Dia Suamiku

Dia Suamiku
Bonus Part 10


__ADS_3

Putri melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor suaminya. Tubuh terasa panas dan emosi yang sudah tidak sabar ingin segera di keluarkan. Sesampai di kantor, Putri langsung masuk ke dalam. Semua orang yang ada di sana memberi salam pada istri dari direktur mereka. Putri menahan sebentar rasa emosinya dan melemparkan senyumannya pada karyawan yang ada di sana.


Setelah sampai di lantai dua, dia langsung menuju ruangan di mana suaminya berada.


"Selamat siang, Bu Putri." sapa sekertaris Tristan.


"Siang, suami saya ada?"


"Sedang ada di ruangan rapat, tapi sebentar lagi selesai Bu, sebentar saya akan memberi tahu pak Bimo kedatangan ibu,"


"Jangan beri tahu, saya akan menunggu di dalam terimakasih ya." Putri pun masuk ke dalam ruangan Tristan dan duduk menunggu suaminya.


Benar kata sekertaris Tristan tidak butuh waktu lama akhirnya rapat selesai.


"Pak permisi, ibu Putri sudah menunggu di dalam." kata sekertaris saat Tristan datang bersama Bimo dan Maya.


"Oh iya terimakasih. Bimo, Maya kalian lanjutkan ini ya." ucap Tristan pada dua orang kepercayaannya. Tumben dia ga pergi les, ucapnya masuk kedalam sambil tersenyum lebar.


"Sa ... yang" ucapnya terbata saat melihat wajah Putri yang memerah, karena marah dengan kedua tangan yang dilipat di atas dada.


"Kamu kenapa sayang? ada apa?" tanya Tristan membelai wajahnya, tapi dengan cepat Putri menepisnya.


"Kayanya bahagia banget ya kamu udah ketemu sama seseorang yang selama ini kamu cari." kata Putri membuat Tristan bingung.


"Maksud kamu apa?"


"Jangan pura-pura bodoh, kamu udah berani bohongi aku karena dia, kamu tau berapa lama aku menunggu kamu kemaren? eh ternyata kamu lagi asik melepas rasa rindu sama wanita yang selama ini kamu bilang sahabat, ciih bulshit!!!" Tristan mulai paham apa yang dimaksud Putri, wajar istrinya itu marah dan dia sudah siap akan itu.


"Sayang, dengerin aku dulu. Kemaren ...."


"Ga ada yang perlu didengerin, penjelasan dari anak kamu sudah cukup buatku. Dan satu hal lagi, aku ingin menenangkan diriku jangan pernah mencari aku dan Zana." tegas Putri dan langsung keluar dari ruangan. Tetap dia menjaga image-nya sebagai istri direktur. Putri keluar memasang wajah yang tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tristan mengikuti langkah Putri sampai di parkiran mobilnya. Putri sama sekali tidak menghiraukan Tristan yang memohon untuk memberikan penjelasan.


"Sayang, please dengerin aku dulu!" kata Tristan sambil memegang tangannya memohon di dalam mobil Putri. Putri tidak bisa menahan emosinya dia meneteskan air matanya, membuat Tristan merasa sangat bersalah. Air mata sedih kedua yang Putri keluarkan karena dirinya.

__ADS_1


"Kak maafkan aku, dan sekarang kamu keluar! aku pengen sendiri." Putri berusaha menahan emosinya, Tristan tahu betul bagaimana perasaannya saat ini. Dia menuruti perintah sang istri, mungkin Putri perlu waktu untuk sendiri saat ini pikirnya. Tristan pun keluar dari mobil dan Putri segera melajukan mobilnya.


"Arrgh." teriak Tristan sambil memegang keningnya dan menyenderkan tubuhnya di mobil yang berada di dekatnya.


Selama perjalanan air mata Putri terus mengalir, dia pun menuju tempat lesnya. Sesampai disana Putri memarkirkan mobilnya. Tapi, dia tidak bisa turun karena air mata yang terus mengalir. Apa yang harus aku lakukan? ucapnya dan terus menangis.


