
"Bi, momy mana?" tanya Putri pada bi Inah yang sedang marapihkan rumah.
"Tadi nyonya pamit mau ke rumah bu Lesty, katanya mau bantu-bantu pindahan rumah, pesan dari nyonya non Putri untuk menyusul kesana,"
"Oh gitu ya? udah aku masuk dulu ya Bi." Putri menuju ke kamar untuk mengganti pakaian. Sebelum dia pergi menyusul bundanya dia meminta izin pada Tristan dan menyuruhnya untuk menjemputnya di sana. Setelah mengganti pakaian putri memanggil bang Jojon untuk mengantarkan dirinya ke rumah mertuanya itu.
****
Tristan sudah mulai mempelajari sistem perusahaan yang kini menjadi miliknya. Rio secara rinci menjelaskan satu persatu. Memang dasar sudah pintar tristan dengan cepat mengerti apa yang di jelaskan mertuanya, dan itu membuat mertuanya sangat bangga padanya.
"Pasti dari istri kamu ya?" tanya Rio yang melihat tristan sedang memegang ponselnya sambil tersenyum.
"Iya Dad, dia menyuruhku menjemputnya di rumah bunda,"
"Kebetulan daddy juga mau kesana, kita berangkat bareng aja,"
"Tristan bawa motor saja, Dad,"
"Ya udah kalau begitu, kita ketemu di sana ya," Tristan tersenyum mengangguk.
Kedua laki-laki itu langsung menuju rumah keluarga Hikaru. Semua orang sedang sibuk menata rumah yang masih berantakan. Saat Putri datang Kirana dan Lesti menyambut anak kesayangan mereka.
"Hai cantik, kamu sudah datang." kata Lesti langsung merangkul menantu kesayangan nya itu.
"Mana Tristan?"
"Pulang sekolah dia langsung ke kantor, dan mungkin sekarang lagi di jalan. Ayah sama Raka mana bunda?" tanya Putri yang tidak melihat kedua laki-laki itu.
"Mereka lagi sibuk menata kamar, oia sayang bunda juga sudah membereskan kamar untukmu dan Tristan, lain kali kalian harus menginap di sini ya,"
"Anaknya aja nih yg di tawarin?" kata Kirana yang merasa mereka melupakan keberadaannya.
"Kalau kamu ga usah saya tawarin, rumah selalu terbuka lebar untukmu." mereka bertiga tertawa.
Ketiga wanita cantik itu menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Putri hanya melihat dua ibunya dengan lihai memotong sayuran membuatnya penasaran, karena seumur hidupnya dia tidak pernah memegang alat tersebut.
"Bunda, boleh aku mencobanya?"
"Boleh sayang, tapi hati-hati ya!"
"Iya siap."
perlahan Lesti mengajarkan putri memotong wortel, Kirana yang melihat mereka tersenyum bangga melihat perubahan anaknya, karena selama ini Putri sangat manja dan dia tidak pernah peduli dengan sekitarnya. Selagi mereka sibuk di dapur Tristan, Arta dan juga Rio masuk menghampiri mereka.
"Sejak kapan kalian datang?" tanya Lesti yg melihat Tristan dan Rio.
"Lima belas menit yang lalu." jawab Rio.
"Sayang, kamu sedang apa?" tanya Rio kaget yang melihat anak semata wayang nya sibuk memotong wortel yang hampir sepuluh menit dia belum menyelesaikan memotong satu buah wortel.
"Daddy jangan tegur aku dulu, aku sedang konsentrasi." semua orang tertawa melihat keseriusan Putri memotong wortel. Buat mereka itu hal biasa, tapi buat Putri itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri dia bisa menggunakan alat tajam itu.
Tristan menghampiri dan duduk melihat istrinya, dia tersenyum melihat Putri yang sangat kaku memegang pisau. Putri merasa malu ditatap oleh suaminya menyimpan pisau menghentikan aktivitasnya.
"Sayang, kita keliling rumah yu!" ajaknya, Putri menjawab dengan anggukan.
"Bunda, momy aku ikut Tristan dulu ya,"
"Ya sudah sana, oia kamar kalian di lantai atas sebelah kanan ya." jelas Lesti.
Mereka berdua pun berkeliling melihat setiap sudut rumah baru itu, dan berakhir di ruangan yang menjadi kamar mereka berdua.
