Dia Suamiku

Dia Suamiku
KEJUTAN


__ADS_3

Mila yang sedang merias wajah didepan cermin merasa terganggu dengan ponsel Elgar yang terus terusan berbunyi. Mila yang awalnya mengabaikan, jadi berdiri demi mengambil benda yang ditinggal tuannya mandi itu. Hanya melihat nama Salsa dilayar ponsel, hati Mila sudah terasa nyeri.


Ceklek


Mila menoleh saat pintu kamar mandi terbuka. Tampak Elgar yang baru keluar dengan tubuh sedikit basah dan handuk yang melilit dipinggangnya.


"Salsa telepon berkali kali." Ujar Mila sambil berjalan mendekati Elgar dan menyerahkan ponsel yang masih berdering itu. Elgar tampak ragu untuk menjawab, tapi anggukan kepala Mila membuatnya segera menekan ikon hijau dilayar ponsel. Dia juga meloudspeaker agar Mila bisa ikut mendengar obrolan mereka.


"Hallo."


"Hallo honey." Jelas sekali kelegaan dinada suara Salsa. Sepertinya, gadis itu memang berusaha keras untuk bisa menghubungi Elgar. "Kenapa sekarang kamu sangat susah dihubungi?" Keluh Salsa. Elgar memang tak pernah menelepon maupun mengirim chat. Bahkan jika Salsa menelepon, dia pasti menjawab sebentar lalu berpura pura sibuk.


"Maaf Sa, aku sibuk."


"Jangan bohong." Seru Salsa. "Tari Bilang, sudah beberapa hari kamu gak ke kantor."


Elgar menggeram pelan. Tak menyangka jika Salsa sering berhubungan dengan Tari dan meminta informasi padanya.


"Aku lagi sibuk urusan lain."


"Apa?"


Elgar jelas tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Salsa.


"Aku akan ke US." Ucap Elgar sambil menatap Mila dan menggenggam tangannya.


"Really?"


"Ya, aku akan ke US."


"Aku tak sabar menunggumu honey." Suara Salsa terdengar lebih riang dari awal tadi.


"Mungkin 3 atau 4 hari lagi aku kesana. Sekarang aku sibuk Sa. Aku tutup dulu ya."


"Baiklah, selesaikan urusanmu. Aku tunggu di US. Aku sangat merindukanmu Beb."


Elgar segara mengakhiri sambungan teleponnya dengan Salsa.


Elgar melemparkan pelan ponselnya keatas ranjang lalu memeluk Mila dari belakang. Aroma sabun dan shampo yang begitu harum dari tubuh Elgar, benar benar memanjakan indra penciuman Mila.


"Aku akan ke US untuk menyelesaikan urusanku dengan Salsa. Aku tak mungkin memutuskannya via telepon. Hubungan kami dimulai dengan baik baik, dan aku ingin mengakhirinya dengan baik juga."


Mila mengangguk paham. Meskipun terasa berat melepaskan Elgar ke US, tapi dia tak boleh egois. Salsa juga punya perasaan, biarlah mereka menyelesaikan apa yang seharusnya sekesai.


"Kamu percayakan padaku?"


Mila membalikkan tubuh menghadap Elgar lalu mengangguk. Rasa cemburu jelas ada, tapi kali ini, dia percaya pada Elgar.


Mila membelai sebentar dada bidang suaminya yang ditumbuhi bulu halus. Kemudian dia menggering pria itu hingga duduk ditepian ranjang.


"Biar aku keringakan rambut kamu." Mila beranjak menuju almari untuk mengambil handuk kecil lalu kembali menuju Elgar.


Mila hendak naik keranjang tapi ditahan oleh Elgar. Pria itu menarik pinggang Mila agar duduk dipangkuannya. Mila hanya bisa menurut, dia duduk menyamping dipangkuan Elgar lalu menggosok kepala pria itu yang menunduk. Posisi kepala Elgar yang dekat dengan dada Mila membuat pria itu menciumi dan mendusel dusel seperti bayi kehausan.


"Hentikan El." Ujar Mila yang merasa kegelian. Tapi dia hanya bicara, tak ada usaha sedikitpun untuk menjauhkan dadanya dari kebuasan Elgar.


"Sepertinya masih ada waktu untuk melakukannya sekali." Pinta Elgar sambil mendongak menatap Mila penuh damba.


"Gak ada." Jawab Mila sambil menggeleng. Dia kemudian bangkit dari pangkuan Elgar dan duduk kembali didepan meja rias untuk melanjutkan make up yang belum selesai.


