Dia CEO Arogan

Dia CEO Arogan
Gagal


__ADS_3

Sasa bejalan dengan perasaan malas. Kakinya terasa berat, seperti ada dedemitan yang mencoba menghambat langkahnya. Sasa menekan tombol lift. Lantai 6 perusahaan ini terasa sangat jauh. Lama lift itu membawa Sasa. Masih dengan jantung yang berdegup kencang, Sasa melangkah, di ujung koridor ini akan ditemui pintu dengan tulisan "RUANG CEO" yang terpahat di atasnya.


"huffff" Ia menarik napasnya dalam.  Perlahan ia mengetuk pintu besar itu. Namun tunggu, Ketukan itu terasa bukan menyentuh pintu. Sasa kembali mengetuk. Memastikan. Namun tetap saja, ini bukan pintu. Sasa membulatkan matanya ketika melihat sosok di depannya. Ia hendak berteriak, tapi lekas lengan kekar itu membekap mulutnya.


"kau pikir ini hutan, berteriak saja"


Wili melepas bekapannya. Menarik Sasa masuk keruangan CEO.


"ada apa?"


Sasa berusaha menstabilkan jantungnya yang terasa ingin melompat. Menyebalkan sekali pria ini.


"tidak ada, aku sudah lupa"


Itu saja? hanya itu? karena itu saja dia memanggil sasa? apa apaan manusia ini. Sasa memelas. membuang waktu saja.


"baiklahh, kalau begitu saja akan kembali keruangan saja, ada banyakkkk sekali pekerjaan"


"seperti orang sibuk saja!"


"ooooyalahh, jelas. Saya kan bukan anda, yang sakin tidak punya pekerjaan, sampai-sampai anda membuat orang lain terganggu"


" maksud kau?" Wili membesarkan matanya. Ia berbalik. Mendekat.


"Ulangi lagi!" Sasa benar-benar tidak tahan. Tidak ada hari tanpa perdebatan.


"lupakan saja pak william, saya harus kembali" 


belum sempat sasa berbalik dengan sempurna, lengannya dicengkeram kuat oleh wili.


"aku belum selesai!!" suaranya berat. Menakutkan.


"tolong tuan muda, saya benar-benar lelah bertengkar dengan anda, pusing"


Wili tidak percaya, kenapa semakin hari wanita di depannya ini mulai berani kepadanya.

__ADS_1


"ooo jadi kau pusing karena ku? ooo jadi kau bosan hidup?"


Cengkraman itu ini di tepis oleh sasa. Benar-benar muak.


"aku paham, semenjak kau menjadi sekretaris rico, kau jadi berani kepada ku?"


Sasa tak percaya dengan apa yang di ucapkan wili.


"jawab!!" suara wili meninggi.


"kalau memang iya kenapa? apa urusannya dengan tuan, bukannya kita cuma bohongan."


Kata-kata itu seketika membuat wili terdiam. Cengkeramannya yang semula kuat, kini mulai melemah dan terlepas.


Sasa berjalan meninggalkannya. Wili tersenyum kecut.


"ini cuma bohongan"


Bukannya apa yang wanita itu bilang adalah sebuah kebenaran? tidak ada yang salah. Wili mengacak-acak rambutnya. hari ini benar-benar sial untuk tuan muda itu.


"Kenapa sa?" Tanya karyawan yang berpapasan dengannya.


Dia Anin, satu-satunya karyawan yang mau berbicara dnegan sasa di kantor ini. Sasa tersenyum


"gak papa mbak, cuma capek aja, banyak kerjaan"


Anin hanya membalas dnegan anggukan.


"kalau capek istirahat sa, ntar bisa mati kalau di paksa, hahaha"


"iyaa mbak,"


"Udah pesan makan?"


Sasa baru ingat, siang ini Rico mengajaknya untuk makan siang bersama.

__ADS_1


"belum mbak, kalau mbak gimana?"


"belum juga sih sa, ini rencananya mau ngajak kamu"


"kebetulan mbak, katanya ada restoran baru di depan kantor, aku di ajakin mas Rico sih, ikut yuk mbak?"


"gak ahh, ntar ganggu lagi"


"apaansih mbak, gak papa. Mau yaa?"


"ya udah"


Hancur sudah rencana Rico. Sasa benar-benar tidak peka dengan keadaan. Sudah jelas Rico mengajaknya untuk memulai kedekatan, ia malah mengacaukannya dnegan mengajak Anin.


Kalian harus melihat bagaimana wajah kecewa Rico saat melihat Anin ikut bersama Sasa. Tapi bagaimana boleh buat, tidak mungkin mengusir anin. Sangat lucu sekali ekspresinya. kesal tapi tidak tahu harus bagaimana.


"Jadi mas rico ini lulusan SMA Persada juga" Anin terlihat kaget saat Rico menceritakan masa SMA nya.


"Saya juga lulusan disitu mas, angkatan ke 23" Anin tampak antusias.


"Oh ya? wah kebetulan banget yaa" Rico tidak menyangka bisa bertemu dengan adik kelasnya di sini.


"Berarti kamu satu angkatan sama Wili dong ya?"


" Iyaaa mas, saya sih gak kaget waktu tahu dia yang jadi CEO, kan waktu di SMA dulu dia emang kelihatan berada banget. Temannya juga anak orang kaya semua mas"


" Eh, udah mau habis aja jam ni, aku harus balik dulu deh kayaknya. Biasalah pak doni itu super duper bawel kalau soal kedisiplinan. Gak heran sih kalau dia lama banget magang divisi"


Anin merapikan berang-barangnya. Telat sedikit saja menuju ruangan, bisa-bisa bosnya akan membuat masalah. Sudah kenyang ia mendengar kotbah Pak doni.


Sekarang hanya tersisa Rico dan Sasa.


"Kamu dekat yaa sama Anin?" Rico memecah kesunyian.


"Iyaa ya mas? Dia baik soalnya, yang lain gak mau temen sama saya, cuma mbak anin aja"

__ADS_1


Rico mengangguk. Memang berat kalau menjadi karyawan baru. Kemanapun kita berada pasti akan ada senioritas yang terjadi.


__ADS_2