
Elgar melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah mewah tempatnya tumbuh besar. Sebelumnya, tak pernah dia sekecewa ini pada sang papa.
Sesampainya disana, tatapannya langsung lurus menuju ruang kerja papanya. Dia bahkan mengabaikan Pink yang menyapanya girang.
"El...." Panggil sang mama saat putranya datang. Tapi seakan tuli, Elgar tak menjawab dan langsung memasuki ruang kerja papanya. Dijam ini, papanya itu memang selalu ada disana.
Bu Dirga bisa melihat ketegangan di wajah Elgar. Takut terjadi sesuatu, dia segera menyusul menuju ruang kerja suaminya.
Brakk.
Tanpa sopan santun, Elgar membanting pintu ruang kerja papanya hingga membuat orang yang berada didalam mengelus dada.
"Dimana sopan santunmu?" Tegur Pak Dirga seraya menutup laporan yang sedang dia baca.
"Elgar gak nyangka papa bisa melakukan sesuatu serendah ini."
"Apa maksudmu?" Tanya Pak Dirga dengan kening mengkerut.
"Gak usah pura pura tidak tahu pah."
"Bicara yang jelas." Seru Pak Dirga yang memang tak suka basa basi.
"Papakan yang menyuruh preman untuk memperkos sa Mila?"
Mama Elgar yang berdiri diambang pintu seketika melotot. Dia sampai menutup mulutnya yang menganga dengan sebelah tangan.
"Bukan papa." Jawab Pak Dirga dingin dan santai. Tapi justru ekspresi itu yang membuat Elgar kian berang. Papanya seperti menyepelekan hal yang menurutnya besar ini, bahkan sampai membuat Mila trauma.
"Gak usah bohong pah. Tidak ada yang tahu perihal pernikahan Elgar dan Mila kecuali keluarga Mila dan keluarga kita. Mustahil jika keluarga Mila menyuruh orang untuk memperkos sa anaknya sendiri." Geram Elgar dengan kedua telapak tangan yang mengepal.
"Bisa jugakan orang lain yang melakukannya." Sangkal Pak Dirga.
"Tidak mungkin. Orang itu jelas jelas menghubungi El. Dia tahu jika El dan Mila ada hubungan. Dia bahkan tahu dimana Mila dan El tinggal."
"Jadi menurutmu, papa yang melakukannya?" Pak Dirga tampak mulai terbawa emosi. Dia bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Elgar.
"Memangnya siapa lagi?"
"Apa buktinya jika papa pelakunya?"
"Tak perlu bukti apapun. Karena Elgar sudah sangat yakin."
Pak Dirga berjalan kearah pintu lalu. "Keluar." Teriaknya sambil memegangi daun pintu. "Datang lagi jika kau sudah menemukan bukti kalau papa pelakunya."
Elgar menyeringai lalu menatap papanya sinis. "Baik, Elgar akan keluar. Tapi setelah Elgar keluar, Elgar tak akan menginjakkan kaki dirumah ini lagi." Seru Elgar sambil menunjuk kearah lantai.
Bu Dirga yang mendengarnya segera masuk kedalam dan memegangi lengan Elgar.
"Apa maksud bicaramu?" Tanyanya sambil menatap Elgar dengan mata berkaca kaca.
"Maafkan Elgar mah. Elgar seperti ini karena papa sudah sangat keterlaluan. Dia menyuruh preman untuk memperkossa istriku mah."
"Harus berapa kali papa bilang, bukan papa!" Teriak Pak Dirga dengan wajah memerah karena emosi.
"Lalu apa arti ancaman papa waktu itu. Elgar bahkan masih ingat dengan jelas seperti apa papa mengancam Mila."
Nafas Pak Dirga terlihat makin memburu, pria itu juga memegangi dadanya yang mulai terasa sakit. Bu Dirga yang melihat itu langsung mendekati suaminya dan mengelus dadanya.
"Elgar akan keluar dari perusahaan. Elgar tak mau bekerja pada orang yang melakukan cara keji demi mendapatkan apa yang dia inginkan."
Pak Dirga tak bicara lagi, dia hanya memejamkan mata sambil memegang dadanya.
"Elgar, jangan hanya gara gara perempuan kamu sampai bertengkar dengan papamu. Apalagi sampai mau meninggalkan rumah dan perusahaan." Ujar Bu Dirga.
