
Setelah berhadapan dengan drama yang dilakukan oleh Jero, Wili duduk memandang layar komputernya dengan raut wajah yang terlihat semu. Layar persegi itu memperlihatkan sosok seorang wanita yang sampai saat ini masih meninggalkan bekas di hatinya. Bekas luka dan bersanding dnegan serpihan memori manis yang tak pernah memudar. Wili memijit kepalanya. Dia meraih smartphone yang berada di atas meja kerja. Dia mengetik pesan singkat yang baru saja ia kirim ke seseorang yang namanya ia samarkan di kontak hpnya.
(i think she will go back to your country, and you must prepare about that, she is different women, William!)
Itulah balasan pesan yang ia dapatkan. Wiliam tersenyum, sudah lama ia tidak merasakan sensari pertarungan seperti ini. Ia tidak paham betul tentang itu, apakah ini adalah ancaman atau mungkin ini adalah sbeuah rahmat?
Setelah membaca teks itu, Wili berjalan meninggalkan ruanganya.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Sa? kamu tahu gak sih, aku bakal ikut projek pengembangan perusahaan ke London". Anin sangat antusias saat memberi tahu Sasa jika minggu depan ia akan berangkat bersama pak Doni dan beberapa rekannya ke London.
" Wow, keren banget. Saya pengen banget tahu mbak ke London, kota impian saya" Sasa mendekat menuju Anin dengan gestur yang antusias.
"Beneran? kayaknya Pak Wili ikut deh Sa" Anin tersenyum kepada sasa sekaan memberikan harapan.
"trus? hubungannya mbak?"
__ADS_1
"yaaaa kan kamu ini asisten pribadinya pak Rico nih , trus kayaknya pak Rico itu akan di gantikan sama pak Wili, Karna kalau urusan luar negeri ini, devisi pak Rico itu gak akan di wakilkan sama pak Rico, aku gak tahu juag sih kenapa. Jadinya kamu harus mewakili devisi pak Rico sebagai sekretarisnya, lagian kan sekretaris pribadi pak wili tadi pagi harus terbang menuju miland "
Sasa terdiam. Apa benar dia akan bisa pergi ke London. Kota impiannya sejak kecil. Mata Sasa berbinar dan tak sanggup membayangkan jika hal itu akan benar-benar terjadi kepadanya.
"Mana mungkin sih mbak, aku aja gak bisa bahasa Inggris, gimana mau ngomong sama orang London mbak"
Anin tertawa sambil menepuk bahu Sasa beberapa kali.
"Kamu ini lucu banget sih, aku juga gak hebat-hebat banget tahu kalo inggris mah"
"Beneran mbak?"
Merekapun tertawa dengan renyah.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah menghabiskan hari yang cukup lelah, Sasa kembali menaiki lift menuju apartment Wili. Perkataan Anin di kantor tadi tiba-tiba membuat Sasa merasa penasaran. Apakah dia akan benar-benar diajak ke London? hahhhhh
__ADS_1
membayangkannya saja membuat Sasa seperti terbang ke angkasa. Itu adalah tempat yang paling ia ingin kunjungi sebelum meninggalkan dunia.
Sasa membuka pintu ruangan itu perlahan. Namun belum sempat ia menempelkan Security Card pintu terbuka dari dalam. Itu berarti akan ada seseorang yang akan keluar dari pintu rumah itu. Sasa menarik Card dan mulai menatap perlahan kepada sosok yang berdiri tepat di depannya.
"Kemana saja sampai lupa pulang? kau itu masih ada aku yang perlu kau urus"
Wili berdiri dengan wajah datarnya, berharap Sasa paham dengan apa yang ia maksud. Ini bukan tentang rumah ini, bukan tentang Sasa yang hanya menjadi istri kontraknya, tapi ini lebih dari apa yang seharusnya ia dapatkan dari seorang sosok istri.
Harinya tidak baik. Saat menuju arah pulang, rumah sakit memberikan kabar jika kondisi ibu kembali memburuk dan harus dipindahkan ke ruang ICU. Saat ini dia hanya butuh sebuah bahu yang dapat menahan tubuhnya. Sudah 2 jam ia menanti Sasa pulang dari kantor, Hp wanita itu kehabisan daya. Membuat wanita itu sulit untuk dilacak. Di tambah lagi ia yang mengarahkan semua penjaganya untuk mengawasi ibunya di rumah sakit.
"Aku membelikan mu hp itu, agar kau bisa mengangkat telfon ku! tapi apa ini hah? BODOH KAU!"
Sasa tertunduk, Hpnya memang kehabisan daya dan ia belum sempat untuk mengisinya.
"Maaaaff tuuuua.."
"Ahh, aku belum menyuruhmu untuk berbicara"
__ADS_1
Saya menggigit bibir bawahnya dnegan kuat, ia sangat takut. Kali ini Wili benar-benar terlihat kecewa terhadapnya.