Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Berdamai


__ADS_3

Pagi ini William sudah siap dengan setelan santainya. Dia akan mengemudikan mobil menuju salah satu klinik kesehatan yang cukup terkenal di London. Dulu dia sering datang untuk berobat dan berkonsultasi masalah kesehatan mentalnya di sana. Ada dokter handal yang selalu bisa membuat ia relax.


"Pagi tuan William"


Dokter itu seperti sangat antusias menyambut kedatangan William. Mereka berjabat tangan dan duduk bersama di ruangan pemeriksaan.


"Apakah kau jauh lebih baik setelah terakhir kali kita bertemu?"


William menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Lebih buruk dokter, makanya aku datang kesini"


"Yaaaaa saya paham betul"


Dokter itu mengisi kertas di mejanya. Hanya data diri William dan pengecekan riwayat pemeriksaan terdahulu.

__ADS_1


"Apakah anda masih sering mengalami peningkatan emosional secara berlebihan tuan?"


"Iya dok, aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Kadang aku meluapkannya pada tempat yang salah"


"Saya paham"


"Apakah anda sedang jatuh cinta tuan? ahh maksud saya, wajah anda dan juga bagaimana kondisi anda sekarang terlihat sedang jatuh cinta"


William lekas berfikir. Ingat kata sahabatnya tempo hari. Kondisi yang sama jika pria itu sebenarnya sudah jatuh cinta kepada Sasa. Istrinya.


"Satu lagi, kalau anda benar-benar sedang tengah jatuh cinta, utarakan lah"


Dokter itu tertawa ketika mengatakan hal itu. William merespon nya dengan mengimbangi tawa dokter itu.


William berjalan menelusuri perkotaan London. Ia barusan menghubungi anak buahnya untuk mengambil mobil di klinik kesehatan. William akan pulang jalan kaki dan naik angkutan umum. Bernostalgia dengan masa-masa sekolah dulu. Kali pertama ia hidup mandiri. Hukuman dari tuan Raksana karena ia sangat nakal masa itu.

__ADS_1


"Apakah aku mencintaimu Sasa?"


William terus saja memikirkan perasaannya. Setelah melakukan konseling tadi, pikirannya terasa tenang. Dokter itu benar, William hanya harus menerima dan berdamai. Apa yang ia lakukan kepada Sasa adalah bentuk ketidak stabilan emosinya.


"Aku ingin satu kebab"


Pria itu berhenti di depan food truck yang menjual makanan timur tengah. Ada turki kesukaannya. Sebenarnya pria itu ingin sekali mengajak Sasa untuk pergi mengelilingi London, mengajarinya banyak hal. Tapi William tahu jika Sasa tidak akan merasa nyaman pergi bersama dengannya. Itulah mengapa William selalu memberikan alasan yang menjengkelkan.


William melahap kebab di tangannya. Rasanya masih sama seperti saat terakhir kali ia datang ke sini. William berjalan menelusuri kota. Tiba-tiba ia teringat dengan pertemuannya bersama Rose. Ada sedikit kecurigaan yang pria itu selipkan kepada rose.


Bagaimana bisa ia dekat dan menjalin hubungan dengan anaknya tuan Zaid. Seharusnya wanita itu memiliki empati untuk tidak menjalin hubungan dengan orang-orang di sekitar William. Apalagi datang ke pestanya malam itu. Rose seharusnya tahu jika William juga ada di sana.


William mengambil ponsel dari kantong celana jeans nya. Mencari nomor anak buahnya yang mengurus permasalahan perusahaan di London.


"Kau selidiki tentang Rose, kirimkan informasinya sesegera mungkin"

__ADS_1


Pria di sebrang sana langsung paham dengan apa yang harus ia lakukan. William memutus sambungan telfon. Ia berjalan dan kemudian menaiki bus menuju arah hotel.


__ADS_2