Dia Suamiku

Dia Suamiku
Promo novel baru


__ADS_3

Ada yang baru dari author. Yuk kepoin cerita tentang Calista dan Biru di pura pura amnesia. Ceritanya dijamin ringan dan kayak kehidupan sehari hari.



"Sadar, dia sadar."


Samar samar, aku bisa mendengar suara. Kepalaku terasa berat. Tubuhku terasa lemas. Matanya susah sekali untuk dibuka. Tapi aku tetap berusaha untuk membuka mata.


"Kamu sudah sadar?"


"Alhamdulilah."


Akhirnya mataku bisa terbuka meski hanya setengah. Beberapa kali aku menyipitkan mata karena silau dengan cahaya. Dan yang pertama aku lihat, adalah sesosok pria tampan bak malaikat. Tatapannya teduh, dan senyumnya semanis gula kristal yang jika aku konsumsi terus menerus akan membuatku deabetes. Apakah ini surga?


"Akhirnya kamu sadar juga."


Oh Tuhan....ternyata selain wajahnya yang rupawan, suaranya juga sangat merdu. Benar benar perpaduan yang sangat sempurna dan tiada cela. Ternyata malaikat bersayap itu hanya mitos, buktinya malaikat didepanku ini tanpa sayap.


"Kamu Malik?" tanyaku lirih.


Malaikat tampan itu mengerutkan dahinya. Tapi percayalah, ketampanannya tak berkurang satu persenpun.

__ADS_1


"Malik?" Dia mengulang kata kataku.


"Kamu malaikat Malik, penjaga surga?"


Tiba tiba aku merasakan lenganku ditepuk tepuk dari arah berlawanan, yakni disebelah kiriku.


"Ridwan nak. Yang menjaga surga itu malaikat Ridwan."


Mendengar suara itu serta tepukan dilengan, membuatku beralih menoleh ke arah Kiri.


Oh my god...hampir saja aku berteriak saking terkejutnya. Makhluk jelek dan dekil seperti tak mandi bertahun tahun berdiri disebelah kiri ranjangku. Seketika, muncul pertanyaan dikepalaku. Bukankah katanya semua yang disurga itu indah? Lalu kenapa ada yang seperti ini?


Kepalaku kembali pusing. Tubuhku sedikit gemetaran. Apa mungkin saat ini aku sedang berada diantara surga dan neraka. Jangan jangan, aku sedang menunggu amalku ditimbang? Aku jarang beribadah semasa hidup. Apakah aku akan masuk neraka? Enggak, aku gak mau.


"Kamu kenapa?" Malaikat tampan bertanya padaku.


"Hai...kamu kenapa?"


Aku yang masih ketakutan menunggu keputusan antara surga dan neraka tak menghiraukannya sama sekali. Aku terus saja menangis.


"Namamu siapa?" Si dekil bertanya. Seingatku dulu saat pelajaran agama di sekolah, pertanyaan pertama yang akan ditanya, adalah siapa Tuhanmu. Lalu ini, kenapa namaku yang pertama ditanya? Karena bingung sekaligus takut, aku tak menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


"Jangan jangan..." si dekil bersuara.


"Jangan jangan apa?" sahut si malaikat tampan.


"Dia anemia."


"Anemia?"


"Iya, anemia atau amenisa. Pak De lupa. Itu hilang ingatan."


"Amnesia maksud Pak De?"


Aku menangis sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Sama sekali tak menghiraukan obrolan mereka berdua.


"Ya, ya, itu yang pak de maksud. Am, am , am apa tadi?"


"Amnesia Pak De."


"Ya itu. Sepertinya dia amnesia. Buktinya dia tak ingat nama malaikat beserta tugasnya. Galang saja yang masih TK sudah hafal diluar kepala. Dan satu lagi. Saat ditanya nama, dia malah nangis. Dia pasti sedih karena tak ingat namanya. Kasihan sekali, cantik cantik tapi amnesia."


"Pak De yakin dia amnesia?"

__ADS_1


Eh tunggu tunggu. Kenapa mereka malah bahas amnesia? Dan apa tadi? dia bilang aku gak hafal nama malaikat, kalah sama anak TK? Disaat aku masih bingung mencerna ucapan mereka, terdengar suara derap langkah yang sepertinya memakai sepatu pantofel


__ADS_2