Dia Suamiku

Dia Suamiku
Cemburu


__ADS_3

Akhirnya sampai juga setelah tiga jam perjalanan. Kedua sahabat itu (Rio dan Arya) berpisah di bandara untuk pulang ke rumah masing-masing. Malam ini adalah malam terakhir Arta dan keluarganya tinggal di rumah mereka, karena mulai besok mereka akan pindah ke rumah yang sudah disiapkan oleh Rio.


Mulai hari ini Tristan pun tinggal di rumah keluarga Agatha. Sebelumnya orang tuanya sudah memindahkan seluruh barang-barang pribadinya ke kamar Putri.


****


"Sayang, kalian berdua istrirahatlah! besok kalian sudah harus masuk sekolah," titah Kirana.


"Iya, mommy." jawab keduanya.


"Tuan muda, biar saya bawakan koper dan tasnya," ucap pak Anton


"Makasih, Pak." Tristan mengikuti Putri yang sudah duluan menaiki anak tangga.


"Sejak kapan kamarku seperti ini?" kata Putri kaget yang melihat interior kamarnya berubah total. Mulai dari kasur dan lemari yang diganti lebih besar, dua meja belajar dan banyak lagi yang semua diganti oleh kedua orang tuanya.


Tristan yang baru masuk pun kaget melihat kamar yang hampir seluas ruang keluarga di rumahnya dulu. Mamar itu tertata rapih pastinya dengan interior yang sangat mewah.


"Sayang, ini kamarmu?" tanyanya.


"Bukan, tapi ini kamar kita." jawabnya polos membuat Tristan gemas melihatnya. Diapun masuk kedalam dan menutup pintu kamar.


"Kak, aku duluan ya! yang mandi badan ku lengket." kata Putri sambil mengambil piyama di dalam lemari. Tristan memeluknya dari belakang membuat wanita yang sebentar lagi berusia enam belas tahun itu kaget.


"Kak, aku bau." katanya mencoba melepaskan pelukannya tapi Tristan semakin erat memeluknya.


"Aku suka wangi tubuhmu," memasukan mukanya di leher Putri.


"Kak, lepaskan!"


"Sebentar saja. Put, aku sangat senang bisa menjadi suamimu." Putri aneh dengan Tristan yang tiba-tiba manja, dengan cepat Putri melepaskan pelukan Tristan, saat terlintas dibenaknya tentang hubungan suami-istri yang mumbuat bulu kuduknya berdiri. Jujur dia belum siap untuk itu.


"Maaf Kak, aku ga kuat mau ke toilet." katanya berbohong. Tristan diam dan merebahkan tubuhnya.


Memang dia sangat menyukai Tristan, tapi untuk melakukan itu dia masih takut. Tristan masuk ke kamar mandi setelah putri keluar dr dalam.


Apa yang harus aku lakukan setelah ini? pikir Putri, karena dia takut kalau Tristan akan meminta ku untuk melakukan nya. Putri yang mulai salah tingkah naik ke atas kasur mengambil selimut dan menutup tubuhnya menarik selimut sampai dada.


Saat hendak mencium kening sang istri Putri, dengan sigap menutupi wajahnya menggunakan selimut. Dia yang dari tadi hanya pura-pura tertidur menyangka bahwa Tristan akan menyentuhnya. Tristan tersenyum kecil melihat Putri dia tau kalau Putri masih belum siap untuk melayaninya. Dia tidak masalah dengan itu dan tidak akan pernah memaksa Putri untuk melakukannya. Tristan menarik selimut untuk melihat wajah imut istrinya.


"Heeey ... buka matamu!" sambil menyentil pelan kepala Putri.


"Aww ... sakit,"


"Kenapa harus pura-pura tidur sih, sayang? aku tidak akan pernah memaksa mu melakukannya. Aku bisa kok tunggu sampai kamu benar-benar siap." kata Tristan yang sudah dari tadi menebak pikiran istrinya. Putri bangun duduk menghadap tristan yang sedang berbaring.


"Maafkan aku, kak. Aku belum siap." dengan muka yang sedih. Tristan bangun dari tidurnya dan langsung memeluk Putri.


"Kenapa harus minta maaf? kamu g salah kok. Kita mulai aja hubungan kita seperti orang pacaran pada umunya. Kamu ga perlu punya rasa bersalah padaku." jelas Tristan yang membuat hati putri tenang.


