Dia Suamiku

Dia Suamiku
Wedding


__ADS_3

Dipagi hari semua orang sibuk menata villa yang akan di gunakan untuk pernikahan Putri dan Tristan. Tristan yang sudah bangun dipagi itu mencari calon mertuanya di samping villa dekat kolam renang sedang mengarahkan pegawai hotelnya yang sibuk memasang bunga.


"Daddy, boleh bicara sebentar?" kata Tristan dengan malu-malu.


"Boleh sayang kita duduk disana!" kata Rio menunjukan bangku yang berada dekat dengan kolam renang. Dua wanita cantik yang sedang berada di sana saling beradu pandang, penasaran apa yang akan mereka bicarakan.


"Ada apa, sayang?" kata Rio yang menatap hangat calon mantunya itu.


"Daddy, Tristan mau meminta izin untuk mulai bekerja dikantor seusai sekolah. Sambil Tristan belajar bagaimana sistem perusahaan. Tristan tidak bisa diam dan menerima fasilitas yang daddy berikan sampai lulus kuliah nanti. Tristan mau menjadi suami yang bertanggungjawab untuk Putri." Rio yang mendengarkan permintaan Tristan terharu, kagum dan bangga. Dia langsung memeluk Tristan dengan erat. Tidak salah dia menikahkan putrinya dengan Tristan. Benar kata Kirana, sifat Tristan sangat mirip dengan Arta yang pintar dan sangat bertanggung jawab.


"Tentu saja sayang, perusahaan itu sudah menjadi milikmu. Apapun yang kamu lakukan selama itu baik daddy akan mendukungmu, tapi ingat kamu jangan memaksakan dirimu," katanya sambil melepaskan pelukan.


"Iya, terimakasih daddy." Tristan tersenyum lepas. Arta, Kirana dan Lesti menghampiri dua lelaki yang sedang mengobrol itu.


"Duuuh ... anak ayah udah lupa nih sama ayah. Masa daddy Rio dipeluk, tapi ayah enggak?" kata Arta dan duduk di samping anaknya. Tristan hanya melempar senyuman pada ayahnya itu.


"Ngobrolin apa sih pada serius?" ucap Kirana sambil meletakan teh manis yg di bawanya untuk mereka berlima. Rio menceritakan kepada istri dan dua sahabatnya tentang rencana anak mereka dan mereka semua menyetujuinya.


"Tristan mommy titip Putri ya, kamu harus sabar menghadapi dia. Dia sangat manja dan jangan kaget kalo dia tidak bisa melakukan apa-apa." ucap Kirana yang mulai bersedih akan melepaskan anak semata wayangnya.


"Tenang aja mommy, Tristan akan menjaga dan menyayangi Putri lebih besar dari daddy dan momy." semua orang tertawa sambil dan bangga pada Tristan.


Jam sudah menunjukan pukul 08.00 pagi tinggal dua jam lagi prosesi pernikahan akan laksanakan, tapi Putri masih saja belum bangun dari tidurnya.


"Maya, Rani, apa Putri sudah bangun?" tanya Kirana.


"Belum, nyonya." jawab mereka.


"Ya ampun, anak itu sudah mau menjadi istri orang masih saja malas, kalian berdua bangunkan dia, karena perias sebentar lagi akan tiba."


"Baik nyonya." Rani dan Maya langsung menuju kamar Putri. Sudah lima kali mereka berdua mengetuk pintu tapi tak kunjung ada respon. Mereka memutuskan untuk membuka pintu kamar Putri. Ya memang benar, Putri masih tertidur pulas dengan gaya tidur yang tidak bisa di gambarkan. Mereka bedua hanya tersenyum menggelengkan kepala.


"Non bangun, Non." kata Maya sambil menggoyangkan tubuh Putri. Rani membuka tirai agar matahari bisa masuk kedalam kamar itu.


"Emmm ... gue masih ngantuk." memang Putri dari dulu sangat susah dibangunkan.


"Sebentar lagi perias akan datang." kata Maya yang sontak membuat Putri langsung bangun dan duduk dengan rambut yang acak-acakan, dia lupa kalau hari ini adalah hari pernikahannya.


"Maya, Rani bagaimana ini?" katanya cemas sambil memegang tangan Maya yang duduk di depannya, Rani menghampiri Putri duduk disamping dan merangkulnya.


