
Devan menghentikan mobilnya ditempat parkir sebuah kebun binatang. Dia melihat ponsel sebelum membantu Pink melepaskan seatbelt yang melingkar dibadannya. Dari pesan yang Elgar kirim, pria itu sedang menunggunya diarea pintu masuk.
"Ayo pah." Kata Pink yang sudah mulai tak sabar. Kebun binatang adalah lokasi wisata yang paling dia sukai sejak dulu.
Devan mengangguk lalu membuka pintu mobil dan keluar. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju pintu masuk. Berbeda dengan Pink yang tampak begitu ceria dan penuh semangat, raut sebaliknya yang terpancar dari wajah Devan.
Langkah Devan terhenti, tak jauh darinya, Mila tampak tengah bercanda dengan Elgar. Bahkan dia bisa melihat bagaimana Elgar saat memainkan helaian rambut Mila. Pun dengan tangan Mila yang bergelayut mesra dilengan Elgar. Meski tak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi raut wajah Mila jelas memancarkan aura kebahagiaan. Dan tawa wanita itu juga terlihat lepas.
Tak bisa dipungkiri, ada perasaan iri dihatinya. Kenapa bukan dia yang bersama Mila saat ini. Kenapa bukan dia penyebab tawa Mila.
Ah...tapi biarlah. Bukankah yang paling penting adalah Mila bahagia. Melihat dia tak terjebak dalam trauma berkepanjangan membuat Devan bernafas lega.
"Ayo pah." Tarikan tangan Pink membuat Devan tersadar dari lamunannya.
Devan tersenyum sambil mengangguk. Kemudian dia kembali melanjutkan langkah kearah Elgar dan Mila.
"Pink..." Teriak Mila sambil melambaikan tangan ke arah Pink. Sesaat, mata Mila dan Devan saling beradu. Dan entah bagaimana itu terjadi, tiba tiba Devan teringat terakhir kali melihat Mila. Ya, bayangan Mila yang pingsan tanpa sehelai benangpun kembali muncul dibenak Devan tanpa terkendali.
Lupakan apa yang lo lihat
Seperti hantu, bayangan Elgar tiba tiba muncul untuk memperingatinya.
Pink melepaskan tangan Devan lalu berlari menuju Elgar dan Mila. Seperti biasa, Elgar akan langsung mengangkat tubuh ponakannya itu kedalam gendongannya.
"Jangan digendong terus, dia udah gede. Udah mau masuk SD." Ujar Devan.
Mila tampak menunduk. Sebisa mungkin, dia menghindari bersitatap dengan Devan. Jujur, dia malu sekali pada pria itu.
"Baik baik ya sama om dan tante." Pesan Devan sambil membelai kepala Pink.
"Papa ikutan kita jalan jalan juga dong. Pasti makin seru kalau papa ikutan. Gak papa kan tante Mila?"
Mila tak pelak langsung mendongak saat namanya disebut. Dan saat itu juga, dia kembali bersitatap dengan Devan. Meski tak berkata kata, tapi semburat merah diwajahnya menandakan betapa malunya dia saat ini. Menyadari hal itu, Elgar segera menarik tubuh Mila agar sedikit tersembunyi dibalik badannya.
"Kita bertiga saja." Jawab Elgar sambil menatap sinis ke arah Devan.
"Kan kalau papa ikut lebih seru Om." Rengek Pink.
"Papa sibuk hari ini. Papa ada kerjaan. Iya ken Dev?" Tanya Elgar sambil melotot kearah Devan.
"Iya sayang. Papa ada kerjaan sekarang." Bohong Devan.
__ADS_1
"Yaaahh...." Pink mengerucutkan bibirnya.
"Nitip Pink ya. Jagain yang bener." Pesan Devan.
"Tanpa lo mintapun, gue bakal jagain keponakan gue satu satunya dengan baik." Ketus Elgar. Dia lalu menurunkan Pink dari gendongannya dan menyuruh Mila mengajak bocah itu membeli tiket .
"Inget pesen gue." Kata Elgar sambil menoleh ke arah Mila yang sedang sibuk membeli tiket. "Lupakan apa yang lo lihat hari itu."
Devan terkekeh mendengar peringatan bernada ancaman itu.
"Cemburu?" Cibir Devan.
Elgar hanya berdecak mendengarnya.
"Mulut gue bisa bilang bakal ngelupain. Tapi gue gak bisa janji karena otak gue kadang gak mau sinkron sama mulut." Goda Devan sambil menahan tawa.
"Sialan." Maki Elgar yang kesal dengan jawaban Devan.
"Tapi tenang. Gue bukan pebinor. Gue masih punya etika untuk tidak mengambil sesuatu milik orang lain." Ucap Devan sambil menepuk bahu Elgar beberapa kali.
"Gue pegang ucapan lo."
"Shitt, tapi apaan?" Desis Elgar sambil menoleh untuk memastikan jika Mila masih sibuk di loket.
