Dia Suamiku

Dia Suamiku
Rencana


__ADS_3

**KAMAR PUTRI**


Putri merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sungguh hari ini melelahkan, tapi juga menyenangkan karena bisa melihat wajah tampan Tristan, di tambah dia anak dari sahabat Kirana dan Rio.


05.30


"Anak momy, ayo bangun!"


"Emmm ... mommy, Putri masih ngantuk,"


"Katanya mau mandiri, tapi jam segini kok belum bangun sih?"kata Kirana sambil mengecup kening Putri.


"Lima menit mom, please!" katanya dan memindahkan kepalanya di pangkuan kirana sambil memeluk tubuh rampingnya.


"Udah jam tujuh loh, sayang,"


"Apaaaaaaaa?" Putri bergegas bangun dari tempat tidur berlari menuju kamar mandi.


"Anak itu masih aja ceroboh, begitu cepat dia bangun tanpa melihat jam,aku hanya membohonginya, ini 'kan masih jam 5.30. Gimana kamu jadi seorang istri nanti?" ucap Kirana pergi keluar dari kamar Putri.


Setelah membersihkan diri Putri langsung membereskan apa yang harus di bawa hari ini, tp semua sudah siap tertata rapih di atas meja dan membuat hatinya menjadi tenang. Saat hendak turun ke bawah Putri melihat jam dinding yang masih menunjukan 5.45, seketika membuat tubuhnya lemas dan dia pun langsung duduk di pinggir kasur.


Mommy ... kok tega siih ngerjain anaknya semata wayangnya, gerutunya dalam hati.


" Mommy ...." teriak Putri sambil menuruni anak tangga dan membuat semua orang yang ada di rumah berkumpul di ruang tengah.


"Non, ada yang bisa bibi bantu?" kata bi Inah yang sedikit takut. Putri selalu melakukan apapun sesukanya,dia sering ngamuk dari hal yang sangat kecil, membuat semua orang takut apabila melihatnya mengamuk.


"Mommy mana?" tanya Putri.


"Di dapur, non?"


" Oh gitu, ya udah." bi Inah dan yang lainnya terlihat kaget mendengar jawaban Putri dan mereka masih berdiri di depan tangga.


"Kalian kok masih di sini? ya udah bubar aja!" katanya pergi meninggalkan semuanya dan menuju ke dapur.


"Bi, non Putri berubah ya semenjak masuk ke sekolah," kata salah seorang assisten rumah.


"Ssst ... sudah-sudah sekarang kalian bubar."


bi Inah memang sudah seperti kepala pelayan di rumah ini, karena memang dia sudah lama mengabdi pada keluarga Agatha.


"Mommy ...." teriak Putri sambil menghampiri Kirana di dapur. Kirana yang dari tadi sudah mendengar anaknya teriak hanya tertawa di dapur.


"Iya sayang, ga usah teriak-teriak momy denger kok," kata Kirana dengan lembut.


"Mommy kok bohongin Putri siiih?" tanya nya kesal.


"Ada apa sih ini pagi-pagi udah ribut?" kata Rio yang baru saja keluar dari kamar.


"Daddy, mommy membohongiku,"


"Mommy cuma becanda Dad, habisnya kamu bukannya liat jam dulu malah langsung masuk kamar mandi. Ya mommy ga salah dong, udah jangan cemberut aja, mulai dari sekarang kamu harus belajar bangun pagi, udah sana duduk!" titah Kirana.


Putri dan Rio pun duduk menunggu sarapan yang sedang di siapkan kirana dan dua asistennya.


"Daddy, kok belum pake baju kerja?"


"Iya daddy sekarang cuti dulu sayang" kata Rio sambil membaca koran.


"Daddy, kenapa sakit? "tanya Putri karena dia tau kalau daddy seorang yang bisa di bilang maniak akan kerjaan.


"Ga kok sayang, hari ini ayah Arya sama bunda Lesti mau main ke sini,"


"Seriusan Dad?? sama Tristan juga ga?" tanya Putri semangat.


"Semangat banget sih anak daddy, apa segitu besar suka kamu sama Tristan?" goda Rio.


"Iya donk harus semangat, Tristan itu cinta pertama aku Dad." katanya dengan polos. Kirana yang sedang berada di dapur langsung beradu pandang dengan suaminya sambil tersenyum.


"Jadi daddy cinta keberapa kamu?"


