
Bu Rahmi mengelus dada begitu memasuki kamar Mila. Gelap gulita, tak ada sebuah lampupun yang menyala bahkan lampu tidur. Sedangkan tirai masih tertutup rapat sehingga tak ada cahaya sama sekali yang masuk. Hanya suara isak tangis yang terdengar. Tiga hari sudah Mila seperti ini. Hanya terpekur didalam kamar sambil menangis. Sehari Mila hanya makan sekali, itupun atas paksaan ibunya.
Bu Rahmi segera membuka tirai. Membiarkan sinar matahari masuk dan menyadarkan Mila jika hari sudah mulai pagi.
Mila duduk diatas ranjang sambil memeluk kedua lututnya yang ditekuk. Disebelahnya ada sepatu, kaos, kalung dan juga cincin pemberian Elgar.
Bu Rahmi mendekati Mila, mengambil kalung dan cincin lalu dia letakkan diatas nakas.
"Simpan baik baik, jangan sampai hilang. Ibu yakin harganya tidak murah."
"Apa sebaiknya, semua ini Mila kembalikan pada Elgar Bu?" Mila meluruskan kakinya dan menyeka air mata yang tak pernah kering.
"Ibu yakin, Elgar tulus memberikannya. Dan dia pasti lebih senang jika kamu menyimpannya. Tapi jika barang barang ini membuatmu tak bisa melupakan Elgar, terserah padamu jika ingin dikembalikan."
Bu Rahmi menggeser duduknya lebih dekat pada Mila lalu merangkul pundaknya dan membelai rambutnya.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini Bu." Ujar Mila sambil menyandarkan kepalanya di dada sang ibu.
"Kamu mau pulang ke kampung?"
"Kemanapun, asal tidak disini. Apartemen ini milik Elgar."
Bu Rahmi langsung menggeleng. "Apartemen ini milikmu. Elgar sudah memberikannya padamu. Surat suratnya sedang diurus."
Mila terhenyak mendengarnya. Dia menatap Bu Rahmi tak percaya.
"Elgar belum mengatakannya padamu?"
Mila menggeleng. "Elgar langsung pergi begitu dia mengucapkan talak."
"Apa dia mengatakan alasan menalakmu?"
Lagi lagi Mila menggeleng.
Bu Rahmi menghela nafas. Selama tiga hari ini, dia dan Mila memang jarang sekali berkomunikasi. Mila lebih memilih mengurung diri dikamar dan selalu bilang ingin sendiri.
"Sebelum menalakmu, Elgar datang kerumah. Dia mengembalikanmu pada kami dan membawa kami kesini agar ada yang menemanimu. Dia juga mengatakan alasan kenapa menceraikanmu."
"Apa Bu, apa alasannya?" Mila menarik narik lengen baju ibunya karena tak sabar. Selama tiga hari tiga malam ini dia merenung, mencari cari letak kesalahannya. Apa sebabnya Elgar menceraikannya? Hingga detik ini, dia belum tahu apa alasan Elgar menceraikannya.
Bu Rahmi menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Pelan pelan dia ceritakan semuanya. Mulai dari wasiat dari alm Pak Dirga. Serta Elgar yang meminta pendapat pada orang tua Mila.
Sebagai orang tua, Pak Wahab dan Bu Rahmi jelas mencemaskan Mila. Lebih dari apapun, mereka tak mau sampai terjadi apa apa pada putri mereka.
Tangis Mila kembali pecah. Mata yang sudah sangat bengkak itu dipaksa menangis lagi dan lagi.
"Kenapa harus seperti ini Bu? Kenapa Mila dan Elgar tak bisa bersama? Kenapa cinta kami yang harus dikorbankan? Kami hanya saling mencintai, dimana salah kami Bu?"
__ADS_1
Bu Rahmi mendekap erat Mila dan menciumi puncak kepalanya.
"Kalian tidak salah nak. Hanya saja, jodoh kalian mungkin hanya sampai disini."
Mila menepuk nepuk dadanya yang terasa sakit. Rasanya ini tidak adil. Mereka saling mencintai, tapi kenapa situasi dan kondisi memaksa mereka untuk berpisah.
"Mila ingin berjodoh dunia akhirat dengan Elgar Bu." Lirih Mila dengan suara bergetar karena tangis.
"Kembali lagi Mila. Manusia hanya bisa berencana. Tetapi sesunguhnya, Tuhanlah yang maha menentukan. Jodoh, maut, itu sudah digariskan. Jika memang hanya sampai disini jodohmu dengan Elgar, kamu harus ikhlas. Yakinlah, Tuhan akan mengganti dengan yang lebih baik."
Mila menggeleng cepat. "Elgar yang terbaik Bu."
"Itu menurutmu nak. Tapi hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik bagi umatnya. Sabar nak, serahkan semua ini pada Tuhan. Ikhlaskan Elgar."
Ikhlas, mudah sekali diucapkan, tapi sulit direalisasikan. Dan sungguh, kalau boleh jujur, Mila tidak ikhlas kehilangan Elgar.
Mila merasakan kepalanya berdenyut. Fakta ini begitu menyakitkan. Dia dan Elgar terpaksa berpisah karena keadaan. Dan Elgar, Mila yakin dia juga sedang tak baik baik saja saat ini.
"Mila harus bertemu Elgar Bu. Mila harus ketemu Elgar." Mila segera meraih ponsel diatas nakas. Saat hendak mencari kontak Elgar, dia baru ingat jika Elgar sudah memblokir nomornya sejak pergi hari itu.
Devan, Mila teringat Devan. Pria itu pasti bisa membantunya untuk bertemu Elgar.
"Mila harus pergi Bu." Mila segera turun dari ranjang. Tapi baru beberapa langkah, dunianya seperti berputar.
