
Selama empat hari ini Putri sangat serius belajar, walaupun dia tidak maksimal menjawab soal-soal ujian tapi dia selalu berusaha. Tristan merasa dicuekin oleh istrinya, dia menghampiri Putri yang sibuk melihat ponselnya.
"Sayang,"
"Emmmm ...."
"Sayang, bobo yuk! Udah malam,"
"Sebentar lagi yank." Tristan langsung memeluk Putri dari belakang dan mencium wangi yang menempel di lehernya.
"Lagi chatting sama siapa sih?"
"Sama anak-anak. Oia yank, tau ga kita taruhan siapa nilainya yang paling jelek,"
"Terus rating paling tinggi siapa?"
"Aku," jawabnya tertunduk sedih.
"Hahaha, jangan masam gitu ah. Siapa yang tahu kalau besok nilai kamu yang lebih besar. Kamu 'kan udah belajar mati-matian." Putri hanya tersenyum mendengar itu, walaupun sudah belajar mati-matian, tapi tetep saja saat ujian semua mendadak blank bisiknya dalam hati.
Bunyi alarm membangunkan tidurnya, Sial gue malah kesiangan kesal Putri. Tristan memang sengaja mengubah alarm di dalam ponsel Putri.
Putri bergegas masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk sekolah. Putri tidak menyadari kalau suaminya sudah tidak ada di kamar itu. Setelah membersihkan diri Putri keluar kamar mandi dan betapa kagetnya dia semua orang berkumpul di kamarnya termasuk kedua mertuanya.
....HAPPY BIRTHDAY PUTRI....
Saking sibuknya belajar dia lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun anak daddy, maafkan daddy yang selama ini belum menjadi daddy yang baik untukmu." Putri langsung memeluk tubuh daddy-nya.
"Putri yang minta maaf, karena belum jadi anak yang baik untuk daddy."
Satu persatu mengucapkan selamat pada Putri, tapi yang dia tunggu-tunggu tidak juga muncul. Semua keluar kamar dan menunggu di meja makan.
Kemana perginya Tristan? Ah ... mungkin dia sudah menungguku di bawah, pikir Putri.
Setelah menyiapkan keperluan sekolahnya, dia bergegas turun kebawah langsung menuju ruang makan. Ditatapnya satu persatu tapi dia tidak juga melihat keberadaan Tristan.
"Mom, kak Tristan mana?"
"Loh dia memang ga bilang sama kamu? Tadi dia buru-buru berangkat, soalnya dia mau mampir ke kantor dulu ada yang harus dikerjakan," jelas Kirana pada anaknya.
"Ooh ... gitu." Putri menarik nafas dalam menundukan kepalanya, menarik kursinya dan duduk.
"Sayang, ini makanannya." Lesti menyodorkan piring yang berisi roti coklat kesukaannya.
"Terima kasih, Bunda."
"Sayang, apa kamu mau merayakan hari ulang tahunmu?" tanya Rio.
"Emmm ... untuk tahun ini aku tidak ingin merayakannya dad, sudah cukup tiap tahun aku selalu merayakannya,"
"Kamu 'kan bisa mengundang teman-teman dan sahabatmu." Putri hanya menggelengkan kepala.
"Oia sayang ayah dan bunda punya kado untukmu." Arta mengambil kotak kecil yang ada di sakunya.
"... bukalah." Putri membuka kotak itu dia langsung tersenyum melihat kalung berlian berbentuk inisial namanya.
"Makasih Ayah, Bunda, Putri senang." Lesti membantu anaknya memakaikan kalung.
"Anak bunda cantik." pujinya.
"Makasih, Bunda." dia langsung memeluk Lesti semua orang yang melihatnya tersenyum.
Rio pun ikut memberikan hadiah, dia menyodorkan amplop putih panjang ke depan anaknya.
"Ini apa dad?' tanya nya penasaran.
"Hadiah daddy dan momy, dibuka donk!" Putri membuka perlahan amplop putih dan dia langsung berdiri memeluk Rio.
"Daddy, makasih! Kok daddy tau sih aku pengen banget kesini." tiket pesawat menuju Korea yang sudah di siapkan Rio untuk honeymoon kedua anaknya.
"Apa sih yang daddy ga tau tentang anak cantik daddy." Putri kembali memeluk tubuh daddy-nya.
"Non, kita berangkat sekarang." kata Rani.
Putri pamit dan memeluk keempat orang tuanya. Selama perjalanan Putri sibuk menghubungi Tristan, tapi tidak dijawab juga. Ulang tahun terburuk yang dia pernah rasakan ucapnya dalam hati. Putri masih menekuk mukanya selama perjalanan.
"Non, kenapa?" tanya Maya yang terus memperhatikan nona mudanya.
"Tristan, ga bisa di hubungi, May," keluhnya, Maya dan Rani saling pandang dan tersenyum.
