Dia Suamiku

Dia Suamiku
Ujian


__ADS_3

Sudah lima hari ini Tristan mengalah setiap pulang sekolah dia pergi kerumahnya setelah mengantarkan Putri. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Tristan belum juga pulang ke rumah. Putri mencoba menelpon suaminya tapi tak kunjung ada jawaban. Akhirnya dia menelpon bunda Lesti, tapi bunda bilang Tristan hari ini tidak pulang kerumah. Putri semakin khawatir dengan suaminya.


tok tok tok


"Sayang, momy masuk ya."


"Masuk aja mom, ga di kunci."


"Tristan belum pulang juga? Tadi bunda Lesti telpon momy, katanya kamu sangat khawatir dengan Tristan."


"Iya momy, aku takut kalo kak Tristan kenapa-napa." Putri memeluk pinggang Kirana.


"Kita makan malam dulu yuk!" bujuk kirana putri hanya menggelengkan kepala.


"Aku mau nungguin kak Tristan."


"Ya sudah, momy turun kebawah dulu ya, daddy kamu sudah menunggu di ruang makan. Ingat kata momy, kamu harus makan ya." Putri megangguk lalu dia merebahkan tubuhnya dan mengambil ponsel mencoba mengubungi suaminya lagi.


"Halo sayang, maafkan aku!" terdengar suara yang berat diseberang sana.


"Kamu dimana?"tanya Putri cemas.


"Aku ketiduran di kantor, maaf sayang aku segera pulang sekarang." Tristan mematikan ponsel dengan cepat melajukan mobilnya.


Putri tenang sudah mendengar suara suaminya, dia juga merasa bersalah karena sudah membuat suaminya menunggu di luar rumah ketika dia belajar bersama. Tidak butuh waktu lama Tristan datang, masih dengan pakaian sekolahnya.


"Sayang, maafkan aku!" Putri turun dari kasur dan memeluk erat suami.


"Aku yang minta maaf, maafkan aku yaa sudah membuatmu harus menunggu di luar rumah selama aku belajar." dia mencium kening sang istri.


"Ga apa-apa sayang, oia bagaimana kamu sudah bisa mengerjakan soal-soal latihan yang di kasih kak Rangga?" Putri melepaskan pelukannya menatap Tristan tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya. Tristan menarik nafas panjang, dia tau kalau istrinya sangat sulit mencerna pelajaran. Sia-sia selama ini dia mengungsi, tapi hasilnya dia tidak mengerti juga pikir Tristan.


"Ya udah aku mandi dulu ya, selesai mandi aku akan mengajarkanmu." sebari suaminya mandi dia ke bawah untuk mengambil makanan untuknya dan sang suami. Putri sudah siap menunggu suaminya di sofa. Dia meletakan dua piring nasi juga dua gelas susu di meja. Malam itu hujan sangat lebat. Selesai makan Tristan langsung mengajarkan istrinya, karena waktu ujian yang tinggal satu hari lagi.


"Sayang, kamu belum ngerti juga?" tanya Tristan dengan nada yang sangat lembut menahan emosinya. Sudah ke tiga kali ya dia menerangkan padanya tapi Putri tak kunjung mengerti.


"Kamu cape yaa? ya udah aku belajar sendiri aja, mending kamu istirahat." Putri melihat wajah lelah suaminya.


"Ga kok yank kita lanjut aja, aku ngajarin kamu aja kamunya ga bisa-bisa apalagi belajar sendiri." Putri menatap Tristan dan tersenyum manja pada suaminya.


cup ... cup, Tristan yang tidak tahan melihat wajah lugu istrinya mengecup bibir manis nya berulang kali. Putri masih menutup matanya menikmati kecupan suaminya, dan dia berenti melihat wajah lucu Putri dan melayangkan jitakan kecil ke jidatnya.