"Oia kak, aku mau meminta satu permintaan boleh?" Tristan mengangguk, dia memegang tangan Putri dan duduk di kasur dengan saling berhadapan.


"Emmm ... aku mau kita di sekolah untuk tidak terlalu dekat." Tristan mengerenyitkan dahinya mendengar permintaan Putri.


"Kenapa?" tanyanya dengan nada yang sedikit marah.


"Aku takut kalau kita ketauan sudah menikah,"


"Kita 'kan bisa bilang kalau kita itu pacaran." kata Tristan yanh tidak setuju dengan permintaan istrinya.


"Ayolah kak, aku tidak ingin menjadi pusat perhatian, kalau kita bilang kita pacaran. Aku tau banyak wanita yang menyukai kamu." kata Putri.


Betapa polosnya kamu tidak tau aja berapa banyak juga orang yang menyukaimu di sekolah, ucap Tristan dalam hatinya.


"Oke." Tristan terpaksa menyetujuinya, karena dia tidak ingin membuat istrinya bersedih. Putri pun tersenyum lebar.


"Tapi, kamu ga boleh deket-deket sama laki-laki lain, apalagi ngobrol berduaan aku akan sangat marah." tegasnya karena dia tau banyak laki-laki yang ingin mendekati Putri, tapi saking polosnya dia tidak pernah menyadarinya.


"Oke siaaap." Tristan mengecup kening istrinya dan mereka berdua pun istirahat.


**♥️♥️**


06.00


Tristan yang sudah biasa bangun lebih pagi langsunh bersiap dan membereskan keperluan sekolahnya, dan sekarang bertambah dengan keperluan sekolah Putri. Kirana sudah menceritakan semuanya tentang anaknya itu, kalau Putri tidak pernah melakukan apapun di rumah. Karena, semua sudah disiapkan oleh Maya dan Rani.


"Sayang, bangun. Ayo mandi!"


"Emmm ...." Putri membalikan tubuhnya dan masih tertidur.


"Sayang, kalau kamu ga bangun, aku akan memandikanmu sekarang juga!" bisik Tristan yang membuat wanita cantik itu bangun dan bergegas masuk kamar mandi.


Begitu mudah untuk membangunkanmu, sayang, ucap Tristan.


Tristan turun kebawah dengan membawa dua ransel sekolah menuju ruang makan.


"Hai sayang, Putri mana?" tanya Kirana.

__ADS_1


"Dia masih mandi, mommy,"


"Ya ampun dia baru bangun tidur. Pasti kamu sangat sulit membangunkannya 'kan?" kata Kirana sambil menyiapkan roti dengan selai coklat dan segelas susu coklat.


"Aku sudah punya cara jitu untuk membangunkan kok, Mom." katanya tersenyum.


"Pagi ...." sapa Putri.


"Kamu udah sarapan yank?" tanya Putri.


"Udah, tadi di siapkan mommy." membuat hati Putri bersedih, karena dia ingin sekali menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Kamu kenapa? ayo sarapan keburu terlambat." Tristan menarik tangan Putri untuk segera duduk dan menyantap makanannya. Selesai makan, keduanya berpamitan pada Kirana dan Rio untuk pergi ke sekolah. Bang Jojon, Rani dan Maya sudah menunggu Putri di depan rumah.


"Yank, kamu hati-hati ya." kata Putri mencium punggung tangan suaminya.


"Ingat pesan aku ya!" Putri mengangguk. Mereka yang ada disana aneh melihat sepasang suami istri itu, seakan mereka pergi ditempat yang terpisah.


**♥️♥️**


Tristan melajukan motor sportnya menuju rumah Dewi. Sebelumnya dia sudah memberitahukan Dewi, bahwa mulai hari ini dia tidak akan bekerja dengannya melalui pesan singkat. Tapi, dia tetap ingin bicara dan bertemu langsung dengan Dewi.


"Tristan masuk dulu! papa menyuruhmu masuk ke dalam." kata Dewi. Tristan memang sudah dekat dengan kedua orang tua Dewi. Tristan pun masuk. Om Dermawan yang sedang menyantap sarapannya menyuruh Tristan untuk duduk bersamanya di meja makan.


"Kamu dan keluarga katanya akan pindah rumah?"


"Iya, Om,"


"Ayo kamu ikut sarapan." Dewi memberikan sepiring nasi goreng untuk tristan dan duduk di samping. Tristan tidak bisa menolak dan dia pun menghabiskannya.