"Sekali saja sayang. Aku janji gak akan lama." Rengek Elgar sambil mendekati Mila dan berdiri tepat dibelakangnya.


"No. Tak ada sekali atau berapapun. Kita sudah sepakat mau ke supermarket. Jadi jangan buang waktu lagi. Segera pakai pakaian yang udah aku siapin diatas ranjang." Ucap Mila tanpa mau dibantah.


Kalau sudah seperti ini, Elgar hanya bisa pasrah dan segera berganti pakaian.

__ADS_1


...******...


Sore ini, baik Mila maupun Elgar tampak sangat semangat berbelanja. Keduanya terus saja berceloteh tentang menu yang akan mereka masak hingga 3 hari kedepan. Saking asyiknya, mereka terus saja berbelanja hingga troli yang didorong Elgar hampir penuh.


Beruntung hari ini bukan weekend, jadi mereka tak perlu antri panjang hanya untuk membayar dikasir.


"Tak ada yang kurang lagi?" Tanya El saat barang belanjaan mereka tengah ditotal oleh kasir.


"Gak ada kayaknya." Jawab Mila sambil sibuk melihat lihat coklat dan permen yang ada didekat kasir. Dia teringat akan harta karun yang disimpan Pink ditasnya. Ingin rasanya dia membelikan beberapa coklat dan permen untuk bocah itu.


Mila mengambil beberapa lalu diletakkan diatas meja kasir.


"Sejak kapan kamu suka permen?" Tanya Elgar heran.


"Buat Pink."


"Oh....kirain."


"Kirain apa?"


"Kirain kamu hamil. Makanya tiba tiba suka yang aneh aneh karena efek ngidam, hehehe." Jawabnya sambil cengengesan.


Mila membuang nafas perlahan. Sebegitu ngebetkan Elgar punya anak, batinnya.


"Pengantin baru ya?" Tanya mbak kasir.


"Bukan mbak." Jawab Mila sambil tersenyum.


"Masih mau ngurus pernikahan malah." Lanjut Elgar santai tapi bikin Mila langsung melotot.


"Enggak mbak, enggak. Suami saya suka becanda. Kita udah hampir 6 bulan menikah." Mila menjelaskan.


"Kamu itu apaan sih." Desis Mila sambil memelototi Elgar.


"Becanda sayang. Lagian tuh mbak mbak kepo. Mau tahu aja urusan orang." Ujar Elgar tanpa memelankan suara. Otomatis, mbak kasir tersebut mendengarnya.


Si mbak mbak kasir makin menunduk karena malu.


"El udah." Desis Mila sambil menyentak lengan Elgar.


"Maaf ya mbak." Ucap Mila yang merasa tak enak hati. Akhir akhir ini Elgar sudah terlihat baik, nyatanya dia tetap sama seperti dulu. Arogant dan menyebalkan.


"Tidak apa apa mbak. Saya yang harusnya minta maaf." Ucap mbak kasir sambil melanjutkan pekerjaannya. Setelah selesai membayar, cepat cepat Mila mengajak Elgar pergi dari sana.


"Kita kesuatu tempat dulu." Ucap Elgar saat mereka sudah ada didalam mobil.


"Kemana?"


"Ada deh."


"His, kebiasaan. Sok sok rahasia."


"Hahaha....Udah, pokonya nurut aja. Sama Mas Aa Elgar mah pasti senang."


Mila menyebikkan bibirnya lalu memakai seatbelt.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka tiba disebuah restoran. Elgar mengajak Mila turun dan segera masuk. Seorang waitres mengajaknya ke lantai atas setelah Elgar menyebutkan namanya. Tanpa diketahui Mila, Elgar sudah reservasi sejak kemarin.


Mila berdecak kagum melihat restoran yang menurutnya luar biasa mewah dan cantik ini.


Mereka dipersilakan untuk menempati meja yang ada dibagian balkon. Meja itu terpisah dari yang lainnya sehingga kesannya sangat privat. Selain itu pemandangannya juga sangat bagus disana. Mila yakin Elgar mengeluarkan uang banyak untuk memesan tempat ini.


Terdapat lilin dan bunga ditengah tengah meja yang menambah kesan romantis.


"Apa ini tidak berlebihan?" Tanya Mila.

__ADS_1


"Tidak ada yang berlebihan untuk wanita secantik kamu." Jawab Elgar sambil tersenyum dan menggenggam tangan Mila.


Mila benar benar bahagia. Malam ini, untuk pertama kalinya, dia dan Elgar dinner romantis seperti ini.