"Mungkin lagi ada masalah di kantor, non." jelas Rani
setelah sampai di sekolah bang Jojon memakirkan mobilnya. Putri turun dan langsung menuju kelasnya. Dia merasa aneh karena sudah jam segini, tapi kelas masih kosong.
Mungkin karena hari ini hari penerimaan rapot jadi anak-anak yang lain datang lebih siang, pikirnya. Dia menyimpan tas dibangkunya membuka ponsel dan mencoba menelpon Tristan, tapi tetap tidak ada jawaban.
Tring tring tring
Bela :"Put, lo dimana?"
__ADS_1
Citra :"Put, kak Tristan pingsan,"
Bela :"Cepetan lo ke sini di aula."
Putri membaca chat itu segera berlari tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
Ceklek ... dia membuka pintu aula, tetapi tidak ada siapapun didalamnya. Ruangan itu gelap, Putri berulang kali memangil nama sahabatnya tak ada jawaban. Dia terus masuk kedalam saat hendak mencoba menyalakan senter di ponselnya.
Tek ... suara lampu sorot menyala.
Satu lampu sorotan menghadap padanya. Tek, lampu kedua menyusul dan tek, lampu ketiga tersorot pada Tristan yang sedang berada di atas panggung memegang seikat bunga mawar dan mic.
Kau begitu sempurna
Dimataku kau begitu indah
Kau membuat diriku akan slalu memujamu
Disetiap langkahku
Kukan slalu memikirkan dirimu
Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semuaa
Hanya bersamamu ku akan bisa
Putri menutup mulut dengan tangannya meneteskan air mata mendengar suaminya bernyanyi. Tristan yang terus bernyanyi menuruni tangga dan perlahan menghampiri istrinya.
Kau adalah da-rahkuu
Kau adalah jantungkuu
Kau adalah hidupkuu
Lengkapi diriku
Oh sayangku, kau begitu
Sempurna... Sempurna..
HAPPY BIRTHDAY SAYANG
Tristan sudah berada di depan Putri menyerahkan seikat bunga mawar merah dan semua lampu pun menyala.
Happy birthday Putri
Happy birthday Putri
Happy birthday Happy birthday Happy birthday Putri
Disusul kelima sahabatnya juga Rani dan Maya menyanyikan lagu sambil membawa cake berbentuk spongeBob kartun kesukaannya dengan lilin angka 16 yang masih menyala.
"Ayo Put, tiup lilinnya dan buat permohonan," kata Bela yang memegang cake-nya.
Putri menutup matanya, dan huuuuuuffff meniup lilin. Semua orang kembali menepuk tangan mereka. Dia kembali memeluk suaminya dan ke tujuh sahabatnya tidak lupa juga dia mengucapkan terimakasih pada teman-temannya semua.
Semua sudah kembali ke kelas untuk mengambil rapot masing-masing, kecuali Putri dan orang-orang yang dekat dengannya masih duduk berkumpul di aula. Dari awal memang Putri sudah dibohongi bahwa hari ini masuk seperti biasa, padahal sebenarnya hari ini sekolah masuk lebih siang karena penerimaan rapot.
"Kalian kok bohongi gue sih? Pantes aja gue dateng sekolah masih sepi,"
"Ya ... lo nya aja gampang banget dibohongin." kata Satya dan mereka semua tertawa.
"Put, ini kado dari kita berlima." Bela yang mewakili mereka memberikan kado yang cukup besar ukurannya.
"Makasih, gaes." Putri kembali memeluk Bela disusul Citra dan Sarah memeluk dari belakang.
"Kalo ini dari aku sama Rani, maaf mungkin ini bukan barang yang mahal tapi ini kita berdua membuatnya sendiri." Putri terharu dan memeluk mereka berdua.
"Makasih yaaa, kalian memang teman yang paling baik gue seneng."
"Buka donk kadonya." ucap Citra.
Pertama Putri membuka kado dari kelima sahabatnya.
"Waaaah ... aku suka," teriaknya saat melihat boneka Spongebob berukuran besar.
Lanjut dia membuka kado dari Maya dan Rani.
sepasang syal berinisal namanya dan Tristan, karena mereka tau kalau keduanya akan berangkat liburan ke Korea, yang pasti disana sangat dingin. Putri menatap keduanya.
"Sukaaaaaaa." katanya sambil memeluk hadiah yang ada di tangannya.
"Kak Tristan kok diam aja, kado dari kaka mana?" tanya Romi.
"Kadonya di rumah aja ya sayang." goda Tristan.
"Yaaaaah baper deh gueeee, nyesel gue nanya," keluh Romi mengundang tawa semuanya. Mereka semua kembali ke kelas untuk mengambil rapot mereka masing-masing.
__ADS_1
**♥️♥️**
"Putri, nilai kamu lumayan bagus, tapi kamu harus lebih giat belajar lagi ya." kata pak Darto guru ekonomi sekaligus walikelas mereka.
"Terimakasih, Pak." Putri kembali ke bangkunya, kelima sahabatnya yang sudah berkumpul dibelakang harap-harap cemas menunggu giliran meraka.
