Dia Suamiku

Dia Suamiku
MENCEKAM


__ADS_3

Mila berdiri didepan Elgar. Merapikan dasi suaminya itu sambil tak henti henti mengukir senyum. Akhirnya, mimpinya kesampaian. Dia ingin bisa membantu menyiapkan kebutuhan El, mulai dari baju, sepatu hingga memakai dasi. Sarapanpun sudah terhidang di meja. Pagi pagi sekali dia sudah bangun untuk menyiapkannya.


Semua benar benar seperti khayalannya. Mereka bersenda gurau sambil sarapan bersama. Setelah itu dia mengantar Elgar sampai kepintu dan mencium tangannya. Tapi satu hal yang berbeda dari impiannya. Bukannya mengecup keningnya, Elgar malam mencium bibirnya sangat lama.


"El...kamu bisa telat kalau gini." Mila mendorong dada Elgar saat pria itu hendak menciumnya lagi dan lagi.


"Sekali lagi sayang."


"Eggak." Tolak Mila sambil memelototi suaminya.


"His, gak seru." Protes Elgar.


"Udah udah, berangkat sana. Jangan mampir kemana mana pas pulang. Aku ada surprise buat kamu."


"Wow, apaan?" Mata Elgar seketika berbinar.


"Ada deh....bukan surprise jika dikasih tau."


"Yahh....."


"Udah sana berangakat." Mila mendorong Elgar hingga keluar pintu lalu menutupnya kembali." Dia lalu masuk kedalam untuk membereskan meja makan. Tapi dia melihat sesuatu yang membuatnya menepuk jidat. Ponsel Elgar tertinggal dimeja makan. Mila segera meraih benda pipih itu kemudian mengejar Elgar. Karena tergopoh gopoh, Mila menabrak seseorang.


"Sorry." Ucap Mila sambil menundukkan kepala.


"Mila."


Mila seketika mendongak mendengar suara yang dia kenali.


"Dev."


"Kamu disini?" Devan seakan tak percaya bertemu Mila di apertemennya. Ini jelas apartemen elit, lalu kenapa Mila ada disini?


"Aku jelaskan setelah ini, tapi aku sedang terburu buru Dev."


"Tunggu." Devan menahan lengan Mila saat wanita itu hendak pergi. "Ada yang ingin aku tanyakan padamu."


"Baiklah, tapi setelah ini. Aku buru buru sekarang Dev. Tunggu aku disini, aku tidak akan lama. Ada sesuatu juga yang ingin aku bicarakan padamu." Mila segera berlari untuk menyusul Elgar. Beruntung pria itu masih ada di basement.


"El....." Teriak Mila sambil melambaikan tangan. Elgar yang hendak membuka pintu mobil membatalkan niatnya. Dia tersenyum saat melihat Mila tergopoh gopoh berlari kearahnya.


"Kenapa sayang, merindukanku?" Goda Elgar sambil mengerling.


Mila menunjukkan sesuatu yang dia bawa. Dan seketika, Elgar tertawa ringan.


"Kamu melupakannya."

__ADS_1


Elgar mengambil ponselnya dari tangan Mila lalu mengacak pelan rambut istrinya.


"Maaf sudah membuatmu lelah karena terburu buru mengejarku."


"Tidak sama sekali. Sudah sana berangkat." Mila membalikkan tubuh Elgar kearah pintu mobil lalu berlari meninggalkannya.


Elgar kembali membalikkan badan dan melihat Mila sudah jauh darinya.


"Aku mencintaimu. Rindukan aku seharian ini El." Teriak Mila tanpa rasa malu didengar orang. Justru Elgar yang celingukan dengan muka merah menahan malu saat beberapa orang memperhatikan mereka. Tapi biarlah, mungkin ini salah satu ungkapan rasa cinta Mila. Toh tidak setiap hari Mila berperilaku seperti ini, hanya hari ini saja. Mungkin dia salah makan pagi ini, batin Elgar.


