Dia Suamiku

Dia Suamiku
Panik dan Kesalahpahaman


__ADS_3

Sudah dua bulan Putri merasa kesepian, semenjak keempat orang tua mereka mengurus bisnis ke Singapura, dan Tristan sangat sibuk mengurus kantor yang di tinggalkan mertuanya. Sebelum pergi Rio memesan pada menantunya untuk mengurus dan meng-handle perusahaan selama dirinya tidak ada.


"Yank, nanti malam lembur lagi?" tanya Putri yang merasa selama ini dia kesepian. Bagaimana tidak? dia hanya bisa bertemu dengan suaminya dipagi hari saat sarapan, dan siang hari saat jam istirahat sekolah. Sedangkan setiap malam Putri sudah tertidur pulas, saat Tristan pulang dari kantor.


"Maafin aku sayang, banyak berkas-berkas yang harus aku periksa dan tanda tangani." memang sebelum kedua mertuanya pergi, Rio mengalihkan sementara kepemimpinan kepada menantu kesayangannya.


"Huuuuft ... aku ingin sekali kencan denganmu, kita belum pernah kencan sebelumnya," keluh Putri.


"Sabar ya sayang, daddy bilang mereka sebentar lagi akan pulang ke Indonesia." kata-kata suaminya itu membuat dia tersenyum lebar.


"Bener yank? aku sudah rindu sekali sama mommy, walaupun tiap hari VC dengan mommy, tapi tidak pernah mengurangi rinduku padanya," ucap Putri.


"Iya sayang, katanya mereka minggu depan akan pulang ke Indonesia. Aku berangkat duluan ya!" pamitnya sambil mencium kening Putri. Semua yang ada di ruangan itu sudah terbiasa dengan ritual setiap pagi sepasang suami istri muda itu.


"Raka, ayo kita berangkat!"


"Iya kak. Kak Putri aku berangkat duluan ya." pamit Raka pada kakak iparnya


"Iya hati-hati." Putri pun bersiap untuk berangkat sekolah bersama Rani dan Maya.


**♥️♥️**


Selama pelajaran Putri sangat tidak bersemangat. Ketiga gadis yang ada didekatnya menjadi khawatir dengan sikap Putri yang akhir-akhir ini sangat pendiam.


"Put, lo kenapa? keliatannya lo ada masalah," bisik Bela.


"Ga ada apa-apa kok,"


"Lo ga bisa bohong sama kita Put, kita tau banget lo yang biasanya tiap hari selalu ceria menceritakan kak Tristan, tapi akhir-akhir ini berubah. Apa kalian berantem?" tanya Sarah dan Putri hanya diam.


"Put, jawab napa! jangan buat kita penasaran, kita 'kan ga mau lo sedih seperti ini," ucap Citra.


"Yank, ke kantin yu!" ajak Satya pada Bela.


"Eh ... kalian kok pada serius gini ada apa?" Romi yang aneh melihat keseriusan mereka berempat.


"Ihh kalian ganggu aja deh, ini urusan perempuan tau." kata Citra.


"Malau urusan menyangkut bela itu juga urusan gue," Satya.


"Gue juga sama, kalau urusannya menyangkut kalian semua para selir gue, berarti itu urusan gue juga." pletaaaaaak ... Sarah, Citra dan Bela kompak menjitak kepala Romi kecuali Putri yang hanya diam menopang dagunya dengan tangan.


"Duh bener ya kalian tuh, kaya macan tau ga? Put, kok lo diem aja ada masalah?" Romi yang aneh melihat putri tidak seperti biasanya.


"Ayo donk Putri sayang, cerita sama kita siapa tau kita bisa bantuin lo." kata Sarah. Kelima sahabatnya itu serius melihat Putri mengharap jawabannya. Putri tersadar dari lamunannya aneh dengan kelima sahabatnya itu.


"Kalian semua kenapa ngeliatin gue?" kelima sahabatnya lemas menyenderkan tubuh mereka mendengar jawaban Putri yang bisa dipastikan dari tadi dia tidak mendengarkan meraka.


"Jadi, dari tadi kita ngoceh-ngoceh, lo ga denger?" kata Bela sedikit emosi. Putri hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tanpa dosa.


"Ke kantin yu! laper." katanya yang membuat semua sahabatnya mengaga.


"Tu anak Kesamber apa sih, mpe ngelamun kaya gitu?" aneh Romi.


"Husss ... ayo kita nyusul dia keburu dia nyariin kita." kata Sarah mengajak yang lainnya untuk mengikuti Putri. Langkah Putri berhenti seketika didepan ruang OSIS, yang membuat tiga sahabatnya saling bertabrakan, karena asik menggobrol.


"Put, lo kena ...." Bela kaget dengan seketika melihat Tristan dan Dewi yang sedang berpelukan. Begitu juga empat orang yang lainnya. Mereka langsung menarik tangan Putri agar tidak melihat terus suaminya itu.


"Katanya lo laper 'kan? ayo kita makan!" Sarah terus menarik tangan Putri menuju kantin. Mereka memapah Putri dan membawa tubuhnya untuk duduk. Putri hanya diam, terlihat dimatanya penuh dengan kekecewaan. Kelima sahabatnya saling bertatapan, apa yang harus mereka lakukan.