"Belajar, setelah itu aku akan berikan lebih lama lagi." Putri cemberut dan langsung mengerjakan contoh soal-soal yg diberikan kak Rangga untuk latihan.


"Bereeeees " Putri mengangkat kedua tangan meluruskan pinggangnya.


"Saya ...." dia terhenti melihat Tristan sudah tertidur pulas di sofa.


"Kamu pasti cape ya sayang," Putri mengecup bibirnya dan kembali belajar.


06.00


Tristan terbangun dari tidurnya mendengar suara alarm yang berasal dari ponsel Putri dan mematikannya. Dia tidak sadar sudah tertidur sofa dan Tristan melihat Putri yang masih tidur di atas meja.


"Sayang, bangun,"


" Ya pak, aku mengerti." Putri mengigau entah apa yang dia mimpikan. Tristan tertawa geli melihatnya. Dia menggendong tubuh mungil itu ke atas kasur. Dan dia pun melanjutkan tidurnya memeluk sang istri mumpung hari ini hari libur pikirnya.


***


"Sayang, kenapa anak-anak belum juga turun?" tanya Rio yang tidak melihat dua anak mereka di meja makan.


"Mereka masih tidur, mungkin semalaman mereka belajar tadi aku sudah mengecek kamar mereka."


"Ya sudah bi, nanti jam sembilan kirimkan makanan ke kamar mereka" titah Rio.


"Baik tuan."


"Bi, kami berdua akan pergi memancing bersama. Arya tolong sampaikan pesan ini kalau mereka sudah bangun ya." ucap Kirana.

__ADS_1


"Iya nyonya." jawabnya.


Putri terbangun dari tidurnya, dia terus menatap Tristan yang masih memeluknya.


"Apa aku setampan itu?" Tristan menyadari kalau istrinya dari tadi sedang menatapnya.


"Emmm ... iya suamiku sangat tampan membuatku sangat jatuh cinta padanya." kata Putri dan Tristan langsung membuka matanya dan ******* bibir manis Putri. Entah berapa kali dia merasakan bibir istrinya itu yang jelas dia selalu menikmatinya.


tok tok tok


"Non Putri, ini bi Inah." Putri langsung turun dari ranjang dan membuka pintu. Bi Inah sudah membawakan dua piring nasi goreng dan dua gelas susu coklat. Putri mengambil nampan dari tangan bi Inah.


"Makasih ya, bi."


"Sayang, sarapan dulu yuk!"


"Aku mau ke kamar mandi dulu yank, kamu makan duluan aja." Putri pun menyantap makanan nya sambil membuka kembali soal-soal yang dia kerjakan semalam.


"Udah selesai semua?" tanya Tristan yang baru saja keluar.


"Iya tinggal kamu periksa." Tristan menyantap makanannya sambil memeriksa kertas soal yang sudah selesai dikerjakan istrinya. Dia tersenyum bangga, karena sang istri mengerjakannya dengan sempurna.


"Bagaimana sayang?" Putri dari tadi masih penasaran menunggu hasilnya.


"Betul semua, kalau hasil ujianmu seperti ini aku akan mengajakmu kencan kemanapun kau mau." Putri memeluk sang suami, saking bahagianya karena mereka memang tidak pernah merasakan kencan. Putri pun menghabiskan hari liburnya dengan belajar begitu juga Tristan.


****


" Pagi momy, pagi Daddy," sapa Putri sambil mencium pipi kedua orang tuanya.


"Duuuh, semangat banget sih anak daddy,"


"Iya donk dad ,aku semangat hari ini untuk ujian pertamaku." semua tersenyum melihat Putri yang begitu ceria, dengan cepat dia menghabiskan sarapannya dan mengajak Tristan untuk lebih pagi datang ke sekolah. Rani dan Maya heran dengan kelakuan nonanya itu.


"Dia terlalu bersemangat dihari pertamanya merasakan ujian." kata Maya yang membuat Rani tertawa. Tristan pun menuruti sang istri untuk berangkat lebih awal.


