Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Cemburu


__ADS_3

Sejatinya wili tidak benar-benar pergi meninggalkan sasa. Arogannya wili, dia masih memiliki sedikit rasa khawatir. Mobil itu berbalik arah. Wili kali ini memukul mundur egonya, sejujurnya apa yang ia katakan itu sungguh kejam. Lagian itu semua bisa membuat sasa salah paham, wili mana punya kekasih.


Semenjak Rose kabur dengan sahabatnya, wili tidak berminat terjun ke dunia asmara semacam itu lagi. Jalan ini sudah mulai padat, akan sulit untuk berbalik arah. Sasa masih berdiri di sana.


Tapi tentu saja, rencana tidak akan bisa semulus jalan tol. Mobil sedan berhenti. Sasa tampak akrab  menyapa pengemudi mobil itu, seperti sudah lama mengenal. Bahkan sekarang rencana wili sudah gagal total. Mobil sedan itu pergi, dan tentu saja dengan sasa di dalamnya.


Memangnya kenapa? kenapa wili harus marah? Dia itu hanya seorang wanita yang tidak pernah ia cintai. Hanya untuk menuruti permintaan ibunya saja. Tidak lebih. Lagian mana mungkin bisa, ia jatuh cinta begitu cepat. Mustahil.


Dengan perasaan kacau wili melaju kembali. Lebih tepatnya membuntuti mobil sedan itu.


Sedangkan di dalam mobil, Rico sudah mulai membuka obrolan dengan Sasa.


"Kamu tinggal di sekitar sana sa?" Basa basi Rico. Sasa agak kikuk menjawab pertanyaa itu.

__ADS_1


"iyaa mas"


"Di komplek apartemen mewah?"


Mampus, apa yang harus dijawab sasa. Mana mungkin dia bisa tinggal di komplek orang kaya. Rico saja tidak mungkin bisa tinggal di sana. Hanya sekelas wili lah yang mungkin bisa tinggal di sana.


"eeee, ituuu....ada temen di sana mas" 


Sasa memperbaiki posisi duduknya. Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Seperti ketika berlari dikejar anjing kampung. Atau kepergok pulang malam.


" Mas rico, sudah berapa lama bekerja di perusahaan?"


"hmmmm, sekitar 5 tahun. Ayah saya dulu bekerja dengan pemilik perusahaan, Pak Raksana. Beliau lah yang membantu keluarga saya, sampai-sampai saya bisa kuliah dan bekerja di sana."

__ADS_1


Hendra, adalah orang kepercayaan Raksana. Ia banyak berkorban demi menjaga keselamatan Raksana dan keluarganya. Apalagi saat keluarga kaya itu harus dihadapkan dengan ancaman dari lawan bisnis. Kalau saja saat itu Hendra tidak mengorbankan nyawanya, mungkin saat ini Wili tidak akan bisa menjadi pemilik Raksana Group.


Hendra tewas saat mencoba menyelamatkan Wiliam dari tembakan timah panas. Peluru itu menembus tengkorak kepalanya. Tewas seketika. Padahal saat itu istrinya sedang mengandung anak bungsu mereka. Rico menjadi yatim. Untuk menebus rasa bersalahnya, Raksana mengambil alih tanggung jawab Hendra. Ia membiayai semua kebutuhan dan apapun yang keluarga itu butuhkan. Rico sudah menganggap Raksana seperti ayahnya sendiri.


Sasa tertegun. Ternyata keluarga Wiliam sangat baik.


" oh yaa, bagaimana perasaanmu bekerja di sana? senang? "


" Awalnya saya merasa takut tidak bisa maksimal. Minder, yang lain kan lulusan sarjana. Tapi ternyata menjadi sekretaris itu menyenangkan juga. Banyak hal baru yang saya dapatkan."


Sasa antusias menjawab pertanyaan Rico. Pria itu tersenyum.


" Nanti kalau sudah gajian jangan lupa traktir saya ya?" Rico tertawa.

__ADS_1


" Pasti mas, masa gak" Mobil sedan itu tergelak tawa. Renyah.


Sedangkan mobil mewah di belakangnya tentu sedang gundah. Wili tidak mau mengakui jika sekarang ia mulai cemburu dengan kedekatan istrinya dengan laki-laki lain. Kenapa semua pria itu gengsinya tinggi sekali. Apa susahnya jujur saja. Menutupi semua itu sama saja dengan memupuk luka. Sedikit demi sedikit membuat koyak.


__ADS_2