
"Cepatlah, kenapa jalanmu sangat lambat. Seperti keong saja kau ini!"
Wili mendengus, mobilnya sudah siap untuk pergi. Sasa bergegas buru-buru mempercepat langkahnya. Ini memang di luar dugaan. Siapa juga yang ingin pergi bekerja dengan wili. Memang kebiasaannya, selalu saja berbuat egois. Seenaknya saja. Apartemen ini tinggi, memangnya lift bisa bergerak secepat kilat. Mustahil. Di parkiran, wili menatap kesal kearah sasa.
"Lama, seperti keong!!"
Wili sudah seperti emak-emak saja, bawel. Sasa masuk kedalam mobil, tidak ada gunanya meladeni wili. Tuan muda itu tancap gas membawa mobilnya melaju. Telat sedikit saja, mungkin akan membuat mereka terjebak macet. Kota ini terlalu sibuk. Tidak tidur. Ibarat terbangun 24 jam, tak ada hentinya.
"Apa kau akan ke kantor dengan baju seperti itu?"
Tanya wili. hai!! pertanyaan semacam apa itu. Sasa menatap bajunya, memangnya ada yang salah? baju ini memang digunakan banyak wanita karir. Ayu, sekretarisnya juga memakai pakaian seperti ini.
"memangnya kenapa mas?" Wili menatap sasa.
"Kau ini istri seorang Tuan muda, masa memakai baju seperti ini? seperti gembel saja"
__ADS_1
Sasa langsung menatap tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut suaminya itu. Beraninya. Sasa mendengus.
"Lagian tidak ada yang tahu aku istrinya tuan muda." Mobil mewah itu berhenti mendadak. Sasa gemetar. Tidak ada yang salah dengan apa yang baru saja ia katakan. Wili menatap sasa.
" Lalu? tentu saja tidak akan ada yang tahu kalau kau ini istriku. Aku bisa malu, lagian aku ini punya pacar. Lebih cantik dan mengerti fashion ketimbang gadis seperti mu!!"
Sialan, wili seperti tidak berdosa berani berkata seperti itu. Apa pedulinya sasa dengan kekasihnya diluar sana. Tapi jujur saja, kata-kata itu membuat matanya memerah.
" Saya mau turun di sini saja!!"
Sasa mencoba membuka pintu mobil. Tidak ada gunanya berlama-lama bersama iblis ini. Sasa bisa mendidih kalau harus mendengar ocehan wili.
" Siapa yang menyuruhmu keluar?"
"saya tidak ingin membuat tuan malu, dari sini saya bisa naik angkutan saja." Sasa mencoba melepas cengkraman wili.
__ADS_1
"Lagian, saya takut nanti akan membuat kesalahan pahaman. takut pacar tuan marah."
"Saya ini memang hanya gadis bodoh tuan, tidak pantas rasanya naik mobil mewah ini."
Wili melepas cengkeramannya. Membiarkan Sasa pergi. Mobil itu melaju. Tidak seperti adegan di film-film. Wili tidak akan membujuk sasa untuk naik lagi ke mobil. Gengsinya terlalu tinggi. Katanya pantang membujuk wanita. Itu bisa merendahkan harga diriya.
Sasa menarik nafas. Tapi jam segini angkot sudah tidak ada lagi yang melewati rute ke perusahaannya. Apalagi sasa masih baru di kota ini. Sasa sudah mirip orang linglung. Jalanan sudah mulai padat, semakin bising. Sasa gemetar. Ia bahkan tidak tahu sekarang sedang dimana.
Rute ini terlihat asing. Apalagi ini kali pertma ia berjalan keluar dari apartemen tanpa Joy. Asisten pribadi wili itu mendadak ditugaskan ke madrid. Ada tugas rahasia yang membuatnya harus meninggalkan kota ini. Wili tidak pernah membahas soal itu dnegan sasa. Boro-boro mau berbasa-basi, melihat wili saja sudah membuat sasa muak.
Mobil sedan putih berhenti tiba-tiba. Mobil itu familiar. Kacanya terbuka, Rico melambaikan tangan ke arah sasa. Sasa tersenyum.
" Kenapa bisa di sini?"
" Tadi salah naik angkot mas."
__ADS_1
"Naiklah!" Sasa tersenyum. Kesempatan tidak datang dua kali. Apalagi kepada wanita yang diterlantarkan suaminya di jalan. Apes.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------