
**Flashback On**
"Bel, bangun dong! ini udah siang jangan mentang-mentang kamu libur jadi malas-malasan," teriak ibundanya.
"Iya Bun, nanti aku turun." jawabnya.
Tring..
Bela mengambil ponselnya yang berada di meja di pinggir kasur.
**Chat WA On**
Satya :"Bel lagi apa?" tumben banget ni orang hubungin gue.
Bela :"Lagi tiduran, kenapa?"
Satya :" 'tar siang jalan yuk!"
Bela : "Kemana?"
Satya : "Kemana aja asal sama lo,"
Bela : "Cih ... mulai deh gombal, okee kebetulan gue lagi pengen nonton,"
Satya :"Sippp π jam sebelas gue jemput ya ππ, Bel sharelok dong!"
Bela :"oke."
**Chat WA Off**
"Bun, hari ini aku mau keluar sama temen ya!" katanya sambil mengambil roti bakar yang ada di tas meja.
"Sama siapa?"
"Satya"
"Boleh, tapi pulangnya jangan terlalu malam ya," Bela menaikkan kedua jempolnya.
Sedikit cerita tentang keluarga Bela, dia anak tunggal. Dia di besarkan oleh seorang wanita yang kuat, ayahnya sudah lima tahun meninggal dunia, karena kanker paru-paru. Beruntung dia mempunyai seorang ibu yang penuh dengan kasih sayang. Walaupun ibunya sibuk bekerja sebagai seorang dokter, tapi bela sama sekali tidak pernah merasa kekurangan kasih sayangnya.
"Sayang, bunda hari ini ada praktek mendadak, ada pasien yang harus di operasi, nanti kamu hati-hati dijalan ya!" katanya sambil mengambil tas yang ada di kursi.
"Oia kapan-kapan kenalin bunda sama cowo kamu itu," goda Shinta.
"Dia bukan cowo aku bunda, temen doank," kesalnya.
"Iya deh temen, ya sudah bunda berangkat ya," pergi dan langsung mencium kening anaknya.
Bela segera bersiap, karena jam sudah menunjukan pukul 10.30. Bela membongkar isi lemarinya dan mencoba satu-persatu baju yang menurut dia cocok. Semua baju sudah di cobanya dan dia merasa belum ada yang cocok.
Sial kenapa aku pusing memikirkan baju? toh kitakan bukan kencan, ucapnya dalam hati.
Dari semua baju yang ada, dia memilih memakai balzer merah dan legging merah di lapisi rok hitam pendek membuatnya menjadi girly dan imut.
tring
Satya :"Gue udah di depan rumah lo."
Satya sudah memarkirkan mobil jazz merah didepan rumah Bela. Dia menunggu di luar sambil menyandarkan dirinya pada mobil.
"Bai cantik, silahkan masuk," Satya membukakan pintu yang membuat bela aneh dengan sikapnya hari ini. Tumben ni cowo bisa manis, katanya dalam hati.
Satya mulai melajukan kendaraanya dengan perlahan.
"Emang lo udah punya SIM?" tanya Bela yang menurut dia anak usia enam belaa tahun belum bisa mempunyai surat ijin mengemudi.
"Belom, tapi tenang aja polisi takut sama gue,"
"Kok bisa, emang bapak lo, polisi?" Satya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ya, terus kenapa bisa takut sama lo?"
"Karena uyut gue yang polisi,"
"Emang uyut lo masih ada?"
"Udah lama meninggal sih,"
"Terus apa yang buat polisi takut sama lo?"
"Ya ... mereka takut di gentayangin Sama uyut gue, secara gue 'kan cicit kesayangannya." hahaha dia tertawa puas mengerjai Bela.
"Ga lucu!!" Bela memalingkan wajahnya, dia mencoba untuk menahan tawanya.
Sampai di mall Satya dengan lihai memarkirkan mobilnya. Mereka berdua pun masuk dan langsung menuju lantai atas untuk memesan tiket nonton. Karena masih satu jam lagi, mereka memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu.
"Lo mau nonton apa?" tanya Satya
"Emmm ... yang itu aja." bela menunjukan film action kesukaannya.
"Bel, lo ga liburan kemana gitu?"