"Nol," jawabnya singkat.


"Kok nol? kamu udah g sayang sama daddy lagi ya?"


"Iya, karena nol itu didepan angka satu,jadi ga ada yg bisa mengalahkan cinta Putri sama daddy." Rio tersipu malu, semua yang ada di ruangan itu tertawa termasuk Rani dan maya yang baru saja tiba selesai mempersiapkan kebutuhan Putri.


"Jadi dad, Tristan ke sini ga?"


"Ya ga dong, sayang,"


"Yaaaaaah," ucapnya dengan lesu.


"Tristan 'kan seharian bakal sama kamu di sekolah, lagian kalau dia kesini kamunya ga ada 'kan lagi nginep di sekolah atau mau di batalin aja nginepnya?" goda Rio.


"Oh iya aku lupa, jangan donk Dad, ini tuh momen yang paling aku tunggu,"


"Udah ya ngobrolnya, sekarang kita sarapan dulu." kata Kirana sambil membawa nasi goreng seafood kesukaan anaknya. Semua menikmati masakan yg dimasak oleh wanita cantik itu. Selesai makan Rani, maya dan asisten lainnya membereskan semua yang ada di meja makan.


"Rani! kamu yang membereskan keperluanku hari ini?"


"Iya, Non." jantungnya berdetak dengan kencang karena dia takut melakukan kesalahan dan akan membuat Putri ngamuk.


"Mulai besok kamu tidak usah melakukannya." semua serentak kanget dengan apa yang di utarakan Putri, kecuali kedua orang tuanya yg hanya tersenyum dengan keputusan anaknya. Mereka bangga bahwa sekarang anaknya sudah bisa belajar menghargai orang lain.

__ADS_1


"Aku dan Maya ga keberatan kok, Non." ucap Rani yg ketakutan. dipikirnya bahwa dia dan Maya akan di usir dari rumah.


"Tapi aku keberatan, aku udah gede dan sekarang aku bisa mengerjakan semuanya sendiri."


"Tapi, Non,"


"Ga ada tapi-tapian, lo dan Maya butuh menikmati masa muda kalian, bukan di habisikan untuk ngurusin gue, ya 'kan dad?"


"Oh ... iya." Rio tersenyum bangga pada anaknya.


Semua asisten, supir, dan bodyguard Putri alias bang Jojon yang ada di ruangan itu hanya terdiam kaget dengan apa yang di bicarakan nona muda mereka. Hal yang sama sekali mereka tidak pernah bayangkan. Rani dan Maya pun mengiyakan dan dalam hati mereka sangat bangga sama Putri, karena diam-diam memperhatikan mereka berdua.


Jam menunjukan pukul 6.20 masih terlalu pagi untuk pergi ke sekolah, Putri mengingatkan perbincangan semalam dengan daddy nya belum selesai menurutnya.


"Dad,"


"Iya,"


"Maksud Daddy yang semalem apa?"


"Yang mana sayang?" sambil meminum kopi yang sudah di siapkan bi Inah.


"Soal Tristan,"


"Oh soal itu, nanti juga tau sendiri, udah sekarang kamu pergi kesekolah nanti terlambat." kata Rio untuk menghindari pertanyaan anaknya itu.


Putri yang saat itu masih belum puas dengan jawaban Rio menekuk wajah cemberutnya dan pamit kepada kedua orang tuanya. Rio yang melihat anaknya kesal itu hanya bisa tersenyum.


** SEKOLAH **


Semua siswa kelas dua dan tiga di liburkan, karena ada acara malam puncak untuk siswa kelas satu.


"Bang Jon, nanti malem ga usah masuk ke sekolah ya cukup di parkiran aja." ucap Putri dan langsung turun dari mobil. Bang Joni yang belum sempat untuk mengatakan pesan tuannya pun pasrah untuk menuruti ucapan nona mudanya.


"Sabar ya, bang Jon." ledek Rani dan bergegas turun dari mobil mengikuti langkah Putri.


"Non Putri, aku masuk kelas dulu ya, nanti ...." belum beres Rani berbicara Putri langsung memotongnya.


"Nanti lo ga usah nyamperin gue lagi, mending lo cari temen di kelas lo dan nikmatin masa SMA lo," jelas Putri.


"Iya non terimakasih, aku duluan ya." kata Rani dengan tersenyum


**♥️♥️**


"Putri ...." teriak Bela yang langsung merangkulnya dari belakang.


