
**FLASHBACK ON**
"Bunda, aku berangkat sekolah dulu ya," sambil mencium kening Lesti.
"Hati-hati dijalan ya, jangan lupa untuk makan ya, kak,"
"Siap Bunda, Raka ayo cepat!" teriak Tristan pada
Raka adik laki-laki kesayangannya.
Ini adalah hari pertama untuk masuk sekolah di tahun ajaran baru. Tristan keluar rumah dan menggambil motor sport hitam dan mengantarkan Raka ke sekolahnya. Raka belum mendapatkan izin untuk membawa kendaraan, karena dia masih duduk di kelas tiga SMP. Setelah mengantarkan Raka Tristan langsung menuju rumah Dewi, dia teman dekatnya dari Sekolah Dasar sampai sekarang.
Sedikit cerita tentang kehidupan Tristan, nama lengkapnya TRISTAN ADELIO HIKARU. Dia besarkan dikeluarga yang penuh dengan kasih sayang. Sejak kecil Tristan tinggal di Jepang bersama kakek dan neneknya. Setelah umur sepuluh tahun Arta dan Lesti memutuskan untuk kembali ke Indonesia, karena memang yang dia tau, kalau mereka pernah tinggal di negara ini. Tristan tidak mengingatnya, karena saat itu usianya masih sangat kecil. Di Indonesia Tristan tinggal di rumah yang sederhana jauh dari kehidupan mewah seperti di Jepang. Walaupun di Jepang keluarganya hidup dengan fasilitas yang serba ada, tapi Arta selalu mengajarkan Tristan untuk menjadi orang yang sederhana. Tristan selalu mengingat apa yang di katakan Arta. Kata beliau kalau semua ini bukan milik kita, milik kita itu apa yang kita dapat dari hasil keringat kita sendiri. Kata-kata yang Ayahnya katakan itu menjadi motivasi dan prinsip dalam hidup Tristan sekarang.
Di Indonesia Arta mendapatkan kerja di perusahaan perhotelan. Setelah lima tahun dia memutuskan keluar dan ingin mempunyai usaha sendiri, tapi semua yang Arta lakukan gagal, karena persaingan bisnis. Lalu dia memutuskan untuk menjadi driver online dan Lesti selalu mendukung apapun keputusan suaminya.
**♥️♥️**
Tristan memakirkan motor kesayangannya di garasi rumah Dewi.
"Tristan lo udah sampai, sini masuk tuh kunci mobilnya. Aku mau ambil tas dulu" kata Dewi dan pergi masuk kembali ke dalam.
Semenjak masuk SMA Tristan memutuskan untuk belajar mencari uang sendiri dan ingin membayar biaya sekolahnya sendiri. Lalu orang tua Dewi menawarkannya untuk mengantar dan menjemput Dewi ke sekolah. Sebenarnya itu atas perintah Dewi, karena Dewi tau kalau Tristan ingin sekali mempunyai penghasilan sendiri. Kedua orang tua Tristan pun ikut mendukung apapun yang menjadi keputusannya, selama itu tidak menganggu sekolahnya.
Tristan menyalakan mobil pajero putih dan menunggu Dewi keluar dari rumah. Selama perjalanan Dewi bercerita tentang apa yang dia lakukan selama liburan sekolah kemaren, Tristan sudah biasa menjadi pendengar setianya semenjak SMP.
"Jadi lo selama liburan kemana?" tanya Dewi.
"Gue kerja part time." jawab nya singkat
"Lo masih muda tristan dan keluarga lo juga gue liat mampu kok biayain hidup lo, nikmatin sedikit hidup lo kenapa sih," katanya menasehati Tristan.
"Ini juga terasa nikmat kok,"
"Bukan maksud gue, ya lo cari pacar kek, senang-senang gitu, yang gue liat selama enam tahun kenal sama lo, lo sama sekali ga pernah gandeng perempuan"
"Gue, ga minat,"
"Jangan-jangan lo ....?"
"Eits ... jangan berpikir yang macam-macam ya, gue masih normal, masih suka sama lawan jenis. Cuma selama ini belum ada yang bikin hati gue bergetar aja," jelas Tristan.
"Oh gitu, bagus deh gue takut aja sahabat gue punya kepribadian yang menyimpang, hahahaha."