Tapi ucapan Mila sungguh manjur, baru saja punggung wanita itu menghilang dari pandangannya, Elgar sudah merasa rindu.


Elgar masuk kedalam mobil lalu menyalakan mesinnya. Tapi entah kenapa, dia benar benar merindukan Mila. Jangan jangan wanita itu penyihir, batin Elgar. Ucapannya sungguh menjadi kenyataan. Elgar berat sekali hendak melajukan mobilnya, seperti ada dorongan dari dalam yang menyuruhnya untuk kembali pulang. Tapi Elgar buru buru mengenyahkan pikiran itu. Dia ada janji dengan klien dua jam lagi. Mau tidak mau, dia harus segera ke kantor.


Mila mencari Devan di tempat mereka bertemu tadi. Dia harus menjelaskan pada Devan tentang hubungannya dengan Elgar. Dia bukan orang bodoh yang tak tahu jika Devan menyukainya. Jadi dia tak ingin Devan terus berharap padanya.


Sayangnya, Devan tak ada ditempat tadi. Sedangkan tadi, dia juga tidak melihat Devan di basement. Jadi mungkin pria itu ada di lobi. Ya, lobi, Mila mencari Devan disana. Namun ternyata, Devan juga tak ada disana. Ingin menghubingi Devan, tapi dia tak bawa ponsel. Akhirnya, Mila memutuskan kembali ke unitnya.


Sesampainya di unit, Mila menghubungi Devan. Dia teringat kata kata Elgar jika Devan juga tinggal di apartemen ini. Jadi mungkin dia bisa bikin janji ketemuan dengan Devan. Tapi sayangnya, Devan tak menjawab panggilannya.


Mungkin Devan sedang sibuk, pikir Mila. Dia meletakkan ponselnya lalu kekamar untuk berganti baju.


Dengan pakaian kasual dan tas slempang, Mila keluar untuk belanja. Hari ini, dia ingin membuat candle light dinner untuknya dan Elgar. Dia juga ingin membeli lilin aroma terapi untuk diletakkan didalam kamar agar suasananya makin romantis.


Saat menunggu ojek online dipinggir jalan, sebuah mobil warna hitam tiba tiba berhenti didepan Mila.


"Iya." Jawab Mila sambil mengernyitkan dahi. Perasaan yang dia pesan ojek online, kenapa yang datang taksi online.


"Silakan masuk." Jawab pria itu.


"Tapi saya gak pesan taksi online." Tolak Mila.


"Ada yang mesenin buat mbak nya."


"Siapa?"


"Mas Elgar."


Mila merasa janggal. Mana mungkin Elgar memesankannya taksi online. Jelas jelas pria itu tak tahu jika dia akan keluar.


Disaat Mila hendak menghubungi Elgar untuk bertanya, tiba tiba mobil terbuka. Muncul dua orang pria dari sana dan langsung menarik Mila masuk dengan paksa. Mila berontak dan berteriak minta tolong. Tapi sebelum ada yang menolongnya, pandangannya sudah gelap setelah sebuah sapu tangan membungkam mulutnya.


Mila tersadar saat tubuhnya terasa dingin dan basah. Ternyata seseorang telah menyiramnya dengan seember air dingin. Tubuh Mila seketika menggigil. Dan disaat bersamaan, dia sadar jika posisinya dalam keadaan kedua tangan dan kaki terikat. Dan mulutnya juga tersumpal lakban.


Mila meronta ronta ketakutan saat melihat seorang pria memakai penutup wajah berdiri didepannya. Pasti pria itu yang baru saja menyiramnya, terbukti dengan ember kosong yang ada ditangannya.

__ADS_1


"Akhirnya sadar juga." Ucap pria itu sambil meletakkan ember lalu berjongkok dihadapan Mila yang saat ini terbaring dilantai.


