Dia Suamiku

Dia Suamiku
BERDUKA


__ADS_3

Hening, yang terdengar hanya suara alat alat kesehatan. Elgar menatap wajah keriput yang terbaring tak berdaya di atas ranjang. Sumpah demi apapun, dia sungguh tak tega melihat alat alat kesehatan menempel di tubuh papanya.


Elgar duduk disebuah kursi disamping brankar. Tangannya terulur untuk meraih tangan sang papa. Tangan yang dulu sering memukulnya itu kita lemah tak berdaya. Jangankan mengangkat tangan, membuka mata saja, Pak Dirga tidak bisa. Ini sudah hari kedua Pak Dirga di ICU.


Disaat tak ada orang seperti ini, Elgar tak bisa menyembunyikan perasaannya. Air matanya meleleh saat mengingat pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu. Menyesal, itu pasti. Kenapa dia begitu buta telah menuduh papanya tanpa bukti.


"Pah, El minta maaf." Ucap Elgar sambil menyeka air mata dan menyusut hidung. Dia benar benar merasa bersalah, apalagi jika ingat semua ucapan Jordi. Pria yang dia tuduh ini telah menyelidiki kasus yang menimpa Mila. Bahkan mengumpulkan bukti dan ternyata sudah melaporkan Baskara ke polisi.


"Cepat sadar pah. El yakin papa kuat."


Sejujurnya, Elgar benar benar takut saat ini. Dia takut jika tak bisa lagi melihat papanya membuka mata. Dokter bilang, kondisi papanya kritis. Selain itu, tadi Jordi juga bercerita jika dua hari yang lalu, papanya ke notaris untuk membuat surat wasiat baru. Jordi tak tahu apa isi pastinya. Tapi dalam perjalanan ke notaris, Pak Dirga sempat bilang jika akan mewariskan semua saham Dirgantara grup pada Elgar.


Elgar takut jika papanya melakukan itu karena sudah punya firasat umurnya tak akan panjang. Semoga saja ketakutannya tak kejadian.


Saat Elgar keluar, dia melihat Mila duduk dibangku panjang dekat ICU. Istrinya itu tampak membawa sebuah tote bag besar yang entah apa isinya.


"El." Panggil Mila sambil berdiri.


Elgar menghampiri Mila dan langsung memeluknya. Dia menumpahkan air matanya dibalik punggung Mila.


"Sabar El, Pak Dirga pasti baik baik saja. Dia pasti akan segera sembuh dan sehat seperti dulu lagi." Ujar Mila sambil mengelus pungguh Elgar. Sementara Elgar, dia hanya bisa mengaminkan dalam hati.


Mila mengajak Elgar duduk lalu merapikan rambutnya yang berantakan. Sejak kemarin, Elgar tak pulang sama sekali.


"Makan ya." Mila mengeluarkan kotak makan dari tote bag yang dia bawa. Dia lalu membukanya dan menyuapi Elgar yang pagi ini memang belum sarapan apa apa.


"Maaf aku kesini gak bilang. Tadi aku melihat disini tak ada orang, dan didalam kamu sendirian, makanya aku menunggu disini."


Elgar hanya mengangguk sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya. Meski dia tak ada selera makan, tapi dia tetap harus makan agar tak sampai sakit. Dia ingin selalu menjaga papanya. Dia tak mau jika sampai terjadi sesuatu pada papanya dan dia sebagai anak satu satunya tak ada disana. Semalampun, saat Jordi memaksanya pulang, Elgar kekeh tidak mau.


"Kamu bawa banyak sekali makanan?" Tanya Elgar yang meneliti isi tote bag Mila.


"Takutnya ada banyak orang disini."

__ADS_1


"Kamu sudah sarapan?"


"Sudah. Tadi sebelum berangkat kesini."


Elgar segera menghabiskan suapan demi suapan. Hingga isi kotak makan itu habis.


"Papa kritis." Ucap Elgar lemah sambil menyandarkan kepalanya di bahu Mila. Dia juga memejamkan matanya yang terasa lengket karena kurang tidur. Semalam Elgar tak bisa tidur. Perasaan takut terus menghantuinya. Dia takut terjadi sesuatu pada papanya saat dia tertidur.


