
"Mari nona"
Joy dan Sasa berjalan menuju jet pribadi yang akan membawa mereka pulang. William tidak ikut mengantar mereka. Pria itu harus bertemu anak buahnya yang mencari tahu terkait obat perangsang yang masuk ke alkoholnya.
Sasa merasa lega. Ia akan segera pulang. apalagi jika William tidak ikut dengan mereka. Gadis itu bertekad akan segera pergi dan kembali ke kosnya dulu. Memulai hidup dan mencari keberadaan kakaknya.
"Joy..."
Joy menoleh ke arah Sasa. Perempuan itu terlihat ingin menyampaikan sesuatu ke padanya.
"Kenapa? Ada yang ingin kamu makan? Aku bisa pesankan ke pramugari"
Sasa menggeleng dengan cepat. Bukan itu yang ia maksud.
"Bukan itu...."
"Lalu?"
"Apakah kau kasihan denganku Joy? huh maksudku, apakah kau mau membantu ku?"
Pria itu tampak paham dengan arah pembicaraan Sasa. Perempuan itu tampak telah lelah menghadapi takdirnya sebagai istri tuan muda Raksana group.
"William?"
Joy menyebut nama itu. Untuk memastikan apakah perkiraannya benar.
"Kau pasti tahu tujuan kami menikah, apalagi perjanjian itu. Lusa genap 3 bulan Joy, aku tahu iblis itu pasti sudah menyuruhmu untuk melakukan berbagai cara agar aku tidak lepas darinya. Tapi aku harap kau punya rasa kasihan kepadaku. Dia tidak mencintaiku, begitu pun aku"
Joy membuang nafasnya berat. Jet yang mereka tumpangi sudah meluncur meninggalkan kota London. Kota yang membuat Sasa berhenti menyukainya. Malam itu nyatanya kota ini hanya diam melihat perlakuan William kepadanya. Sungguh takdir yang suram.
"Aku ingin kau jujur, apakah kau benar-benar tidak menyukainya?"
__ADS_1
Joy menatap kedua mata Sasa. Pria itu ingin sekali mencari kebenaran dari sorot manik perempuan itu. Sama halnya dengan William, Joy yakin mereka hanya terlalu gengsi untuk mengutarakan perasaan yang mereka miliki.
"Ntah lah, Aku tidak tahu cinta itu seperti apa. Kadang pria itu sangat manis dan baik, tapi kadang dia sangat kejam. Entah karakter mana yang aku sukai.Aku merasa dia belum benar-benar siap untuk keluar dari masa lalunya"
Joy mengangguk mendengarkan penjelasan Sasa. Ini jauh dari bayangannya. Gadis di depannya kini terlihat begitu bijak di usianya yang muda. Berbeda sekali dengan William. Pria itu tidak akan pernah dewasa.
"Aku tahu bagaimana kondisimu, kalau aku minta agar kau menunggu sebentar, apakah itu bisa Sasa?"
"Menunggu untuk apa?"
"Hah maksudnya, tetap tinggal dengan William beberapa saat lagi. Mungkin 1 atau 2 Minggu."
"Aku tidak bisa, aku ingin segera mencari kakakku"
"William telah mengobrolkan hal itu denganku Sa, Dia dan aku berusaha untuk melacak keberadaan kakakmu."
Sasa terdiam dan menatap ke arah jendela. Gemerlap kota London bahkan terlihat begitu indah. Apalagi setelah mendengarkan penjelasan Joy tentang tindakan William. Dia bahkan berusaha untuk mencari keberadaan kakaknya.
"Jujur saja kak Joy, aku sangat kasihan dengan kondisi pria itu. Ibunya terbaring lemah, dan dia juga harus patah hati. Tapi menurutku, apa yang dia lakukan ke padaku sudah keterlaluan. Aku tahu aku hanya gadis dari desa yang bahkan bukan orang berpendidikan, tapi aku juga tidak bodoh."
"Aku paham sa, sangat paham. Aku akan membantu mu untuk lepas dari William, walaupun aku harus menghadapi resiko darinya."
"Apakah kau benar-benar mau membantu ku?"
"Kita lakukan hal itu, asalkan kamu mau tinggal bersama William 2 minggu lagi. Aku akan membawa kakakmu dan setelah itu kau bebas. William tidak akan mengganggumu lagi"
Sasa mengangguk. Joy sudah seperti saudara baginya. Dia selalu bisa mengerti dengan apa yang terjadi kepada gadis itu.
(Bagian 2 bab 56)
"Aku tahu jika sekarang William sedang melacak rencana kita, aku akan terbang pulang. Pastikan apartemenku siap. Aku tidak akan bertemu dengan William di sini. Aku hanya ingin membuatnya hancur dengan bantuan wanita kampungan itu"
__ADS_1
Rose berjalan menuju kamarnya. Di sana sudah berjejer para anak buah yang sudah siap untuk membantunya melancarkan rencana jahat miliknya. Kembali ke pelukan William bukanlah apa yang wanita itu harapkan. Tapi dia hanya ingin menghancurkan William hingga benar-benar hancur.
"Nona, besok pagi adalah penerbangan anda. Kita akan transit ke Singapura untuk bertemu dengan salah satu rekan kerja anda."
"Apakah pertemuan itu penting?"
Rose menyayat potongan daging steak di atas piringnya.
"Tentu nona, ini akan jauh lebih menguntungkan jika anda bisa mengambil hati tuan Mahmud, Raksana group juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan miliknya"
"Bagus, aku akan datang. Tapi pastikan jika aku akan mendarat lebih dulu dari pada William"
"Baik nona"
Salah satu anak buahnya itu berjalan meninggalkan ruangan. Rose kembali menikmati makan malamnya. Besok adalah perjalanan yang panjang.
Sedangkan William masih duduk memerhatikan rekaman cctv di salah satu Club ternama di kota London. Club tempat ia akhirnya mabuk. Pria itu terlihat frustasi. Pasalnya rekaman cctv rusak dan tidak menampilkan apapun.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Bodoh sekali"
William berteriak ke arah manager club. Ini adalah Club mahal yang tentunya hal seperti ini seharusnya tidak terjadi.
"Maafkan kami tuan, tapi kami benar-benar tidak tahu apa yang terjadi"
Mau apalagi, tanpa bukti cctv William tidak bisa untuk melacak kebenaran dari apa yang ia yakini. Pelakunya akan bebas untuk selama-lamanya.
"Lupakanlah, aku muak dengan semua ini. Tidak becus"
William berjalan menuju mobilnya. Pria itu benar-benar kesal dengan apa yang terjadi. Ditambah lagi perasaan menyesal yang selalu datang belakangan. Perbuatannya tadi pagi memang keterlaluan. Sasa seharusnya tidak perlu harus menerima perkataan kasar darinya. Tapi apa boleh buat, rasa takut dan emosi selalu saja membuat pria itu gegabah.
William meraih ponselnya. Pria itu mengubungi salah satu anak buahnya yang ia tugaskan di London.
__ADS_1
"Kau atur jadwal ku bertemu psikolog, kalau bisa pagi saja, agar malamnya aku bisa segera terbang pulang"