Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Gaun mini


__ADS_3

"APA? MEMBELI TOKO?" Sasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Membeli toko es krim? Padahal dia hanya ingin mencicipi satu cup es krim, bukan malah tokonya.


"Apakah kau serius?" Tanya Sasa memastikan.


"iya nona, toko ini atas nama anda sekarang" Ingin rasanya Sasa pingsan saja. Semua yang terjadi dalam hidupnya memang diluar nalar. Tidak habis pikir dengan kelakuan orang-orang di sekitar William. Semuanya aneh. Sasa menepuk jidatnya.


-------


William tampak sibuk dengan beberapa berkas perusahaan. Semua butuh tanda tangan dan cap basah untuk segera ditindaklanjuti. Keberangkatan ke London dipercepat. William harus menyesuaikan semua urusannya di kota ini, sebelum menyerahkannya ke pada anak buahnya. Bukannya tidak percaya, tapi ada beberapa hal yang harus ia pastikan sendiri.


"Halo, apa saja yang dia lakukan?" Tanya William pada seseorang di ujung telfon.


"Setelah itu cepatlah antarkan dia pulang ke apartemen, bilang kepadanya aku akan telat pulang" William mengakhiri telfon.


William merebahkan tubuhnya di sofa. Beberapa hari ini sungguh melelahkan. Kondisi ibunya yang naik turun, perusahaan di London yang harus segera diurus, masalah hati yang campur aduk. Semuanya berhasil membuat kepala Willi hampir pecah. Cenat cenut.


"kreeeng...krenggg"


Benda pipih itu berdering. William dengan sigap meraihnya.


"Hah, ada kabar apa?" Tanya William.


"Ooooh begitu, pastikan aku tidak akan bertemu dengan wanita itu selama di Landon" Tegas Wili.


---------


RICO POV


Sialan sekali William. Bagaimana mungkin bisa dia menjadi suami Sasa. Aku tidak habis pikir dengan apa yang terjadi. Kapan dan bagaimana mereka bisa menikah? Jelas-jelas akulah yang membawa Sasa ke perusahaan. Bangs*t!!!

__ADS_1


"cekkkkkk...."


"bruakk....." (suara benda jatuh)


"ahhhhhhhh" (Rico berteriak setelah menjatuhkan barang-barang di kamarnya)


"kringggg..." (nada telfon)


"halo? apa kau yakin rencanamu ini akan berhasil? aku benar-benar muak dengannya, aku ingin mendapatkan apa yang sejak awal menjadi milikku" Aku mematikan panggilan itu sepihak. Persetan dengan orang di sebrang sana. Dia yang mengajakku untuk memulai semua ini, maka biarkan dia yang menyelesaikan semuanya.


---------


Sasa berjalan menuju kamar apartemennya. Joy sejak tadi sudah kembali bertugas. Ia sempat mengatakan jika pemilik apartemen ini tidak akan kembali sebelum jam makan malam. Itu berarti Sasa bisa menikmati makanannya dengan nyaman.


Sasa menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Menoleh ke arah tumpukan paper bag belanjaannya. Ada banyak baju yang belum sempat ia coba. Sasa tersenyum.


Sasa membuka satu persatu kantor belanjanya. Ada banyak jenis pakaian. Mulai dari yang anggun hingga yang benar-benar haram. Ini semua adalah perbuatan Joy. Semua yang Sasa suka dan sentuh habis ia borong.


Sasa mengambil satu gaun hitam yang bertabur berlian. Ini adalah gaun seharga $4500 dollar, dengan harga begini sudah bisa membayar sewa kosnya selama 4 bulan. Sasa membuka bajunya. Lalu mencoba gaun hitam itu.


Sasa melirik dirinya dari pantulan kaca. Gaun ini sangat mewah. Benar-benar cocok dengan tone kulitnya. Sasa tersenyum.


Setelah puas dengan beberapa gaun. Sasa penasaran dengan satu paper bag berlabel "sexy". Ini pasti dari toko haram itu. Sasa yang penasaran langsung membukanya.


"lihatlah, baju ini seperti kekurangan bahan saja. Mana ini mahal sekali lagi. Pembodohan" Nyinyir Sasa mengomentari baju itu.


Namun, jiwa penasaran Sasa makin membara. Apalagi William tidak akan pulang dalam waktu dekat. Sasa mencoba baju haram itu. Dan benar saja, tubuhnya tembus dari balik kainnya. Menerawang.


Walaupun begitu, baju ini begitu nyaman, lembut jika bersentuhan dengan kulit.

__ADS_1


"oooh, seperti aku tahu kenapa baju ini bisa mahal, memang sangat nyaman"


Sasa merebahkan tubuhnya di atas kasur. Gaun mini ini membuat sensasi dingin dan nyaman. Seketika rasa ngantuk menyerangnya.


"Tidur sebentar kali yaa, mumpung iblis itu belum pulang" nyeletuk Sasa.


Sasa pun terlelap dengan tetap menggunakan gaun sexy itu di tubuhnya.


Namun Sasa salah, ini seperti tidak akan bangun dalam waktu dekat. Waktu berputar dan Sasa tetap terlelap dan makin nyenyak. Kamar ini berantakan dengan banyak gaun-gaun yang berserakan.


30 menit


1 jam


2 jam


5 jam


Tepat pukul 11 malam, pintu apartemen terbuka. Itu menandakan William sudah kembali dari perusahaan. Namun Sasa masih dalam kondisi tidak sadar diri.


William melangkah, menatap sekeliling apartemen. Tidak ada aktifitas. Ia pikir Sasa sudah tidur dan William hendak membersihkan tubuhnya sebelum beranjak tidur. Namun, ketika membuka pintu kamar, William terdiam. Matanya tertegun. Wanita muda itu tidur dengan bagian tubuh yang menerawang, membiarkan William menatapnya.


William mendekat dengan perasaan menggebu-gebu. Insting alamiah seorang pria tentu akan terpancing dengan cepat. William menghampiri Sasa. Ia memastikan apakah wanita itu benar-benar terlelap atau tidak. William juga kaget dengan kondisi kamar yang hampir mirip kapal pecah. Pakaian berserakan dilantai.


William membelai wajah Sasa dengan jemarinya. Mendekatkan tubuhnya ke arah sasa. Sekarang William sudah berada persis di atas tubuh sasa. Ia bisa gila jika terus seperti ini. William memukul kepalanya dan bergegas menuju kamar mandi. Memangkas gadis itu sekarang hanya akan memperburuk kondisi.


"Oke junior, kau harus tahu diri sekarang ini, kita selesaikan saja ya" William bergegas membasahi dirinya dengan air. Nafsunya harus ia padamkan sesegera mungkin.


"beraninya wanita itu membuat aku gila seperti ini, sialan" umpatnya.

__ADS_1


__ADS_2