"Terus berdoa El." Ujar Mila sambil menggenggam tangan Elgar.


"Aku takut Mil. Aku takut papa pergi untuk selamanya." Bersamaan dengan itu air mata Elgar menetes tanpa bisa dikendalikan. Dia tak bisa pura pura kuat dihadapan Mila. Perasaan nyaman didekat Mila membuatnya tak malu meski menangis.


"Jangan berprasangka buruk dulu. Terus saja berdoa semoga Pak Dirga masih diberi umur yang panjang."


"Aku belum minta maaf pada Papa. Aku takut dia pergi sebelum aku sempat meminta maaf."


"Aku yakin dia sudah memaafkanmu El. Rata rata setiap orang tua akan selalu memaafkan kesalahan anaknya meski tanpa diminta." Sahut Mila sambil mengusap lembut kepala Elgar.


"Tidurlah sebentar, aku yakin kamu lelah. Biar aku yang menunggu Pak Dirga."


"Kamu disini?"


Mila terkejut saat seseorang ternyata sudah berdiri dihadapannya.


"Nyonya." Gumam Mila yang merasa mulai panik karena ditatap Bu Dirga.


"El." Panggilan Bu Dirga yang lumayan keras membangunkan Elgar dari tidurnya.


"Mamah." Gumam Elgar sambil mengerjab ngerjabkan matanya. Elgar lalu menatap Mila yang tampak cemas.


"Lebih baik kamu pergi dari sini." Usir Bu Dirga dengan nada dingin. Ekspresinya tampak datar, entah seperti apa perasaannya saat ini, tak bisa ditebak.


"Mah..."Protes Elgar.

__ADS_1


"Mamah tak ada tenaga untuk berdebat El." Sahut Bu Dirga.


"Ta_"


Remasan tangan Mila membuat Elgar menghentikan ucapannya. Dia menoleh pada Mila dan mendapati wanita itu tersenyum sambil menggeleng.


"Aku pergi dulu." Ujar Mila sambil berdiri dan melepaskan tangan Elgar.


"Saya pergi dulu. Semoga Pak Dirga segera diberi kesembuhan." Ujar Mila sambil menyodorkan tangan ke arah Bu Dirga. Wanita itu hanya diam saja, membuat Mila kembali menarik tangannya.


"Aku antar sampai lobi." Ucap Elgar sambil berdiri.


"Tak perlu." Sahut Bu Dirga cepat sebelum Mila menjawab.


"Aku bisa sendiri El. Kamu temenin mama kamu saja." Mila segera meninggalkan tempat itu. Dia mencoba untuk legowo menerima kenyataan ini dan berharap suatu saat, orang tua Elgar akan merestuinya.


Saat Mila sudah menghilang dari pandangannya, Bu Dirga duduk dibangku. Dia melihat totebag yang berisi banyak makanan.


"Itu dari Mila." Ujar Elgar.


"Lain kali, jangan biarkan dia ada disini."


"Mah...."


"Mama tak ada tenaga untuk berdebat El."


Kalimat Bu Dirga membuat Elgar memilih untuk diam. Saat ini memang bukan waktu yang tepat untuk berdebat.


...*****...


Elgar terdiam mendengar apa yang disampaikan dokter. Tubuhnya terasa lemah hingga menangispun rasanya sudah tak mampu. Berbeda dengan mamanya, wanita itu seketika pingsan mendengar kabar jika suami tercintanya telah tutup usia. Tepat jam 9 malam, Pak Dirga dinyatakan meninggal.


Elgar masuk kedalam ruang ICU. Dia melihat perawat sedang melepaskan alat alat yang menempel ditubuh yang sudah tak bernyawa itu. Dadanya terasa sesak karena air mata yang tak mau keluar. Dia memeluk tubuh papanya yang masih hangat. Tapi mungkin beberapa saat lagi, tubuh itu akan dingin dan tak bisa lagi dia sentuh.

__ADS_1


"Maafkan El Pah, maaf. Maaf karena telah mengecewakan papa. Maaf karena menjadi anak yang tidak berbakti. El sayang papah."


Elgar terus mengucapkan maaf dalam hati. Lidahnya terasa kelu untuk berucap.


__ADS_2