"Sayang, akhir pekan nanti kita nginep disini ya." ajak Tristan, Putri masih sibuk melihat kamar mereka, memang tidak sebagus kamarnya, tapi dia sudah merasa nyaman berada disana.
"Boleh." jawabnya singkat.
Putri membuka pintu menuju balkon yang mengarah langsung ke kolam renang yang ada di taman belakang. Tristan mengikutinya dan langsung memeluk istrinya dari belakang. Putri yang masih risih belum terbiasa dengan sikap suaminya membalikkan badannya yang berharap Tristan melepaskan pelukannya. Mereka saling berhadapan bukan melepaskan, tapi Tristan makin memeluk erat Putri. Tristan mendekati wajah Putri dan mengecup perlahan bibirnya merah muda itu. Putri yang kaget langsung melepaskan pelukan Tristan. menunduk malu dengan wajah merah.
"Kalau cium boleh 'kan?" kata Tristan, Putri yang merasa tidak enak untuk menolak Tristan biar bagaimanapun kewajiban Putri untuk melayani suaminya. Putri hanya diam dan mengangguk. Tristan kembali mengecup bibir manis Putri dan dengan pelan dan lembut melumaat bibirnya. Putri awalnya merasa risih kemudian jadi menikmatinya.
Ini menjadi ciuman pertama untuk mereka berdua. Putri bersyukur bahwa dia memberikan ciuman pertamanya untuk suaminya begitupun dengan Tristan.
Tok tok tok
"Den, Non, dipanggil nyonya untuk makan malam." kata bi Sari dia adalah asisten baru keluarga Hikaru.
"Iya Bi, kami akan segera turun." jawab Tristan.
"Sayang kita kebawah yu!" Tristan mengecup kening Putri dan memeluk pinggang ramping Putri, sambil berjalan menuju ke ruang makan yang berada di bawah.
"Gimana kalian suka ?" tanya Arta.
"Suka Yah, kamu suka ga, yank?
"Suka." mereka tersenyum bahagia melihat kedua anak mereka yang semakin dekat. Semua pun menikmati makan malam. Jam menunjukan pukul delapan Rio dan Kirana juga kedua anak mereka untuk pamit pulang.
"Bunda, rencananya akhir pekan ini aku dan Putri akan menginap disini,"
__ADS_1
"Dengan senang hati sayang,"
"Kalau begitu kita berdua juga akan menginap disini," kata Rio.
"Oke ... kita akan berkumpul semua." ucap Arya.
Untuk pertama kalinya Putri merasakan naik kendaraan roda dua itu. Setelah berdebat dengan Rio akhirnya Rio mengalah untuk membiarkan putrinya pulang bersama suaminya naik motor. Dia memeluk erat tubuh Tristan, menyadarkan kepalanya di bahu suaminya.
**♥️♥️**
Putri membuka ponselnya banyak pesan masuk dari grup yang berisikan lima orang sahabatnya (termasuk Satya dan Romi), dia lupa tugas ekonomi dari pak Darto.
"Kamu lagi apa sayang?" tanya Tristan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku lupa kalau ada tugas, Kak,"Tristan memghampiri Putri menarik bangku dan duduk disebelahnya.
"Kamu nyalin jawaban siapa?"
"Ini ...." belum sempat Putri melanjutkan Tristan mengambil ponsel dari tangan Putri.
"Kamu harus ngerjain sendiri," tegasnya.
"Tapi kak, aku ga ngerti. Biarkan kali ini aja ya,ya," katanya dengan wajah yang memelas.
"Kalau ga ngeti kamu harus berusaha, sini biar aku ajarkan." walaupun dia jurusan IPA, tapi tristan mengerti semua pelajaran Putri dan perlahan menerangannya.
"Put, ngerti ga? ... Put." dia menoleh kesampingnya melihat Putri tertidur dengan wajah yang di sanggah telapak tangannya.
Kamu di sekolah ngapain aja sih soal semudah ini tidak mengerti, bisik Tristan yang dari tadi menatap wajah manis istrinya. Tristan perlahan menggendong Putri dan menidurkannya di kasur. Selamat tidur cantik, sambil mengecup bibirnya. Dan pada akhirnya dia yang mengerjakan semua tugas Putri setelah itu mengatur jadwal pelajaran keduanya untuk besok.
