
Tristan masih duduk di pinggir kasur menatap tajam istrinya yang masih tertidur pulas. Dia terus menggenggam tangannya. Rasa bersalah terus menerus menghantui pikirannya.
"Sayang, maafin aku!" katanya sambil mencium tangan Putri.
"Lo ngapain disini?" tanya Putri baru terbangun dari tidurnya.
"Sayang, gimana udah enakan?" Putri langsung menarik tangannya dari genggaman Tristan.
"So peduli lo." katanya jutek.
"Sayang, maafin aku! kasih aku satu kesempatan untuk jelasin semuanya ke kamu aku mohon!"
"Keluar!!" teriak Putri.
"Sayang, please!"
"Lo budeg ya? kata gue keluar sekarang juga!" Tristan berdiri dan langsung memeluk erat istrinya. Putri awalnya ingin memberontak, tapi apa daya tubuhnya yang masih lemas.
"Dengerin aku ngomong dulu, setelah itu terserah kamu mau apa, aku bakalan turutin." Tristan terus memeluk tubuh Putri. Putri mengangguk dan Tristan pun melepas pelukannya.
"Lima menit." kata Putri yang masih enggan melihat wajah suaminya.
"Makasih sayang, jadi tadi itu kamu salah paham. Dewi lagi bersedih, karena kedua orang tuanya akan bercerai lalu tiba-tiba dia memelukku. Aku juga tidak tau kalau dia bakal melakukan itu. Sumpah aku ga ada hubungan apa-apa sama dia, aku udah pernah bilang ke kamu 'kan, kalau kamu perempuan pertama yang aku cintai." jelasnya Putri hanya terdiam dan langsung menatap wajah Tristan.
"Udah?" katanya masih jutek.
"Iya udah." Tristan pasrah dia berdiri dan melangkahkan kakinya keluar. Baru dua langkah Putri memanggil dan dengan cepat dia membalikkan badannya.
"Yang nyuruh kamu pergi siapa? gue laper mau makan."
"Oke sayang, aku akan bawakan makanan untukmu." Tristan dengan cepat melangkahkan kakinya menuruni anak tangga menuju ke dapur.
Para orang tua sedang berkumpul di meja makan.
" Sayang, kamu mau makan? bagaimana Putri?" tanya Kirana.
"Ga mommy, tapi Putri laper katanya dia mau makan,"
"Oke, biar mommy yang menyiapkan makanan untukmu."
"Bagaimana masalah kalian sudah beres?" tanya Rio.
"Lagi proses Dad,"
"Kamu harus sabar menghadapi dia, dia kalo sudah ngambek akan sangat manja sekali,"
"Iya Dad, aku tau itu."
"Sayang, ini makanannya." Kirana menyodorkan piring berisi makanan kesukaan Putri.
"Makasih mommy, aku tinggal kedalam dulu ya." pamit Tristan pada semuanya. Dia melangkah pergi dan langkahnya terhenti ketika mertuanya memanggilnya.
"Tristan, jangan lupa pesan daddy." Tristan hanya tersenyum dan langsung menaiki anak tangga.
"Kau itu sangat suka sekali menggoda anakmu, biarkanlah mereka berdua berjalan sesuai dengan alurnya." ucap Lesti.
"Tapi sayang anak itu terlalu polos dan lamban, dia harus diberi dukungan dari kita." kata Arta dan kedua Laki-laki itu tertawa puas, para istri mereka hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat kelakuan suami mereka.
**♥️♥️**
"Sayang, aku masuk ya." Tristan masuk sambil membawa piring. Diapun langsung duduk di pinggir kasur dan mulai menyuapi istrinya.
"Aaaaaa ...." ucapnya sambil meragakan membuka mulutnya.
"Aku bukan anak kecil." kata Putri ketus sambil membuka mulutnya. Tristan terus menyuapinya dengan perlahan.
"Udah,"
"Sayang, ini makanannya masih banyak, sedikit lagi ya?"
"Ga, aku udah kenyang, itu buat kamu aja." Putri tau kalau dari tadi suaminya belum makan apapun.
"Aku udah kenyang."
"kalau kamu ga makan, jangan harap malam ini kamu bisa tidur di ranjang!" kata Putri yang merebahkan badannya dan menutupnya dengan selimut.
"Oke aku makan." Tristan pun menghabiskan makanannya.
"Sayang, buka dong selimutnya. Aku udah selesai makan." Putri tertawa geli di bawah selimut mendengarnya.
"Ya udah." ucapnya dengan nada yang jutek.
"Jadi, kamu maafin aku 'kan?"
"Tergantung,"
"Apa perlu aku telpon Dewi biar dia menjelaskan semuanya padamu?"