"Mila, Mila."
...****************...
Mila akhirnya sadar setelah Bu Rahmi mengoleskan minyak angin disekitar wajahnya. Dia masih terbaring dilantai dengan kepala berada dipangkuan ibunya. Bu Rahmi jelas tak kuat mengangkat Mila keranjang. Meminta bantuan suaminya, jelas tidak mungkin.
"Alhamdulilah, akhirnya kamu sadar nak."
"Mila kenapa Bu?"
"Kamu pingsan. Kamu pasti lemas karena kurang asupan makanan." Jawab Pak Wahab yang juga ada disana. "Sekarang, lebih baik kamu makan dulu."
Mila yang merasakan tubuhnya lemas segera mengangguk. Bu Rahmi membantunya berdiri dan berjalan menuju sofa lalu mengambilkan makanan.
Disaat Mila tengah makan, bel pintu berbunyi. Bu Rahmi segera keluar untuk membukakan pintu. Tak lama kemudian, dia kembali dan memberitahu Mila jika ada tamu untuknya.
Mila seperti tak percaya melihat siapa yang datang menemuinya. Bu Dirga, wanita itu yang kini tengah berdiri tepat dihadapannya. Bu Dirga tampak berbeda dengan terakhir kali Mila melihat di pemakamana. Wanita itu tampak lebih kurus dan wajahnya suram.
"Silakan duduk Nyonya." Mila mempersilakan.
Bu Dirga mengangguk lalu duduk. Sekilas, dia memperhatikan interior yang sedikit berubah dari apartemen Elgar yang dulu sering dia datangi. Apartemen ini adalah hadiah kelulusan yang diberikan Pak Dirga setelah Elgar meraih gelar S1. Sama dengan apartemen yang saat ini dihuni Devan, itu juga hadiah dari Pak Dirga untuk Alina setelah kelulusannya.
Untuk beberapa saat, mereka saling diam. Suasana terasa begitu canggung mengingat selama ini tak pernah ada komunikasi diantara mereka meski berstatus menantu dan ibu mertua. Dan saat ini, mereka menyandang status yang sama, yakni janda.
__ADS_1
Kedatangan Bu Rahmi yang membawa secangkir teh sedikit mengurangi kecanggungan. Tapi begitu Bu Rahmi masuk, suasana canggung itu kembali tercipta.
Bu Dirga menatap Mila yang matanya bengkak karena menangis. Dia yakin, jika waktunya sudah tepat. Beberapa hari yang lalu, hal yang sama dia lihat pada Elgar. Bahkan sampai saat ini, dia belum bisa berkomunikasi dengan Elgar. Pria itu pergi pagi dan pulang hampir tengah malam setiap hari.
"Maaf, apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Mila.
"Kamu dan Elgar....."
"Kami sudah berpisah." Jawab Mila sebelum Bu Dirga melanjutkan kalimatnya. Mila pikir, wanita itu akan tersenyum bahagia mendengarnya, tapi tidak. Ternyata Bu Dirga hanya memberikan ekspresi datar.
Bu Dirga mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkannya kedepan Mila.
"Apa ini?" Tanya Mila saat melihat sebuah amplop berwarna jingga yang bertuliskan namanya
"Amanah dari alm suami saya. Bukalah."
Dengan perasaan campur aduk, Mila membuka amplop itu. Ternyata, isinya dua lembar kertas. Mata Mila terbelalak melihat kertas yang dia ambil pertama kali. Tangannya sedikit gemetar memegang cek bertuliskan angka 2 milyar.
"Apa maksudnya ini?"
Bu Dirga tak terkejut. Alm suaminya sudah menjelaskan semuanya disalam surat untuknya.
"Jangan tersinggung. Kami bukan membeli harga dirimu. Hanya ingin memastikan kamu hidup lebih baik setelah berpisah dengan Elgar. Hiduplah dengan baik dengan uang itu. Kamu masih muda. Kamu bisa melanjutkan pendidikan atau membuka usaha dengan uang itu."
"Tidak. Saya tidak bisa menerimanya." Mila menyodorkan kembali cek itu kehadapan Bu Dirga.
"Alm suami saya jelas punya alasan kuat memberikan uang ini padamu. Ini amanah terakhir dari beliau. Tolong diterima."
"Tidak, saya tetap tidak bisa."
"Disini, saya hanya menyampaikan amanah. Jadi tolong, jangan persulit saya dengan tidak mau menerimanya." Bu Dirga mulai berdiri dan membenarkan posisi tasnya.
"Tolong maafkan alm suami saya. Biarkan dia tenang disana dengan menerima pemberiannya. Atas nama keluarga Dirgantara, saya minta maaf. Permisi." Bu Dirga lalu pergi.
"Tunggu Bu." Mila mengenar Bu Dirga yang hampir sampai dipintu.
"Maaf, saya tidak bisa menerimanya." Mila menyodorkan cek tersebut kearah Bu Dirga.
"Saya hanya menyampaikan amanah. Jika mau mengembalikan, kembalikan pada yang bersangkutan." Bu Dirga membuka pintu lalu keluar begitu saja.
Mila memandangi cek senilai 2 Milyar itu. Kemudian dia teringat jika masih asa satu kertas lagi didalam amplop tadi. Mila membuka kertas yang dilipat itu. Air matanya mengalir membaca surat yang ditulis Pak Dirga dengan tangannya sendiri.
MAAF
Saya tidak tahu harus menulis apa. Yang saya tahu, saya hanya ingin meminta maaf padamu. Tolong jangan benci saya.
"Saya tidak pernah membenci Bapak, tidak pernah." Gumam Mila dalam hati sambil menitikkan air mata.
__ADS_1