__ADS_1
"Hanya mama bilang?" Elgar makin naik darah. "Perempuan yang mama bilang hanya itu istriku mah. Dan hari ini dia hampir saja dilecehkan." Tekan Elgar dengan mata berkaca kaca.
"Tapi papamu bilang bukan dia pelakunya." Bela Bu Dirga.
"Memang bukan papa. Tapi orang suruhan papa." Sahut Elgar.
"Sudahlah mah, biarkan dia melakukan apapun yang dia mau. Kita lihat saja, sampai kapan dia mampu bertahan." Kata Pak Dirga sambil berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Elgar menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan. Dia kemudian keluar dan menaiki tangga menuju kamarnya. Mengemasi barang yang hanya tinggal beberapa itu karena hampir semua sudah dipindahkan ke apartemen.
"Om El mau kemana? kenapa semua dimasukkan ke dalam tas besar?" Tanya Pink yang berdiri diambang pintu kamar Elgar.
Elgar mendekati bocah itu lalu berjongkok dihadapannya.
"Om El mau pindah."
"Om mau ninggalin Pink?" Mata bocah itu mulai berkaca kaca.
Elgar menggeleng. "Enggak, Om gak akan ninggalin Pink. Om cuma mau pindah. Nanti kapan kapan, Pink om ajak main ke rumah Om. Pink mau?" Tanya Elgar sambil membelai rambut Pink.
"Mau Om, Pink mau."
"Ya udah, om pergi dulu ya." Elgar mencium pucuk kedua pipi Pink dan keningnya. Dia lalu berdiri kembali dan mengambil tas lalu keluar kamar. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sang mama terduduk sambil menangis di anak tangga paling bawah.
Elgar menghampiri mamanya lalu duduk disebelahnya.
"Kenapa harus seperti ini. Mama hanya tinggal punya kamu. Dan sekarang, kamu juga mau pergi seperti Alina." Kata mamanya sambil berderai air mata.
Elgar tak tega melihat mamanya. Tapi dia tak mau diam saja hingga papanya berbuat sesuatu lagi pada Mila.
"Maafkan El mah." Kata Elgar sambil memeluk mamanya. "El hanya butuh waktu. Elgar tetap anak mama dan papa. El hanya ingin papa sadar jika yang dia lakukan salah. Elgar bukan anak kecil lagi mah. El tahu apa yang terbaik untuk El. Termasuk jodoh yang terbaik untuk El."
"Tapi papamu bilang bukan dia pelakunya."
...******...
Mila tak memdapati Elgar disebelahnya saat dia bangun. Dia mendadak cemas. Setelah kejadian itu, dia benar benar takut sendirian. Dia mengambil selimut dan menutupi seluruh tubuhnya yang gemetar.
"El....." Panggilnya lirih.
"El...." Dia terus memanggil tapi tak ada sahutan dari Elgar.
"Elgar..." Dia sampai berteriak saking takutnya. Dan tak lama kemudian, Elgar datang dan langsung memeluknya.
"Aku takut El."
"Tenanglah, ada aku." Sahut Elgar sambil mengecup kening Mila berkali kali.
"Jangan tinggalkan aku sendirian."
"Aku tidak kemana mana. Aku hanya sedang memasak didapur." Elgar melepaskan pelukannya dan memperlihatkan apron yang menempel ditubuhnya.
"Kamu memasak?"
"Hem." Jawabnya sambil mengangguk dan tersenyum. "Mau bantu?"
Mila mengangguk. Keduanya lalu gegas menuju dapur. Mila sempat syok melihat dapur yang berantakan. Dia sampai bingung apa yang dimasak Elgar hingga dapur seperti kapal pecah.
"Aku mau bikin pancake pisang."
Mila menghela nafas. Hanya untuk pancake, kenapa sampai berantakan seperti ini, batinnya. Bahkan ada pecahan telur dilantai yang hampir saja membuatnya terpeleset.
"Aku tadi sudah membuatnya. Tapi gak enak, keras. Jadi aku mau ngulang bikin lagi."
__ADS_1
"Mungkin kamu salah resep." Mila mencari cari pancake keras yang dimaksud Elgar. Tapi sepanjang mata memandang, dia tak menemukan kue itu.
