Dia Suamiku

Dia Suamiku
HATIKU BERSAMAMU


__ADS_3

Pagi itu, suasana haru tercipta di kediaman Elgar. Bagaimana tidak, malaikat kecil yang selama ini menjadi sumber kebahagiaan serta keceriaan, akan pergi meninggalkan rumah itu. Semalam, Bu Dirga terus memeluk Pink saat tidur. Dia juga tak henti hentinya menangisi sang cucu satu satunya yang akan berjauhan dengannya.


Belum tertutup lubang menganga dihatinya karena ditinggal sang suami, dia kembali harus ditinggalkan sang cucu. Tak ada yang bisa dia lakukan, Devan sang papa, jelas lebih berhak atas Pink. Dan sekarang, dia hanya bisa berharap semoga Salsa san Elgar segera memberi cucu untuknya.


"Oma jangan nangis, nanti Pink pasti sering sering telepon oma." Ucap Pink sambil menyeka air mata omanya.


"Baik baik disana. Jangan nyusahin papa." Pesan Bu Dirga sambil menguncir rambut Pink untuk terakhir kalinya.


Salsa datang ke kamar Pink bersama Elgar. Wanita itu membawa sebuah kotak yang berisi paket aksesoris rambut yang lengkap.


"Buat Pink. Nanti kalau pakai ini, ingat tante Salsa sama Om El ya." Pesan Salsa sambil menyentuh rambut Pink.


"Cantik banget tante, terimakasih." Mata Pink berbinar melihat kotak transparan yang berisi aksesoris rambut itu.


"Pink nanti bisa pakai sendiri gak?" Tanya Salsa.


"Kan ada tante Mila."


Jleb


Hati Elgar seperti tertusuk belati mendengar nama Mila. Dia menoleh kearah lain untuk menyeka air mata sebelum semua orang melihatnya. Sayangnya, Bu Dirga lebih dulu melihatnya. Wanita paruh baya itu bisa mengerti apa yang dirasakan Elgar.


Putranya itu berubah 180 derajat sejak menikah dengan Salsa sebulan yang lalu. Elgar menjadi pribadi yang dingin dan gila kerja.


Perihal Mila yang akan pergi ke Singapura, Elgar sudah tahu. Beberapa hari yang lalu, Devan sempat memberitahunya. Mila akan melanjutkan pendidikan disana.


"Tante dan Om El ikut nganter Pink ke bandarakan?" Tanya bocah kecil itu sambil menatap Salsa dan Elgar bergantian.


Salsa segera mendekati Elgar lalu melingkarkan tangannya dilengan Elgar.


"Kita ikut ke bandara ya?" Ajak Salsa.


"Aku gak bisa Sa. Aku ada kerjaan."


Salsa mendecak pelan. Dia bosan mendengar kata kerja dan kerja. Rasanya cemburu sekali pada sesuatu bernama kerja itu. Bahkan Elgar menolak bulan madu dengan alasan kerja. Dia sampai merasa, jika saingan terberatnya bukan pelakor, melainkan pekerjaan.


"Ini Minggu El. Kapan sih kamu gak ada kerjaan?" Gerutu Salsa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku sibuk Sa. Sejak papa gak ada, semua kerjaan aku yang handle."


"Terus apa gunanya karyawan kamu? Mereka dibayar loh El. Tugas mereka itu bantu kerjaan kamu. Tambah karyawan biar kamu gak sibuk." Omel Salsa yang mulai habis kesabaran.


"Sudahlah Sa. Pergi sama mama saja kalau El sibuk." Bu Dirga yang mencium bibit bibit perseteruan segera menengahi. Dia tahu jika Elgar sengaja menyibukkan diri. Entah untuk mengurangi waktu bersama Salsa, atau untuk melupakan Mila. Atau mungkin keduanya.


"Ya udah aku siap siap dulu mah." Salsa yang geram segera meninggalkan kamar Pink menuju kamarnya. Begitupula dengan Bu Dirga yang juga keluar karena mau siap siap.

__ADS_1


Sepeninggal Salsa dan mamanya, Elgar berjalan mendekati Pink. Dia berjongkok dihadapan Pink yang saat itu duduk disisi ranjang.


Elgar meraih tangan Pink lalu menggenggamnya.


"Princessnya om, jaga diri baik baik ya. Jadi anak yang nurut. Rajin belajar, dan harus bahagia. Tetaplah menjadi sumber kebahagiaan untuk orang orang terdekat Pink."


Pink mengangguk mendengarkan petuah Elgar. Matanya mulai berkaca kaca karena sedih akan meninggalkan rumah dan orang orang yang menyayanginya.


"Jangan nangis." Elgar merengkuh bahu Pink lalu membawanya kedalam pelukan. "Kita hanya terpisah jarak. Om, Oma, dan Tante Salsa, semua tetap keluarga Pink. Semua masih sama, masih menyayangi Pink."


"Pink sayang Om El. Sayang oma juga. Tante Salsa juga." Ujar Pink disela sela tangisnya.


Elgar melepaskan pelukannya lalu menyeka air mata Pink.


"Bisa Om minta satu hal pada Pink?"


Pink mengangguk.


"Jaga tante Mila. Buat dia selalu bahagia."


Pink lagi lagi mengangguk.


Elgar menengadahkan wajahnya agar air matanya tak jatuh. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya. Sebuah permen yuppi kecil berwarna pink berbentuk love.


"Ini misi tersembunyi, jangan sampai ada yang tahu." Elgar menarik telapak tangan Pink dan meletakkan yuppi itu disana. "Berikan ini pada tante Mila."


