Dia Suamiku

Dia Suamiku
AYO KITA BERPISAH


__ADS_3

Dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya hati seseorang tiada yang tahu. Meski bibir mengukir senyum, belum tentu hatinya merasa bahagia. Seperti itu kiranya perasaan Elgar saat ini. Meski bibirnya terus mengukir senyum, tapi tidak ada yang tahu pergolakan batin yang saat ini dia rasakan.


Seakan takut kehilangan, Elgar terus menggenggam jemari Mila selama di mall. Berkali kali Mila protes dan bilang jika dia bukan anak kecil yang mungkin hilang di mall. Tapi Elgar tak menganggap sama sekali protes Mila. Jari jarinya tak mau terlepas barang sedetikpun dari jemari Mila.


"Yah.. masih sejam lagi." Keluh Mila saat melihat jam tayang film yang mau dia tonton.


"Tak apa, kita bisa jalan jalan dulu." Ajak Elgar yang kemudian menarik Mila menuju lift. Elgar sempat melihat sebuah toko perhiasan di lantai bawah.


"Mau ngapain kesini?" Mila menghentikan langkahnya saat Elgar hendak mengajaknya masuk ke toko perhiasan.


"Udah ayok." Elgar menarik Mila masuk dan segera menuju tempat display kalung.


"Ada yang bisa saya bantu Pak?" Tanya wanita penjaga toko yang cantik dan berpakaian ketat. Tapi sama sekali tak tampak menarik dimata Elgar. Karena baginya, hanya Mila yang terlihat menarik.


"Tunjukkan kalung yang simpel tapi cantik. Yang sesuai untuk istri saya ini." Jawab Elgar sambil menoleh ke arah Mila.


Penjaga toko itupun segera mengeluarkan 3 buah kalung yang menurutnya sesuai permintaan Elgar. Dan benar saja, Elgar langsung tertarik pada salah satu diantaranya. Sebuah kalung simpel dengan liontin berbentuk bulan sabit seketika menarik perhatiannya.


"Cantik gak?" Elgar menunjukkan kalung pilihannya pada Mila.


"Itu salah satu koleksi eksklusif di toko kami. Hanya ada 1 itu saja."


Mendengar jika kalung itu hanya ada 1, Elgar makin tertarik.


"Baiklah saya ambil ini."


"Berapa harganya?" Sela Mila. Melihat kalung berlian secantik itu, sudah pasti harganya fantastis, pikirnya. Dan benar saja, kalung itu berharga diatas seratus juta.


"Tidak, kami pilih yang lain saja." Ucap Mila.


"Kamu tidak suka?"


Mila menarik lengan Elgar sedikit menjauh dari pegawai toko tersebut lalu berbisik. "Itu terlalu mahal El."


"Tidak ada yang mahal untuk wanita seistimewa dirimu." Sahut Elgar sambil kembali mendekati pegawai tadi. "Saya ambil yang tadi."


Mila hanya bisa berdecak. Rasanya sayang sekali jika uang sebanyak itu dipakai untuk membeli kalung. Padahal dikampungnya sudah bisa untuk membeli tanah yang lumayan luas.


"Mau langsung dipakai apa_?"


"Dipakai saja." jawab Elgar cepat.


Elgar segera memasangkan kalung tersebut di leher jenjang Mila. Dia tersenyum puas melihatnya. Kalung cantik itu, memang sangat pas dipakai wanita secantik Mila.

__ADS_1


"Perfect." Ucap Elgar sambil membentuk huruf o dengan jempol dan telunjuknya.


Selesai urusan perhiasan, mereka berniat langsung ke tempat bioskop. Tapi sebuah sneaker couple, menarik perhatian Elgar. Dan dengan sedikit paksaan, akhirnya Mila setuju membelinya. Dan lagi lagi, Elgar ingin langsung memakainya. Alhasil, mereka berdua memakai sepatu couple hari ini.


Ternyata tak hanya berhenti pada sepatu, Elgar juga mengajak membeli kaos couple. Mila sempat menolak karena jujur dia sedikit malu jika memakai kaos couple. Tapi beruntung Elgar tak meminta memakai saat ini, dia hanya mengajak membeli.


Gara gara kaos itu, Mila dan Elgar terlambat masuk ke bioskop. Alhasil mereka harus puas menonton film yang sudah terlewat hampir 20 menit. Tapi tak apa, Mila tampak begitu antusias menonton. Berkali kali dia teriak dan menyembunyikan wajahnya didada Elgar saat ada adegan menyeramkan. Tangan Elgar juga tak luput dari remasannya. Saat adegan menegangkan, Mila akan meremas kuat tangan Elgar sebagai pelampiasan.


