Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Pulang


__ADS_3

Pagi ini mobil Sasa dan Dewi sudah mulai memasuki gerbang desa. Beberapa bulan tidak menghirup udara di kampungnya membuat Sasa merasa cukup terhibur. Berbeda dengan Dewi, wanita itu merasa sangat menyesal telah pergi dan menghilang bergitu saja. Semalam Sasa sudah menceritakan jika ibunya sudah meninggal dunia. Waktu yang terlambat untuk membahagiakan wanita tua itu.


"Mbak.....Kita sudah sampai"


Sasa menggenggam jemari kakaknya. Berusaha untuk memberikan semangat agar Dewi tidak terlalu memikirkan kepergian orang tuanya.


Sasa terdiam. Rumah ini membuat ia kembali merindukan sosok kedua orang tuanya. Tempat dimana ia tidak akan merasa kesepian, tempat dimana hidup terasa sempurna.


"Mbak tunggu di sini ya, aku mau ambil kunci rumah dulu."


Salah satu tetangga menyadari kedatangan Sasa. Perempuan itu adalah wanita yang ia titipkan kunci rumah saat ia memutuskan untuk meninggalkan desa.


"Yaa ampun Sa, udah pulang kamu"


"Iya Buk, Sasa sama mbak Dewi juga"


Wanita tua itu menoleh ke arah Dewi. Kakak perempuan Sasa itu terasa asing di matanya. Dia hanya melemparkan senyuman ke arah Dewi.


"Oo iyaa, saya ambilkan kunci rumahnya dulu ya!"

__ADS_1


Wanita itu berjalan ke arah dalam rumahnya. Lalu dengan cepat kembali lagi menuju Sasa. Ia menyerahkan kunci rumah.


"Terimakasih banyak buk atas bantuannya telah mengawasi rumah ini, saya tidak tahu jika tidak ada ibuk"


"Kamu gak usah mikir kayak gitu, insyaallah saya ikhlas"


Setelah itu Sasa dan Dewi berjalan menuju rumah. Dewi tersenyum ketika jemarinya kembali menyentuh dinding rumah peninggalan kedua orang tuanya.


"Kayaknya harus dibersihkan dulu deh mbak"


"Iyaaa, anak buahku bisa bantuin kita kok"


"Mereka tidak akan tinggal di sini bersama kita kan mbak? Takutnya nanti orang-orang desa berpikir aneh-aneh!"


"Iyaa gak lah dek, Setelah ini mereka akan mbak suruh cari hotel terdekat. Kamu tenang aja"


"Lagian kita masih butuh mereka untuk membawa barang-barang yang akan mbak bawa ke rumah ini"


"Apa itu mbak?"

__ADS_1


"Kita butuh AC sa, karena lama di London, mbak gak bisa hidup tanpa pendingin ruangan. Apalagi kita butuh kompor listrik, mesin suci, kulkas, dan benda-benda lainnya"


"Apa gak terlalu berlebihan mbak? Maksudku kita bisa melakukannya dengan sederhana"


"Bukannya mbak gak mau, tapi kalau punya uang kenapa gak? Kita juga perlu merenovasi rumah ini kembali, kamu liat saja atap rumah ini ada yang bocor"


Sasa hanya bisa mengangguk. Apa yang dibilang oleh Dewi itu benar, rumah ini hampir bisa dibilang tidak kayak huni. Terlalu banyak hal yang perlu di perbarui.


"Kayak kalau tukang kerja pagi ini, dan kuta sewa dalam jumlah banyak, bisa selesai sampai sore sa. 20? 30 ? Cukup tidak? Apa perlu menyewa kontraktor dari kota?"


"Mbak.....tidak perlu seperti itu juga"


"Biar kita makin nyaman tinggal di sini Sa"


"Mbak gak nyaman ya?"


"Aku sih mau bicara jujur, semenjak hidup mewah di kota, suasana seperti ini membuat aku kurang nyaman sa. Kamu tahu sendiri, rumah ini sudah beberapa bulan tidak ditempati, aku hanya ingin kamu nyaman sa"


"Iya mbak, aku paham"

__ADS_1


Setelah itu mereka langsung bergegas membereskan rumahnya. Anak buah Dewi juga sudah menghubungi beberapa pihak yang bisa membantu memperbaiki rumah mereka dengan kurun waktu singkat.


__ADS_2