"Ga, nyokap gue sibuk praktek. Lagi pula gue nyaman di rumah bisa bebas seharian baca buku,"
"Lo, suka baca?"
"Banget, Satya makan itu yuuuuu!" Bela menarik tangan Satya masuk ke rumah makan khas korea kesukaan. Satya tersenyum saat Bela tanpa sadar menarik tangannya, andai tangan ini bisa terus kupegang, pikirnya. Mereka berdua duduk dan mulai memesan makanan.
"Mba, aku pesen ini satu trus ini, dan satu lagi yang ini, terus minum jus jeruknya dua itu aja mba" kata Bela yang memesan berbagai makanan kesukaannya, tanpa menanyakan Satya apa yang dia inginkan.
"Lo yakin ngabisin semuanya?" tanya Satya heran melihatnya, dia tidak percaya badan kecil ramping kaya Bela bisa memakan makanan sebanyak itu.
"Ya ga laaah, 'kan nanti lo yang ngabisin gue pengen semuanya, tapi ga mungkin 'kan semua bisa habis, jadi mumpung ada lo yang bisa menampung sisanya," katanya sambil tersenyum.
"Sial, jadi aku dapet sisanya doang nih?" Satya mengacak-acak rambut Bela.
"Iiiih ... usil banget siiih rambut gue acak-acakan nih,"
"Ga apa-apa, masih cantik kok,"
"Gombaaaal."
Satu-persatu makan datang dan mereka berdua menyantapnya. Satya yang tidak terlalu suka makanan Korea itu, tapi terpaksa dia memakannya. Selesai makan, mereka langsung bergegas ke atas, karena mereka sudah terlambat lima belas menit.
"Lo makannya kelamaan sih," kata Satya.
"Ih ... kok jadi nyalahin gue, ya udah mending lo cepet jalannya jangan ngomel mulu kaya nenek-nenek."
Ruangan sudah gelap, Satya menyalakan senter di hpnya menaiki tangga, karena mereka memesan bangku paling atas.
"Aw ...." Bela hampir jatuh tersandung anak tangga, dengan cepat satya yang ada di belakang memeluk pinggang Bela agar tidak terjatuh.
"Lo, ga apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Ga apa-apa, makasih." kata Bela melepaskan tangan Satya yang ada di pinggangnya. Kenapa jantung gue jadi berdebar gini sih? bisiknya.
Setelah mendapatkan kursi, mereka berdua langsung duduk dan menikmati popcorn yang sempat di beli sebelum masuk.
__ADS_1
"Bel ...." bisik Satya.
"Emmm ...." jawab Bela yang serius menonton film kesukaannya.
"Lo udah punya cowo belum?" tanyanya dengan pelan.
"Apa?" saking pelannya Bela memang tidak mendengar apa yang Satya katakan.
"Emmm, ga jadi nanti aja." Satya mengurungkan niatnya, karena menurut dia ini bukan waktu yang tepat. Sudah dua jam setengah film diputar dan lampu kemudian menyala.
"Sekarang mau kemana lagi?" Satya dan Bela melangkahkan kaki mereka keluar.
"Emmm ... terserah." Bela aneh pada dirinya yang masih saja berdebar setelah kejadian yang hampir terjatuh tadi.
"Mau main ga?" Satya yang menunjukan tempat permainan.
"Ish ... kaya anak kecil aja main kaya gitu,"
"Kata siapa buat anak kecil?" Satya menarik tangan Bela dan memasuki wahana bermain itu.
"Tunggu bentar ya!" dia pergi mengisi card.
Berbagai permainan sudah di mainkan oleh mereka berdua. Awalnya Bela hanya diam melihat Satya dengan lihai memasukan bola basket kedalam ring sampai Satya mengajaknya tanding, dan membuat dia happy terbawa suasana. Waktu sudah menunjukan pukul tuju malam. Bela ingat janji pada bundanya agar tidak pulang terlalu malam.
"Satya, kita balik yu! gue udah janji sama nyokap ga pulang malam," mereka langsung menuju parkiran mobil. Selama perjalanan mereka diam menikmati lagu yang di putar Satya.
"Oia, tadi lo mau ngomong apa?" tiba-tiba Bela mengingat Satya ngomong sesuatu di dalam bioskop.