"Akhirnya non bisa mendapatkan cinta pertama non Putri" kata Rani.


"Iya gue sangat bahagia, tapi gue takut ...."


"Takut kenapa Non?" tanya Maya.


"Gue takut ga bisa jadi istri yang baik, jangankan untuk masak untuk bangun tidur sendiri aja gue belum bisa." katanya lemas. Keduanya tertawa dan memeluk Putri.


"Non Putri pasti akan menjadi seorang istri yang baik dan suatu hari nanti bisa berubah kok." kata Maya yang membuat hatinya tenang.


"Non, ini periasnya udah datang." kata bi Inah dan Maya membukakan pintu mempersilahkan tim perias itu masuk ke dalam kamar.


Setelah Putri membersihkan diri, dia langsung menuju meja rias karena semua yg ada di situ sedang menunggu nya untuk dirias. Para perias itu mulai memainkan jari jemari mereka menghias wajah cantik Putri.


09.30


Putri yang sudah cantik bak seorang ratu, rambut yang dibiarkan terurai panjang dengan riasan wajah yang natural dan balutan kebaya silver modern, membuat Putri sangat cantik dan bercahaya.


Lesti dan Kirana yang baru tiba melihat anak perempuan mereka sungguh kagum.


"Kamu sangat cantik sayang." Kirana memuji anaknya.


"Kamu tuh memang dasar cantik mau di apa-apain juga pasti cantik. Tristan pasti akan kaget melihat kecantikanmu." ucap Lesti langsung memeluk Putri yang setengah jam lagi akan menjadi menantunya.


"Sayang, kamu harus sabar menghadapi Tristan ya. Kadang dia suka keras kepala, tapi kamu jangan takut, dia orang yang sangat bertanggung jawab." bisik Lesti yang masih memeluk Putri. Putri hanya mengangguk dipeluknya.


"Bunda, acaranya akan dimulai." panggil Raka. Raka yang melihat calon kakak iparnya itu terpana akan kecantikannya.


"Kak Putri, kamu hari ini sangat cantik sekali," puji Raka.


"Terimakasih ya, Raka."


Tidak banyak orang yang menyaksikan pernikahan itu. Hanya beberapa orang karyawan hotel, para supir dan para asisten rumah tangga. Acara akan di mulai dan semua orang yang ada di situ berkumpul. Tristan mengunakan jas berwana silver dengan sepatu putih membuat dia menjadi terlihat semakin mempesona. Dia dan keempat orang tua sudah menunggu kedatangan Putri yang masih berada di dalam kamar.


Putri melangkahkan kaki nya yang dituntun oleh Maya dan Rani. Semua orang kagum melihat kecantikan Putri begitu juga dengan Tristan. Dia tidak henti-hentinya menatap Putri sambil tersenyum.


Kamu sangat cantik Putri, katanya dalam hati.


Prosesi sakral itu di mulai, semua hening. Tristan memulai membacakan ijab kabul dan setelah selesai semua orang yang ada di sana berteriak mengucapkan SAH. Putri yang tidak menyangka bahwa diri sekarang menjadi istri dari pujaan hatinya meneteskan air mata bahagia. Tristan yang melihat istrinya itu langsung menggenggam tangan Putri.


Orang-orang mulai menikmati makanan yang sudah dihidangkan. Putri duduk sendiri di bangku yang menghadap langsung ke pantai, sedangkan Tristan masih asik ngobrol dengan keempat orang tuanya. Melihat istrinya duduk sendirian, Tristan pamit pada mereka dan menghampiri Putri sambil membawa minuman untuknya.


"Sayang, nih." kata Tristan duduk di samping Putri sambil menyodorkan minuman untuknya. Putri kaget dan senang mendengar Tristan memanggil

__ADS_1


nya dengan sebutan sayang.


"Kok diem, ini aku ambilkan kamu minum,"


"Makasih ya, Kak,"


"Kok dari tadi diem disini? kamu cape ya?"


"Ga kok kak, aku lagi pengen liat pemandangan pantai aja, kak Tristan udah makan?" Tristan mengangguk sambil merangkul bahu istrinya.


