Dia Suamiku

Dia Suamiku
MENCURIGAI SESEORANG


__ADS_3

Mila menghempaskan tubuhnya diatas sofa sambil mengelap keringat didahinya. Nafasnya tampak terputus putus karena kelelahan. Tapi semua lelah itu seakan sirna saat Elgar berdiri dihadapannya sambil menyodorkan segelas air putih.


Dengan senyum yang mengembang, Mila menerima gelas itu dan segera meneguk isinya.


Elgar tak jauh beda. Pria itu juga terlihat lelah. Dia melepas kaosnya yang lepek karena keringat lalu duduk bertelanjang dada disamping Mila.


"Capek?" Tanya Elgar.


Mila mengangguk sambil meletakkan gelas kosong keatas meja didepannya.


Hari ini, mereka berdua sibuk mengubah tatanan apartemen. Elgar ingin Mila yang mengatur sesuai kemauannya. Mereka juga memindahkan semua barang dari apartemen Mila yang dulu, meski sewanya belum habis.


Elgar menarik pelan bahu Mila agar kepala wanita cantik itu bersandar didadanya. Aroma keringat bercampur parfum membuat kesan maskulin Elgar kian menguar. Dan itu membuat Mila tak pernah bosan bosan menghirup aroma suaminya dan memainkan jari jari nakalnya didada Elgar.


Mila menatap dinding kosong dihadapanya. Seandainya saja mereka punya foto pernikahan, alangkah indahnya jika foto itu terpajang disana.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Elgar yang menyadari jika Mila manatap dinding dengan tatapan yang berbeda.


"Akan sangat cantik jika foto pernikahan kita terpajang disana." Mila menunjuk dagu kearah dinding kosong dihadapan mereka.


Elgar tersenyum lalu mencium puncak kepala Mila. Sebuah harapan kecil, dan dia pasti akan segera mengabulkannya.


"Besok, aku akan menyuruh orang untuk mengurus surat pengajuan pernikahan kita ke KUA." Tutur Elgar.


Mila mendongakkan wajahnya untuk menatap Elgar.


"Tapi kita belum dapat restu El."


"Dengan atau tanpa restu, kita akan tetap meresmikan pernikahan kita."


"Ta_"


Elgar meletakkan telunjukkan dibibir Mila saat wanita itu hendak bicara.


"Tak ada tapi tapian. Semakin cepat semakin baik. Aku takut perutmu keburu membesar jika kita tak segera meresmikan pernikahan. Meskipun aku ingin punya anak, tapi aku tak mau pengantinku gendut saat resepsi nanti."


Mata Mila seketika melotot. Suaminya itu sunggu halu. Belum juga dia hamil, tapi suaminya itu sudah membayangkan perutnya membesar.


"Apa perlu kita mengadakan resepsi?" Tanya Mila.


Elgar tersenyum sambil menarik gemas pipi Mila.


"Tentu saja perlu. Pernikahan sebisa mungkin sekali seumur hidup. Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita menjadi raja dan ratu sehari."

__ADS_1


Mila tersenyum. Benar juga kata Elgar, dia sesungguhnya juga ingin merasakan menjadi ratu sehari seperti orang lain. Bersanding dipelaminan bersama orang yang dicintai. Memakai gaun pengantin yang cantik, dan disaksikan oleh orang tua dan kerabat mereka.


"Seperti apa pesta pernikahan impianmu?" Elgar ingin bisa mewujudkan mimpi Mila.


"Sebenarnya, aku ingin menikah dikampung El. Memasang tenda pernikahan dihalaman rumah. Mengundang tetangga dan seluruh sanak saudara. Sejak kecil, aku suka melihat prosesi adat temu pengantin di kampungku. Aku selalu membayangkan saat dewasa nanti, aku yang ada diposisi itu."


"Polos sekali." Cibir Elgar. "Jadi impian Mila kecil itu, masih berlaku saat ini?"


Mila terkekeh sambil mengangguk. Mungkin terdengar sangat sederhana bagi seorang Elgar yang mungkin bisa menyewa ballroom hotel atau gedung. Tapi inilah mimpi. Mimpi Mila kecil yang belum kesampaian hingga saat ini.


"Kamu tahu El, dikampungku, kami akan bergotong royong mempersiapkan segala keperluan jika ada tetangga yang mau hajatan. Satu minggu sebelum hari H, semua sudah mulai sibuk."


Lagi lagi Elgar kerkekeh. Buat apa meminta bantuan tetangga jika dia mampu menyewa jasa WO. Tapi ini mimpi Mila. Dan dia ingin mewujudkannya.


"Jadi, kita menikah di kampung?"


"Kamu setuju El?" Tanya Mila antusias.


Elgar mengangguk. "Apapun itu asal kamu bahagia."


"Makasih." Ucap Mila sambil memeluk Elgar erat dan mencium pipinya berkali kali.


