Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Kembali


__ADS_3

"Aku ingin ke rumah sakit bisa kah?"


Bukan tidak ada alasan Sasa meminta untuk diantar ke rumah sakit, pasalnya setelah mendengar banyak cerita dari para pelayan tentang keluarga Raksana, membuat Sasa menjadi semakin tertarik terhadap kehidupan mama mertuanya itu. Wanita yang mungkin saja jarang ia jenguk.


"Nona ingin ke rumah sakit?"


Maya kembali bertanya, memastikan jika ia tidak salah dengar.


"Iyaa"


Maya yang mendengar itu langsung berjalan menuju Pak Yanto, memberi tahu jika Sasa ingin diantar ke rumah sakit. Pria tua itu mengangguk dan tersenyum.


Yanto berjalan mendekat ke arah Sasa. Ia membungkukkan tubuhnya dihadapan wanita itu.


"Apakah nona ingin pergi sekarang ke rumah sakit?"


Sasa tersenyum. Lalu buru-buru mengangguk.


Hari ini sasa berhasil keluar dari perumahan milik William. Sasa bersyukur jika pria itu tidak pernah mengekangnya untuk berpergian keluar dari lingkungan rumah. Tidak seperti beberapa novel yang ia baca waktu sekolah dulu, wanita akan dikurung dan tidak dibiarkan melakukan aktifitas. Sudah seperti penjara. Wanita itu sempat membayangkan jika William akan melakukan hal yang sama, apalagi sekarang ini mereka tengah dalam masa-masa yang sulit, di ujung pernikahan.


Perjalanan menuju rumah sakit tidak terlalu padat, Sasa masih bisa merasakan kesejukan saat mobil melesat menembus kepadatan pohon-pohon.

__ADS_1


Hampir 1 jam mereka berkendara, mobil sudah berhenti di halaman rumah sakit. Sasa tersenyum, efek penerbangan tempo hari seperti masih tersisa, tubuhnya terasa keram karena terlalu lama duduk di dalam mobil.


"Nona tidak kenapa-kenapa"


Yanto terlihat khawatir saat Sasa memijit pelan-pelan pergelangan kakinya. Agak terasa keram dan kebas.


"Aku tidak kenapa-kenapa Pak, hanya kesemutan saja"


"Apa perlu kita periksa ke dokter nona"


"Tidak perlu pak, hanya kesemutan, ini juga sudah mendingan"


Sasa ingin sekali menepuk jidatnya, keluarga dan lingkungan William nampaknya sama-sama tidak pernah mengenal istilah orang-orang kelas bawah sepertinya. Bahkan saat Sasa mengatakan tengah merasa kesemutan, pak Yanto seperti sangat takut, Sasa tidak habis pikir, jangan-jangan pria ini juga tidak pernah tahu tentang kesemutan itu apa.


Mereka berjalan menuju koridor kamar rawat Angel. Di depan pintu sudah ada dua orang bodyguard yang akan berdiri di sana sepanjang hari. Sasa kenal salah satu diantara mereka, dulu William bahkan memarahi Sasa hanya karena menawari mereka makanan.


Saat mengetahui kedatangan Sasa, para bodyguard yang sudah mengenal Sasa langsung membungkuk. Sasa hanya tersenyum. Jujur saja ia masih merasa segan dengan perbuatan William tempo hari, ia memarahi bodyguardnya dengan sangat kasar.


"Kita ketemu lagi pak"


Sasa berbasa-basi, agar tidak merasa terlalu canggung.

__ADS_1


"Iyaa nona"


Sasa merasa lega, pria itu sepertinya tidak menaruh rasa dendam kepada Sasa. Mungkin saja William saat itu menuruti kemauan Sasa untuk tidak memberikan hukuman kepada mereka.


Sasa berjalan masuk bersama pak Yanto. Pria itu membawa beberapa bunga yang biasanya Angel rawat di rumah. Pria itu lantas segera mengganti bunga dari vas di atas nakas, sudah layu.


Sasa berjalan mendekat ke arah mama mertuanya, wanita itu mengelus dengan lembut jemari Angel. Meskipun wanita itu tidak merespon, Sasa tetap merasa senang dan nyaman berdekatan dengan Angel.


Bunga yang pak Yanto bawa sangat terlihat cantik berada di dalam Vas bunga. Membuat seluruh ruangan kembali hidup.


"Nyonya, ayo bangun, ini ada menantu nyonya"


Pak Yanto mengajak bicara Angel. Berharap wanita itu bisa mendengar apa yang mereka katakan di depannya.


Sedangkan William yang baru mendapatkan kabar jika Sasa datang ke rumah sakit langsung saja tersenyum bahagia. Hari ini perempuan itu datang dengan sendirinya untuk menemui Angel, mama mertuanya.


"Apakah aku masih ada rapat lagi, Ayu?"


Meeting dengan klien baru saja berakhir 10 menit yang lalu, William terus saja menatap jam tangannya. Ada sesuatu yang membuat ia ingin cepat pulang.


"Sebenarnya masih ada sesi Zoom meeting dengan salah satu perusahaan di Jerman tuan" Kata ayu setelah membaca jadwal bosnya dari layar tablet miliknya.

__ADS_1


William mendengus. Meeting ini sama pentingnya untuk perusahaan, apalagi perusahaan Jerman itu adalah supplier yang akan menghandle beberapa bahan baku untuk proyek yang akan dibangun di London. Mau tidak mau William harus mengikuti pertemuan online itu, ia tidak bisa meminta digantikan.


Sasa yang sudah cukup puas dengan pertemuannya langsung meminta untuk segera pulang.


__ADS_2