"Jadi, sekarang kamu kerja dimana?" kata om Dermawan sambil jalan menuju pintu depan yang hendak mengantarkan Tristan


"Aku membantu ayah di kantornya, Om,"


"Baguslah. Jangan lupa untuk sering-sering main kesini ya,"


"Iya Om, saya pamit dulu." Dewi memutuskan tidak membawa sendiri mobilnya dan menumpang pada Tristan.


"Nanti lo pulang gimana?" tanya Tristan.


"Gampang, gue udah bilang supir gue buat jemput nanti siang kok."


** SEKOLAH **


Putri baru tiba di sekolah setelah terjebak macet dijalan. Saat dia turun dari mobil dia melihat Dewi yang turun dari motor Tristan.


Kok, Tristan pergi bareng Dewi sih? gue aja istrinya belum pernah di bonceng Tristan, gerutunya. Putri langsung meninggalkan Maya dan Rani berlari masuk ke dalam, agar tidak bertemu dengan Dewi dan Tristan. Dua orang asistennya itu merasa aneh dengan sikap Putri pagi itu.


Bisa aja bilang gue jangan deket ma cowok, jangan ngobrol sama cowok, tapi dia malah ngebonceng cewek lain, kesalnya dalam hati.


"Hai cantik, masih pagi kok udah manyun sih?" sapa Bela pada Putri yang baru memasuki kelas dengan wajah yang kusem.


"Tuan Putri, lo kenapa? masa yang habis liburan ke Bali mukanya cemberut gitu sih?" kata Sarah.


"Kok lo tau gue ke Bali? jangan-jangan lo ngikutin gue ya?"


"Sesekolah juga tau kali lo liburan ke Bali. Lo 'kan ngeposting foto laut, terus lo tag lokasinya,"


"Oh iya gue lupa hehehe,"


"Terus, kenapa pagi-pagi udah bete?" tanya Sarah lagi.


"Biar gue tebak pasti gara-gara Tristan 'kan?" kata Citra, Putri diam mengangguk.


Ini hari pertama Putri menerima pelajaran sekolah. Tidak seperti yang dibayangkan, ternyata pelajaran sekolah sangat sulit untuk di mengerti. Setelah lima jam pelajaran, akhirnya bel istirahat berbunyi semua anak bersorak.


"Akhirnyaaaaaa ... bunyi juga itu bel, kalau telat sedikit aja gue ganti bel itu ama yang baru," canda Bela yg mengundang tawa.


"Kantin yu! kita makan gratiiiiisss," ajak Satya dan Romi semangat.


"Enak banget sih kalian berempat, makan gratis." keluh Citra.


"Lo bisa pake jatah gue kok." ucap Putri yang membuat Citra tersenyum lebar.


Mereka berenam berjalan menuju kantin. Tristan yang melihat istrinya langsung mengikutinya dari belakang. Putri tidak sadar bahwa Tristan berjalan di belakangnya, dia asik tertawa bersama sahabatnya itu.


"Woooy!" sapa Rangga yang merangkul Tristan dari belakang.


"Putri cantik ya walau dari belakang." ucap Rangga yang membuat Tristan kesal


Di kantin mereka mencari bangku kosong dan menempatinya. Semua mencari makanan sedangkan Putri hanya duduk. Putri melihat Rangga dan Tristan yang berjalan ke arah kantin. Mereka berdua melemparkan senyuman ke arah Putri dan dia membalasnya, tapi matanya hanya tertuju pada pada Rangga. Entah kenapa dia merasa kesal melihat suaminya. Tristan yang melihat Putri mengerenyitkan dahinya, kenapa dengan istrinya itu.


"Hai Putri." kata Rangga dan langsung duduk di sebelahnya." Putri hanya tersenyum membolehkan, Tristan pun ikut duduk berhadapan dengan Putri. Matanya terus menatap Putri tajam membuat wanita itu menjadi salah tingkah.


"Lo, ga makan?" tanya Rangga.


"Ga laper, Kak."

__ADS_1


Tak lama keenam temannya datang membawa makanan masing-masing, dan mereka ngobrol satu sama lain sambil menyantap makanannya. Melihat Putri yang hanya meminum es jeruk, Tristan menyuruh Rani membawakan makanan untuk istrinya itu melalui pesan singkat.


