Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Desahan


__ADS_3

Tidak seperti apa yang Sasa harapkan, William malah tidak pulang ke rumah sampai pagi ini. Wanita itu semakin merasa takut saat pak Yanto berusaha menghubungi Jero, pria itu hilang jika sekarang ia sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnisnya. Sudah bisa dipastikan jika William tidak berada di dekat Jero.


"Saya sudah menghubungi Asisten Joy nona, dia akan segera kembali dan akan berusaha mencari keberadaan tuan muda"


Sasa sedikit merasa tenang jika Asisten Joy sudah berangkat pulang kembali. Dengan itu pasti semua urusan ini akan segera teratasi dengan secepat mungkin.


(Mas Rico)


"Sa... kamu sekarang di mana?"


Notifikasinya pesan masuk ke dalam layar ponsel Sasa. Wanita itu merasa aneh karena Rico tiba-tiba menghubunginya. Padahal sejak diminta berhenti bekerja oleh William, mereka sudah tidak pernah berkomunikasi lagi.


(Me)


"Kenapa mas?"


Sasa membalas pesan itu dengan pertanyaan kembali. Ia tidak ingin memberi tahu keberadaannya.


(Mas Rico)


"Mau bertemu?"


Sasa terdiam menatap layar handphonenya. Rico mengajaknya untuk bertemu di tengah permasalahan yang menimpa Sasa, William belum bisa dihubungi, tidak mungkin ia bersenang-senang berjumpa dengan Rico.


(Me)


"Maaf mas, Sasa sedang tidak bisa"


Setelah membalas pesan itu, Sasa mematikan handphonenya. Ia ingin fokus untuk mendapatkan informasi terkait keberadaan William saat ini. Sasa tidak ingin jika para pelayan berfikir buruk terhadapnya, bagaimana bisa ia pergi saat suaminya tengah hilang kabar.


"Nona, sarapannya sudah siap, anda harus memikirkan kondisi kesehatan anda. Saya tahu betul tuan muda itu seperti apa, dia tidak akan kenapa-kenapa nona"


Pak Yanto merasa khawatir melihat Sasa yang sejak semalam uring-uringan. Perempuan itu tidak henti-hentinya menatap gerbang rumah dan berhasil mobil William berjalan memasukinya. Tapi itu tidak pernah terjadi sampai detik ini.


Sasa mengangguk. Ia berjalan malas ke arah meja makan dan mulai menyantap hidangan sarapan pagi ini. Menu kesukaan William.

__ADS_1


Sedangkan Asisten Joy memacu kecepatan mobilnya dengan tinggi. Pria itu juga merasa aneh dengan hilangnya William, ia tahu persis jika William tidak akan mungkin bisa hidup tanpa handphone yang aktif. Ada banyak panggilan bisnis yang tidak mungkin bisa ia lewatkan.


Setelah mengetahui hal itu, Joy langsung meminta penjelasan dari Ayu. Wanita itu hilang jika William siang itu tengah memeriksa beberapa dokumen yang harus segera ia selesaikan, tapi di tengah-tengah mengerjakan itu, William berjalan meninggalkan ruangannya dan tidak meninggalkan pesan apapun kepada sekretarisnya itu. Ayu pikir jika William hanya ingin pulang ke rumah, karena sampai jam pulang kantor pria itu tidak kembali lagi ke perusahaan.


Joy sampai di kediaman William hampir menuju malam. Pria itu tergesa-gesa berjalan menuju rumah utama. Ada Sasa dan Yanto yang sedang duduk di sana.


"Kak Joy"


Sasa yang mengetahui kedatangan Joy langsung saja berjalan mendekat ke arah pria itu.


"Ada kabar terbaru?"


Joy memastikan keadaan. Sasa menggeleng pelan. Tentu saja Joy semakin panik jika William sampai hari ini tidak memberikan informasi apapun.


Sedangkan di unit apartemen milik milik Rose, perempuan itu sudah duduk di atas kasur. William saat ini masih setengah sadar. Dia merancau hebat. Obat bius itu ternyata berhasil, dia dengan mudah bisa membuat William menjadi tidak berdaya seperti sekarang ini.


Rose meraih ponsel milik William. Dia mengundurkan sidik jari pria itu untuk membuat kunci layar handphonenya. Sudah pasti jika wanita itu ingin menghancurkan William.


Dia mencari kontak Sasa.


"My Wife"


Rose menekan tombol telepon, menunggu panggilan itu segera di angkat.


Sasa yang mendapatkan telfon dari William langsung saja merasa lega.


"Kak Joy, ini William menelfon" Katanya sambil menunjukkan tampilan layar ke arah Joy dan Yanto.


"Angkat lah segera"


Sasa mengangkatnya.


"Halo.."


Tidak ada jawaban dari William. Pria itu tidak mengeluarkan suara.

__ADS_1


"Halo"


Sekali lagi Sasa memanggil tapi masih tidak ada balasan. Joy menatap ke arah Sasa dengan penuh pertanyaan, tapi Sasa menggeleng. Tidak ada balasan.


"William......sudah sayang.......aku capek...ahhhhh"


Suara ******* dari arah telfon. Sasa membulatkan matanya. Menatap ke arah Joy dengan sorot mata yang tdiak percaya. hatinya hancur saat mendengar suara wanita dari balik sambungan telfon.


"Katakan sayang, kamu menikahi perempuan itu hanya karena ingin melampiaskannya saja kan? Kau tidak benar-benar mencintainya?"


"Hmmm..."


Suara lirih William terdengar jelas. Suara suaminya yang kemarin dengan bertubi-tubi menyatakan cinta kepadanya. Sasa terdiam.


"Katakan jika kau hanya ingin melampiaskan kerinduan mu kepadaku? katakan Sayang, ahhhhh!"


"Iyaaaaa, ahhhhh"


Sasa tidak kuat lagi. William benar-benar sangat kejam. Perempuan itu sejujurnya sudah berusaha untuk membuka hati, tapi apa yang ia dengar ini hanya akan membuat ia merasa sakit hati. Hanya kepalsuan.


"Ada apa nona?"


Joy terlihat khawatir saat melihat Sasa menangis. Dia dengan capat mengambil alih handphone itu dan langsung berbicara ke arah telpon.


"Kau dimana William? Jangan buat kami semua khawatir, kau sudah dewasa, jangan kekanakan lagi"


Rose yang menyadari itu langsung menutup lambungan telfon. Dia tidak ada urusan dengan Joy.


"Ahh kok mati"


Joy tampak kesal. Baru saja ingin memarahi pria itu, telfonnya malah langsung mati.


"Apa yang dia katakan nona?"


Joy menatap ke arah Sasa. Wanita itu masih terlihat syok berat. Matanya memerah.

__ADS_1


"Tidak usah mencarinya kak, dia sepertinya sedang baik-baik saja"


Setelah mengatakan itu, Sasa langsung berlari ke arah kamarnya. Wanita itu benar-benar merasa sakit di relung hatinya. Untuk kedua kalinya William memperlakukan hal itu kepadanya.


__ADS_2