"Jangan!! aku ga mau kamu bicara sama cewek lain, apa lagi deket-deket dengan mereka. Kamu bisa aja ngelarang aku untuk ngobrol dan dekat sama cowok lain, tapi kamu sendiri melanggarnya,"
"Aku janji ga akan pernah ngobrol sama cewe lain lagi." Tristan naik ke atas ranjang dan mereka berbaring saling berhadapan.
"Kamu juga harus janji, kamu tidak akan pernah melukai tubuh ini, karena tubuh ini sudah menjadi milikku." wajah Putri memerah mendengar apa yang dikatakan Tristan, Putri mengangguk.
"Maafin aku ya ...." Tristan mengecup kening Putri.
"Emmm ... tapi aku tidak mau melihat kejadian seperti tadi,"
__ADS_1
"Tidak akan pernah sayang, apa kita kasih tau Dewi kalau kita sudah menikah?"
"Jangan!! nanti kalau tersebar di sekolah gimana? aku masih mau sekolah, cukup bilang kita pacaran aja." Tristan tersenyum lebar mendengar kata itu, akhirnya Putri mau menggumumkan hubungan mereka, walaupun dengan status pacaran.
"Kok senyam-senyum gitu sih?" tanya Putri aneh melihat suaminya terus tersenyum.
"Aku bahagia sayang akhirnya kamu mau mengakui hubungan kita." dia langsung memeluk istrinya dan mereka berdua tertidur pulas.
06.00
Hari ini Tristan memutuskan untuk izin tidak masuk sekolah.
"Yank, bangun ini sudah jam enam, nanti kamu bisa terlambat." Putri membangunkan Tristan dia tidak tau kalau Tristan sudah meminta izin pada pihak sekolah.
"Emmm ... aku masih ngantuk." dia menarik tangan Putri dan memeluk nya dengan erat
"Sayang, kamu tidak akan pergi ke sekolah?"
"Hari ini aku akan menemanimu seharian,"
"Nanti kamu akan ...." Tristan langsung mengecup bibirnya agar istrinya diam.
"Kamu udah mulai berani ya," Putri mencubit hidung mancung Tristan.
"Aww sakit tau, kenapa harus takut kamu 'kan istri aku." cup...cup...cup Tristan terus mengoda Putri dengan berkali-kali mengecup bibirnya. Sesekali dia pun menggelitik pinggang Putri sampai dia pun tertawa.
"Kak, udah dong! ampuuuuun!!" katanya sambil menahan geli.
"Kamu yang menggodaku duluan, dengan menganggu tidurku." Tristan terus mengerjai istrinya dan pada akhirnya Tristan berada di atas tubuh mungil Putri. Tristan perlahan ******* bibir Putri, dan mengecup leher Putri membuat Putri terbawa suasana.
tring
tring
tring
tring
tring
suara ponsel Putri terus berbunyi membuat keduanya menghentikan kemesraan mereka.
"Kak maaf!" Tristan kembali merebahkan badannya memeluk guling membelakangi Putri. Putri mengambil ponselnya dan membuka pesan yang berkali-kali masuk.
**Chat Grup On**
Bela : "Putri, gimana keadaan lo?"
Sarah : "Gue liat hari ini kak Tristan ga masuk, kalian baik-baik aja 'kan?"
Citra : "Pulang sekolah maen yu, ke rumah Putri,"
Bela : "@Romi bodo amaat."
Sarah : "@Citra guee setujuuuuuuuuu,"
Satya : "Fix deal pulang sekolah cuzz "
Bela : "@Satya yank, lo mah nongok langsung maen fix-fix aje, yang lain gimana?"
Citra : "Oke."
Romi : "Oke."
Sarah : "Woy, belum dapet izin dari tuan rumah, nanti kita dateng mereka lagi ???????? 😂😂😂😂"
Putri : "@Sarah kotor banget sih pikiran lo, oke gue tunggu ya."
Sarah : " .kalo gitu gue oke haha."
**Chat Grup Off**
Putri menyimpan kembali ponselnya.
"Sayang, kamu marah yaa?" Putri memeluk Tristan dari belakang, dia menyimpan wajahnya di bahu Tristan. Tristan diam dan tetap menutup matanya.
"Kamu tidur beneran yank?" sambil memainkan pipi Tristan dengan telunjuknya.
"Sayang, jangan godain aku lagi, nanti aku tidak bisa menahannya." Putri dengan cepat melepaskan pelukannya.
"Nyebelin, aku mau mandi dulu." Putri langsung bergegas menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, Putri melihat Tristan melanjutkan tidurnya, dia segera turun ke bawah untuk membuat sarapan buat suaminya.
"Mommy ... Bunda!" Putri yang kaget melihat kedua wanita itu langsung dengan cepat memeluk mereka.
