
Tidur Elgar dan Mila terganggu akibat suara nyaring yang berasal dari ponsel Elgar. Mila yang merasakan sekujur tubuhnya remuk enggan bergerak untuk meraih benda itu. Pun dengan Elgar, malas sekali pria itu menjawab telepon dipagi buta seperti ini. Tapi karena panggilan terus menerus tiada henti, dengan sangat terpaksa Elgar bangkit dan meraih ponsel diatas nakas. Dia bersumpah akan memberi pelajaran si penelepon jika sampai tak ada hal penting yang harus dia dengar.
Mata Elgar memicing melihat nama mamanya tertera dilayar ponselnya. Ada apa gerangan pagi buta seperti ini mamanya telepon.
"Hallo mah."
Bukannya sahutan, malah suara isak tangis yang didengar Elgar. Tak pelak pria itu menjadi cemas.
"Ada apa mah?
Sang mama masih terdengar menangis, membuat Elgar benar benar tak sabar.
"Mah, coba tenang dulu. Ada apa?"
Mendengar suara panik Elgar, Mila mulai mengerjabkan matanya dan mengusir kantuk.
"____"
"Papa kenapa?" Elgar tak bisa lagi menyembunyikan kepanilakannya.
"____"
Wajah Elgar seketika pias mendengar apa yang disampaikan mamanya. Dia segera turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi.
Mila jelas penasaran dengan apa yang terjadi. Dia segera memakai pakaiannya lalu mengikat rambutnya yang berantakan. Tak bisa hanya berdiam diri, dia mondar mandir didepan kamar mandi menunggu Elgar yang kedengarannya sedang mandi.
"Ada apa El?" Tanya Mila begitu begitu Elgar keluar.
"Papah masuk UGD." Jawab Elgar sambil buru buru mengambil pakaian. "Aku harus segera kerumah sakit."
"Aku ikut."
Elgar menggeleng. "Kamu dirumah saja."
Mila terlihat kecewa dengan jawaban Elgar.
Selesai berganti baju, Elgar menghampiri Mila yang duduk di tepi ranjang. Pria itu menyentuh dagu Mila dan mencoba memberi penjelasan.
"Jangan salah paham. Bukannya aku tak mau mengajak. Tapi situasi sedang tidak memungkinkan. Mama sedang butuh aku saat ini. Dan aku tak mau jika kehadiranmu membuat mama tak nyaman. Maaf."
__ADS_1
Mila mencoba tersenyum. Dia bisa mengerti dengan alasan yang disampaikan Elgar.
"Aku mengerti El. Pergilah. Semoga papamu segera diberi kesembuhan." Sahut Mila sambil mengusap pipi Elgar.
"Aamiin....Makasih sayang." Elgar mengecup kening Mila lalu segera pergi.
"Kabari aku jika ada apa apa." Teriak Mila sebelum Elgar hilang ditelan pintu.
Sepeninggalan Elgar, Mila langsung merapikan tempat tidur. Rasa kantuknya sudah hilang tak berbekas saat ini. Meskipun dia tahu Pak Dirga tak menyukainya, tapi orang itu tetaplah ayah mertuanya. Dan saat ini, hanya doa yang bisa dia berikan untuknya. Semoga saja, mertuanya baik baik saja.
Mila tersenyum melihat ranjang yang acak acakan tak karuan. Kelopak bunga mawar berserakan memenuhi sprei putih. Masih jelas diingatannya bagaimana semalam dia dan Elgar bercinta gila gilaan sampai hampir pagi. Ketika melihat jam yang menunjukkan pukul 4 dini hari, Mila baru sadar jika dia dan Elgar baru tidur 2 jam.
...******...
Setelah turun dari mobilnya, Elgar segera berlari menuju UGD. Tak jauh dari pintu UGD, tampak mamanya yang sedang duduk dibangku panjang sambil menangis. Dia ditemani seorang asisten rumah tangga.
"Mah." Seru Elgar yang membuat sang mama segera mendongakkan wajahnya.
"El.." Sahut Bu dirga sambil sesenggukan dan berdiri lalu memeluk Elgar yang baru datang. Dan tangisnya semakin pecah saat berada dalam pelukan Elgar.
"Mah tenang mah. Papah pasti akan baik baik saja." Kata Elgar sambil menepuk nepuk pelan punggang sang mama. Sejujurnya dia juga cemas, tapi sebisa mungkin dia tak menunjukkan didepan mamanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi mah?"
Bu Dirga lalu menceritakan kronologinya. Pak Dirga bangun untuk melakukan sholat tahajud, tapi selesai mengambil air wudlu, tiba tiba tubuhnya lemas dan luruh kelantai. Tak lama kemudian, langsung tak sadarkan diri.
"Papah....sholat malam?" Antara yakin dan tidak, Elgar menanyakannya. Pasalnya dia tahu jika orang tuanya jarang sholat. Sholat wajib saja masih sering bolong bolong.
Bu Dirga mengangguk. "Sebulan terakhir ini, papa tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Bahkan papamu juga selalu bangun tengah malam untuk sholat sunah."
Air mata Elgar menetes. Papanya memang bukan orang yang kental dengan agama. Mungkin itu juga yang membuat dia dan alm Alina juga demikian. Pak Dirga hanya menuntut kesuksesan dunia, tapi melupakan akhirat. Mendengar papanya yang mulai sibuk dengan urusan akhirat, jelas Elgar begitu terharu. Semoga saja ini bukan pertanda.