"Put, lo mau makan apa? biar gue yang traktir." kata Romi mencairkan suasana yang menegangkan.


"Gue mau jus jeruk yang asem banget." kata Putri tapi pandangannya masih kosong ke arah depan.


"Itu aja? oke gue beliin." Romi dengan sigap memesan apa yg diinginkan Putri.


"Nih, Put." Putri mengeluarkan sedotannya dan langsung meminumnya pake gelas dan menghabiskan dengan beberapa tegukan saja. Semua sahabatnya hanya menatap aneh pada sahabatnya.


"Lagi." kata Putri yang menyodorkan gelas kosong di tangannya.


"Put, nanti ...." belum beres Romi berbicara Putri berteriak, "Lagi!!" membuat Romi bergegas memesan jus jeruk lagi. Sama seperti tadi, Putri hanya menghabiskannya dengan beberapa tegukan saja.


"Lagi!!"

__ADS_1


"Put, udah donk ini tuh asem banget, lo belum makan nanti perut lo sakit." ucap Bela yang mulai khawatir pada sahabatnya itu.


"Lagi!!" teriaknya.


"Oke gue beliin lagi, tapi please ini yang terakhir." kata Romi.


Sarah yang cemas melihat kelakuan sahabatnya, langsung bergegas mencari Rani dan Maya. Setelah bertemu dengan mereka yang sedang berada di perpustakaan, Sarah menceritakan semuanya kepada kedua asisten Putri itu. Mereka pun dengan cepat menuju kantin. Sarah, Maya dan Rani kaget dengan lima gelas kosong yang sudah berada di atas meja. Rani dan Maya langsung menghampiri majikannya itu.


"Dia habis segitu?" tanya Sarah pada teman-teman nya, mereka hanya mengangguk binggung.


"Kok kalian ga cegah sih?"


"Dia teriak bikin semua orang melihat kita, jadi gue binggung." ucap Romi bersalah.


"Non, udah ya! kita izin pulang sekarang." kata Maya dengan lembut, dia sangat tau persis sifat Putri. Maya menyuruh Rani untuk meminta izin pada sekolah dan menggambil tasnya, sedangkan Maya langsung menuntunnya masuk ke dalam mobil. Tidak lupa dia berterimakasih kepada sahabat-sahabat Putri, karena sudah memberitahukan kondisi nona muda mereka.


"Maya, non Putri kenapa?" tanya bang Jojon kaget melihat Putri yang lemas.


"Kita pulang sekarang!" titah Maya dan mereka pun pulang setelah Rani datang.


"Gue harus bilang semua ini sama kak Tristan." kesal Bela.


"Jangan yank, nanti masalah tambah kacau." cegah Satya.


"Gue setuju ayo Bel, kita samperin ka


Tristan." ucap sarah.


"Gue juga ikut." kata Citra mengikuti langkah mereka.


"Lo ga akan menang lawan perempuan, bro." kata Romi dengan pasrah mengikuti jejak tiga gadis itu.


Yok...tok...tok....


"Kak boleh bicara sebentar?" Tristan sedang duduk bersebelahan dengan Dewi. Sarah melihat sekilas Dewi sedang menangis.


"Ada apa?" kata Tristan menghampiri mereka semua. Sarah kemudian menceritakan semuanya membuat Tristan kanget dan langsung bergegas pulang kerumah. Sarah tau kalau ini hanya kesalahpahaman.


**♥️♥️**


Putri terus memuntahkan jus jeruk yang di minumnya tadi. Semua yang ada di mobil panik, dan Maya langsung menelpon Rio saking paniknya.


**Mode Telepon On**


"Halo, Maya ada apa?" tanya Rio.


"Ini tuan (uek uek) ...."


"Itu siapa yang muntah?" Rio yang kaget dengar suara orang yang sedang muntah.


"Ini tuan non Putri ...." belum beres maya menjelaskan Rio langsung berteriak,


"Apa Putri? ya sudah saya akan segera pulang ke Indonesia,"


"Tapi tuan ...."


tut ... tut ... tut,Rio langsung memutuskan telponnya.


**Mode Telepon Off**


"Gimana May, kita bawa langsung kerumah sakit atau pulang kerumah?" tanya bangJojon.


"Pulang kerumah aja Bang." Maya merasa bersalah sudah menelpon tuan nya. Tadi dia benar-benar binggung harus menelpon kesiapa, dan yang terlintas dipikirannya hanya tuannya. Dia baru mengingat Tristan saat Rio mematikan teleponnya.


Mobil camry putih itu parkir di depan pintu rumah, Tristan yang baru saja sampai langsung menghampiri Putri yang keluar dari pintu mobil dengan tubuh yang lemas.


"Sayang, kamu ga apa-apa?"


"Berhenti di situ! gue ga mau liat muka lo lagi." kata Putri dengan marah dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah dibantu bang Jojon dan Maya.


"Say ...." Tristan terhenti, karena Rani menarik tangannya.