Tidak perlu menunggu lama, dua orang waitres datang sambil membawa makanan dan minuman untuk mereka.


Disaat makanan mereka sudah hampir habis, tiba tiba datang seorang waitres sambil membawa sebuket bunga.


"Mbak Mila ya?" Tanyanya.


"Iya."


"Ada titipan bunga buat mbak." Ujarnya sambil menyerahkan bunga tersebut pada Mila.


"Dari siapa?" Tanya Elgar heran.


"Orangnya gak mau disebut namanya Mas. Tapi ada kartu ucapan disini. Bisa dicek, mungkin orangnya mencantumkan nama." Jawab waitres tersebut sambil menunjuk kartu ucapan yang ada dibuket bunga yang dipegang Mila. Setelah tugasnya selesai, orang itu langsung undur diri.


Mila tampak ragu untuk membuka kartu ucapan itu. Ditambah lagi, raut kesal diwajah Elgar yang membuatnya merasa tak nyaman.


"Kamu gak ada main dibelakangku kan?" Tanya Elgar dengan nada sinis.


"Astaga El, ngomong apa kamu. Mana mungkin aku kayak gitu." Sangkal Mila.


"Lha itu buktinya, ada yang kirim bunga buat kamu."


"Aku gak tahu menahu El soal bunga ini. Mungkin saja ini dari salah satu pengunjung restoran yang iseng atau salah kirim."


"Tapi jelas jelas waitres tadi menyebut nama kamu." nada suara Elgar mulai sedikit meninggi.


Mila mengedarkan pandangannya kerestoran bagian dalam yang tersekat kaca. Mungkin saja ada seseorang yang mengenalnya. Jangan jangan Pak Bas? atau mungkin Devan yang lagi iseng? Mila gelisah memikirkan siapa yang memberinya bunga saat diner bersama Elgar.


Melihat Elgar beranjak dari duduknya, Mila segera mengikuti dan meraih lengan Elgar.


"Gak seperti yang kamu pikirkan El." Mila memeluk lengan Elgar agar pria itu tak pergi meninggalkannya.


"Jangan marah, please.." Mohonnnya dengan mata yang mulai berkaca kaca menatap wajah Elgar yang mengeras menahan amarah.


"Aku gak peduli siapapun yang memberi bunga ini. Lagi pula aku tidak suka. Bunga ini jelek. Aku akan membuangnya jika kamu mau." Mila hendak melemparkan bunga itu kebawah tapi ditahan oleh Elgar.


"Buka dulu kartu ucapannya. Aku ingin tahu siapa yang mengirimi wanitaku bunga."


Dengan tangan gemetaran, Mila mengambil kartu ucapan yang terselib dibuke tersebut. Dia meletakkan bunga itu dimeja dan fokus pada amplop warna pink dan membuka isinya.


Mata Mila melotot dan mulutnya menganga membaca tulisan tersebut.


"Will you merry me?"


Ucap Elgar yang sama persis dengan tulisan yang ada di kartu ucapan tersebut. Pria itu tiba tiba berlutut dengan kotak berisi cincin ditangannya. Dan bersamaan dengan itu, seorang pria datang dan memainkan lagu a thousand years milik Christina perri.


Mila menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil menangis. Perasaannya campur aduk antara bahagia, terharu dan kesal.


"Will u merry me?" Elgar mengulang lagi karena Mila tak kunjung menjawab.


Dan sebuah anggukan membuat Elgar segera tersenyum lalu berdiri. Dia mengambil cincin dari dalam kotak lalu menyematkannya dijari manis Mila lalu menciumnya.


Mila langsung menghambur kepelukan Elgar dengan air mata bahagia yang masih terus mengalir.


Elgar melepaskan pelukan Mila lalu menyeka air matanya.


"Jahat sekali, kenapa mengerjaiku." Kesal Mila sambil memukul pelan dada El.


"Maaf, hanya ingin memberikan sedikit kejutan." Jawab Elgar sambil terkekeh.


"Kita sudah menikah, tapi kenapa kamu melamarku?"

__ADS_1


"Karena sebentar lagi kita akan menikah ulang. Sudah sepantasnya pada pernikahan ini, semua berjalan sesuai urutan. Jadi aku putuskan untuk memalarmu lebih dulu."


Disaat Mila masih kesal, Elgar menahan tengkuknya dan membekapnya dengan sebuah ciuman lembut. Tantu saja hal itu membuat Mila malu setengah mati karena ada orang lain disana.


__ADS_2