
Sasa berjalan memasuki ruangan Richo dengan wajah yang cemberut. Pria itu menyadari perubahan wajah Sasa.
"Kamu kenapa sa? apa sudah dapat tanda tangan nya pak William?" Tanya Richo.
Sasa menunduk. Tugasnya gagal total. William si pria arogan itu bahkan membuat kertasnya ke lantai.
"Maaf pak, sepertinya pak William sedang sibuk, jadi...."
Richo menarik senyumnya. Lalu berjalan mendekat ke arah Sasa.
"Ya sudah, nanti biar saya saja yang memintanya sendiri."
Richo sudah hafal jika bosnya itu memang bekerja sesuka hatinya. Dulu sekretarisnya juga diperlakukan seperti ini. Bukan hanya sekretarisnya saja, sekretaris William juga sering kewalahan menghadapi tingkah William setahun terakhir ini.
Jika dihitung-hitung sudah lebih dari 12 kali pemimpin perusahaan ini menukar sekretarisnya. Semuanya mengundurkan diri dan ada juga yang di pecat langsung oleh William. Tapi, hanya Ayu satu-satunya yang bertahan.
"Maaf kan saya pak, bahkan saya sudah banyak merepotkan bapak."
Sasa menatap lantai dengan perasaan serba salah. coba saja jika William tadi mau menandatangani dokumen ini, pasti Sasa tidak akan menambah-nambahi pekerjaan Richo yang sudah menggunung begitu.
Sasa dan Richo kembali bergulat dengan semua dokumen. Wanita itu terus memperhatikan arahan dan petunjuk yang diberikan oleh Richo.
Tubuh Sasa bahkan hanya berjarak beberapa cm dari tubuh Richo. Saking Fokusnya, Sasa tak memperhatikan jaraknya sekarang dengan Richo. Sesekali Richo mencuri momen untuk memandang wajah Sasa.
"Cantik" Batin Richo memuji kecantikan wanita yang berada tepat di depan pandangannya itu.
Tiba-tiba pintu terbuka. Sontak Sasa dan Richo menoleh. William berdiri dengan tatapan dingin di ambang pintu. Menatap dua sejoli yang terlihat canggung, seperti baru terciduk.
Sasa memperbaiki cara berdirinya. sedangkan Richo berdiri dari duduknya.
William mendekat. Berjalan menuju ke arah Sasa. Raut salah tingkah terlihat jelas di wajah Sasa saat ini.
__ADS_1
"Mampus kau Sasa!" Batinnya mengumpat dirinya sendiri.
Jika dilihat dari arah samping, hidung keduanya nyaris bersentuhan. Membuat Rico sedikit merasa kesal dengan tingkah William. Apalagi mereka melakukannya di ruangan pria itu. Membuat cemburu saja.
"Mana dokumen yang harus saya tanda tangani?"
Tanya William sambil menatap tajam kedua manik milik Sasa. Gadis itu menatap mata William, lalu dengan grogi ia mundur menjauhi tubuh kekar Pria itu.
William tersenyum. Melangkahkan kakinya semakin maju. Sasa mundur, William maju. seperti itu terus hingga Sasa terjatuh ke atas sofa di ruangan Richo.
William terkekeh. "Mana?" Tanya William sekali lagi.
Richo yang sudah tak tahan dengan apa yang di lakukan William, Kerjakan menyerahkan dokumen yang di maksud oleh bosnya itu.
"Maaf pak, ini dokumen yang harus bapak tanda tangani"
Rico menyerahkan dokumen yang perlu William tandatangani. Sontak hal itu membuat William menjadi kesal. William menoleh.
Dengan perasaan yang sudah tak enak lagi. William menandatangani semua dokumen yang memerlukan tanda tangannya segera.
"Terimakasih banyak pak William, anda sampai-sampai datang langsung ke ruangan saya!"
Richo bermaksud berbasa-basi, menghilangkan kecanggungan di ruangan itu. Sasa masih berdiri di belakang William sambil menundukkan pandangannya.
Sepeninggalan William, Sasa mengurut dadanya.
"Sial banget sih aku!" Gumam sasa pelan.
(Bagian 2 Bab 13)
Sebenarnya tadi Richo telah menawarinya untuk pulang bersama, tapi Sasa tak ingin jika Richo tahu jika ia sudah menyandang sebagai seorang istri dari William. walaupun hanya sebuah nikah kontrak yang penuh dengan perjanjian-perjanjian konyol.
__ADS_1
Saat sedang menunggu taxi, ponsel milik Sasa bergetar. Ada panggilan masuk dari Rahel. Gadis itu tersenyum dan langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo hel"
"Sasa, kangen deh,"
"aku juga Hel"
"Gimana pekerjaan kamu? nyaman ngak?"
"Alhamdulillah Hel, kamu gimana kabarnya?"
"Puji tuhan baik sa, dan untungnya aku udah baikan lagi sama papaku, dan rencananya aku bakalan kuliah lagi sa, aku ambil kedokteran!"
"Wahhh, selamat ya Hel, aku seneng banget dengernya!"
"Kalau gitu, kontrakan aku serahin ke kamu ya sa, nanti aku telfon lagi!"
"Bye"
Sasa tersenyum. Pasti menyenangkan membayangkan rasanya bisa mengecap bangku perkuliahan. Apalagi bisa menjadi seorang dokter seperti cita-citanya dulu.
Rahel sejak tamat SMA memilih untuk tinggal sendiri. Saat di bangku SMP, kedua orang tuanya memilih untuk hidup masing-masing. Mamanya menikah lagi dengan seorang pengusaha. Sedangkan papanya juga menikah lagi.
Tapi wanita itu mengalami beberapa pertengkaran dengan kedua orang tuanya. Dia memilih untu pergi dan berjanji tidak akan pernah kembali lagi ke rumah rang tuanya. Tapi ternyata takdir membawanya untuk bertemu Papanya kembali.
Rahel waktu itu memang berpamitan untuk menemui temannya di luar kota untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus. Tapi, saat ia hendak bertemu temannya, ia malah di pertemukan dengan papanya.
Temannya disuruh oleh papa Rahel untuk di pertemukan dengan Rahel.
Di sana Papanya menangis meminta maaf dan menyuruh Rahel untuk kembali pulang dan melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda.
__ADS_1