
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, aku dan William mendarat dengan selamat di London. Sejak dari tadi aku tidak henti-hentinya melirik ke sana kemari. Orang-orang di sini sangat tinggi, hampir sama dengan William. Aku merasa bagaikan kurcaci yang berjalan di tengah tiang-tiang tinggi.
"Selamat datang tuan William, kami akan mengantar anda dan nona ke hotel" Begitulah kata beberapa pria dengan bahasa inggrisnya yang sulit aku mengerti. Aku seharusnya belajar sedikit tentang bahasa mereka sebelum terbang ke sini. Setidaknya bisa mengerti jika di ejek.
Aku dan William di antar menuju hotel dengan mobil mewah khas Eropa. Perjalanan dari bandara memang sedikit jauh, tapi ini benar-benar berbeda dengan di negaraku. Tidak ada macet, dan tatanan kota sangat rapi. Aku tidak bisa membohongi perasaanku saat ini. Menakjubkan.
"Jangan milik terus, istirahatlah, masih ada esok untuk mengelilingi kota ini" Suara itu kembali menghancurkan moodku. Walaupun memang itu adalah nasehat yang baik, tetap aja aku merasa kesal.
"Iyaaa" Aku turuti kemauan pria itu. Memperbaiki posisi dudukku.
"Pokoknya jangan banyak ulah di sini yaa..!" Pokoknya dia sangat menyebalkan, sejak mendarat ia sudah mengulang perkataan itu berkali kali.
"Iyaaa tuan William, saya janji tidak akan membuat anda malu ataupun berbuat masalah" Semoga saja dengan kalimat ini ia bisa berhenti mengulang perkataan itu.
"Baguslah kalau kau mengerti, biasanya susah sekali untuk membuat kau mengerti" Lihat lah, lihat begimana wajah pria menyebalkan itu sekarang. Di matanya hanya aku yang terus salah, dasar iblis neraka jahanam.
"Jangan mengumpat ku lagi yaa, hilangkan kebiasaan buruk mu itu. Aku ini suamimu yang tampan"
Mual. Sangat pede sekali dia mengaku seperti itu. Aku tidak akan pernah mengakui rupanya. Apalagi jatuh cinta, tidak akan.
"oooh yaa, kau harus belajar bahasa Inggris sedikit yaa, untuk jaga-jaga saja, agar kau tidak kelihatan bodoh" Ingin sekali aku pukul mulutnya, bukannya menyuruhku untuk mawas diri, ia malah kembali mengata-ngatai.
------------------------
Author POV
__ADS_1
Mobil hitam itu melaju memasuki gerbang sebuah hotel mewah. Hotel dengan arsitektur khas bangsa eropa. Mewah dengan batu-batuan yang mengelilingi bangunan. Walaupun tampak tua, bangunan ini memiliki fasilitas modern yang tak jauh berbeda dari hotel-hotel baru yang terletak tidak jauh darinya.
Sasa dan William di antar menuju lantai 7 hotel. Kamar VVIP yang jauh hari telah di pesan oleh asisten Joy. Ngomong ngomong masalah Joy, pria itu belum menampakkan sosoknya. William melarangnya untuk pergi menggunakan pesawat yang sama dengannya. Alasannya karena tak ingin melihat wajah asistennya itu.
"This is your room Mr, and this is your own card" Pelayan hotel tampak telaten melayani William dan Sasa. Salah satu pelayan menundukkan tubuhnya sambil memberikan kartu akses ke pada William.
"Thanks you" William menerima kartu itu dan mengisyaratkan agar para pelayan itu segera meninggalkan mereka berdua.
" My pleasure Mr and Mrs William"
Setelah mereka pergi, William berjalan menuju kasur. Tubuhnya sangat penat. Sedangkan Sasa masih membeku di depan pintu. Kamar ini hanya memiliki satu tempat tidur dengan ukuran king size. Tidak ada sofa besar yang bisa ia gunakan untu tidur.
"Mas...." Sasa berusaha untuk meminta penjelasan kepada William. Namun pria itu tidak bergeming.
"Mas....Mas....." Sasa mendekat menuju kasur. Terus berusaha agar William menjawab panggilannya.
"Maaaf" Sasa menyadari kesalahannya.
"Kenapa?" William bertanya dengan suara beratnya.
"Hmmm, maaf mas, tapi apakah mas tidak memesan kamar yang lain? eehh maksudnya, kamar untuk saya?" William merubah posisinya. Sekarang pria itu duduk sambil menatap Sasa. Habis sudah nasib wanita malang itu, William seperti benar-benar marah.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Soalnyaaa...di kamar ini tidak ada sofa untu saya tidur apalagi kasur yang terpisah, barangkali mas lupa memesankan untuk saya" Sasa telah salah bertanya. Ia sekarang sibuk menunduk dan enggan menatap sorot mata William yang sejak tadi tidak pernah beralih dari dirinya.
__ADS_1
"Untuk apa? Apa kasur sebentar ini belum cukup untuk mu?" William menepuk-nepuk kasur di sampingnya.
"Bukann begitu mas, tapi....." Belum sempat Sasa melanjutkan perkataannya, Wili sudah duluan menarik lengan Sasa. Membuat wanita itu terjatuh menuju kasur. Sekarang William sudah menindihnya. Sasa membulatkan matanya. Mencoba melepaskan diri dari pria di depannya ini.
William menarik kedua tangan Sasa dan menggenggamnya erat di atas punyak kepala wanita itu.
"Massa lepasss" William mengisyaratkan agar Sasa tidak berbicara lagi.
"setttt...." Jari telunjuk pria menyentuh bibir merah Sasa.
"Kau lupa dengan apa yang aku sampaikan sebelum berangkat ke sini?" Pria itu memainkan poni Sasa yang menutupi wajahnya.
"Berlagak seperti suami istri sungguhan bukan? memangnya ada istri yang tidak ingin tidur seranjang dengan suaminya?"
"Tidakk ada kan? jadi aku harap kau tahu apa yang aku maksud"
"Termasuk meminta kau untuk melayani kemauanku" William mengecup bibi Sasa. Wanita itu berusaha untuk membuka kunci tubuhnya. Tidak terima dengan apa yang sudah William lakukan.
"Masss, lepassskannn" William masih tidak bergeming. Pria itu turun hingga ke arah leher istrinya.
Membuat tanda kepemilikan sah di sana.
Sasa sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Ia meneteskan air matanya.
"Jangan menangis, aku sedang lelah. Tapi cepat atau lambat, aku akan memintanya" Pria itu mengusap mata Sasa. Menghapus bulir-bulir kristal yang turun dari sudut mata Sasa.
__ADS_1
"Bersihkan dirimu, lalu beristirahatlah" William melepaskan Sasa. Lalu kembali membaringkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur. Meninggalkan Sasa yang masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia alami.
Sasa mengusap wajahnya lalu melarikan diri ke arah kamar mandi.