"kapan kalian datang?" kata Putri tidak tau tentang kepanikan mereka semalam.
"Sejak kemaren malam sayang." jawab Lesti.
"Jangan bilang kalau kalian datang gara-gara aku sakit?"
"Menurut kamu?" kata Kirana yang sibuk membuat kopi untuk Rio dan Arta .
"Mommy, maafin aku!" Putri langsung memeluk Kirana dari belakang dengan rasa bersalah.
"Mommy, aja yang di peluk, bunda ga?"
"Bunda, maafin Putri!" katanya dengan menyesal dan langaung memeluk mertuanya.
__ADS_1
"Ga apa-apa sayang, kamu mau sarapan?" tanya Lesti.
"Iya, aku mau makan di kamar sama kak Tristan,"
"Dia belum bangun? tumben biasanya dia selalu bangun pagi,"
"Belum Bun, ga tau tuuh di bangunin katanya masih ngantuk,"
"Ya udah, kamu duduk dulu biar bunda siapkan sarapan kalian."
"Makasih Bunda. Mom, itu buat daddy sama ayah?" tunjuk Putri pada dua gelas kopi yang susah selesai dibuatnya.
"Iya sayang."
"Biar aku yang bawain Mom, sekalian mau ketemu ayah dan Daddy, aku kangen banget sama mereka." Kirana mengiyakan dan memberikan nampan yang berisi kopi
"Daddy, Ayah." Putri dengan hati-hati membawa nampan itu.
"Sayang, gimana keadaanmu sudah mendingan?" kedua laki-laki itu bergantian memeluk dan mencium anak mereka.
"Sudah Dad, aku kangen banget sama daddy sama ayah juga," katanya dengan manja.
"Kamu ya udah jadi istri orang, masih aja manja sama daddy. Oh iya, jangan lakukan hal yang bodoh lagi apapun masalah kalian, kalian harus membicarakannya dengan kepala dingin. Daddy ga mau selalu kamu menyiksa dirimu sendiri, kamu sudah dewasa sayang, daddy harap kamu bisa berubah." Putri yang mendengar nasehat dari Rio hanya menunduk menyesal
"Maafin Putri Dad, Ayah!"
"Iya sayang, ayah juga tidak pernah marah jadi, kamu tidak perlu minta maaf, oia Tristan mana?"
"Masih tidur di kamar yah, aku balik ke dapur dulu ya mau ambil sarapan buat ka Tristan."
"Jadi sekarang udah baikan niiih?" goda Rio Putri hanya tersenyum manja dan langsung menuju dapur.
**♥️♥️**
"Yank, bangun sarapan dulu."
"Aku masih ngantuk sayang, biarkan aku tidur satu jam lagi." Tristan memang sangat kelelahan setelah dua bulan ini menyibukkan dirinya di kantor. Cup .... Putri mengecup bibir tipis Tristan dan dia pun langsung bangun dengan seketika.
"Kalo di cium aja bangun, nih cepet makan." sambil menyodorkan piring berisi nasi goreng.
"Lagi ...." katanya manja.
"Ogaaaaaaah aaah, ayo makan nasinya keburu dingin," Tristan pun menuruti istrinya
"Tadi siap? " dia menanyakan pesan yang masuk di ponsel Putri.
"Ah iya, aku lupa ngasih tau bi Inah kalo temen-temen ku mau maen ke rumah,"
"Maksudnya??"
"Mereka rencananya mau maen ke sini pulang sekolah nengokin aku,"
"Looh ...."
"Itu doang,"
"Yang aku n gimana?" Putri menggelengkan kepalanya sambil membawa piring kotor.
"Mau kemana?"
"Nyimpen ini, trus mau ngomong sama bi Inah." Tristan mengikuti Putri, mengambil piring yang di pegangnya dan merangkul pinggang istrinya menuruni anak tangga.
**♥️♥️**
Kedua laki-laki dewasa itu masih menikmati kopi mereka di taman belakang.
"Bro, apa kita harus turun tangan?" ucap Rio.
"Maksudnya?"
"Masalah anak kita,"
"Oh itu, kayanya kamu ngebet banget pengen punya cucu, ingat anakmu masih kecil,"
"Kalo itu bonus Bro, aku pengen hubungan mereka lebih deket aja,"
"Jadi rencana kamu apa?" kata Arta yang menikmati kopi.
"Liburan semester nanti, biarkan mereka untuk pergi bulan madu, bagaimana?"
"Aku setuju." mereka tertawa bersama.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN SEMUANYA
KLIK TANDA LIKE KOMEN DAN VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA....
__ADS_1
JANGAN LUPA UNTUK SELALU TERSENYUM DAN BAHAGIA...