Elgar memajukan bibirnya, memberi isyarat agar Mila menciumnya. Tentu saja dengan senang hati Mila langsung menciumnya. Ciuman yang awalnya lembut itu, kian lama kian dalam dan menuntut. Tubuh yang masih berkeringat karena lelah menggeser sofa dan memindahkan barang barang, kembali memanas. Gejolak didada kian meningkat seiring tangan yang mulai lepas kendali dan bergerak mencari sesuatu yang disukai. Tapi momen itu mendadak rusak akibat dering ponsel yang melengking. Tak ayal Elgar langsung mengumpat dan meraih benda pipih disebelahnya.


"Siapa?"


"Manusia yang sepanjang hidupnya tak pernah membiarkan aku tenang." Jawab Elgar bersungut sungut.


Mila mengurtkan kening mendengar jawaban yang sukar dipahami itu.


Tanpa berfikir dua kali, Elgar segera menekan tombol merah. Tapi beberapa detik kemudian, ada pesan masuk dari Devan masuk. Pria itu mengirim nopol mobil yang hari itu menculik Mila. Tapi Elgar tampak tak tertarik meski sejak kemarin Devan terus mendesaknya untuk melapor ke polisi. Pria itu bahkan siap menjadi saksi.


Bukannya tak mau lapor dan membiarkan bajingan itu lepas. Elgar hanya tak mau nama papanya ikut tersangkut. Jika sampai itu terjadi, nama perusahaan juga ikut buruk. Bahkan hal yang paling terburuk, papanya bisa mendekam dipenjara. Tidak, dia tak mau. Dia tak mau masa tua papanya harus dihabiskan dipenjara. Jadi Elgar memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah ini.


"Ada apa El?" Tanya Mila yang melihat raut wajah Elgar berubah keruh.


"Devan memaksaku untuk melaporkan kasus kemarin." Jawab Elgar sambil membuang nafas berat.


Mila tak bisa berkomentar, dia hanya memeluk Elgar dan menyandarkan kepalanya didada bidang sang suami.


"Maaf. Bukannya aku tak mau mengupayakan keadilan untukmu. Tapi aku hanya takut, takut jika papaku adalah dalang dibalik kejadian itu."


Mila menengadahkan wajahnya dan menatap Elgar.

__ADS_1


"Jangan terlalu cepat menyimpulkan." Ucap Mila.


"Tapi tak ada orang lain lagi yang bisa dicurigai." Jawab Elgar lemah sambil menatap langit langit apartemen.


"El...."


"Hem." Sahut Elgar sambil menunduk dan menatap Mila.


"Apa kau tahu dimana Pak Bas saat ini? Apa dia masih ada di Kalimantan?" Berita terakhir yang Mila dengar, pria itu dipindah tugaskan ke Kalimantan.


"Kenapa kau bertanya tentang dia?"


"Bos para preman itu mengenaliku El. Dan sorot matanya___" Mila sempat ragu mengatakannya. "Seperti Pak Bas."


Elgar seketika melotot dan menegakkan tubuhnya.


"Postur tubuhnya memang tak sama. Pria kemarin tampak lebih kurus. Dan satu lagi, dia juga mengubah suaranya. Suaranya seperti dibuat buat besar. Itu artinya, dia takut aku mengenalinya. Dan bisa disimpulkan, jika aku mungkin memang mengenalnya."


"Apa kau yakin?" Tanya Elgar sambil menatap kedua manik mata Mila dan memegang pundaknya.


"Tak begitu yakin juga. Karena tubuhnya kurus dan bukannya Pak Bas ada dikalimantan?"


Elgar menggeleng, membuat Mila jadi bingung.


"Dia tidak di Kalimantan. Sebenarnya aku memecatnya secara tidak hormat, bukan dipindah tugaskan ke Kalimantan."


Mata Mila seketika melotot. "Tapi, kenapa gosipnya dia dipindah tugaskan?"


"Sengaja dibuat seperti itu agar tidak menimbulkan gosip berkepanjangan."


"Jadi kemungkian dia ada di_"


"Jakarta. Kemungkinan dia ada di Jakarta." Potong Elgar.


"Tapi bagaimana dia bisa tahu hubungan kita?"


"Aku rasa dia sering menguntitmu. Bahkan mungkin kecelakaan waktu itu, saat kamu diserempet motor, itu juga ulahnya."


Mila menutup mulutnya yang menganga. Rasanya masih tak percaya jika seorang Pak Bas dendam begitu besar padanya dan Elgar karena dipecat.


Elgar mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. Dia menyuruh seseorang untuk mencari tahu tentang keberadaan dan foto Pak Bas terbaru. Apa mungkin jika sekarang, Pak Bas memang lebih kurus dari waktu dia bekerja di Dirgantara grup.


"Aku akan menyelidiki kasus ini. Jika benar dia pelakunya, sampai keujung duniapun, aku tak akan melepaskannya." Geram Elgar sambil mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


__ADS_2