05.30
Ya ampun tugas gue, teriak Putri yang langsung bangun dari tidurnya, saat hendak turun dari kasur tiba-tiba Tristan menarik tangan Putri hingga jatuh di pelukannya.
"Kak, aku belum menyelesaikan tugasku,"
"Sudahku selesaikan, biarkan aku sebentar saja memelukmu." dengan manjanya Tristan memasukan wajahnya ke tengkuk leher Putri, sambil mencium aroma wangi khas tubuhnya. Putri pasrah sambil menggelus lembut rambut Tristan. Tidak terasa dia kembali tertidur, karena memang biasanya dia tidak pernah bangun sesubuh itu.
"Sayang, bangun," Tristan yang sudah lengkap dengan seragamnya.
"Kok aku tidur lagi sih?" jawabnya yang masih memeluk guling kesayangannya.
"Ayo cepatan bangun, jangan sampe ...."
"Iya aku mandi sekarang!" dengan cepat Putri berlari ke kamar mandi, karena dia tau apa yang akan di ucapkan Tristan.
**♥️♥️**
"Nasi goreng boleh." Putri mengambil piring dan mengisinya dengan beberapa sendok nasi goreng.
"Pake telor ga?"Tristan mengangguk, lalu Putri menyodorkan sepiring nasi goreng. Semua yang ada di meja makan diam, dan menatap ke arah Putri yang dari tadi sibuk melayani suaminya tanpa menyadari semua orang menatapnya. Tristan melihat semua mata memandang mereka tersenyum dengan malu.
"Kalian ga makan?" kata Putri dengan seketika membuat semua orang sibuk mengambil makanan. Kedua orangnya tertawa kecil melihat tingkah orang-orang yang ada di meja itu.
"Tristan hari ini kamu tidak perlu ke kantor, cukup dua atau tiga kali seminggu, kamu mengunjunginya. Daddy tidak ingin pekerjaan kantor membuat sekolahmu terganggu, daddy sudah menyuruh Bimo (yang akan menjadi asisten Tristan) datang langsung kerumah kalau di dia membutuhkan tanda tanganmu,"
"Iya, dad." selesai makan mereka bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Seperti biasa mobil putih itu sudah terpakir di depan pintu rumah, bang jojon sudah siap dan membukakan pintu untuk Putri.
"Sayang, aku duluan ya." pamit Tristan yang sudah siap berada di atas motornya.
"Hati-hati ya, yank." pemandangan ini sudah menjadi biasa di depan bodyguard dan kedua asisten Putri.
"Non, aku senang melihat non Putri sekarang yang lebih ceria." kata Rani. Putri hanya tersenyum mendengar yang Rani katakan. Memang aku sangat bahagia bisa bersama dengan Tristan, katanya dalam hati.
**♥️♥️**
Ketiga wanita itu berjalan masuk kedalam sekolah.
"Hai cantik," Rangga yang menghampiri mereka.
"Pagi Maya." sapanya, Maya memang sekelas dengan Rangga.
"Pagi." jawabnya.
"Put, hari ini ada waktu ga? gue sekarang ada pertandingan basket, ini pertandingan terakhir gue di sini gue harap lo dateng ke sana." kata Rangga sambil menyodorkan tiket bangku VIP untuknya.
"Maaf kak gue ...." belum sempat Putri melanjutkannya.
"Pokoknya, gue tunggu ya!" kata Rangga sambil berlari kecil meninggalkan mereka.
Tanpa disadari Tristan melihat pemandangan itu dari seberang. Dia mengepalkan tangannya, hatinya merasa panas ingin rasanya dia mengumumkan kalau Putri itu istrinya.
"Pagi ...." sapa Putri pada semua teman kelasnya.
"Pagi Putri." jawab mereka.
__ADS_1
"Ceria banget non ga kaya kemaren." goda Sarah, dia hanya tersenyum sambil menyimpan tasnya dan langsung duduk di samping bela.
"Bel, lo kok diem aja," tanya Putri melihat Bela yang memandangi terus ponselnya.
"Tau tuh dari tadi tu anak gitu mulu lagi galau kali," kata Citra. Bela masih diam tanpa suara.
"Bel, nih ...." Satya yang baru datang sambil ngos-ngosan memberikan buku yang membuat ketiga wanita itu saling pandang.