"Heii cantik, oia gimana semua tugas udah dibeli?"


"Udah donk, kemaren dibawa sama Romi, awas aja tu anak sampe lupa bawa." keduanya berjalan menuju kelas.


"Put, pujaan hati lo." kata Bela menunjukan ke arah Tristan, Tristan yang sadar akan kedatangan Putri tersenyum dan melambaikan tangannya, Putri pun membalasnya.


"Sumpaaaah, sejak kapan lo jadi sedekat itu sama kak Tristan?" tanya Bela penasaran dengan kejadian tadi sambil menyimpan tas ranselnya di atas meja.


"Pelan dikit donk, gue malu di liatin yang lain." karena Putri sadar saat Bela membahas Tristan, sontak semua orang yg ada di kelas memperhatikan mereka.


"Upss sorry, buruan ceritain," kata Bela dan menarik tanganku agar segera duduk.


"Ada cerita apa nih? kita berdua kepoo." kata Citra dan sarah yang dari tadi sudah mengawasi mereka berdua. Belum sempat Putri bercerita Dewi dan Tristan sudah masuk kedalam kelas.


"Pagi ...." sapa keduanya.


"Pagi, Kak." jawab seluruh siswa


"Pokoknya lo hutang cerita sama kita bertiga!" kata Sarah dan langsung membalikan badannya ke arah depan, Putri hanya pasrah mengangguk.


"Tugasnya sudah dibeli semuanya 'kan?" tanya Dewi.


Sudah kak, jawab seluruh siswa. Semua siswa pun mengatur tempat duduk, sesuai dengan kelompok mereka masing-masing.


"Rom, ga ada yg ketinggalan 'kan?" tanya Bela khawatir


"Ga ada, cantik." goda Romi


"Ikh ... genit." ucap Bela. Tidak sengaja Putri melihat Satya yang menatap Bela dengan berbeda, tidak seperti Satya yang biasanya yang selalu saja cari masalah dengan Bela.


"Tugas kalian adalah membuat bahan yang ada di depan kalian harus menjadi satu benda yang bisa di gunakan. Ini bukan mata pelajaran karya seni ya, ini hanya menumbuhkan rasa kerjasama kalian. dan yang paling bagus akan mendapatkan reward saat acara di malam hari nanti." jelas Dewi.


Semua kelompok mulai memikirkan apa yang harus mereka buat, karena tiap kelompok mempunyai bahan-bahan yang berbeda.


"Aku tau kita bikin apa?" teriak Bela dengan semangat , yang tidak sadar semua orang melirik padanya.


"Sstttt ... lo jangan keras-keras napa?" Satya.


"Iya ... mana gue tau klo semua orang bakal merhatiin kita,"


"Suara lo cempreng, tapi ga sadar." ledek Satya


"Iiiiiii ... lo yaaaa ....!!"


"Udah donk jangan berantem. Jadi kita bikin apa nih?" tanya Putri.


"Lampion," jawab Bela.


"Bener juga, kita bisa bikin lampion dan cahayanya dari senter ini," kata Romi menambahkan.

__ADS_1


"Kalian bikin apa?" tanya Tristan yang ada tepat di belakang Putri dengan seketika tubuhnya merasa kaku.


"Kita coba bikin lampion, Kak," jawab Romi


"Bagus, kalian coba bikin aja." katanya langsung pergi, tapi yang Putri kaget Tristan menyentuh bahu Putri dan mengepalkan tangannya yang berada di belakang untuk memberikannya semangat tanpa melihat Putri. Dia pun menundukan kepala tersenyum malu, Bela yang melihat semuanya pun tersenyum melihat sahabatnya itu.


Kelas terasa hening,karena masing-masing kelompok begitu sibuk membuat maha karya mereka. Tak terasa bel istirahat berbunyi.


"Yaah ... kak belum beres nih," teriak anak-anak.


"Ga apa-apa, kalian bisa lanjut sampai jam dua dan harus sudah selesai. Sekarang kalian bisa istirahat dulu " kata Tristan dan langsung meninggalkan ruang kelas di susul Dewi.


"Wooy!!" Sarah mengagetkan Putri karena dari tadi dia terus memperhatikan Tristan, tanpa menyadari Tristan yang sudah keluar kelas.


"Orangnya udah pergi tapi masih aja lo ngelamun," ledek Citra.


"Ke kantin yu! laperrr," ucap Bela.