"Mana pancake buatan kamu?"
"Itu." Elgar menunjuk pancake hitam legam yang teronggok ditempat sampah.
"Awalnya terlalu keras saat dimakan. Aku pikir belum matang, jadi aku biarkan lebih lama di teflon. Tapi.."
"Gosong." Mila menyela ucapan Elgar sambil menahan tawa.
"Hehehe...tuh tahu." Sahut Elgar sambil memeluk Mila dari samping. Hatinya lega melihat Mila bis kembali tertawa.
"Ya udah, kita bikin ulang lagi aja." Tawar Mila dan langsung diangguki dengan semangat oleh Elgar.
Elgar mengambil apron dan langsung memakaiannya pada Mila. Mengambil bahan bahan seperti tadi dan meletakkannya diatas meja dapur.
Mila menyuruh Elgar melumatkan pisang sementara dia menyiapkan campuran tepung, susu, gula dan baking power.
Setelah adonannya siap, Mila segera memanaskan teflon dan bersiap mencetak.
"El....kamu tunggu disana saja." Titah Mila sambil menunjuk kearah meja makan. Jujur dia kurang nyaman memasak jika Elgar sejak tadi memeluknya dari belakang dan tak jarang menciumi tengkuknya.
"Aku kan mau sekalian belajar." Tolak Elgar sambil meletakkan dagunya dibahu Mila.
"Tapi aku gak bisa leluasa gerak kalau kamu kayak gini."
"Ok!" Elgar lalu melepaskan pelukannya dan berdiri tepat disebelah Mila. "Sekarang gak ganggu lagikan?"
"Good boy." Mila tersenyum sambil memberikan dua jempolnya.
Mila mulai mencetak adonan satu persatu. Wajahnya mulai tersenyum, sepertinya melakukan hal kecil seperti ini bersama sama membuatnya sedikit melupakan kejadian kemarin.
Elgar beranjak dari tempatnya berdiri. Mengambil karet gelang lalu mengikat rambut Mila yang sedikit mengganggu aktifitasnya.
"Makasih sayang." Ujar Mila sambil menoleh kebelakang.
"Hanya terimakasih."
Mila mengecup pipi Elgar lalu kembali fokus pada pancake yang dihadapannya yang mulai mengepulkan aroma menggoda. Elgar senang melihat Mila yang sudah tampak seperti biasanya. Dia berharap jika kejadian kemarin tak memberikan trauma berkepanjangan bagi Mila.
Setelah semua adonan tercetak sempurna. Mila menuangkan kental manis coklat sebagai pemanis. Alhasil, pancake satu piring habis kurang dari lima menit. Bahkan Elgar masih saja mengeluh kurang.
"Kamu gak kekantor?" Tanya Mila saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 8 lebih.
"Aku ambil cuti." Bohong Elgar. Dia tak mau bilang jika sudah berhenti dari perusahaan.
"Maaf ya, karena harus nemenin aku, kamu jadi cuti."
"Gak masalah. Aku justru senang jika seharian bisa selalu bersamamu." Jawab Elgar sambil merengkuh bahu Mila dan membawanya kedalam dekapannya.
"Tapi kerjaanmu pasti bakalan menumpuk."
"Gak usah pikirin itu. Lebih baik kita pikirin mau apa kita seharian ini."
Mila menggeleng. "Gak perlu mikir lagi. Itu." Mila menunjuk dagu kearah dapur. "Bersihkan kekacauan yang kamu bikin."
Elgar seketika melotot. "No honey....aku gak bisa." Jawab Elgar sambil menangkup kedua pipi Mila dan menatap kedua matanya. "Biar aku panggil tenaga kebersihan aja. Lebih baik kita...." Elgar menunjuk dagu kearah kamar. "Main kuda kudaan." Ujar Elgar desertai kerlingan menggoda.
"No, no ,no, kamu bereskan kekacauan yang kamu bikin."
"Yahhh..." Elgar memasang wajah memelasnya yang membuat Mila tak tahan untuk tidak tertawa.
"Aku akan membantu. Kita bersihkan sama sama."
__ADS_1
Elgar seketika mengangguk senang. Usul itu jelas lebih baik daripada harus bersih bersih sendiri.