"Put, gimana?" tanya Bela penasaran.
"Gue belum liat." Putri duduk dan perlahan membuka map.
"Yeeeeeeessssss." nilainya semua lulus dan diatas rata-rata, mereka yang awalnya meremehkan Putri menarik nafas dalam.
"Yaaah ... gue kalaah," kata Romi yang berjanji akan mentraktir mereka semua kalo nilai Putri bisa lulus semua tanpa remedial.
"Lo terlalu ngerendahin gue siiih." Putri tertawa puas melihat Romi.
"Oia, traktirnya nanti aja masuk sekolah soalnya gue mau liburan dulu ke Korea."
"Cieeeeee .... honeymoon nih," goda Satya.
"Iiih kagak, gue liburan doang. Apaan sih!" mukanya memerah karena malu.
"Put, tuh laki lo udah jemput," ucap Romi.
"Gue duluan yaaa. Makasih buat hari ini." Putri kembali memeluk sahabatnya dan pamit pada pak Darto dan semua teman-temannya.
"Gimana nilai kamu?" tanya Tristan yang langsung merangkul sang istri. Putri menyodorkan map dan Tristan langsung membuka dan dia tersenyum melihatnya.
"Tidak buruk." katanya.
"Jadi hari ini kita bisa kencan donk? Sekalian aku mau beli kebutuhan buat besok ke Korea."
"Korea?" dia kaget karena tidak mengetahui kado yang Putri dapat dari kedua mertuanya.
"Ya tadi pagi daddy ngasih aku kado buat liburan ke Korea berdua sama kamu," katanya polos, Tristan langsung tersenyum dia tau apa maksud mertuanya itu. Mereka berdua langsung menuju ke tempat perbelanjaan. Putri membeli banyak baju Couple, Tristan hanya mengikuti langkah sang istri dari toko satu ke toko yang lainnya.
"Yank, apa ini tidak terlalu banyak?" Tristan menunjukan banyak paper bag yang di bawanya. Putri hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya mencari barang-barang yang dia sukai. Tristan menarik nafas dalam dan mengikuti istrinya.
"Yank, laper," kata Putri yang sudah menghabiskan dua jam untuk berbelanja.
"Ya udah yuk! Aku juga sudah lapar." Tristan memindahkan semua tas belanjaan ke tangan kanan dan memegang tangan Putri.
"Yank, kok kita ke parkiran? Katanya mau makan" tanya Putri heran.
"Nanti juga kamu tau, ayo masuk!" dia membuka pintu untuk istrinya. Mobil merah itu langsung melaju menuju tempat makan langganan Tristan. Mobilnya terhenti di depan gerobag nasi goreng di pinggir jalan.
"Yank, kita makan di sini?" kaget Putri karena selama ini dia tidak pernah makan di makanan kaki lima.
"Iya sayang, ini tempat langganan aku kamu pasti suka." Tristan membuka mobil dan mengandeng tangan Putri keluar dari mobil.
"Bang, biasa ya, pesen dua,"
"Kemane aje lu? Jarang banget makan di mari," katanya dengan khas logat Betawi.
"Biasa bang, sibuk,"
"Pantes lu jarang mari, lu sekarang punya gandengan baru si yak." Tristan hanya tersenyum. Mereka berdua menikmati nasi goreng yang baru saja tiba, benar saja Putri sangat menyukainya ini pengalaman pertama untuknya.
**♥️**
Putri merebahkan badannya di atas kasur.
"Sayang, ganti baju dulu gih!" Tristan sudah lengkap dengan piamanya membangunkan istrinya yang sudah tertidur masih mengenakan seragam.
"Sayang, mau aku gantiin ga bajunya?" bisik Tristan dan seperti biasa Putri langsung bangun dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi.
"Hahahaahahahahaha." Tristan puas menertawai istrinya. Da mengambil ponsel dan duduk menyenderkan tubuhnya di atas kasur sambil menunggu Putri keluar dari kamar mandi.
"Yank, bantuin aku memasukan ini semua ke dalam koper dong." Putri yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung membereskan belanjaannya dan memasukan ke dalam koper. Setelah semua beres mereka berdua kembali ke ranjang.
"Sayang." Tristan memegang tangan Putri dan mereka duduk saling berhadapan.
"Iyaaa." Tristan langsung mencium bibir istrinya sambil memasukan cincin berlian.
"Sayang, ini ...."
"Happy birthday sayang, maafkan aku baru sekarang bisa memberikanmu cincin dengan hasil kerja keras ku sendiri, kamu menyukainya?" Putri megangguk sambil tersenyum dan dia langsung membalas ciuman suaminya.
.
.
.
.
~Bersambung~
TERIMAKASIH YA ATAS DUKUNGAN SEMUANYA
TEKAN TOMBOL LIKE DAN ❤️ YAAAA
__ADS_1
JANGAN LUPA TERSENYUM DAN SELALU BAHAGIA