
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Asisten Joy baru saja masuk ke ruangan besar bosnya. William duduk di sana dengan masih mencoba membayangkan sesuatu.
Pria itu sudah sadar 4 tahun yang lalu. Ia bangkit dari koma dengan sesuatu hal yang mengejutkan para tenaga medis. Jantungnya malam itu bahkan berdetak lemah, tapi anehnya beberapa saat setelah itu ia terbangun dan menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
"Bagaimana meeting mu tadi?"
Awalnya perusahaan itu atas nama Angel, tapi naas satu tahun yang lalu dia pergi. Titik balik dari kehidupan yang William alami. Mungkin saja benar kata Rose tempo hari, jika apa yang ia miliki saat ini adalah kutukan dari apa yang ayahnya lakukan di masa lalu.
"Kau ingin tahu sesuatu Wili?"
Joy menatap bos sekalian sahabatnya itu dengan perasaan yang sulit ia gambarkan. Asisten Joy sudah berusaha mencari Sasa, tapi William sendiri lah yang menyuruhnya untuk tidak menggangu kehidupan Sasa lagi. Ia sudah cukup menyesal membuat wanita itu menderita selama ini di sisinya. Sudah cukup.
"Apa? Kau sukses?"
"Lebih dari itu, pemilik perusahaan itu adalah Milisa, kau pasti tahu siapa dia. Apa mungkin Sasa juga ada di kota ini?"
William menatap ke arah Joy. Senyumnya merekah. Tapi apa boleh buat, ada atau pun tidak Sasa di kota ini itu semua tidak akan merubah keputusannya.
__ADS_1
"Lalu aku harus bagaimana Joy?"
"Apa kau tidak ingin bertemu dengannya, minimal kalian bisa membicarakan masalah perpisahan kalian. Kalau kau hanya diam seperti ini, kasihan dia jika harus menunggu mu"
"Apa dia menunggu ku? Tidak mungkin"
"Kalau kau tidak mau, minimal menulis surat talak saja, biar aku bantu berikan ke Milisa. Dia butuh kepastian Wili"
"Aku tahu, akan aku pikirkan"
"Bagaimana jika dia memiliki seorang anak dari mu Wili?"
"Kau serius?"
"Bukan, aku hanya menduga saja"
"Aku pikir kau berbicara kebenaran"
William tertawa dan kembali fokus pada layar komputer miliknya.
__ADS_1
"Kalau benar begitu bagaimana?"
"Apa kau akan tetap bercerai dengannya? Apa kau tidak ingin bertanya tentang perasaan Sasa kepadamu juga? Mungkin saja wanita itu juga mencintaimu Wili"
"Mana mungkin, jangan membuat aku berkhayal Joy. Lebih baik kau bereskan beberapa kerjaan mu, atau pergilah istirahat, kau terlihat lelah setelah berdiskusi dengan klien"
"Kau harus memikirkan apa yang aku sampaikan ini Wili. Jangan membohongi hatimu terus menerus. Kau juga pantas bahagia, jangan mengutuk dirimu seperti itu terus"
Joy berjalan meninggalkan William sendirian. Tuan muda itu sekarang sudah berbeda. Ia bukan lagi pria angkuh dan suka memaksa. Semenjak semua yang terjadi dalam hidupnya, William menjadi begitu tegar.
Semakin hari ia memang tidak pernah bisa membohongi perasaannya sendiri. Pria itu bahkan sangat mencintai Sasa, wanita yang sudah membuatnya merasa kehilangan sedalam ini. Tapi Wili tidak akan gegabah lagi, tidak akan egois. Baginya Sasa hanya akan merasa menderita terus berada di sampingnya.
Lebih baik memberikan kebahagiaan kepada Sasa, salah satunya dengan menjauh dan tidak pernah kembali.
Tapi apa yang Joy katakan barusan membuat ia merasa benar-benar bimbang. Bagaimana jika sasa benar-benar memiliki seorang anak? Mungkin William akan menjadi pria yang paling bahagia jika itu terjadi. Tapi bagaimana jika Sasa malah tidak membiarkannya untuk bertemu dengan anaknya itu.
"Itu tidak akan terjadi, Sasa tidak mungkin memiliki anak dari ku"
William berusaha menepis pikiran tentang itu semua. Ia kembali sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk di atas meja.
__ADS_1