Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Rendi


__ADS_3

"Semua hancur begitu saja, aku seperti kehilangan jati diriku." Wanita itu menatap kaca besar di depannya.


"Ini bukan aku! bukan!!" Dia melempar semua make up yang tertata di meja rias. Jatuh. Semua hancur saat menghempas lantai.


"Aku akan membalas apa yang telah kau lakukan kepadaku tuan muda, kau merenggut segalanya dariku, menghancurkan hidupku, dan sekarang kau sedang bersenang-senang ? Sialan kau!!! aaaaaaaaaa!"


Wanita itu menjambak rambutnya, menertawakan hidupnya yang saat ini makin menderita.


 (William)


Mobil klasik Wiliam menembus jalan ibu kota yang sudah mulai sepi. Ini sudah pukul 2 dini hari, orang-orang tentu sudah merekatkan tubuh mereka setelah seharian berkutat dengan kesibukan kota. Wili menatap jalan di depannya, bayangan kecelakaan itu setiap hari makin meninggalkan bekas di ingatannya. Hidupnya berubah 180 derajat, hampir semua yang harus ia tinggalkan. Kehilangan orang yang dicintai, dikhianati, kurang menderita apalagi dia.


kring.. kring...


"Kau dimana hah?" Jelas di sebrang sana adalah Rendi, pria yang mengajaknya untuk bertemu beberapa jam yang lalu. Pria yang telah merebut kekasihnya.


"Sebentar lagi" Wili mematikan sambungan telfon.


Sudah 3 kali ia mengelilingi jalan yang sama. Gundah rasanya harus bertemu kembali dengan Rendi, setelah apa yang terjadi. Luka di hatinya bahkan belum sembuh.

__ADS_1


Mobil itu berhenti di depan club malam terkemuka di kota ini. Banyak para anak muda yang menghabiskan malamnya dengan menghibur diri di sini.


"Heiii bro, apa kabar." Rendi langsung merangkul pundak Wili.


"I'm sorry ok? Lo tahu lah, kalau bukan gara-gara gua Lo pasti gak bakal tahu kayak apa wanita yang Lo suka itu!" Rendi tersenyum bangga.


"Mau apa Lo?" Wili ketus.


"Santai bro, santai. mau minum apa Lo? "


Rendi melambai, isyarat kepada barista untuk menghidangkan segelas alkohol.


"Hah? sejak kapan kawan gua ini gak suka minum? gila Lo yaaa hahahahah."


Rendi menepuk pundak Wili, sampul tertawa tak menyangka.


"Ayooolah, anggap ini permintaan maaf gua ke Lo


perayaan dua sabahat yang sudah lama tidak bertemu."

__ADS_1


"Gua bilang gua gak minum, Lo paham gak hah? perlu gua ulangi? !!"


Wili mulai tak bisa mengontrol emosinya. Rendi yang menyadari akan kondisi Wili pun mulai sedikit merasa tak enakan.


"Ok, sorry!"


 Sedangkan Sasa mulai merasa khawatir karena William tidak memberikan kabar kepadanya. Walaupun ini sudah sering terjadi, tapi Sasa tetap merasa takut.


"Dia pergi kemana yaa? ini sudah mau subuh."


Sasa sejak tadi tidak bisa tidur. Semenjak mendengar perkataan Wili di ruang tamu tadi, bulu kuduknya tidak mau berhenti berdiri. Apalagi melihat kondisi Wili yang sedikit berantakan dan kalut, membuat Sasa agak khawatir kepadanya.


"Jangan jangan.... dia dibegal lagi. mana mungkin yaa kan? malah bengalnya yang dia begal."


Sasa tertawa ketika mengingat kejadian saat Wili berhadapan dengan preman waktu itu. Preman itu sampai kocar kacir dibuatnya.


"Aaah, sudahlah. Untuk apa aku mengkhawatirkan dia. Dia itu sudah besar, yang aku perlu khawatirkan itu adalah kondisiku sendiri setelah ini. yaaaaa kondisiku."


Sasa menarik guling dan langsung menutupi wajahnya dengan guling. Malu rasanya memikirkan apa yang akan terjadi jika iblis itu meminta hak nya.

__ADS_1


Sasa memejamkan matanya. Meninggalkan kesibukan ibu kota yang sampai jam segini masih terdengar jelas.


__ADS_2