Kelas pasti saat ini sudah dimulai dan Putri tidak mungkin masuk dengan penampilan seperti ini. Diapun terus menangis. Juna yang baru saja datang melihat Putri yang masih berada di dalam mobilnya.


"Kenapa dia tidak masuk?" ucapnya dan langsung menghampiri Putri.


Juna mengetok jendela mobil Putri, dia dengan cepat mengelap air matanya dan membuka jendelanya. Juna merasa kaget melihat Putri, jelas sangat terlihat kalau dirinya habis menangis. Putri menatap Juna dan air matanya kembali mengalir Juna merasa kaget. Diapun berjalan ke sebelah kiri dan masuk ke dalam mobil.


"Put, kamu kenapa?" tanya Juna bukan jawaban yang dia dapat, tapi tangisan yang semakin menjadi. Juna pun membiarkan Putri mengeluarkan semua unek-uneknya menepuk bahunya. Juna mengabari pihak sekolah, kalau dia berhalangan hadir agar kelasnya di ganti oleh chef yang lainnya.


Sudah hampir tiga puluh menit, Putri mengeluarkan air matanya. Dan sekarang dia pun cukup tenang, tapi Putri masih sesenggukan dan mengelap air matanya dengan tisu. Entah berapa banyak tisu yang ada di mobil itu.


"Sudah nangisnya?" tanya Juna dan Putri hanya mengangguk.


"Chef ...."


"Aku mau jemput Zana," ucapnya.


"Ya udah biar aku antar ya!"


"Ga usah chef, kelas bagaimana?"


"Kamu tenang aja, aku sudah meminta izin kok, biar aku yang menyetir." Putri mengangguk.


Mereka pun pergi untuk menjemput Zana. Juna tidak menanyakan Putri kenapa dia menangis, dia lebih memilih menemani wanita cantik itu. Selama perjalanan Putri terus mengelap air mata yang tidak ingin dia keluarkan. Air mata yang terus mengalir dengan sendirinya. Juna yang sedang menyetir sesekali melihat ke arah Putri. Setelah sampai di sekolah Putri sibuk mencari kaca mata hitam yang ada di dashboard mobil.


"Kamu cari apa?" tanya Juna heran.


"Ini dia." ucap Putri menunjukan kacamata yang di carinya, Juna langsung tertawa melihat kelakuan muridnya itu.

__ADS_1


"Chef, aku jemput Zana ke dalam dulu ya." Putri memakai kaca matanya, agar tidak terlihat sudah menangis, karena kalau Zana melihatnya akan menanyakan berjuta pertanyaan padanya. Juna terus menatap punggung Putri yang berjalan masuk ke dalam.


"Kok mama yang jemput? katanya Tante Sarah?"


"Iya mama pengen jemput Zana, tadi mama udah bilang sama tante Sarah kalau mama yang jemput."


"Asiiiiiik Zana seneng, kok mama pakai kaca mata hitam sih?"


"Emm biar cantik, mama cantik ga, Zan?"


"Mama Zana memang selalu cantik." ucap polos anak kecil itu sambil tersenyum, sambil mengandeng tangan Putri mereka pun jalan ke mobil.


"Mama, itu siapa?" tanya Zana saat melihat di dalam mobil mamanya ada seseorang.


"Itu om Juna sayang, gurunya mama." mereka pun lanjut berjalan.


"Hai om Juna." sapa Zana yang baru masuk ke dalam mobil.


"Hai cantik, kita ketemu lagi." sapa Juna kembali pada gadis kecil itu.


"Sekarang kita mau kemana?" tanya Juna pada Putri, tapi Putri hanya menggelengkan kepalanya, dia juga tidak tahu kemana tujuannya. Juna tersenyum dan melajukan mobilnya.


.


.


.


.


.


~Bersambung~

__ADS_1


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA 😘😘♥️


__ADS_2