
"Aku harap kau bisa mengajaknya, nanti istrimu malah di goda pria lain hahahhaha" perkataan Jero berhasil membuat William naik pitam.
"kauuu ini, pergi kau!!" William mengusirnya.
"ahh, begitu saja marah, iyaa iya aku akan pergi" Jero pergi dengan perasa puas.
Setelah kepergian Jero barusan, William terus saja memikirkan apa yang di katanya sahabatnya tadi.
"Yaaa, kau tidak bisa berhenti memikirkannya, selalu ada dia di otakmu"
William memahami perkataan Jero. Apa dia jatuh cinta kepada sasa? tapi bagaimana mungkin? sasa itu bukan seleranya. William memukul-mukul kepalanya, berharap pikiran itu hilang segera.
"Aku harap kau bisa mengajaknya, nanti istrimu malah di goda pria lain hahahhaha"
DIGODA PRIA LAIN....
DIGODA PRIA LAINNN...
LAINN.....
Aaaaahh...
William segera berjalan menuju kamar hotel. Dia tidak bisa membiarkan Sasa sendirian di negara ini.
__ADS_1
Sasa sejak kejadian tadi emang tidak bisa tidur. William berjalan masuk, Sasa menoleh dan merasa gugup.
"Apakah kau punya paspor?" William bertanya.
Sasa belum pernah berpergian keluar negeri sebelumnya. Menjelajahi benua lain itu adalah sebuah mimpi besar bagi Sasa, hanya mimpi.
Sasa menggeleng pelan. William mengerti.
"kau akan ikut aku ke London" Sasa terbelalak. Apakah ini benar? Dia akan ke London. LONDON.
"apakah tuan serius?" Tanya Sasa memastikan.
"Iyaa, tuan Zaid akan berkunjung ke sana, dia ingin kau ikut bersama ku" Jelas William.
Sebenarnya itu hanya akal-akalan William saja. Tuan Zaid tidak pernah meminta hal itu. Dia juga belum memastikan akan datang atau tidak. William hanya takut dengan apa yang dibicarakan oleh Jero.
"Terimakasih tuan" Sasa tersenyum. William hanya mengangguk dan berakting tegas untuk menyembunyikan gejolak dalam dirinya.
"Ooo iyaa, nanti pergilah dengan Joy, urus paspor mu. Aku tidak bisa ikut, ada rapat di kantor." Tutur William.
Sasa paham dan hanya mengangguk pelan. Mendengar berita ia akan ikut saja itu sangat luar biasa. Ia merasa tidak sabar untuk mengurus semuanya.
"Satu lagi, selama di London, mari kita seperti suami istri sungguhan, aku tidak ingin tuan Zaid berpikir hal-hal aneh."
__ADS_1
Sasa tidak mengerti. Seperti suami istri sungguhan? Memangnya sekarang mereka tidak seperti suami istri sungguhan?
"Maksudnya tuan? Saya kurang paham" tutur Sasa.
William menarik napasnya.
"Jadii, bisa berhenti memanggilku tuan, gantinya saja seperti mas, atau apalah. Bukannya dari awal kau juga memanggilku seperti itu?"
Sasa terdiam. Dulu William pernah marah jika ia memanggilnya dengan sebutan tuan. Tapi sangat sulit rasanya untuk mengganti panggilan itu. Apalagi William yang selalu marah-marah, itu membuatnya takut.
"Apa sekarang kau mengerti?" Tanya William.
"Tuan, saya hanya mengingatkan saja, berarti jika kontrak kita selesai.....saya bisa segera bertemu dengan kakak saya kan tuan?" William menolak ke arah Sasa.
"Kita lihat saja nanti, kau tidak perlu pusingkan hal itu". Ketus William.
Untuk sekarang William tidak pernah berfikir untuk mengakhiri semuanya. Sedikit perih jika harus mengingat perjanjian sialan itu.
"Bisa-bisanya wanita itu ingat". Batin William.
Hai hai hai.....
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan share cerita ini ke rekan-rekan kalian yaaaa....
Ada reward untuk penggemar yang beruntung dan aktif mendukung cerita ini.