"Kak Tristan, jangan dulu! biarkan dia istirahat. Non Putri sekarang dalam keadaan marah, dia tidak akan mau bicara sama siapapun terlebih lagi itu kak Tristan," jelas Rani.

__ADS_1


"Tapi dia cuma salah paham, aku hanya mau mencoba menjelaskan semuanya,"


"Nanti tunggu emosinya mereda, biar dia istirahat dulu. Tadi di mobil tidak henti-hentinya dia memuntahkan isi perutnya." Tristan yang mendengar itu merasa bersalah dan khawatir akan kondisi istrinya.


"Aku masuk dulu ya, nanti akan aku beritahu kalau non Putri sudah mendingan."


"Makasih ya Ran, titip dia ya." keluh Tristan.


**♥️♥️**


"Halo Chandra, segera siapkan pesawat! saya akan pulang segera ke Indonesia hari ini, dan panggil dokter spesialis kandungan dan dokter ahli dalam terbaik. Segera kirimkan kerumah saya, dan satu lagi kamu segera ke sini untuk menggantikan saya." kata Rio yang panik setelah mendengar suara Putri.


"Baik, Pak" jawab Chandra dan menutup teleponnya.


"Sayang, ada apa dengan Putri?" Kirana cemas dan begitu pula dengan kedua sahabatnya. Mereka yang sedang bersantai kaget mendengar perkataan Rio ditelpon tadi.


"Sekarang kita harus pulang ke indonesia " Rio menceritakan semua yang didengar, saat menerima telpon dari Maya. Lesti dan Kirana saling memeluk, karena mereka sangat senang bahwa mereka akan segera memiliki seorang cucu. Tidak butuh waktu lama keempat orang tua itu sudah sampai ke indonesia, dan segera menuju ke rumah mereka.


**♥️♥️**


"Permisi, kami dokter yang diperintahkan pak Rio untuk memeriksa anaknya." Tristan kaget melihat dua dokter dan dua perawat yang datang dengan membawa perlengkapan medis mereka.


"Oh gitu, silahkan naik ke atas Dok." Tristan menunjukan jalan kepada mereka. Para tim medis segera masuk ke dalam kamar, sedangkan Tristan hanya berdiri di depan pintu.


"Tristan ...." teriak Arta.


"Ayah, Bunda, Daddy, Mommy, kalian kenapa ....?" belum beres Tristan bicara, Rio langsung menanyakan kabar anaknya.


"Bagaimana keadaan Putri?"


"Dia di dalam sedang diperiksa." kata Tristan dengan lemas.


"Kamu jangan khawatir sayang, Putri akan baik-baik saja, semua perempuan pasti akan merasakan itu." Tristan mengerenyitkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang di katakan mertuanya itu.


Keempat orang tuanya masuk kedalam kamar putri disusul dengan Tristan. Putri sudah tertidur pulas, karena dia sangat lemas sejak tadi terus mengeluarkan isi perutnya.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Rio cemas.


"Asam lambungnya naik Pak, membuat dia merasakan mual, tapi saya sudah memberikan obat lambung dan mualnya,"


"Terus keadaan cucu saya gimana?" kedua dokter itu saling pandang, dan membuat Tristan kaget dengan apa yang ditanyakan Rio.


"Maaf Pak, tapi anak bapak tidak sedang mengandung, kami sudah memeriksanya, dan ini hanya asam lambung yang meningkat. Kalau begitu kita permisi pamit Pak." Dokter pun keluar diantar oleh Tristan ke depan.


Keempat orang tuanya langsung duduk lemas di sofa yang berada di kamar Putri. Mereka yang sudah bahagia akan mendapatkan cucu berakhir dengan harapan. Kirana menghampiri anaknya dan memegang erat tangan Putri. Dia merasa bersalah tidak memperhatikan anaknya. Setelah mengantarkan tim medis Tristan kembali naik keatas.


"Ayah, Bunda, Daddy, Mommy, maafkan Tristan!" katanya menunduk bersalah.


"Kenapa harus minta maaf sayang? tidak ada yang salah mungkin belum saatnya saja." Tristan binggung dengan apa yang dikatakan mertuanya padanya. Dia kemudian menceritakan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.


"Apa?? jadi selama ini kamu belum ...." Lesti mencubit Arta agar tidak meneruskan pembicaraannya. Tristan hanya menunduk malu, dia mengerti apa yang akan dikatakan ayahnya itu.


"Ini hanya kesalahpahaman, kalian harus menyelesaikannya berdua. Daddy percaya sama kamu, nak." katanya berdiri dan berjalan menuju keluar di ikuti istri dan sahabatnya.


"Oh iya, daddy lupa. Jangan lupa buatkan kami cucu ya!" kata Rio yang mengundang tawa semuanya.


"Siap bos." ucap Tristan dengan semangat. Mereka pun keluar dari kamar keduanya.


"Aku tidak menyangka ternyata anakku masih perawan, kuat juga anak kamu." canda Rio pada Arta mereka pun tertawa bersama.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN SEMUANYA.

__ADS_1


Jangan lupa klik Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya 😘😘😘😘


__ADS_2