Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Jebakan


__ADS_3

Pagi itu setelah menyelesaikan beberapa berkas di kantor ,ia berencana untuk pulang ke apartemen. Ada dokumen penting yang ia tinggalkan di sana. Kalau tidak segera diambil, pekerjaannya akan tertunda lama. Nanti klien perusahaannya akan merasa kecewa dengan kinerjanya.


Tidak seperti biasanya, hari ini Asisten Joy tidak ikut dengannya. Pria itu harus segera berangkat ke luar kota untuk menemui salah seorang pengusaha, lagi-lagi William lah yang meminta Joy untuk menggantikan kepergiannya. Alasannya tidak bisa jauh-jauh dari Sasa. Joy saja hampir gila memikirkan kebucinan William, banyak sekali hal-hal yang berubah semenjak William menyadari jika ia benar-benar tengah jatuh cinta kepada istri kecilnya itu.


Mobil milik William berhenti tepat di basemen apartemen. Tidak ada kecurigaan dari dirinya saat melirik parkiran di sekelilingnya, ada beberapa mobil baru yang sebelumnya tidak pernah liat. Pria itu tetap berusaha berfikir dingin dan positif, mungkin saja ada penghuni yang membeli mobil baru.


William menaiki lift dan menekan tombol unit apartemennya. Lift itu berhenti dulu di salah satu lantai, ada beberapa bodyguard yang masuk. William tetap saja santai, dia tidak pernah memperdulikan hal itu.


Selang beberapa detik, lift berhenti di lantai kediaman William. Pria itu tertegun saat melihat jika di lantai yang sama Rose tengah berdiri di depan pintu lift. Pria itu tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.


"Hai tuan, kau tinggal di sini juga?"


Perempuan itu tersenyum kearah William, bukannya tidak ingin mengacuhkan rose, tapi wanita itu adalah kekasih dari rekan kerjanya.


"Iyaa" Jawab ketus William.


"Aku juga tinggal di sini, tapi beberapa lantai di bawah. Aku ke sini untuk mengunjungi beberapa tetangga baruku"


Rose berbicara dengan nada yang sopan. Dia harus benar-benar berakting agar William mempercayainya.


"Dimana unit mu? aku kan harus berkenalan juga"

__ADS_1


William menatap ke arah rose, sejujurnya ia tdiak ingin berhadapan dengan wanita yang sudah membuatnya hancur seperti ini.


"Hanya sebentar saja, aku ingin berkunjung"


William menarik nafasnya, lalu pria itu dnegan bodohnya menyetujui hal itu. Rose tersenyum bahagia. Mereka berjalan menuju unit milik William, sedang dua orang bodyguard tadi adalah orang suruhan Rose yang akan mengawasi situasi di depan apartemen milik William.


"Wah besar juga ya"


Rose memuji unit milik William, padahal sebenarnya semua unit apartemen di gedung ini memiliki ukuran yang sama.


"William, apa kau tidak ingin menawariku sesuatu?"


William berhenti berjalan. Ia berbalik dan menatap ke arah Rose.


William melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja, dokumen itu harus segera ia temukan, agar ia bisa segera keluar dan menjauhi dari Rose.


Rose tersenyum getir. Wanita itu malah berjalan mendekat ke arah William. Lalu memeluk pria itu dari arah belakang. William kaget. Pria itu berusaha melepaskan diri dari dekapan rose.


"Sebentar saja Wili, aku sungguh merindukanmu"


"Lepaskan aku, jaga sikapmu Rose"

__ADS_1


William mencengkram lengan rose dengan sangat keras. Wanita itu memekik kesakitan.


"Oke...Fine... lepaskan, aku minta maaf"


William melepaskan cengkeramannya, ia kembali sibuk mencari-cari dokumen yang harus ia temukan.


Rose tidak akan pernah diam. Wanita itu dah berapa di depan rencananya, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan ini. William akan hancur.


Rose mengeluarkan suntikan dari balik jasnya, wanita itu mendekat ke arah William lalu menusukkan jarum itu ke lengan mantan kekasihnya itu.


William melotot. Pria itu berbalik dan masih sempat mencengkram tangan Rose. Namun tidak seperti yang ia bayangkan, obat yang rose suntikan itu bekerja sangat cepat. Tubuh William layu, kakinya meras lemas dan penglihatannya menjadi kabur.


Dalam hitungan detik William tumbang. Rose tersenyum getir. Wanita itu langsung menelfon dua orang bodyguard yang berada di luar apartemen untuk datang segera. Mereka akan membawa William ke unit milik Rose.


(Bagian 2 Bab 68)


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tapi William belum juga pulang dari kantor. Ada sedikit rasa cemas di dalam hati perempuan itu, ia bahkan meminta tolong pak Yanto untuk mengubungi Ayu sekretaris William, tapi wanita itu malah mengatakan jika William sudah sejak siang tadi meninggalkan perusahaan.


"Nona, mungkin tuan muda sedang pergi dengan tuan Jero, biasanya jika mereka sudah bertemu, tuan muda sampai lupa waktu"


Sasa memang sudah memikirkan hal itu, tapi telfon William tidak aktif. Sasa mendengus. Ia seharusnya tidak perlu merasa khawatir berlebihan seperti ini. William itu adalah pria dewasa yang sudah pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Dulu saja ia berhasil mengusir preman yang berniat jahat terhadap Sasa.

__ADS_1


"Ya sudah pak, pak Yanto beristrikan saja lah, aku juga akan naik ke kamar"


Setelah mengatakan itu Sasa berjalan menaiki tangga ke kamarnya. Mungkin saja suaminya itu akan pulang larut malam dan ponselnya sedang kehabisan baterai.


__ADS_2