"Emmm, nanti aja," katanya malu.
"Kenapa harus nanti? ga sekarang aja."
Satya hanya diam, dan tidak terasa mobil itu sudah berenti di depan rumah bela.
"Bel, besok gue maen ke rumah boleh?"Satya mengucapkan nya dengan malu.
"Boleh." jantung Bela kembali berdebar ditambah posisi mereka yang saling berhadapan di dalam mobil.
"Kalau gitu gue turun ya, makasih buat hari ini gue happy." kata Bela yang membuka pintu dan keluar dari mobil. Satya pun ikut keluar dari mobil hanya sekedar melambaikan tangan dan memastikan Bela sudah masuk ke dalam gerbang rumahnya.
**β₯οΈβ₯οΈ**
Bela menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang sambil tersenyum-senyum sendiri mengingat seharian ini dia habiskan waktu bersama Satya.
Kenapa gue jadi kepikiran dia terus sih? gumamnya. Setelah pergi membersihkan diri Bela mengambil satu buku untuk dibacanya, agar otaknya berhenti memikirkan Satya, tapi cara itu gagal dan dia terus menerus memikirkan cowo manis itu.
Tring ....
Betapa bahagianya saat dia liat layar ponselnya ada pesan masuk dari cowo yang menghantui pikirannya dari tadi.
**Chat WA On**
Satya : "Udah tidur?"
Bela : "Belum, ini masih baca buku, kamu belom tidur?" bohongnya sambil tersenyum dan menunggu balasan darinya.
Satya : "Belom ga bisa tidur,"
Bela : "Kenapa?"
Satya : "Gue sakit,"
Bela : "Seriusan? sakit apa? biar gue minta resep obat ke nyokap,"
Satya : "Tapi, kayanya ini ga ada obatnya deh,"
Satya : "Yakin lo mau tau penyakit gue?"
Bela : "Yakin, emangnya lo sakit apa?" Bela semakin penasaran dan khawatir.
Satya : "Yang sakit itu hati gue karna terlalu rindu sama lo,"
Bela :"Brengsek, lo!!" Bela melempar hpnya ke kasut dengan kesal.
Tring
Tring
Tring
Tring
**Chat WA Off**
Bela tidak mempedulikan suara ponselnya dia memilih untuk tidur, karena jarum jam sudah menunjukan tengah malam.
**β₯οΈβ₯οΈ**
Suara alarm ponsel membangunkan Bela. Dia kanget melihat ponselnya penuh dengan pesan dari Satya.
**Mode WA On**
"Bel, maafin gue!"
"Lo jangan marah donk!"
"Tapi, serius kok gue kangen sama lo,"
"Bel ...."
"Bel ...."
"Belaaaaaaaaaaa."
"Isabelaaaaaaaa."
"Bel, lo dah tidur ya?"
"Bel, besok pagi gue ke rumah lo ya?"
"Please, jangan marah ππΎππ."
**Mode WA Off**
Ni orang kenapa sih dari semalem nyebelin banget, bela turun dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tok tok tok
"Sayang, buka pintunya!" kata Shinta.
"Bentar Bun, aku lagi ganti baju." Bela bergegas membuka pintu kamarnya.
"Iya Bun, ada apa?"
"Itu ada temen kamu dateng,"
"Temen?" Bela langsung melihat jam dinding kamarnya, dia heran siapa orang yang sepagi ini datang kerumahnya.
__ADS_1
"Siapa Bun?"
"Siapa ya? bunda tadi lupa, ya udah kamu temuin dulu aja trus ajak dia sarapan bareng sama kita, bunda mau lanjut masak dulu."
"Iya Bunda, makasih ya." Bela pun segera berjalan menuju ruang tamu.
Dia melihat pria tinggi memakai jins hitam dan kaos berwarna putih sedang duduk memainkan ponselnya, yaa, siapa lagi kalau bukan satya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Bela jutek, tapi dalam hatinya dia senang dengan kedatangan pria itu.
"Lo, masih marah?" Bela hanya diam berdiri melipat kedua tangannya didada.
"Sini duduk!" Satya menarik tangan Bela duduk di sampingnya.
"Maaf gue semalem kelewatan." Satya masih menggenggam tangan Bela, Bela masih diam tertunduk.