Jam sudah menunjukan pukul 6.30 Tristan bergegas memakirkan mobil, karena mereka sudah terlambat untuk rapat sebelum sekolah di mulai. Tristan menjabat sebagai ketua osis dan Dewi adalah wakilnya.
"Wi, lo duluan aja ke ruang osis." katanya dan dewi mengangguk lalu meninggalkan Tristan. Setelah memarkirkan mobil Tristan bergegas lari masuk kedalam.
Bruk ....
" aw ...." Tristan menambrak seorang wanita cantik berambut panjang hitam terurai dan hatinya merasa berdebar. Untuk pertama kalinya Tristan merasakan hatinya berdebar melihat seorang perempuan.
"Eh maaf gue ga sengaja, gue lagi buru-buru tadi. Lo ga apa-apa kan?" perempuan itu hanya diam menatapnya
"Halo ...halo ... lo ga apa-apa kan?" tanya Tristan lagi.
"Eh ga apa2 kok," jawabnya.
"Lain kali lo hati2 donk, punya mata di pake!" kata salah satu perempuan yang ada di belakangnya.
Menurutku dia bukan murid angkatan baru karena dia sudah memakai seragam SMA, gumamnya.
"May, gue ga apa2 kok. Emm ... gue ga apa kok santai aja," jelasnya.
"Sekali lagi sorry ya, gue bener-bener buru-buru tadi. Kenalin nama gue Tristan, gue kelas dua," kata Tristan sambil menggulurkan tangan.
"Oh nama gue, Putri dan sahabat gue Rani dan Maya,"
"Salam kenal ya, kalau gitu gue masuk duluan ya." kata Tristan sambil berlari masuk kedalam.
**LAPANGAN**
Di lapangan Dewi mengarahkan siswa angkatan baru untuk berkumpul. Semua siswa dari kelas satu sampai tiga sudah berkumpul dilapangan. Bapak kepala sekolah dan perwakilan dari beberapa guru memberikan pidato dan ucapan selamat datang kepada siswa angkatan baru. Setelah pidato dan upacara selesai siswa kelas dua dan tiga di bubarkan ke kelas masing-masing dan hanya siswa kelas satu yang tersisa. Hari ini hari pertama orientasi siswa, tapi sekolah tidak mengadakan seperti tahun-tahun sebelumnya, karena permintaan dari pihak sekolah yang tidak ingin terlalu di besar-besarkan.
Tristan tidak banyak bicara untuk acara ospek ini, karena dia menyerahkan semua nya sama Rangga dan Dewi. Dia melihat Rangga menegur dua wanita yang sedang menggobrol dan menyuruhnya berdiri di pinggir lapangan.
Itu 'kan ... Putri sama temannya
Tiap dia lihat wajahnya ada getaran aneh di dalam hatinya dan itu membuat dia bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan hatinya?
Setelah Dewi menyampaikan beberapa penggarahan, semua siswa kelas satu di bubarkan. Panita yang lainnya pergi untuk menunjukan kelas kepada siswa-siswi kelas satu. Hanya tersisa empat orang di lapangan yang sedang kena hukuman dan dikerjai oleh Rangga.
__ADS_1
Tristan, Icha dan Fathir masih membicarakan ke kegiatan selanjutnya di pinggir lapangan. Matanya sesekali melirik Putri yang sedang di hukum oleh Rangga di tengah lapangan. dan padangan keduanya bertemu, hatinya semakin berdetak dengan kencang, Tristan melemparkan senyuman karena tidak ingin dia melihatnya salah tingkah.
Semua penggurus osis berkumpul di ruang osis. untuk pelajaran pertama sampai istirahat kita membiarkan siswa kelas satu untuk saling mengenal kan diri masing-masing.
** RUANG OSIS **
"Gila panas banget baru sebentar dilapangan kulit gue gosong," keluh Dewi.
"Lebay amat sih lo." kata Rangga sambil mengacak-acak rambut Dewi.
"Iiiiih ... kak Rangaaaaaaa," teriak Dewi sambil merapihkan kembali rambutnya.
"Guys, liat anak baru yang tadi kena hukuman ga?"ucap Rangga.
"Yang mana?" tanya Icha.
