Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Pertengkaran


__ADS_3

Setelah menerima kabar baik dari Rahel, hati Sasa begitu senang. Pasalnya Rahel baik baik saja dan tentunya sebentar lagi Rahel akan memulai kehidupan yg lebih baik.


Sasa masih tak menyangka, kini ia adalah seorang istri. sebenernya berat hatinya untuk kembali ke apartemen William apalagi melihat tingkah William yang sehari tadi benar-benar membuat ia naik pitam.


Sasa memandang pintu apartemen di depannya. Ia membuang napasnya berat. Sudah 15 menit ia tetap berdiri dan ragu untuk masuk ke apartemen William.


Belum sempat kartu di tangannya ia arahkan ke sensor pintu, lengan kekar dari arah belakang menjulur dan lebih dulu membuka pintu apartemen itu. mata Sasa membelalak. Lalu menoleh ke arah belakang.


William dengan wajah dinginnya memandang acuh ke arah Sasa yang sudah mematung di depannya. Dengan sengaja William mendorong kasar tubuh Sasa ke samping.


"Awas bodoh, kau menghalangi jalanku!" Untung saja Sasa dapat menyeimbangkan tubuhnya. William berjalan acuh masuk ke apartemennya. Sasa menggerutu.


"Sialan, Tidak ada sopan-sopannya yaa? Bilang permisi kek, iiiiiiiih dasar beruang neraka!!!"


"Haiii bodoh, cepat masuk, aku ingin mandii!"


Belum sudah Sasa melampiaskan kekesalannya, William sudah berteriak menyuruhnya. Sasa berjalan masuk menuju kamar mandi dengan perasaan kesal yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Baru saja semalam ia merasa tenang karena William tidak pulang ke rumah, hari ini pria itu malah kembali mengacau hidupnya.


"Air hangatnya sudah siap tuan!"


Sasa memberi tahu Wili yang sejak 20 menit lalu sibuk dengan ponselnya di atas kasur. Wili menoleh. lalu mengangguk mengiyakan perkataan Sasa.


Ia berdiri berjalan lalu meraih handuk putih di dekat pintu menuju kamar mandi.


"Oh iya, siapkan aku teh!"


Sasa hanya diam. lalu bergegas menyiapkan teh yang diminta Wili.

__ADS_1


Sekitar seperempat jam, Wili keluar dengan handuk yang hanya mampu menutupi bagian pinggang hingga lututnya. Ia tak menghiraukan Sasa yang kaget setengah mati menyaksikan tubuh seksinya sejak ia keluar dari kamar mandi. sasa menelan ludahnya.


"Astaghfirullah, mataku ternodaiii"


Sasa berbalik. Bayangan tubuh Wili masih melintas-lintas di benaknya. Apalagi air yang menitik dari rambutnya jatuh ke sela-sela roti sobek di perut William.


"Ya ampun, sadar sa, sadar!"


Sasa menggeleng-gelengkan kepalanya berharap pikiran kotornya segera hilang.


"Ngapain kamu? jangan berpikir mesum tentangku!"


Nada berat Wili membuat bulu kuduk Sasa berdiri.


"Ttt...tidak! siapa yang berpikir mesum!" Bantah Sasa.


"Mana tehku?"


Sasa meraih teh di meja dan membawanya ke dekat Wili.


"Ini tuan !"


Wili meraihnya. mencicipi teh itu.


"Teh apa ini?"


Teh itu di muncrat ke arah Sasa.

__ADS_1


"Apa kau berniat mengerjai ku? hah?


"kau sengaja menambahkan garam ke teh ini? jawab!!"


Sasa kaget. Perasaan tadi dia memasukkan gula. Mana mungkin bisa tehnya menjadi asin. Wili menarik lengan Sasa kasar.


"Sini!!! kau benar-benar harusku beri pelajaran!"


"Tuan, lepaskan saya, sakit tuan"


Cengkraman Wiki sangat menyakiti Sasa. Wili menarik Sasa menuju kamar mandi.


"Ampun tuan, saya minta maaf. saya tak tahu itu garam..."


Wili tak menghiraukan Sasa yang telah menangis karena menahan sakit di lengannya. Wili mengguyur tubuh Sasa dengan air. Bahkan ia tak membiarkan Sasa bernapas. Namun tiba-tiba Wili terhenti.


raut wajahnya tiba-tiba berubah menjadi perasaan bersalah.


"Sialan, apa yang ku lakukan!"


Sasa telah terduduk bersandar ke dinding kamar mandi. Dia terlihat lemas dan kedinginan. Wili berlari menuju lemari dan mengambil handuk lalu membalut tubuh Sasa.


"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf,


aku tak dapat mengendalikan emosiku."


Sasa hanya pasrah ke kita tubuhnya di gendong Wili menuju kasur.

__ADS_1


Wili memang memiliki kondisi kesehatan mental yang tak menentu. Ia tak dapat mengatur emosinya. Ini terjadi semenjak kematian ayahnya. Terkadang ia bisa marah besar hanya karena suatu hal kecil. Sebenernya ia sudah cukup geram ketika melihat kedekatan Sasa dengan Rico di kantor tadi siang. Oleh sebab itu, teh yang manis bisa saja terasa asin oleh Wili.


__ADS_2