Elgar tertawa mendengarnya. "Untuk Pink, Om sudah menyiapkan sebungkus besar. Udah Om masukkan kedalam tas biar oma gak tahu."


Pink seketika tertawa bahagia. Om prince nya memang paling mengerti urusan harta karunnya.


"Karena om udah ngasih harta karun banyak. Pink akan melaksanakan misinya tanpa ketahuan." Bisik Pink ditelinga Elgar.


"Bawa hatiku bersamamu Mil. Tubuh ini hanya tinggal raga, karena hatiku milikmu dan senantiasa ada bersamamu."


...****************...


Mila dan Devan menunggu Pink dibandara. Disana juga ada Bu Rahmi dan Pak Wahab yang ikut mengantar. Meski berat melepaskan Mila untuk pergi keluar negeri, tapi ini pilihan Mila. Dan sebagai orang tua, mereka hanya bisa mendukung dan mendoakan dari jauh.


"Jaga kesehatan. Ingat ada dia juga yang harus kemu pikirkan kesehatannya." Pesan Bu Rahmi sambil menyentuh perut Mila yang sudah berusia 12w. Devan terpaksa menunda keberangkatan demi menunggu janin Mila aman dibawa naik pesawat.


"Jangan khawatir Bu. Saya pastikan Mila akan baik baik saja. Saya yang akan menjaganya." Ujar Devan.


"Makasih banyak Nak Devan. Kami titip Mila." Kata Pak Wahab.


Orolan mereka terhenti saat melihat kedatangan Pink. Mila seketika gelisah melihat Salsa ada diantara mereka. Bagaimana nanti dia harus bersikap pada Elgar dan Salsa. Pasti sakit melihat kebersamaan mereka.

__ADS_1


Bu Dirga dan Salsa segera menyalami mereka semua. Mila merasakan kecanggungan saat dia menyalami Salsa. Tapi Elgar, dimana pria itu. Kenapa belum tampak juga.


"Maaf, Elgar tidak bisa ikut, dia sibuk." Ucap Salsa saat Devan menanyakan keberadaan Elgar.


Ada sedikit rasa sesal dihati Mila. Dia pikir hari ini akan melihat Elgar untuk terakhir kalinya, tapi rupanya, pria itu tidak datang.


Mereka akhirnya berpisah saat Mila, Devan dan Pink harus segera masuk keruang tunggu. Mila melangkahkan kakinya dengan berat. Beberapa kali dia menoleh kebelakang demi berharap Elgar yang tiba tiba muncul. Dan entah nyata atau tidak, dia melihat Elgar. Ya, dia melihat Elgar berdiri jauh sambil tersenyum dan menatap kearahnya. Apakah ini halusinasi? Ya, mungkin Mila berhalusinasi karena terlalu memikirkan Elgar.


Apapun itu, walau hanya halusinasi, Mila tetap bahagia karena bisa melihat Elgar. Meski tak bisa mendengar. Mila bisa melihat gerak bibir Elgar seolah mengucapkan I Love U sambil memberikan lambang hati menggunakan telunjuk dan jempolnya.


...****************...


Elgar, pria itu menatap Mila dari jauh. Ya, Mila tidak sedang berhalusinasi. Yang dia lihat tadi memang Elgar. Pria itu datang tanpa sepengetahuan siapapun untuk melihat Mila terakhir kalinya. Mana mungkin dia melewatkan kesempatan terakhir untuk melihat sang belahan jiwa.


Dan saat mata mereka tanpa disadari saling menatap, Elgar hanya bisa tersenyum getir.


"Selamat tinggal cintaku. Berbahagialah meski tak bersamaku. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Aku mencintaimu Mila, selamanya."


"I Love you."


Elgar menatap punggung Mila hingga hilang dari pandangannya. Dia lalu berjalan gontai meninggalkan bandara. Kenapa harus seperti ini akhir kisah cintanya. Kenapa dia tak bisa berakhir indah seperti yang lain. Saat ini, dia sudah seperti mati rasa. Raganya terasa kosong karena hatinya ikut pergi bersama Mila.


Sesampainya didalam mobil, Elgar berteriak dan memukul mukul kemudi. Dia menangis sejadi jadinya untuk meluapkan rasa sakit yang menumpuk didadanya.


Perpisahan ini terlalu menyakitkan baginya.


...****************...


Didalam pesawat, diam diam Pink mengeluarkan yuppi pemberian Elgar yang dia simpan disaku baju. Setelah memastikan papanya tengah sibuk membaca majalah, dia memberi kode pada Mila agar sedikit menunduk.


"Ada sesuatu dari om El." Bisik Pink ditelinga Mila.


Mendengar nama El, membuat hati Mila terasa nyeri.


Bocah itu lalu menarik telapak tangan Mila dan meletakkan yuppi pemberian Elgar disana.


Mila menatap yuppi bungkus kecil berbentuk love yang ada ditangannya. Air matanya meleleh bersamaan dengan tangannya yang menggenggam erat hati pemberian Elgar.


"Hatimu akan selalu bersamaku El. Dimanapun aku berada. Tetap hatimu yang aku genggam."


TAMAT


Season 2 nya udah launching ya Guys, yuk segera ramaikan dan masukkan di favorit. Judulnya DIA MANTAN SUAMIKU


Salam sayang dari Author receh 😘😘😘😘😘

__ADS_1


Bye.....sampai jumpa dikarya selanjutnya


__ADS_2