Acara telah selesai, semua orang mulai sibuk kembali untuk membersihkan sisa-sisa dari acara. Putri yang merasa lelah pamit pada suaminya untuk duluan masuk ke dalam kamar.


"Mommy ...." teriak Putri.


"Ada apa sayang? sampe teriak segala,"


"Barang-barang Putri yang ada di kamar, kok ga ada sih?"


"Tadi momy suruh Maya dan Rani untuk memindahkannya ke kamar Tristan." Putri lupa kalau sekarang dirinya sudah menikah dan akan sekamar dengan Tristan. Muka Putri merah dia tertunduk dan berlari ke kamar Tristan. Semua orang yang ada di situ tertawa melihat Putri termasuk Tristan. Tristan mengikuti langkah istrinya masuk ke kamar.


** DIKAMAR **


Putri yang masih menggunakan kebaya merebahkan tubuhnya di atas kasur,dia menutup mukanya dengan bantal saking malunya dia tadi.


ckrek ... suara pintu itu sontak membuat Putri langsung bangun duduk di pinggir kasur.


"Kak Tristan, aku kira siapa?" katanya


Tristan menghampiri Putri dan duduk di sebelahnya.


"Cape banget ya?" sambil memegang tangan Putri. Putri masih belum terbiasa hanya terdiam menunduk malu.


"Sayang, kamu ga apa-apa 'kan?" kata Tristan mengangkat wajah cantik Putri.


"Ga kok Kak. Kak aku mau mandi dulu ya." putri berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. Tristan terus menatap punggung Putri yang meninggalkannya. Ada apa dengan dia? tanyanya dalam hati.


Putri yang hendak ingin mandi tertunda karena tidak bisa membuka kancing belakang kebaya yang dipakainya. Dia malu untuk meminta tolong pada Tristan, tapi dia terpaksa memanggil suaminya itu karena dia sudah merasa tidak nyaman.


"Kak." panggil Putri yang hanya mengeluarkan kepalanya di pintu toilet. Tristan yang sedang asik memainkan ponsel segera menghampiri istrinya.


"Ada apa, sayang?" kata Tristan yang sudah terbiasa memanggil Putri dengan sebutan sayang.


"Bisa minta tolong ga?" katanya dengan malu-malu.


"Bantuin aku membuka kancing dari tadi aku sudah mencobanya tapi tidak bisa." deg ... jantung Tristan berdetak sangat kencang mendengar permintaan istrinya itu.


"Sini " Tristan membuka satu persatu kancing. Semua kancing sudah terbuka. Tristan yang melihat punggung Putri yang mulus, tanpa sadar mencium pundak Putri yang membuat istrinya itu kaget dan berlari masuk kedalam kamar mandi.


Sial, kesalnya. Karena tidak bisa menahannya. Tristan kembali merebahkan badannya sambil kembali memainkan ponselnya menunggu Putri. Setelah selesai membersihkan diri Putri langsung keluar, matanya langsung tertuju pada Tristan yang sudah terlelap, karena lelah setelah seharian acara. Putri yang juga merasa badannya sangat lelah berbaring tidur di sebelah Tristan.


06.30


Putri masih terlelap sedangkan Tristan yang dari tadi sudah bangun menatap wajah Putri di hadapannya. Betapa syukurnya dia mempuyai istri yang sangat cantik.


"Aaaaaaaa ...." teriak Putri yang kaget saat membuka matanya melihat Tristan yang begitu dekat didepannya.


"Kamu kenapa?"


"Aku kanget kakak ada disini." jawabnya polos. Tristan tertawa geli mendengar perkataan istrinya.


"Kok kamu ketawa sih? emang ada yang lucu ya?" ditariknya Putri dalam pelukannya.


"Kamu yang lucu sayang, nanti kamu ga perlu kaget, karena tiap hari aku 'kan selalu ada di sampingmu," Putri hanya tersenyum mendengarnya.


"Kak, Bangun yu kita sarapan." Tristan hanya diam dan memeluk Putri lebih erat.


"Kak ... lepasin aku,"


"Panggil aku sayang baru aku akan melepaskanmu," goda Tristan.


"Yaaaaank ..." bisik Putri.