"Bel, jawab donk!"
"Emmm ...."
"Kok gitu doank jawabnya? maafin gue,"
"Emmm ...."
"Jadi dimaafin ga nih?"
"Menurut lo?" Bela mulai membuka suaranya.
"Gak ya?" katanya pasrah.
"Itu lo tauuu."
"Please dong jangan ngambek! nanti gue beliin eskrim mau?"
"Emang lo kira gue anak kecil?" katanya menahan senyum.
"Ya udah kalo gitu permen mau?"
Bela yang tidak kuat melihat mimik muka Satya yang serius merayunya akhirnya tertawa lepas.
"Apaan sih gue bukan anak kecil,"
"Jadi sekarang maafin yaa!"
"Iyaaa deh terpaksa l,"
"Yaaaah terpaksa ... tapi ga apa-apa deh asal dimaafin sama lo gue bahagia walaupun itu terpaksa."
"Mulaaai deeeh lebaay."
Shinta memanggil anaknya untuk menyuruhnya sarapan. "Sarapan dulu yu! tadi bunda nyuruh gue ajak lo sarapan"
"Gue udah makan,"
"Pokoknya harus, salah sendiri lo bertamu kepagian." bela melangkahkan kakinya menuju ruang makan di ikuti Satya.
"Ayo dimakan!" kata Shinta.
"Iya, tante makasih." jawabnya malu-malu.
"Oiya ... tadi nama kamu siapa tante lupa?"
"Satya, tan."
"Oh iya Satya, ya udah kalian habisin sarapannya ya, tante ada jadwal pagi di rumah sakit,"
"Oh iya tante, makasih." Satya berdiri hendak mengantar Shinta ke depan.
"Udah kamu makan aja ga usah anter tante kedepan, sayang bunda pergi dulu ya kamu kalau mau pergi harus kabari bunda." katanya sambil mengecup kening anaknya.
"Siap, bunda hati-hati di jalan yaa!" Mereka berdua melanjutkan sarapannya.
"Ngapain lo liatin gue terus?" tegur Bela.
"Lo cantik." katanya sambil tersenyum.
"Jangan kebanyakan gombal ,garing tau,"
"Tapi seriusan,"
"Lo udah selesai 'kan? gue mu beresin piring dulu, lo tunggu di ruang tengah sana." Bela langsung membereskan semua piring yang ada di meja makan.
"Nih." Bela menyodorkan segelas orange jus dan duduk di samping satya.
"Mau nonton ga? gue banyak film-film seru." Bela hendak mengambil koleksi cdnya dilemari, tapi Satya menarik tangan Bela.
"Gue ga mau nonton," ucap Satya.
"Terus, lo mau apa?"
"Mau nembak lo." kata Satya membuat Bela kanget seketika.
" Bel, lo mau ga jadi pacar gue? semenjak kita sama-sama dihukum gue udah suka sama lo." tatapan tajam Satya menggambarkan kalau dia sekarang benar-benar serius dengan omongannya. Bela masih terdiam dan menatap Satya, entah apa yang harus di jawabnya. Jujur dia tidak bisa membohongi perasaannya kalau dia juga menyukai Satya.
"Bel, lo masih ga percaya sama perasaan gue?" tanyanya cemas karena dari tadi bela hanya terdiam.
"Iya." katanya dengan pelan dan langsung menundukan kepalanya.
"Apa gue ga denger?" Satya semakin erat memegang kedua tangan Bela
"Gue bilang iya." mukanya memerah malu. Satya dengan refleks dia berdiri dan langsung lompat kegirangan.
Yes ... yes .... teriaknya
"Lebay banget sih." ucap Bela sambil tersenyum.
"Makasih ya Bel, gue janji ga akan nyakitin hati lo dan selalu setia sama lo." Satya kembali duduk di samping belakang dan menggenggam tangannya.
"Ga usah banyak janji, buktiin aja kalo lo bener-bener sayang sama gue,"
"Oke, gue bakalan buktiin sama lo."
**Flashback Off**
.
.
.
.
~Bersambung~
TERIMAKASIH ATAS SUPPORT SEMUANYA
JANGAN LUPA KLIK TANDA LOVE DAN LIKE NYA YA ππ
__ADS_1