Dia Suamiku

Dia Suamiku
CINTAKU TAKKAN BERUBAH


__ADS_3

Mobil Elgar berhenti didepan sebuah rumah kosong sesuai titik yang ditunjukkan share loc. Dia mengerutkan kening saat melihat sebuah mobil yang dia kenal berada tak jauh dari tempatnya. Itu mobil Devan, dia sangat yakin, bahkan plat mobilnya sama.


Tak mau dipusingkan dengan mobil Devan, Elgar turun lalu segera masuk. Dia berjalan pelan dan tetap waspada, takut jika tiba tiba ada yang menyerangnya. Tapi setelah masuk kedalam, ternyata tak ada siapa siapa. Hingga dia membuka sebuah ruangan dan mendapati pemandangan yang luar biasa mengejutkan.


Elgar terbelalak melihat Mila tengah berpelukan dengan Devan. Ditambah lagi kondisi Mila yang tampak tak wajar. Dari posisinya berdiri, Elgar bisa melihat jika Mila tak memakai apapun kecuali jas yang menutupi tubuh depannya. Dan hanya jas itulah yang menjadi sekat yang memisahkan dia dan Devan.


Mendengar pintu yang dibanting keras, atensi Mila dan Devan langsung tertuju kearah pintu.


"El." Mila melepaskan pelukannya dan menatap Elgar.


Elgar mendekati mereka berdua sambil menatap Devan nyalang.


"Jangan salah faham." Ujar Devan sambil berdiri menatap Elgar. Meski dia tak tahu jelas apa hubungan antara Elgar dan Mila, tapi melihat tatapan nyalang Elgar, Devan bisa menebak jika ada sesuatu spesial diantara mereka.


"El...." Mila merintih memanggil Elgar. Tapi Elgar tak menghiraukannya sama sekali.


Elgar menyeringai, dia benar benar tak menyangka jika disaat dirinya seperti orang gila memikirkan keselamatan Mila. Tapi justru pemandangan seperti ini yang dia saksikan.


"Ini tak seperti yang kau lihat. Aku hanya_"


Bugh


Sebuah pukulan telak mendarat di rahang Devan, membuat Mila seketika menjerit histeris.


"Jadi ini kejutan yang kamu maksud?" Teriak Elgar sambil menatap Mila. Dan disaat matanya dan Mila saling menatap, dia merasa ada yang salah. Wajah Mila berantakan, sudut bibirnya terluka dan ada bekas darah yang mengering disana. Tampak juga memar di pipi Mila.


Elgar lalu memperhatikan sekeliling. Dia baru menyadari jika ada tali, gunting dan pakaian yang sobek. Jika mereka berbuat mesum, tak seperti ini keadaannya.


"Ini tak seperti yang kau pikirkan. Mila hampir saja dilecehkan." Ujar Devan sambil memegangi rahangnya yang terasa panas.


Tubuh Elgar seketika terasa lemas. Dia berjalan menghampiri Mila dan segera memeluk wanita itu erat erat.


"Aku takut El, aku takut." Racau Mila ditengah isak tangisnya.


"Tenanglah, ada aku. Ada aku disini sayang." Elgar mengecup puncak kepala Mila berkali kali. Hatinya tercabik cabik mendengar isak tangis Mila yang menyayat hati.


"Beberapa orang preman menculik Mila. Beruntung aku sempat melihat dan mengikutinya hingga kesini." Devan menjelaskan.


Elgar mengepalkan tangannya kuat. Dia bersumpah akan membalas siapapun yang melakukan hal keji ini pada Mila. Bahkan jika itu papanya, dia akan tetap melawannya. Karena ini sudah sangat diluar batas.


"Bisakah kau keluar dulu. Aku ingin memakaikan pakaian pada Mila." Ujar Elgar sambil melihat kearah Devan.


Devan mengernyit bungung.


"Dia istriku." Dan seketika, mata Devan membulat sempurna. Mulutnya bahkan sampai menganga antara yakin dan tidak. Dia memang memprediksi ada hubungan diantara mereka, tapi tak menduga jika keduanya suami istri.


"I.i..istri." Devan masih tak bisa percaya.