"Yang rambut panjang, bibir merah trus ...."
"Jangan diterusin bisa panjang nantinya," potong Dewi dan semua tertawa.
"Siapa sih?" tanya Icha penasaran.
"Putri." jawab Rangga sambil tersenyum.
Tristan yang mendengar nama itu langsung spontan melihat ke arah Rangga, karena sejak tadi dia sedang membaca susunan acara ospek.
"Oh cewe yang putih itu, emang kenapa dia?" Icha
"Cantik banget." kata Rangga.
"Mulai deeh jiwa playboy-nya keluar. Awas dia masih polos hahaha." ucap Dewi mengundang tawa semua panitia, kecuali Tristan yang hanya tersenyum. Entah kenapa dia merasakan sesak dalam dada? dan dia masih belum mengerti perasaan apa yang dia rasakan untuk Putri
"Enak aja, kata siapa gue playboy, gue tuh orang yang paling setia dalam suatu hubungan ikatan yang sakral,"
"Ampun deh panas telinga gue denger bacot lo." ucap Fathir meninggal kan ruangan dan pergi menuju kantin, karena bel istirahat berbunyi.
"Fathir, tungguin gue!" teriak Icha.
"Tristan, ke kantin yu!" ajak Dewi dan di ikuti yang lainnya menuju kantin.
** KANTIN **
Sepeti biasa mereka selalu ambil tempat duduk di paling pojok.
Tristan memesan nasi goreng bang Jali, dan mereka semua menikmati makanan yang sudah kami pesan. Saat sedang menimati makanan yang pesan, mata Tristan tertuju pada wanita cantik yang baru masuk memasuki kantin. Siapa lagi kalo bukan Putri dan teman-teman.
"Sstt ... sstt." kata Fathir memberikan tanda pada Rangga memberitahu kalau ada wanita yang dia taksir baru datang.
"Tuh pujaan hati lo datang." katanya lagi membuat Tristan yang mendengarnya seketika terasa panas.
Tristan tau Putri menyadari kalau mata mereka tertuju padanya membuatnya mukanya memerah salah tingkah. Putri melihat ke arah Tristan dan dia hanya melempar senyuman padanya.
"Bro, lo mau kemana?" tanya Fathir pada Rangga yang hendak ingin pergi.
"Nyamperin pujaan hari gue," jawab Rangga.
"Inget udah kelas tiga! belajar bukannya jelalatan nyari cewe," sindir Dewi.
"Ga usah di ingetin udah tau kok, ya udah ah gue pergi dulu."
Rangga melangkah pergi dan menghampiri Putri. Tristan melihat keduanya asik menggobrol yang entah apa yang mereka bicarakan membuatnya lagi-lagi terasa sesak di dada, tapi yang dia lakukan sekarang hanya bisa diam. Bel masuk berbunyi Tristan langsung kembali ke ruang osis di susul yang lainnya untuk mengambil tugas untuk masing-masing kelas.
"Tristan kita jadi pembimbing X ips 2." kata Dewi yang memperlihatkan kertas yg berisikan nama siswa kelas tersebut.
"Oh iya, sini gue lihat." kata Tristan mengambil kertas yang berada di tangan Dewi. Matanya langsung tertuju pada satu nama yang membuatnya tersenyum.
"Lo, kenapa senyum ?" tanya Dewi ketika melihatnya mendadak tersenyum.
"Ga apa-apa kok, pengen aja emang ga boleh?"
"Hari ini lo kayanya bertingkah aneh deh. Gue liat dari tadi lo banyak diem trus sekarang lo senyum-senyum liat kertas doank, jangan-jangan ada yang lo taksir yaa?" goda Dewi.
"Sok tau banget lo, udah ah klo terus dengerin lo ngomong keburu bel pulang lagi." ucap Tristan sambil berjalan dan disusul Dewi dari belakang.
"Tristan, tungguin gue. Jadi siapa Tan? " tanyanya masih penasaran.
"Siapa? maksudnya?" Tristan pura-pura ga tau apa yang di maksud Dewi.
