bisa hilang kendali.


"Sumpah, kau menelfon ku dan memintaku datang kesini hanya untuk menemanimu seperti ini? " Jero yang baru saja datang merasa sangat kesal. Pasalnya William menelponnya pukul 3 pagi dan memintanya untuk segera berangkat ke hotel. Jero pikir ada sesuatu hal yang genting terjadi kepada William.


"Sudah, duduk saja" William menuangkan kopi ke gelas. Ia menyodorkan kopi itu kepada Jero.


"Apanya hah? Subuh-subuh seperti ini, ahhh sudah lahh, kau selalu saja mengganggu ku?" Jero meneguk kopinya.

__ADS_1


"menurut mu, bagaimana tanda-tanda orang jatuh cinta?" William melempar pertanyaan.


"Yaaa, kau tidak bisa berhenti memikirkannya, selalu ada dia di otakmu" Jelas Jero.


"Apaa? kau jatuh cinta yaa? dengan siapa?" Jero memang belum melihat berita di televisi. Tadi malam ia sibuk menangisi mantan pacarnya.


"aah bukan aku" William tersenyum.


kring...


notifikasi berita masuk ke smartphone milik Jero.


"Tuan muda William diam-diam dikabarkan menikah"


"Siap-siap patah hati, William resmi menikahi seorang wanita"


Begitulah tagar berita yang berderet masuk kedalam hp Jero. Pria itu melirik ke arah William, lalu kembali melirik hpnya. Ia memastikan jika berita ini benar atau hanya sebuah hoax.


"Kau sudah menikah? sialannn" Jero melempar hpnya ke arah William.


"Yaa, terus?" William tampak biasa saja.


"teganya kau kepada ku Wili? aku ini sahabat karib mu, kau menyembunyikan jika kau sudah tidak bujangan lagi?" Jero dengan wajah dramatisnya membuat William menepuk jidat.

__ADS_1


"Dann kau menikahi.... tunggu ini bukannya karyawan di kantor mu? dan wanita di club itu kan?" Tanya Jero penasaran.


"menurut mu?" William meneguk kopinya lagi.


"sialan kau Wili, aku baru saja akan mendekatinya" Jero kembali meneguk kopinya.


"ngomong-ngomong, apa kau menyukainya?" Tanya Jero.


"awalnya tidak, tidak tahu sekarang bagaimana, mungkin iya" William tersenyum.


"ahhhh, syukur lah. Setidaknya kau bisa menepis berita kalau kau ini gay" Jero tertawa.


William yang tidak terima langsung melempar bungkus rokok ke pada Jero.


"apalagi kalau kau bisa memiliki anak, aah aku tidak sabar akan menjadi rich uncle untuk anak-anak mu"


William terdiam. Dia tidak akan bisa memiliki anak bersama Sasa. Itu mustahil akan terjadi. Pernikahan ini sebentar lagi juga akan berakhir.


"Ohh yaa, bagaimana proyek di London, apa kau akan mengajak istrimu? Jero bertanya.


"Aku harap kau bisa mengajaknya, nanti istrimu malah di goda pria lain hahahhaha" perkataan Jero berhasil membuat William naik pitam.


"kauuu ini, pergi kau!!" William mengusirnya.

__ADS_1


"ahh, begitu saja marah, iyaa iya aku akan pergi" Jero pergi dengan perasa puas.


__ADS_2