Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Patah hati


__ADS_3

Flashback


Desiran ombak terdengar jelas di telinga. Suara angin yang meniup pohon-pohon juga lembut menyapa. Di sana, tepat di bawah mentari yang menjingga, wanita itu duduk melipat kedua kakinya. Jarinya mengukir bentuk hati di atas pasir putih. Dari samping sana, pria dengan stelan kemeja putih dan celana pendek berlari mendekat. Di tangannya ada dua botol minuman dingin. Senyumnya merekah, sangat lebar.


wanita itu menatap, pipinya menjadi merekah, serasi dengan langit di depannya.


Pria itu menjatuhkan tubuhnya tepat di samping perempuan itu.


"nih,!"


Dengan semangat ia menyerahkan sebotol minuman buah kepada wanita di sampingnya. Wanita itu meraihnya.


"Indah banget, kayak kamu."


Pria itu menggoda wanita disampingnya sambil menyentuh puncak hidungnya.


"Gombal terusss!" Balas wanita itu.


"Terimakasih yaa, kamu udah mau ikut sama aku kesini."


Pria itu menatap lamat-lamat kedua manik wanita disampingnya.

__ADS_1


"Apasih kamu," Wanita itu mengalihkan pandangannya.


"Aku gak bakal lama kok di Amerika, palingan juga papa bakal rindu terus nyuruh aku pulang." Jelasnya.


"Wil, aku gak papa kok." Wanita itu menggenggam jemari pria itu.


"Kamu cuma harus ikutin kata papa kamu aja, aku di sini akan baik-baik aja kok. Gak akan ada yang akan terjadi. Kan aku setia, palingan cuma rindu dikit aja sama kamu. Itupun kan kita masih bisa telfonan, Vidio call. kamu gak perlu khawatir deh!"


"Mawarku, tetap aja aku gak tega ninggalin kamu. Kamu tahu gak sih, rasanya tuhh sakit banget nahan rinduuu sama kamu!"


"aah, kamu lebay banget sih Wil."


"all everything Will be ok, aku akan setia nunggu kamu kembali ke sini, terus kita akan hidup bahagia."


"Dia udah nyakitin Lo Wil, dia perempuan gak baik."


"Aku ngelakuin ini semua, karna orang tua kamu gak setuju sama aku Wil, aku gak pantes buat kamu!"


"Lalu dengan itu kamu mengkhianati aku rose? kamu tahu kan aku cinta sama kamu, sayang!"


"Pergi, pergiiiii!"

__ADS_1


Sasa terbangun, ia menatap Wili yang mengigau tidak jelas. Sasa mendekat, tubuh Wili sudah basah oleh keringat, Sasa menggoyangkan tubuh Wili.


"Mass, mass bangun." Wili terbangun. Tatapannya kosong.


Tubuh Wili terlihat lelah dan panas. "Badan kamu panas banget mas."


"Menjauh." Wili mendorong tubuh Sasa.


"Tapi kamu deman mas."


"Jangan sok peduli, semua wanita seperti kamu ini sama saja, murahan."


Sasa yang mendengar itu jujur sakit hati, tapi dalam kondisi ini ia harus kembali sabar, kondisi Wili akan semakin parah jika tidak segera di kompres air dingin.


"Terserah kamu mau bilang apa, ini kamu minum dulu." Wili menepis gelas itu, pecah.


"Terserah kamu saja mas, aku tidak peduli."


Sasa menyerah, membiarkan Wili sendiri adalah hal yang baik untuk saat ini. Ia paham jika Wili telah melewati malam yang cukup berat, dengan membiarkannya merenung itu akan jauh menenangkannya. Sasa berjalan menjauh dan meninggalkan Wili di kamar itu sendiri.


Tubuh Wili rasanya hancur, sakit. Luka di masa lalu itu kembali terasa menyiksa. Perasaan kesepian, terkhianati, dan keadaan yang tidak adil terus saja membuat ia sulit untuk sembuh. Wili memukul dadanya, ada perasaan yang ingin keluar. Ia sudah tidak tahan, bertahun-tahun dengan keadaan seperti ini lama-lama bisa membunuhnya.

__ADS_1


Wili mendengus, matanya berkaca-kaca. Tubuhnya merah padam dengan tangisan yang suaranya jauh di dasar hatinya. Ia butuh sembuh dari ini semua.


__ADS_2