"Ga kedengeran,"


"Sayaaaang, ayo bangun!" Tristan melepaskan pelukannya dan menatap Putri cukup lama. Tristan mendekatkan wajahnya membuat Putri tidak Sadar menutup matanya. Tristan yang melihatnya tersenyum, karena itu artinya istrinya mengizinkan dia untuk menciumnya.


tok....tok....tok


Suara ketukan pintu membuat Putri membuka matanya dan langsung turun dari kasur untuk membuka pintu kamar.


"Gagal lagi deh," kata Tristan kesal.


"Non, disuruh tuan dan nyonya untuk sarapan," kata bi Inah

__ADS_1


"Iya Bi, nanti kita berdua segera kesana." kata Putri yang menutup kembali pintu kamarnya.


"Yank, aku mandi duluan ya." langkah Putri terhenti saat Tristan yang dengan cepat memeluknya dari belakang.


"Sayang, mau mandi bareng ga?" kata Tristan yang hanya ingin menggoda Putri. Putri dengan cepat melepaskan pelukan Tristan langsung berlari masuk membuat Tristan tertawa geli.


**♥️♥️**


"Tumben anak mommy bangun sendiri," goda Kirana.


"Iiih ... Mommy nyebelin," keluhnya.


"Tristan mana sayang?" tanya Lesti.


"Dia lagi mandi, bunda,"


"Kamu mau sarapan apa?" tanya Kirana.


"Emmm ... nanti aja mom tunggu, kak Tristan,"


"Ya udah momy tinggal ya." semua orang sudah sarapan kecuali mereka berdua.


Tristan sudah beres membersihkan badannya langsung keluar menuju meja makan, dia tersenyum melihat putri yang duduk di sana menunggunya.


"Kamu belum makan?" tanya Tristan.


"Belum, nungguin kamu. Kamu mau makan sama apa?"


"Nasi goreng aja." Putri langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi goreng. Para asisten yang ada di dapur kaget melihat nona muda melayani suaminya.


Selesai makan mereka berdua menghampiri yang lainnya di pinggir kolam.


"Yah, kita pulang kapan?" tanya Tristan.


"Jam tiga sore ini. Kalian sudah mengepakkan barang-barang?" tanya Arta.


"Belum Yah. Yank kita beresin barang yu!" ajak Tristan dan merekapun pamit.


"Dasar pengantin baru maunya berduaan mulu pake alesan segala," canda Arta membuat mereka tertawa.


"Kamu duduk aja, biar aku yang beresin semua." kata Tristan, karena dia tau kalau istrinya tidak pernah melakukan itu.


"Biar aku saja!"


"Ya sudah kita bereskan bersama ya." Putri mulai melipat pakaian yang akan di masukan ke dalam koper. Tristan aneh melihat istrinya melipat baju, karena memang Putri tidak pernah tau cara melipatnya.


"Sayang kamu tuh gemesin deh (sambil menarik hidung Putri) sini biar aku aja yang bereskan." Putri menuruti suaminya dan dia hanya duduk melihat.


Tepat pukul dua siang semua sudah siang untuk kembali ke Jakarta. Selama perjalanan menuju bandara Putri dan Tristan menjadi pendengar setia Raka, yang menceritakan dirinya sempat jalan-jalan mengelilingi Bali.


**♥️♥️**


Di pesawat semua masing-masing duduk di tempat yang sama.


"Sayang, sini tasnya aku simpenin." kata Tristan dan duduk di samping Putri.


"Yank ... besok pagi aku pergi ke rumah Dewi boleh ga?" Putri yang sedang menyandarkan kepala di bahu Tristan, langsung mengangkat kepalanya.


"Mau apa?" tanyanya sinis


"Aku cuma mau ketemu ayahnya Dewi, kalau aku mulai besok tidak bisa bekerja lagi," jelasnya.


"Oke." jawabnya singkat dan kembali menyandarkan kepalanya sambil membaca komik kesukaannya. Tristan merasa dicuekin istrinya langsung mengambil komik miliknya.


"Sayang, kok aku di cuekin sih?" katanya manja sambil menggenggam tangannya.


"Iiih ... manja banget sih,"


"Manja sama istri sendiri, ga apa-apa 'kan?" Keempat orang tuanya tersenyum bahagia melihat dua anak mereka.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


TERIMAKASIH ATAS SUPPORT SEMUANYA

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya 😇😇...


__ADS_2