
Putri terus melihat jam yang ada di tangannya, menunggu suaminya yang 'tak kunjung datang.
"Ya udah, Put gue anter aja ke rumah," ucap Sarah.
"Tapi, kak Tristan janji bakal jemput gue, gue jadi merasa khawatir, mana dia bawa Zana lagi,"
"Coba telpon, Put," titah Rani.
"Udah gue coba berulang kali Ran, tetep ga diangkat. Mereka kemana ya?"
Tristan tidak menyadari ponselnya yang dari tadi berdering, karena dia lupa memakai mode silent. Dia masih asik ngobrol dan tertawa bersama Dewi.
"Papa Zana capek, Zana mau sama mama." ucap gadis kecil itu, menyadarkan dirinya kalau dia harus menjemput Putri. Tristan melihat jamnya langsung berdiri kaget.
"Oh Tuhan."
"Kenapa, Tan?"
"Wi, sorry gue harus jemput Putri gue lupa. Lo pulang sendiri ga apa-apa 'kan?" Dewi hanya mengangguk.
"... kalau gitu gue tinggal ya, nanti gue hubungin lo. Zana, ayo sayang sama papa, pamit sama tante Dewi." ucapnya mengendong Zana.
"Tante Dewi, Zana pulang ya, bye." katanya sambil melambaikan tangannya. Dewi tersenyum dan membalas melambaikan tangan. Tristan berlari kecil ke arah parkiran. Dewi masih menatap punggung Tristan, rasa sakit di dadanya yang sudah lama tidak dirasakannya, kembali muncul.
"Tan apa kamu segitu cintanya sama Putri?" katanya pelan dan masih menatap mobil Tristan sampai hilang di depan matanya.
Tristan melihat ponselnya dan lima puluh panggilan tak terjawab dari istrinya. Dia pun menelpon Putri.
"*H*alo sayang maafin aku, sekarang aku di jalan aku tunggu di depan rumah sakit ya, karena Zana sudah tertidur,"
"kamu dari mana aja sih? ya udah kabari aku kalau sudah sampe." Putri langsung menutup ponselnya.
"Kak Tristan?" tanya Sarah dan Putri menjawabnya dengan mengangguk.
Tidak butuh waktu yang lama, akhirnya Putri dan Sarah pamit pada Rani dan Raffa untuk pulang. Tristan sudah menunggu di parkiran, dia tersenyum saat melihat Putri yang keluar dari pintu rumah sakit. Wajahnya terlihat sangat kesal dan marah, tatapannya tajam menatap kearahnya.
__ADS_1
"Siap-siap dimarahin kayanya." ucapnya yang terus melemparkan senyumnya pada Putri. Putri pun langsung masuk ke dalam mobil dan terus menatap sinis pada Tristan.
"Ampun yank jangan ngeliat gitu donk aku jadi meriding tau,"
"Kamu dari mana?"
"Emmm ... tadi kerjaan aku numpuk sayang, maaf!" Tristan terpaksa berbohong, karena situasi tidak memungkinkan untuk dia bercerita hari ini, kalau dia sudah bertemu dengan Dewi. Dia pun melajukan mobilnya.
"Mau makan?"
"Ga aku cape habis nunggu orang selama lim jam dan rasa laper aku hilang." jawab Putri membuat Tristan yang mendengarnya merinding. Tristan memilih diam hingga mereka sampai ke rumah. Putri turun dan langsung mengendong anaknya yang sudah tertidur.
"Sayang, maaf ya!" ucap Tristan yang memeluk tubuh istrinya dari belakang sambil mengikuti langkahnya.
"Kamu tau 'kan aku ga suka menunggu?"
"Banget sayang, maafkan aku, please!" ucapnya sambil memasukkan wajahnya di lehernya Putri.
"Jangan ulangi lagi." ucap Putri, Tristan membalikan tubuh istrinya.
***♥️♥️***
"Sayang, hari ini aku pulang telat ya ada kerjaan yang aku belum selesaikan,"
"Sebanyak apa sih yank kerjaan kamu? perasaan dari kemaren belum beres aja,"
"Sebenarnya kemaren ...."
"Udah ga usah ada alasan, aku berangkat dulu ya Zana mau telat sekolahnya." Putri pun pamit pada suaminya dan berangkat duluan.
Sebenarnya Tristan sangat ingin memberitahukan Putri, kalau kemaren dia bertemu dengan Dewi, tapi dia tidak mau mendengarkannya.
"Mungkin ini bukan waktu yang pas buat cerita." ucap Tristan dan dia berangkat ke kantor.
"Sayang, kemaren kamu main apa aja di kantor papa?" tanya Putri. Memang dia sudah terbiasa mengajak ngobrol Zana saat diperjalanan.
__ADS_1
"Kemaren Zana main puzzle mah, terus main perosotan di cafe."
"Cafe?"
"Iya Ma. Oia Ma, kemaren Zana dikenalin sama tante cantik. Kata papa, itu temen papa dulu waktu sekolah." deg jantung Putri seakan tiba-tiba berhenti. Dia tidak percaya dengan apa yang di bicarakan Zana, tapi Zana selama ini selalu saja berkata yang sebenarnya.
"Tante? siapa nama tantenya sayang?" Putri berusaha sekuat tenaga tetap tenang dan tersenyum di depan anaknya.
"Emmm ... siapa yaaa? oh iya namanya Tante Dewi." Putri tiba-tiba menekan rem, membuat mobil lain membunyikan klakson dan ada juga yang berkata kata kasar padanya lewat jendela mobil. Putri kembali melajukan mobilnya karena bunyi klakson dari mobil lain yang tidak berhenti.
"Mama kenapa?" Zana mulai ketakutan melihat wajah Putri yang seketika langsung panik.
"Ga sayang, ga apa-apa. Tadi mama cuma kaget kirain ada kucing ternyata ga ada." ucapnya berbohong sambil memaksakan senyumnya di depan anaknya.
Sampai di sekolah Putri mencium kening anaknya.
"Sayang, jangan nakal ya nanti mama jemput lagi."
"Iya, mama." Zana melambaikan tangannya dan berlari kecil masuk ke dalam sekolah.
Putri memegang dadanya yang terasa sesak saat mendengar kata Dewi. Tristan berani-beraninya kamu berbohong padaku, katanya dan langsung melajukan mobilnya menuju kantor Tristan.
.
.
.
.
~Bersambung~
TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA 😘 ♥️
__ADS_1