"Hey ... gadis, kita gabung dong," kata Romi sambil merangkul Satya.


"Terserah." kata Bela mereka berenam jalan menuju kantin.


** KANTIN **


Di kantin hanya beberapa yang buka, karena hampir semua siswa di liburkan.


"Yaah ... soto mbayun tutup." keluh Citra.


Mereka berenam memilih makan nasi goreng bang Jali, karena cuma makanan itu bisa mengenyangkan perut mereka. Pandangan Putri melirik sekitar mencari keberadaan Tristan, tapi tidak dia temukan dan kantin hanya di penuhi anak-anak angkatan baru.


"Ehem ... ada yg linglung nyari pujaan hatinya tuh," ejek Sarah.


"Siapa??"tanya Satya penasaran begitupun dengan Romi karena mereka berdua belum mengetahuinya.


"Tuuuh, yang duduk di pojokan, tuan Putri Adele," jawab Citra.


"Emang pujaan hatinya siapa?" tanya Romi yang mulutnya masih penuh dengan nasi goreng.


"Ah lo kepo deeeh, nanti juga kalian berdua tau. Habisin dulu aja tuh makanan yg ada di mulut lo, baru ngomong."ucap Bela dan semua hanya tertawa melihat Romi.


** KEDIAMAN AGATHA **


Kirana sedang sibuk di dapur untuk mempersiapkan aneka makanan untuk menyambut kedua sahabatnya datang.


Ting tong ting tong


"Bi Inah, biar saya yang buka." kata Rio menghentikan langkah bi Inah yang hendak membukakan pintu rumah.


"Hai bro." sapa kedua laki-laki tampan itu sambil pelukan.


"Ayo masuk! Kirana sudah menunggu kalian di dalam," mereka bertiga masuk menuju ruang keluarga.


"Hai Kirana." sapa Lesti, Kirana yang sedang sibuk memasak menyerahkan tugasnya kepada bi Inah dan langsung menghampiri sahabatnya itu.


"Hai, sayang," Kirana menjawab dengan pelukan. Keempat sahabat itu berkumpul ruang tengah dekat ruang makan sambil berbincang-bincang mengenang masa lalu.


"Bagaimana rencana kita?" tanya Arya.


"Jadi dong." jawab Rio. Kemarin di kediaman Arta, mereka berempat merencanakan untuk berlibur singkat di akhir pekan Selain untuk melepas rindu mereka juga ingin membangun kedekatan antara Tristan dan Putri.


"Anakku sudah tergila-gila sama Tristan, setiap hari yang dia ceritakan cuma anak sulungmu," kata Rio menggundang tawa semuanya.


"Sayang, bagaimana kalau kita nikahkan aja mereka pas liburan nanti?" kata Kirana yang seketika mengheningkan suasana.


"Kamu serius sayang?" tanya suaminya.


"Serius! toh memang rencana awal kita untuk menikahkan keduanya kan, kok kalian kaget sih?"


"Tapi mereka masih sekolah dan sangat muda," ucap Lesti.


"Aku yakin mereka berdua mempunyai perasaan yang sama. Kalau masalah sekolah 'kan gampang kita bisa lanjut homeschooling aja atau kita kan bisa menikahkan anak-anak kita tanpa sepengetahuan pihak sekolah," kata Kirana hingga meyakinkan Rio dan Lesti


"Oke ... setuju " ucap Lesti dan Rio.


"Saya tidak setuju!!" kata Arta yang membuat ketiga sahabatnya menatap sinis padanya.


"Tristan belum memiliki apapun dan dia belum bisa menghidupi kebutuhan anak kalian." dia tetap pada pendiriannya yang tidak akan menerima pemberian orang lain, karena dia tau pasti Rio akan mencukupi kehidupan kedua anak itu kelak. Rio, Kirana dan Lesti yang mengetahui watak Arta hanya menggelengkan kepala.


"Udah donk sayang, jangan keras kepala!" bujuk istrinya.


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan itu, semua bisa di atur nanti. Ayolah aku ingin sekali mempunyai besan seperti dirimu," goda Rio yang membuat Arta tertawa.


"Okelah saya setuju."


.


.


.


.


.


~Bersambung~

__ADS_1


TERIMAKASIH ATAS SUPPORT SEMUANYA


Jangan lupa Like, Komen dan Vote sebanyak-banyaknya ya......😇😇


__ADS_2