"Boleh gabung?" kata Rani yang membawa dua mangkok soto di tangannya. Dia langsung duduk di ujung sebelah Putri dan menyodorkan mangkok soto.


"Gue 'kan ga mesen?" bisik Putri.


"Suami kamu yang pesen. Dia takut kamu sakit." Putri yang senang dengan jawaban Rani, menahan senyumannya dan perlahan menyantap soto Mbayun.


Tring...


"Aku tunggu di ruang osis!" Tristan mengirim pesan pada Putri, dia penasaran dengan sikap Putri hari ini. Tristan tau jam istrirahat ruang osis sangat sepi. Putri yang membaca pesan Tristan langsung melihat ke arah Tristan yang sudah pamit meninggalkan mereka.


"Gue duluan ya, mau ke toilet,"


"Mau di anter ga?" tanya Rangga.


Cieeeeee teriak ke-enam temannya.


"Ga usah kak. Aku sendiri aja." Putri langsung berjalan menuju ruang OSIS. Sampai di sana Putri membuka pintu dan melihat suaminya sedang duduk menunggunya.


"Ada apa kak?" kata Putri dengan nada malas.


"Sayang, kamu kenapa? hari ini kamu terlihat berbeda." Putri hanya diam dengan wajah yang cemberut.


"Putri!" Tristan memegang tangan Putri menghadap padanya.


"Emmm ...."


"Apa aku melakukan kesalahan?"


"Banyak." jawabnya singkat.


"Apa itu? aku tidak tau apa yang aku lakukan." Putri hanya menatap Tristan dan membuatnya menjadi binggung.


Bel masuk berbunyi, Putri lansung berdiri melepaskan tangannya, tapi tristan terus memegangnya.


"Ceritakan dulu apa kesalahanku, baru kamu boleh keluar dari sini." kata Tristan dengan sedikit marah, karena Putri yang dari tadi hanya terdiam.


"Aku benci melihat kamu bersama Dewi, aku melihat kalian pergi bersama. Aku saja ga pernah diboncengi kamu," katanya berbisik. Tristan tersenyum dan langsung memeluk istrinya.


"Maafkan aku. Tadi aku terpaksa, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Apa sekarang kamu sudah berubah pikiran?"


"Maksudnya ?" Putri tidak mengerti dengan pertanyaan Tristan.


"Ya ... kita pergi sekolah bareng, kemana-mana bareng biar kamu tidak ngambek seperti ini lagi." kata Tristan melepaskan pelukannya.


"Aku belum siap kak. Ya udah aku ke kelas dulu."


"Sayang, nanti pulang sekolah aku langsung ke kantor, aku sudah membuat janji dengan daddy hari ini,"


"Oke, aku tunggu di rumah." Putri meninggalkan ruang OSIS dan segera menuju kelasnya.


**♥️♥️**


"Put, lo kok lama kemana aja?" bisik Bela.


"Tadi toilet penuh." jawabnya berbohong. Setelah tiga jam pelajaran, bel pulang berbunyi. Anak-anak berkemas untuk segera pulang.


"Sumpah pak Darto (guru ekonomi) tega amat sih ngasih tugas banyak banget, kita kan baru masuk udah dikasih tugas aja," keluh Citra.


"Kerjain bareng yu!" ajak Satya.


"Ayoooo," jawab Citra semangat.


"Maaf gue ga bisa ikut kalian, tau sendiri 'kan daddy?"


"Yaaaaah ... ya udah ga apa-apa nanti aku kirim hasilnya, lo tinggal nyalin aja." kata Bela yang tau sahabatnya itu sangat lemah dalam hal berhitung.


"Thanks cinta, gue duluan yaa. Maya sama Rani udah nungguin gue di gerbang, bye." Putri berjalan keluar meninggalkan kelima teman nya yang masih menggobrol.


Tring


My love : "Sayang, langsung pulang ya! aku hanya sebentar ke kantor tunggu aku di rumah,"


Me : "Oke, kamu hati-hati ya! jangan pernah untuk membonceng perempuan lain, jok itu hanya untukku ❤️. "


Me : "Tidak akan pernah, love u ❤️."


.


.


.


.


~Bersambung~

__ADS_1


TERIMAKASIH ATAS SUPPORT SEMUANYA


JANGAN LUPA KLIK TANDA LOVE DAN LIKE NYA YA 😇😇


__ADS_2