"Iya siapa yang lo taksir? gue penasaran sama type cewek lo,"
"Apaan sih ga ada, udah ga usah di bahas lagi kita udah sampai di kelas nih,"
__ADS_1
"Iya, iya tapi lo harus cerita ya siapa cewe yang buat hati es mu meleleh,"
"Iya ... cepetan! bawel banget sih." Tristan sambil mendorong Dewi memasuki kelas.
Saat masuk ke kelas mata Tristan langsung refleks melihat ke arah Putri.
Oh Tuhan ... betapa cantik dan manisnya perempuan itu, yang selalu membuatku ingin sekali memilikinya, ucapnya dalam hati.
Beberapa arahan di berikan oleh Tristan dan Dewi Semua anak-anak memperhatikan dengan seksama. Pandangan Tristan sesekali melihat ke arah Putri , mata keduanya sekali lagi saling beradu membuat mereka berdua hanya melemparkan senyuman. Tak terasa bel pulang berbunyi Tristan dan Dewi pamit meninggalkan kelas dan langsung menuju ke ruang osis.
** RUANG OSIS **
"Kayanya tahun ini banyak yang bening-bening deh, lumayan buat cuci mata," ucap Fathir.
"Mulai deh, Rangga kedua," Icha
"Gimana kelas kalian?" tanya Icha pada Tristan dan Dewi.
"Biasa cewek-cewek nya histeris ngeliat Tristan," jelas Dewi sambil merapihkan barang bawaannya.
"Waaah ... paraaaah kalah pamor lagi deh gue," kata Rangga yang baru memasuki ruangan.
"Kemana aja lo, baru nonggol," kata Fathir
"Dari ruang guru,"
"Oia ... kita jadikan sekarang kumpul?" kata Icha.
"Jadi donk," sahut Dewi.
"Gue ikut yaaa, soalnya gue ga bawa mobil" kata Shinta
"Iya, ikut mobil gue aja,"
"Kalau gue nyusul ya, gue bawa motor hari ini. Ketemu langsung aja di sana ya." ucap Fathir dan langsung meninggalkan ruang osis.
Seperti biasa mereka suka nongkrong ngumpul bareng di kafe yang ada tidak jauh dari sekolah. mereka berlima (Tristan, Dewi, Rangga, Sinta dan Icha ) menuju parkiran mobil.
"Lo berdua dapet kelasnya Putri ya?" tanya Rangga.
"Iya, kenapa lo mau tukeran?" pertanyaan Dewi seketika membuat hati Tristan menjadi sesak.
"Waaah seriusan? pengen banget gue. g
Gimana Tan, lo setuju ga?" tanya Rangga padanya.
"Emmm ...." jawabnya singkat Tristan binggung apa yang harus dijawab. Konsentrasinya pun kembali melihat lurus ke depan.
Dewi melirik ke arah Triatan dan melihat perubahan wajah Tristan, dia langsung mengetahui kalau sahabatnya tidak menyetujuinya.
"Enak aja, gue udah nyaman di kelas ini." ucap Dewi yang memang sengaja mewakili jawaban Tristan. Dewi memang mengerti apapun bahasa tubuh Tristan, karena memang Tristan orangnya tidak terlalu banyak bicara, tapi kalau orang yang sangat mengenalinya akan langsung tau dari ekspresi wajahnya.
"Ah lo ga asik banget sih," kesal Rangga.
"Ganjen amat sih lo, kak." kata Shinta yang baru mengetahui kakak kelasnya itu sedang jatuh cinta.
"Putri yang mana sih?" tanya Sinta penasaran.
"Itu lo yang di hukum di tengah lapangan yang rambut panjang," jelas Icha.
"Oh dia, kayanya cewe itu jadi tranding topik di kelas gue deh,"
"Wah masa??" kaget Dewi, Rangga dan juga Icha, Tristan yang mendengarkannya kembali memanas.
Kenapa orang yang pertama kali buat hatiku bergetar harus menjadi idola semua orang sih? pikirnya.
"Iya, cowok-cowok dikelas gue pada ngomongin dia,"
"Waaaah ... kak Rangga lo banyak saingan, mending lo nyerah aja deh." ejek Dewi membuat semua orang tertawa dan Tristan hanya tersenyum.
.
.
.
.
~Bersambung~
TERIMAKASIH
__ADS_1
FOLLO IG AUTHOR YU : @wulan_septriani