
"Ada apa? lihat dirimu, sudah seperti orang gila!"
Wili tidak habis-habisnya memarahi Jero. Setelah bertemu Randi ia langsung menuju kantor Wili. Saat ini ia benar-benar butuh solusi. patah hati yang paling berat baginya.
"Terus aku harus apa?" Jero menghabiskan banyak tisu. Ruangan ini penuh dengan tisu yang Jero gunakan untuk mengelap ingus dan air matanya. Sejujurnya, air matanya bahkan tidak ada yang keluar lagi. Tapi entah apa yang ia hapus.
"Oke, bagaimana kalau kau minta ayahmu yang sangat kaya itu untu membujuk ayahnya Kenzi, kau bisa menggunakan kekuasaan ayahmu bodoh!"
"Oh iya ya, aku kan anak ayahku, kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu?"
"yaa karna kau bodoh, kaya saja yang ada, tapi otak tidak berkerja. " Wili memukul kepala Jero dnegan bantal.
"terimakasih monyet, kau lah teman aku" Jero mengukir senyum besar di wajahnya.
"yaa yaaa, sekarang pergi kau!"
"kau kira cuma kau yang punya masalah?"
"yaaa deh, yaaa. Btw, cewek yang kita temui di club kemarin masih bekerja di sini?"
wili tampak tidak suka dengan pertanyaan itu.
"mana ku tahu"
"kau kan bos, masa tidak tahu karyawan mu sendiri"
"sudahku pecat"
"elehhh, seenak itu saja main memecat orang"
__ADS_1
"yaaa kan aku bos"
"Ada apa? lihat dirimu, sudah seperti orang gila!"
Wili tidak habis-habisnya memarahi Jero. Setelah bertemu Randi ia langsung menuju kantor Wili. Saat ini ia benar-benar butuh solusi. patah hati yang paling berat baginya.
"Terus aku harus apa?"
Jero menghabiskan banyak tisu. Ruangan ini penuh dengan tisu yang Jero gunakan untuk mengelap ingus dan air matanya. Sejujurnya, air matanya bahkan tidak ada yang keluar lagi. Tapi entah apa yang ia hapus.
"Oke, bagaimana kalau kau minta ayahmu yang sangat kaya itu untu membujuk ayahnya Kenzi, kau bisa menggunakan kekuasaan ayahmu bodoh!"
"Oh iya ya, aku kan anak ayahku, kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu?"
"yaa karna kau bodoh, kaya saja yang ada, tapi otak tidak berkerja. " Wili memukul kepala Jero dnegan bantal.
"terimakasih monyet, kau lah teman aku" Jero mengukir senyum besar di wajahnya.
"yaa yaaa, sekarang pergi kau!"
"kau kira cuma kau yang punya masalah?"
"yaaa deh, yaaa. Btw, cewek yang kita semui di club kemarin masih bekerja di sini?"
wili tampak tidak suka dengan pertanyaan itu.
"mana ku tahu"
"kau kan bos, masa tidak tahu kariawanmu sendiri"
__ADS_1
"sudahku pecat"
"elehhh, seenakmu saja main memecat orang"
"yaaa kan aku bos"
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Lagu temporer klasik memenuhi ruangan. Gaun itu sangat indah. Serasi dengan liontin zambrut biru. Jemarinya melentik dengan. Wanita itu melirik. Matanya indah, orang akan mudah menebaknya. Dia berbeda, garis wajah asia membuat titik fokus ruangan ini tertuju kepadanya.
"Kamu akan pulang?" Tanya seorang wanita setengah abad kepadanya.
"yaaa, tapi pesta ini sulit untuk di tinggalkan"
"maksudku, kau akan kembali ke negara asalmu, rose?" Wanita itu menghentikan tariannya. Menatap wanita tua yang menunggu jawaban.
"yaaa, sesuai rencana"
"kau tidak akan berubah pikiran, di sana ada musuhmu, bahaya" Wanita tua itu memperbaiki gaun wanita muda itu.
"justru karena itu maria, itu tujuannya"
"balas dendam boleh, tapi jangan sampai kau menyesal. Dia tidak pernah menunggu mu kembali, aku dengar da bahkan telah menikah. Tapi pernikahan itu dirahasiakan"
"oo yaa? gadis malang mana yang menjadi tumbalnya lagi?" Wanita muda itu tertawa. Lalu meneguk segelas wine yang di bawa Maria.
"sempurna" Katanya ketika baru selesai meneguk wine itu.
"apa kau penasaran maria, siapa wanita itu?"
__ADS_1