Mila yang ketakutan berusaha menjauhkan dirinya. Tapi posisi kaki dan tangan terikat, membuatnya tak bisa berbuat banyak. Ditambah lagi kepalanya masih lumayan pusing karena efek obat bius.


"Apa kabar Mila sayang?" Tanya pria itu sambil menyentuh wajah Mila.


Mila seperti kenal suara itu, tapi siapa? Mungkin efek obat bius membuatnya sulit memfokuskan pikiran. Matanya terasa sangat berat untuk dibuka. Dan pandangannya masih berkunang kunang.


"Aku merindukanmu sayang." Pria itu semakin intens menyentuh bagian wajah Mila. Membuat Mila kian gencar berontak.


"Emmmpt emmpt..." Hanya suara itu yang terdengar. Mila ingin sekali berteriak minta tolong. Sayangnya karena lakban yang menutup mulutnya, dia tak bisa apa apa. Dia hanya bisa berdoa semoga ada yang menolongnya.


"Kamu ingin bicara cantik?" Pria tersebut lalu menarik kasar lakban yang menutup mulut Mila, sampai sampai Mila merasakan perih disekitaran bibirnya. Seketika Mila bisa bernafas lega.


"Tolong ..tolong...." Teriak Mila.


"Berteriaklah sekencang mungkin agar ada yang datang." Ujar pria itu sambil tertawa lepas.


"Tolong..tolong...." Mila terus berteriak sekencang mungkin. Dan beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Tampak 3 orang pria berbadan gempal disana. Mila masih ingat, itu pria yang ada dimobil tadi. Posisinya benar benar terancam sekarang. Bukan hanya satu, melainkan ada empat komplotan mereka. Entah entah, diluar masih banyak lagi. Mila semakin ketakutan.


"Benarkan, langsung ada yang datang." Cibir pria itu sambil tertawa.


"Ada yang bisa dibantu bos?" Tanya salah satu dari mereka sambil berjalan masuk.


"Wanita ini ingin minta tolong pada kalian." Ujar si bos pada ketiga anak buahnya.


"Tolong apa cantik?" Tanya seorang pria yang berperawakan besar dan legam. Lengannya penuh dengan tatto yang membuat penampilanya terkesan garang. Sampai sampai Mila bergidik ngeri melihatnya.


"Tolong perkossa aku bang." Sahut si Bos dengan suara yang dibuat buat mirip perempuan.


Mila seketika menggeleng cepat. Tubuhnya gemetaran karena dingin sekaligus takut. Bagaimana tidak takut, dia sendiri dengan tubuh terikat, sedang dihadapannya, ada empat orang priia yang siap memangsanya.


"Hahaha...." Mereka berempat langsung tertawa terbahak sambil menatap Mila penuh naffsu. Apalagi saat ini tubuh Mila basah, pakaian dalamnya tercetak jalas dibagian dada. Sungguh pemandangan yang membuat siapapun sulit mengendalikan diri.


"Gimana teman teman, ada yang minta diperkossa? hahaha." Tanya salah satu preman pada teman temannya.


"Dengan senang hati cantik. Kami akan puaskan kamu hingga kamu tak bisa berjalan."


"Tidak, tidak, jangan, jangan." Gumam Mila dengan tubuh gemetaran. Dia tak tahu dimana posisinya saat ini. Yang dia lihat, hanya ruangan kosong. Entah ini di daerah mana, Mila juga tidak tahu. Apakah didaerah sini ada rumah penduduk atau tidak, dia juga tidak tahu karena dia pingsan selama dalam perjalanan.


"Heis....sabar." Sahut sang bos. "Setelah aku puas, baru kalian gangbang dia sepuasnya."


Mata Mila melotot mendengarnya. Tidak, ini mungkin.


"Yahhh..bareng bareng dong bos. Udah gak tahan nih."

__ADS_1


"Sabar...Kalian keluar dulu. Biar aku menikmati santapan lezat ini." Ujar si Bos sambil menatap Mila lapar. Dan seketika, si anak buah segera menurut.


__ADS_2