"Kenapa dokternya lama sekali memeriksa papah?" Bu Dirga sangat panik. Dia tak sabar ingin mengetahui kondisi suaminya.
"Sabar mah. Mungkin sebentar lagi." Elgar mencoba menenangkan. Dia tahu papanya punya riwayat tekanan darah tinggi, semoga saja tak terjadi sesuatu yang buruk.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar dan memberikan kabar buruk. Pak Dirga mengalami pendarahan otak yang lumayan parah dan harus dipindahkan ke ICU. Keluarga Elgar tentu saja langsung setuju, mereka ingin yang terbaik untuk Pak Dirga.
Menjelang siang, saat Elgar dan Bu Dirga menunggu didepan ICU, Jordi, asisten Pak Dirga datang. Pria itu membawa 4 kotak makanan dan menyerahkannya pada Elgar.
__ADS_1
"Makan dulu mah." Ujar Elgar sambil menyodorkan sekotak makanan pada mamanya. Tapi Bu Dirga hanya menggeleng. Wanita itu tampak sangat pucat, membuat Elgar begitu cemas.
"Mah." Elgar meraih jemari mamanya. "El gak mau mama ikutan sakit. Mama makan ya?" Bujuk Elgar. Tapi seperti yang tadi, Bu Dirga tetap menolak.
Elgar sungguh tak tega melihat keadaan mamanya. Sejak tadi hanya menangis dan bersandar dibahunya.
Setelah dibujuk begitu lama oleh Elgar dan Jordi, akhrinya Bu Dirga mau pulang dan istirahat. Sekarang, tinggalah Elgar dan Jordi yang berdiri didepan ICU. Sampai sekarang, belum ada yang boleh menjenguk pak Dirga. Semua hanya bisa melihatnya dari kaca.
Jordi, pria itu tiba tiba mengeluarkan ponsel dan menujukkan sesuatu pada Elgar.
"Rekaman cctv didekat lokasi Mila diculik." Ucap Jordi.
Elgar jelas terperangah melihat rekaman itu. Sayangnya wajah pria yang menarik Mila kedalam mobil tak tampak jelas. Tak hanya rekaman didekat tkp, tapi rekaman cctv jalan yang menunjukkan mobil yang membawa Mila serta beberapa rekaman lain.
"Mobil yang dipakai milik rental." Jordi kembali menjelaskan tanpa ditanya.
"Siapa yang menyewanya?"
Jordi mengambil ponselnya dari tangan Elgar lalu menunjukkan sebuah foto.
"Baskoro!" Desis Elgar sambil mengepalkan tangannya melihat foto yang ditunjukkan Jordi. Ternyata dugaan Mila benar. Pak Bas dalang dibalik semua itu. Seperti yang dikatakan Mila, Pak Bas memang tampak begitu beda difoto itu. Tubuhnya kurus dan tampak tak terawat. Sangat kontras dengan Pak Bas dulu yang gendut dan berpenampilan rapi. Baru tak bertemu sekitar 2 bulan, tapi kenapa penampilannya sudah sangat berubah.
"Benar, Baskoro dalang dibalik semua ini. Setelah dipecat tanpa pesangon, istrinya pergi meninggalkannya."Jordi lalu tertawa. "Seperti dunia terbalik. Dulu saat Pak Bas berjaya, dia suka selingkuh. Tapi ternyata, tanpa dia sadari, istrinya juga punya selingkuhan. Dan saat Baskara dipecat, istrinya langsung meninggalkannya. Bahkan kedua anaknya ikut meninggalkannya bersama sang ibu. Rumahnya disita karena ternyata istrinya sudah menggadaikan rumah mereka."
Pantas saja Baskoro sampai kurus seperti itu, batin Elgar. Ternyata nasibnya tragis setelah dipecat. Tapi apapapun itu, dia tak akan melepaskan biadap itu. Dia akan segera melaporkan kasus ini ke polisi.
Tapi tunggu, Elgar merasa janggal. Kenapa Jordi tahu semua ini.
"Pak Dirga yang menyuruhku menyelidiki kasus ini." Kata Jordi yang seakan paham arti tatapan curiga dari Elgar. Pantas saja Pak Dirga sangat menyukai Jordi. Pria itu seperti bisa menebaik isi kepala lawan bicaranya.
"Papah."
"Ya, Pak Dirga. Beliau bilang, kamu menuduhnya."
Elgar menatap papanya yang terbaring tak berdaya dari kaca. Dadanya sesak jika teringat bagaimana malam itu dia mengamuk dan menuduh papanya.
"Kamu tahu El. Pak Dirga pernah punya anak perempuan. Selain itu, dia juga punya cucu perempuan. Mana mungkin seorang ayah dan kakek yang begitu menyayangi putri dan cucu perempuannya, tega melakukan perbuatan sekeji itu pada putri orang lain."
Air mata Elgar menetes. Kenapa kemarin dia seolah buta. Dibanding Jordi, dia jelas lebih tahu bagaimana sayangnya sang papa pada alm Alina dan Pink. Keduanya dijaga bak permata yang sangat berharga. Dulu, Elgar bahkan sering iri pada Alina yang begitu disayang. Tapi karena Alina sangat baik dan menyayanginya, Elgar tak bisa untuk cemburu lagi padanya. Alina rela memberikan apapun pada Elgar, bahkan wanita itu rela pasang badan demi membela Elgar.
__ADS_1