"Iya, Aku dan Mila suami istri. Jadi, bisakah kau menunggu diluar sementara aku mengenakan pakaian pada istriku."


Tak ada pilihan lain jika sudah seperti ini. Dengan langkah berat, Devan keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Setelah Devan keluar, Elgar melepaskan kemejanya dan mengenakannya pada Mila. Dia lalu mengangkat tubuh Mila dan membawanya kedalam mobil.


Setelah memastikan Mila aman di dalam mobil, Elgar menghampiri Devan.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang orang yang melakukan ini pada Mila?" Tanya Elgar.


Devan kemudian menceritakan sesuai apa yang dia lihat.


Tepatnya, tadi pagi setelah bertemu Mila, dia hendak menunggu wanita itu untuk minta penjelasan. Tapi sayangnya, dia baru ingat kalau ada berkas yang ketinggalan, jadi dia kembali ke unitnya. Karena dia mencari berkas itu cukup lama, dia tak menemukan Mila ditempat tadi. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk berangkat kekantor.


Tapi tanpa sengaja, Devan malah melihat Mila yang ditarik masuk kedalam mobil. Merasa Mila dalam bahaya, Devan segera mengejar mobil itu. Dia sempat kehilangan jejak karena lampu merah. Tapi beruntung, dia bisa menemukan tempat mobil itu terparkir.


Devan tak bisa langsung menolong Mila karena harus menghadapi anak buah penculik itu. Baru setelah ketiga anak buahnya kalah, Devan berhasil menerobos masuk untuk menyelamatkan Mila. Beruntung belum terjadi sesuatu yang buruk karena Devan melihat pria yang ada didepan Mila masih berpakaian lengkap.


"Maaf karena tak bisa menangkap mereka. Aku membiarkan mereka kabur karena terlalu cemas dengan kondisi Mila."


Elgar mengepalkan tangannya. Dia yakin jika ada dalang dibalik ini semua. Terbukti dia mendapatkan chat yang menyuruhnya datang.


"Kau tahu mereka siapa?"


Devan menggeleng. "Mereka memakai penutup wajah. Jadi aku sama sekali tak mengenali."


"Terimaksih." Kali ini, Elgar tulus mengucapkannya.


"Dan ini balasan yang kau berikan untukku setelah aku menyelamatkan istrimu." Cibir Devan sambil mengusap rahangnya yang masih sakit.


"Sekali aku minta maaf."


"Jaga Mila baik baik. Tolong jangan rubah pandanganmu padanya setelah peristiwa ini. Mila sudah cukup tertekan. Jangan tambah tekanan batinnya dengan menghakiminya apalagi menganggapnya kotor. Aku bisa pastikan jika mereka belum sempat memperkosaanya." Ujar Devan.


"Yakin kau tahu bagaimana cara bersikap pada istrimu?" Sindir Devan.


"Gue emang gak sebaik lo. Tapi gue bisa pastikan jika setelah ini, gue akan 10 kali lebih baik daripada lo." Elgar seperti sudah kembali kemode lama.


"Buktikan." Tantang Devan sambil memukul pelan lengan Elgar.


"Dengan senang hati." Sahut Elgar lalu berbalik dan meninggalkan Devan. Tapi baru beberapa langkah, dia berhenti dan kembali membalikkan badannya kearah Devan.


"Lupakan apa yang kau lihat tadi." Ujarnya dengan nada sedikit mengancam


"Astaga...mana mungkin. Terlalu indah untuk dilupakan."


Elgar sekelika melotot dan mengangkat tangannya yang mengepal. Tapi hal itu hanya ditanggapi dengan tawa oleh Devan.


Elgar segera membawa Mila pulang. Sepanjang perjalanan, dia menggenggam tangan Mila. Dia benar benar tak tega melihat kondisi Mila yang memprihatinkan.


...******...


Elgar membawa sepiring makanan kedalam kamar. Setelah membersihkan diri, Mila sama sekali tak mau diajak bicara. Dia hanya menggeleng pada apapun yang Elgar tawarkan.


"Aku suapin ya." Ujar Elgar yang saat ini duduk disebelah Mila. Dan seperti yang tadi, Mila hanya menggeleng.

