Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Ceroboh


__ADS_3

Sejak kejadian itu wili tidak bisa kembali memejamkan matanya. Badannya terasa remuk, pikirannya kacau. Ia melirik ke arah sudut kamar, bayangan kejadian yang terjadi beberapa menit yang lalu membuatnya sontak sadar. Wili melirik ke arah lantai kamar, serpihan gelas yang pecah berserakan di sana.


Wili bangkit, ia berjalan tergesa-gesa. Matanya takut dan cemas menyusuri ruangan. Wili menuju ke arah ruang tamu, di atas sofa itu terlihat jelas tubuh mungil sasa yang meringkuk di sana.


Wili mendekat, ia bersimpuh dan menatap lamat wajah sasa. Seharusnya wili tidak melakukan hal seperti itu, sasa bahkan tidak mengetahui apapun. Wanita itu hanya dipaksa masuk dalam hidup wili, dalam kegelisahan dan keegoisannya. Wili mendengus. Ia merebahkan tubuhnya di dekat sang istri. Dia memejamkan matanya mencoba kembali terlelap sambil mengumpat dirinya sendiri.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Pagi ini udara kota sedikit lebih dingin dari biasanya. Kau perlu mematikan ac dan menambah selimut tebal hanya agar tubuhmu tidak menggigil kedinginan. Sasa menggeliat. Tidurnya terasa nikmat dan nyenyak. Moodnya pagi ini terbilang cukup baik, walau kejadian semalam mungkin saja bisa membuat dia kehilangan semangat nya pagi ini. Tapi sasa cukup paham dengan apa yang terjadi kepada wili. "Mungkin saja iblis itu sedang banyak masalah". Kalimat itu yang selalu terlintas sejak semalam saat sasa memikirkan perbuatan wili kepadanya.


Saat sasa hendak berbalik, tiba-tiba tubuhnya linglung. Di depannya ada sosok iblis menyebalkan yang sedang terlelap dan asik tertidur tanpa risih berbagi tempat tidur dengan sasa. Ini kedua kalinya sasa terpaku dengan hidung dan mata Wili. Namun, dengan cepat sasa kembali mendapatkan kesadarannya kembali.


"aaaaaaaa!!" Tubuh wili jatuh ke lantai. Dorongan plus teriakan sasa membuat wili kaget dan kehilangan keseimbangan. Wili mendengus kesal.

__ADS_1


" eehhh gadis bodoh, suaramu ituuu loh, kau pikir ini hutan?" Sasa memeriksa tubuhnya. Tentu saja ia takut jika macan jantan itu bisa saja berbuat yang tidak-tidak kepadanya. wili menatap kesal.


"kenapa? kau takut aku akan berbuat seperti apa yang kau pikirka?" Sasa mengangguk polos. wili tertawa getir.


" lagian apa salahnya ah? kau kan istriku!"


Wili mendekat, semakin dekat. Ia mencoba untuk menggoda sasa. Sasa yang takut menggeser duduknya. Wili semakin dekat, sasa semakin mundur. Dan yaa, sasa jatuh ke sisi sofa. Pantatnya lebih dulu terjun bebas. Wili tertawa keras, hingga batuk-batuk persis seperti nenek sihir kalau sedang marah.


" Emang enakk !!!" Wili tertawa lalu pergi meninggalkan sasa.


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dipaksa menjadi orang kuat dan jauh dari rumah adalah sebuah pilihan yang berat. Kota besar ini juga pasti sudah paham betul bagaimana bosannya tuhan mendengar keluh tentang hal itu. Wanita itu duduk tertegun. Apa yang mestinya ia cari? penghianatanlah yang membawanya jauh hingga bisa berlabuh dan menjadi hal hina di sini. Dendam itu bahkan semakin terkoyak sekiranya ia mengingat hidupnya, menyedihkan. Botol demi botol alkohol membuatnya semakin terlena, terbang jauh agar terhindar dari rasa sedih yang selalu mengutuknya.

__ADS_1


"Apakau tidak punya mata?"


wanita itu memekik kesal. Gaun mewahnya baru saja basah karna tertumpah minuman. Pelayan berwajah barat itu semakin pucat. Bisa-bisa ia akan mati di gantung oleh bosnya. Wanita di depannya itu adalah orang penting. Sangat cerobah, pelayan itu menunduk.


Wanita itu membuang nafasnya perlahan. Tarikan yang dalam. Ia melirik gaunnya. Lalu menatap wajah pelayan yang bahkan tidak berani lagi memperlihatkan hidungnya itu.


" Ya sudah, setelah ini kau harus lebih hati-hati lagi. Aku sedang tidak ingin mencari masalah dengan mu. Pergilah".


Bukannya memaafkan akan jauh lebih baik. Semua tidak harus selesai hanya dnegan emosi. Pelayan itu menatap tak percaya. Garu-ragu ia mengangkat wajahnya.


"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran!!" Pelayan itu buru-buru berjalan pergi. Ini kesempatan emas untuk lulus dari meteor yang akan memusnahkan dirinya.


"

__ADS_1


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


__ADS_2