"Hai para bidadari, bro lo habis lari maraton dari mana?" sapa Romi yang baru saja tiba pas-pasan dengan bel berbunyi.
Bela langsung mengambil buku dari tangan Satya tanpa melihat wajahnya. Ketiga wanita itu masih diam dan kaget melihat keduanya. Mata Satya terus memandang Bela, terlihat mata yang penuh harap agar Bela melirik padanya.
"Ayo Bro, duduk!" Romi yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi merangkul bahu Satya menuju ke kursi mereka.
"Lo hutang penjelasan ke kita!!" kata Sarah sambil membalikan badannya.
"Bel, lo sama Satya kenapa?" bisik Putri.
"Tanya aja sendiri sama dia." jawabnya ketus.
Putri langsung melirik ke arah Satya, tidak disangka pria itu dari tadi melihat terus ke arah Bela.
"Bel, lo di liatin tuh ma Satya,"
"Biarin aja, jangan peduliin dia." Putri heran dengan kedua sahabatnya ini, pasti sesuatu terjadi pada mereka berdua pikirnya.
"Gaeeeeesss ... pak Darto ga masuk dia ada seminar di kampusnya jadi jam pelajarannya kosong." teriak ketua kelas yang mengundang sorakan dari seluruh siswa.
"Put, aku duduk di sini sebentar boleh?" kata Satya dan Putri mengiyakan lalu duduk disamping Romi.
"Put, mereka berdua kenapa?" bisik Romi.
"Gue juga ga tau." keduanya terus menatap Bela dan Satya begitu juga dengan Citra dan Sarah berbalik badan menatap tajam keduanya.
"Bel, maafin aku, sumpah aku ga ada hubungan apa-apa sama dia." Bela hanya terdiam tertunduk
Satya memegang tangan Bela yang sontak membuat keempat sahabat mereka berteriak, kalian pacaran?!! teriakan keempatnya membuat semua anak-anak kelas menoleh ke arah Satya dan Bela.
"Waaaaaah ... ada yang cinlok niiiih." teriak Nadya yang membuat semua orang bersorak.
"Cieeee ... selamat yaa." tapi tidak dengan keempat sahabatnya itu menatap tajam yang meminta penjelasan .
Putri dan Romi menarik bangku mereka bergabung dengan mereka, Citra dan Sarah juga sudah membalikan badan mereka kebelakang. Mereka berenam pun berkumpul, Bela masih menundukan mukanya karena malu.
"Jadi kalian maen rahasia-rahasia ni ma kita?" kata Putri.
"Waaah ... parah lo bro, gue temen sebangku lo ga pernah cerita,"
"Jadi gimana bener kalian pacaran?" Sarah.
"Satu-satu donk nanyanya, iya gue sama Bela pacaraan,"
"Sejak kapan?" tanya Putri heran karena yang dia tau selama ini mereka berdua seperti tom and jerry.
"Sejak liburan kemaren,"
"Waah irinya kalian udah pacaran aja, gue jadi pengen punya pacar juga," Citra.
"Ya udah, lo sama gue aja," canda Romi.
"Ogaaah, gue pengen punya pacar yang umurnya di atas gue, kalau sama lo mah sama-sama bocah ingusan." katanya mengundang tawa mereka termasuk Bela yang dari tadi diam.
"Jadi kalian kenapa?" tanya Putri.
"Tau tuh baru aja jadian dia udah tebar pesona sama cewek lain, nyesel gue punya pacar kaya lo yang suka genit ma cewek," kata Bela yang mulai membuka suaranya.
"Dia temen smp aku yank, makanya tadi dia nengur masa iya ada orang yang nengur aku cuek," jelasnya.
"Tapi ga usah pake pegang tangan trus senyum-senyum segala,"
" Aku cuma salaman sama dia. Ayolah yank jangan kaya gini, janji aku ga akan pernah megang tangan cewek lain selain kamu." keempat sahabatnya itu melihat perdebatan mereka berdua, dan langsung pergi menuju kantin meninggalkan sepasang kekasih yang menurut mereka terlalu lebay.
"Putri, Citra, Sarah tungguin gue!" Bela menyusul di ikuti Satya dari belakang.
.
.
.
.
~Bersambung~
TERIMAKASIH ATAS SUPPORT SEMUANYA
JANGAN LUPA KLIK TANDA LOVE DAN LIKE NYA YA 😇😇
__ADS_1