__ADS_1


Elgar membuang nafas berat lalu berdiri. "Aku memang tak pandai memasak, makanya kau tak mau memakannya. Lebih baik aku buang saja."


"Tunggu." Ujar Mila saat Elgar hendak pergi. "Aku akan memakannya."


Elgar menoleh kearah lain sambil tersenyum. Ternyata Mila harus dibuat tak enak hati dulu agar dia mau menurut.


Elgar duduk kembali disisi ranjang lalu memotong omelet dan menyuapkannya pada Mila.


"Kau tahu, ini pertama kalinya aku memasak. Kalau bukan untukmu, tak akan pernah mau aku memasak." Ujar Elgar sambil bersungut sungut yang membuat Mila tersenyum. Dan senyum itulah yang sejak tadi Elgar nantikan.


"Terimakasih." Jawab Mila sambil mengunyah omelet yang hambar itu.


"Kembali kasih." Jawab Elgar sembari memotong kembali omelet dan memberikan suapan kedua untuk Mila.


Melihat Mila yang lahab menyantap omelet bikinannya, Elgarpun berasa ingin mencicipi. Tapi baru saja dia hendak memasukkan sepotong omelet dimulutnya, Mila sudah menarik garpu itu dan lebih dulu memakannya.


"Ini milikku El. Aku tak rela jika harus berbagi denganmu." Kata Mila dengan mulut yang penuh omelet. Dia sengaja melakukannya agar Elgar tak tahu seperti apa rasa omelet bikinannya. Cukup dia saja yang merasakan tersiksa memakan omelet super tidak enak itu.


"Ish, dasar pelit." Seru Elgar sambil mengacak pelan rambut Mila.


Setelah sepiring omelet itu habis. Elgar naik ketas ranjang lalu memeluk Mila yang berbaring disebelahnya.


"Tidurlah." Titah Elgar sambil membelai punggung Mila. Tapi bukannya tidur, Mila malah kembali menangis.


"Apa kau jijik padaku El?"


Elgar berdecak lalu mengangkat dagu Mila dan menatap kedua matanya.


"Jangan pernah berfikiran seperti itu."


"Mereka sudah menyentuhku El. Bahkan saat aku pingsan, aku tak tahu apa yang sudah mereka lakukan padaku."


"Tidak ada yang terjadi padamu saat kamu pingsan. Semuanya baik baik saja. Pun jika terjadi sesuatu, tak akan ada yang berubah dengan cintaku. Aku akan tetap mencintaimu."


Mila semakin tergugu mendengar ucapan Elgar.


"Jangan menangis lagi. Lupakan semuanya." Ujar Elgar sambil menyeka air mata Mila.


"Jangan pernah merasa dirimu kotor atau apapun. Tidak terjadi apapun padamu. Devan sendiri yang bilang jika dia datang sebelum bajingan itu melakukan apapun padamu."


"Devan." Gumam Mila. Mendengar nama Devan, membuatnya malu. Bagaimanapun, Devan sudah melihat tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Dan setelah ini, dia pasti tak punya muka jika bertemu dengan pria itu.


"Apa yang kamu pikirkan?" Elgar bisa melihat kegundahan dari mata Mila.


"Devan? Devan sudah melupakan apa yang dia lihat tadi. Anggap saja tak pernah terjadi sesuatu. Dan jika kalian bertemu, tak perlu merasa malu."


"Terimakasih El. Terimakasih karena mau mencintaiku dengan tulus. Terimaksih karena mau menerima seperti apapun keadaanku."


Elgar tersenyum lalu mengecup kening Mila.


Tidak ada alasan untuk tidak menerimamu Mil. Disaat kamu mau menerimaku dengan lapang dada, bahkan mungkin keadaanku lebih buruk darimu.

__ADS_1


"Tidurlah." Elgar mengecup kening Mila lama sambil membelai penggungnya. Membiarkan wanita itu merasa nyaman dan tertidur dalam dekapannya.


Setelah memastikan Mila tertidur, Elgar segera beranjak. Dia harus menemui seseorang. Siapa lagi kalau bukan papanya. Dia yakin jika papanya adalah dalang dibalik semua ini. Karena hanya keluarganya dan keluarga Mila yang tahu tentang hubungan mereka.


__ADS_2