Kembali adegan menyeramkan muncul, dan lagi lagi, Mila hendak menyembunyikan wajahnya didada Elgar. Tapi sesuatu yang dia lihat, membuatnya mengurungkan niatnya. Dia melihat Elgar menitikkan air mata. Rasanya sungguh janggal. Menangis saat menonton film horor yang sama sekali tak menyedihkan.


"Kamu menangis El?" Lirih Mila karena tak mau mengganggu penonton lainnya.


Elgar menggeleng sambil menyeka air matanya. "Aku menguap sampai keluar air mata. Ngantuk banget." Bisiknya ditelinganya Mila.


Setelah film usai, mereka langsung pulang karena esok pagi, Elgar ada uruaan dan harus berangkat pagi pagi.


...****************...


Seperti pesan Elgar tadi pagi, pria itu pulang larut malam ini. Bahkan dia sampai di apartemen hampir tengah malam. Dan hatinya terenyuh melihat Mila yang tertidur diruangan tengah dengan tv masih menyala. Wanita itu pasti menunggunya hingga tertidur.


Elgar mendekati Mila. Ditatapnya wajah cantik sang istri yang tertidur lelap. Seharian ini, dia benar benar merindukan Mila. Ini baru sehari, jika lebih, apakah dia mampu?


Elgar meletakkan tas kerjanya lalu membopong tubuh Mila menuju kamar dan menurunkannya pelan pelan diatas rangjang. Meskipun sudah sangat pelan dan hati hati, Mila tetap saja terbangun.


"Iya." Jawab Elgar sambil duduk disisi ranjang.


"Aku buatkan minuman." Ujar Mila sambil berusaha untuk duduk.


"Tidak perlu." Sahut Elgar sambil menahan tubuh Mila agar tetap rebahan. "Tidur saja. Tadi aku sudah ngopi diluar."


"Makan?"


"Aku juga sudah makan. Lanjutkan saja tidurnya, aku mandi dulu."


"Aku siapkan piyama untukmu." Lagi lagi Mila ingin bangun,tapi Elgar menahannya.


"Biar aku siapkan sendiri."


"Ta_"


Elgar menggeleng membuat Mila tak melanjutkan ucapannya.


"Aku tak bisa terus bergantung padamu, aku harus bisa mandiri."

__ADS_1


"Tapi aku sama sekali tidak keberatan."


"Aku tahu itu. Tidurlah, aku tak mau dengar bantahan apapun." Ujar Elgar sambil bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Mila belum tertidur saat Elgar selesai mandi dan menyusulnya naik keatas ranjang. Pria itu memeluk Mila dari belakang sambil menciumi kepala Mila.


"Kamu menginginkanku?" Tanya Mila saat merasakan pelukan Elgar kian erat.


"Tidak, tidurlah." Jawab Elgar sambil memejamkan mata yang sebenarnya tidak mengantuk sama sekali.


"Apa ada masalah?" Mila bisa merasakan jika Elgar berbeda malam ini. Tatapan mata Elgar tampak sendu, seperti menyiratkan sebuah luka.


"Tidak ada."


Merekapun akhirnya tertidur. Sampai saat adzan subuh berkumandang, Elgar membangunkan Mila.


Jelas ini aneh menurut Mila. Elgar susah sekali diajak sholat selama ini. Tapi pagi ini, pria itu membangunkannya dan mengajaknya sholat subuh berjamaah.


"Selama kita menikah, belum pernah sekalipun aku menjadi imammu. Jadi pagi ini, izinkan aku menjadi imammu."


Itu jawaban yang Elgar berikan saat Mila bertanya.


Tak mau berfikiran buruk, Mila menyambut ajakan itu dengan senang hati. Meskipun tak dapat dipungkiri, jika dia merasakan kejanggalan yang luar biasa. Tapi apapun itu, ini adalah kemajuan yang sangat bagus. Dan dia akan mendukungnya. Apalagi jika Elgar mau setiap hari menjadi imam sholatnya.


Selesai menunaikan ibadah sholat subuh dan berdoa, Mila mencium tangan Elgar, yang kemudian dilanjutkan dengan Elgar mengecup keningnya.


"Kamu sangat cantik." Puji Elgar sambil menatap wajah Mila yang berbalut mukena. Mila tersipu malu, semburat merah tampak dikedua pipinya.


"Kamu juga sangat tampan dengan baju koko dan sarung serta kopiah." Mila balik memuji.


"Berjanjilah akan selalu bahagia. Bahagia meski tanpa aku."


Mila mencoba mencerna ucapan Elgar. "Kamu mau kemana? Apa ada urusan pekerjaan diluar negeri?"


Elgar menggeleng. "Kadang cinta tak selamanya harus memiliki."


Mila semakin dibuat bingung dengan kata kata Elgar.


"Ayo kita berpisah."


Mila tertegun, berpisah seperti apa yang dimaksud Elgar.


"Karmila kenanga, hari ini, aku jatuhkan talakku padamu."

__ADS_1


__ADS_2