
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, Rose sampai juga di Jepang. Wanita itu akan menginap untuk satu malam di negara sakura itu. Ada klien yang harus ia temui.
Bukan hanya itu, anak buahnya mendapatkan informasi jika orang suruhan William mengikuti mereka saat di bandara kota London. Itu bisa saja akan menghancurkan rencananya. Rose akan menghabiskan waktu di jepang untuk mengecoh mata-mata William.
"Kau awasi dia terus, cari tahu di mana wanita itu sekarang"
"Jangan sampai lupa, hilangkan jejak ku sehingga mereka tidak akan tahu kalau aku berniat jahat terhadap mereka. Kita akan lihat apakah pria itu bisa luluh lagi atau tidak kepadaku"
Rose berjalan menuju mobil jemputannya. Sedangkan anak buahnya segera bertugas kembali. Menghapus segala informasi dan memanipulasinya.
Sedangkan William sudah bersiap menaiki pesawat komersial yang akan membawa nya pulang. Jet pribadi miliknya sedang ada kendala, dia ingin segera kembali dan bertemu dengan Sasa. Kalau menunggu jet itu selesai, sudah pasti besok pagi William baru bisa berangkat.
"Kau dimana Joy?"
Sejak tadi William sibuk menghubungi Joy. Asistennya itu mengirimkan foto Sasa yang sedang turun dari pesawat jet mereka. Foto tadi pagi tepatnya. William baru bisa membuka pesan itu sekarang.
"Apa dia tidak kabur?"
William cukup khawatir jika Sasa melarikan diri dari nya. Apalagi wanita itu kemarin mengancam untuk pergi.
"Baguslah kalau begitu, aku besok malam palingan sudah sampai, naik pesawat komersial"
Dengan nada kesal William mengatakan hal itu. Apalagi Joy menertawakannya karena pulang naik pesawat biasa, padahal kemarin pria itu sudah menawari bosnya untuk pulang bersama Sasa. Joy bahkan bersedia untuk tinggal di London, mengusut pelaku yang memberikan obat perangsang di dalam minuman William tempo hari.
"Jangan menertawakan aku, kau urus saja urusan di sana. Awas saja ya kalau sampai kau tidak becus"
William memutus sambungan telfon. Pria itu masih menatap layar ponselnya. Persis di bawah nomor Joy ada nomor istrinya. Pria itu merasa ingin memulai obrolan. Tapi semenjak pertengkaran kemarin, William menjadi segan untuk melakukan itu. Takut jika Sasa akan tambah marah ke padanya.
__ADS_1
William menutup kembali ponselnya. Pria itu meneguk wine dan hidangan yang sudah pramugari sajikan di atas mejanya. Walaupun naik pesawat komersial, William tentu saja akan memesan kelas paling premium di maskapai penerbangan. First class dengan banyak fasilitas yang tidak jauh berbeda dengan apa yang ia dapatkan dari jet pribadi miliknya.
Sedangkan Sasa, wanita itu masih sibuk berbincang dengan para pelayan. Tadi saja saat para pelayan sibuk memasak makan malam, Sasa memaksa untuk ikut bersama mereka.
"Nona, tempat ini tidak baik untuk nona. Ada banyak pisau dan juga asap"
Begitulah larangan Pak Yanto ke pada Sasa. Namun gadis itu tidak ingin menyerah, ia terus saja memaksa dan meminta ikut membantu. Pada akhirnya Pak Yanto gagal.
"Ini dia, semur daging kampung"
Sasa tersenyum saat mengangkat piring berisi semur daging di tangannya.
"Wahhhh, aromanya benar-benar enak"
Salah satu koki di rumah itu memberikan pujian ke pada Sasa. Pelayanan lainnya juga ikut bertepuk tangan. Bangga.
"Ayoo kita makan, Pak Yanto ayo kita makan bersama di meja makan"
Sasa berjalan menuju meja makan sambil membawa piring semurnya. Tapi pak Yanto dan pelayanan lainnya hanya bisa saling memandang.
Sasa yang mengetahui jika mereka tidak mengindahkan perkataannya langsung menoleh heran. Pelayan itu tidak bergerak sama sekali.
"Kok diam? Ayo!"
"Maaf nona, tapi kami tidak bisa makan bersama dengan anda di meja makan"
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Kami akan makan di meja khusus pelayan nona, kami akan makan setelah anda menghabiskan makanan anda"
"Ahhhhhh, aku kan sudah bilang, aku ini bukan seperti William. Kita ini sama, aku juga bukan anak orang kaya. Jadi kalian tida perlu merasa tida enak begitu"
"Tapi nona...."
"Kalau kalian tidak ingin duduk di sini, bagaimana kala kita duduk di meja makan kalian saja? Di mana itu?"
Sasa mengangkat piring semur dan memberikan kode jika perempuan itu ingin menuju meja yang dimaksud.
"Satu kali ini saja Pak Yanto, besok William sudah pulang, aku tidak akan bisa makan bersama dengan kalian lagi. Anggap saja ini makan bersama terakhir kita"
"Memangnya nona tidak akan tinggal di sini lagi?"
Maya angkat suara, dia menanyakan penjelasan dari perkataan Sasa barusan.
"Ak..."
"Baiklah nona, mari saya antar"
Pak Yanto lebih dahulu memotong perkataan Sasa. Pria tua itu sedikit lebihnya sudah tahu tentang permasalahan yang Sasa hadapi. Ia tidak ingin para pelayan rumah tahu soal ini, itu bisa membuat mereka berfikir negatif.
Sasa berjalan menuju ruangan makan para pelayan. Cukup luas. Ada meja makan yang sangat panjang. Mungkin bisa untuk 30 orang. Sebenarnya itu sepadan jika dibandingkan dengan ukuran rumah yang besar.
Semuanya duduk di kursi mereka masing-masing. Semua makanan di bawa ke sini. Sasa tersenyum lebar. Ada banyak orang yang akan menemaninya makan malam hari ini. Tidak lagi kesepian seperti biasanya.
"Ayoo kita makan semuanya"
__ADS_1