"Jaga Mila baik baik. Karena gue gak bakal mau mundur jika lo buat dia kecewa dan sakit hati."
"Gak bakalan." Ucap Elgar penuh keyakinan. "Jika sampai itu terjadi, gue sendiri yang bakal mundur dan melepaskan Mila buat lo."
"Gue pegang omongan lo."
Mereka berdua menghentikan obrolan saat melihat Pink dan Mila berjalan kearah mereka. Tak mau Mila merasa canggung. Devan memutuskan untuk segera pergi.
"Have fun sayang." Teriaknya sambil dada kearah Pink. Dia kemudian berbalik dan meninggalkan mereka bertiga.
"Siap?" Tanya Elgar pada Pink dan Mila.
"Siap." Jawab Mila dan Pink kompak sambil tersenyum senang.
"Ok, let's go." Seru Elgar sambil menggandeng tangan Pink dan tersenyum kearah Mila yang juga menggandeng tangan Pink.
Elgar sengaja mengajak Mila jalan jalan agar istrinya itu tak lagi memikirkan kejadian hari ini. Dan ternyata, pilihannya untuk membawa Mila ke zoo sangat tepat. Dia dan Pink tampak sangat bahagia. Terbukti dari senyum yang tak pernah lekang dari bibir Mila.
__ADS_1
Dulu, Elgar sangat benci ke kebun binatang. Semua itu karena dia terlalu bosan. Setiap jalan jalan keluarga, tujuannya selalu ke zoo. Karena apa? karena itu adalah tempat favorit Alina. Alina adalah pecinta bianatang, bahkan sampai dewasa, dia sering memaksa Elgar untuk menemaninya ke kebun binatang. Dan Pink, bocah itu benar benar menuruni sifat ibunya. Dia menyukai binatang dan zoo adalah tempat favoritnya.
"Om, Pink mau ngasih makan jerapah." Pinta Pink sambil menarik narik celana Elgar.
"Ya udah, yuk." Elgar mengajak keduanya antri ditempat memberi makan jerapah. Dan ketika giliran mereka tiba, Elgar sibuk mengabadikan momen dengan kamera yang dia pegang.
Sejak awal masuk, Elgar begitu sibuk dengan kameranya. Dia sudah seperti kameramen profesional yang meliput acara jalan jalan. Entah kenapa, ada perasaan takut didalam hatinya. Dia takut jika momen seperti ini tak bisa lagi terjadi.
"Pink, dada ke kamera." Teriak Elgar saat bocah itu dan Mila tengah memberi makan rusa.
Elgar mendekati mereka lalu mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera kearah mereka bertiga.
"Cheese...." Serunya sambil bergaya jelek didepan kamera. Beberapa jepret foto wefie mereka seketika tersimpan di ponsel Elgar.
Mila merebut ponsel itu lalu memberikannya pada Pink.
"Fotoin tante dan Om ya."
Pink seketika paham. Dia mundur beberapa langkah lalu mengambil beberapa foto Elgar dan Mila. Tapi saat Elgar memeluk Mila dari belakang, kening Pink mengkerut. Bocah itu juga menurunkan ponselnya.
"Kenapa?" Tanya Elgar heran.
"Kok Om El peluk tante Mila. Tante Milakan pacarnya papah."
Elgar dan Mila seketika menelan ludah dengan susah payah.
"Apaan itu pacaran. Anak kecil gak boleh ngomong pacaran pacaran." Kata Elgar sambil mendekati Pink.
"Om El mau menikah sama tante Salsa. Dan papa mau menikah dengan tante Mila. Tapi kok sekarang, tante Mila sama Om El terus?" Bocah itu mulai bingung.
Elgar menggaruk garuk kepalanya. Dia bingung harus menjelaskan dengan bahasa seperti apa pada Pink. Karena anak itu masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang dewasa.
Mila mendekati Pink dan menundukkan badannya agar sama tinggi dengan Pink.
"Pink masih kecil untuk memahami masalah orang dewasa." Kata Mila sambil mengusap puncak kepala Pink. "Tapi yang perlu Pink tahu, tante Mila dan Om El sudah menikah. Dan sekarang, tante Mila benar benar sudah menjadi tantenya Pink. Bukan orang asing yang dipanggil tante."
"Tante Mila tantenya Pink?" Pink masih bingung.
"Iya sayang. Seperti Om El yang sayang sama Pink, tante Mila, juga sayang sama Pink. Bahkan kalau Pink mau, Pink bisa anggap tante kayak mamanya Pink. Pink juga bisa panggil bunda kalau Pink mau."
"Beneran tante?" Pink tampak girang. Sebenarnya, yang dibutuhkan bocah itu adalah sosok ibu. Tak peduli wanita itu menikah dengan papanya atau bukan. Yang dia inginkan hanyalah sosok ibu. Hanya itu. Dan Mila jelas paham apa yang ada dipikiran anak sekecil Pink.
__ADS_1