"Biar aku bisa ngapalin dulu dikelas." Tristan tersenyum mendengarnya. Selama perjalanan Putri masih membuka buku mengulang pelajaran yang sudah di bacanya kemaren. Tristan memakirkan mobilnya. Parkiran masih tampak sepi, dia memandang terus Putri yang tidak sadar mereka sudah sampai.


"Serius bnget sih bacanya."


"Oh udah sampai ya, ya udah aku duluan ke kelas ya." Putri langsung turun meninggalkan Tristan.


"Ada apa dengannya hari ini?" keluh Tristan dan keluar dari mobilnya. Sampai dikelas Putri langsung menuju tempat duduknya membuka kembali buku yang dibacanya tadi. Tristan menyusul istrinya dan masuk kedalam kelas karena memang kelas masih kosong .


"Kak Tristan, kenapa kesini?" Tristan tidak menjawab dan duduk disampingnya.


"Lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggumu." Putri kembali membaca bukunya dan Tristan terus menatap Putri yang sangat serius belajar. Satu persatu siswa sudah mulai masuk ke dalam kelas, mereka tersenyum melihat Tristan yang berada di dekat Putri.


"Kak TRISTAN! ngapain disini?" tanya Bela yang baru saja tiba dengan Satya.


"Ngeliatin bidadari lagi baca, ya udah sayang aku balik ke kelas ya." pamit Tristan, Putri hanya mengangguk tanpa melihat suaminya.


"Serius amat sih non." goda Bela yang iseng menutup buku Putri.


"Ih reseee Jangan gangguin gue." Bela baru pertama kali melihat Putri yang serius belajar Bela pun saling pandang dengan Satya. Citra, Sarah dan Romi yang baru saja datang ingin mengagetkan Putri terhenti melihat Bela yang memberi isyarat jari yang menempel di mulut, mereka pun duduk di bangku masing-masing.


"Bereeeeeeeeees." teriak Putri dengan semangat, kelima sahabatnya melihat aneh padanya.


"Put, lo ga apa-apa 'kan?" tanya Bela khawatir.


"Emang gue, kenapa gue ga sabar mau ujian." mereka saling pandang dengan apa yang Putri katakan.


"Semangat banget, bu." goda Citra pada sahabatnya.


"Harus donk ini 'kan hari pertama gue ngerasain yang namanya ujian." kata Putri semangat.


'hahahahahahahahaha,' mereka berlima tertawa.


"Sekarang aja lo semangat, nanti kalo udah ngerasain lo pengen minggat." kata Romi yang masih menertawakan Putri. Putri tidak mengerti apa yang di maksud Romi.

__ADS_1


"Put, nanti kalo lo ga bisa gue punya cara jitu." ucap Satya yang bikin Putri penasaran.


"Apaaaa ?" katanya dengan serius menatap Satya.


"Lo itung kancing baju." hahahahahahahahahaha semua ikut tertawa melihat keseriusan Putri.


"Salan lo." Putri mendengus kesal.


Bel berbunyi semua bersiap di meja masing-masing. Lembar soal sudah di bagikan pada setiap murid. Putri yang tersenyum menerima soalnya langsung menarik senyumnya melihat soal-soalnya yang menurutnya sangat sulit. Bela tertawa kecil melihat reaksi sahabatnya itu.


Apakah ujian sesulit ini? pikir Putri, dia terus membulak-balik lembaran soal dan belum satupun ada yang dia kerjakan. Pengan pasrah Putri akhirnya mengisi lembaran soal itu.


"Yang sudah kertasnya bisa dikumpulkan di depan." teriak pengawas yang membuat Putri dengan cepat mengerjakan soal dan mengumpulkannya didepan. Putri dengan lemas menuju bangkunya, sahabat Putri yang melihatnya seperti itu tertawa dan menghampirinya.


"Jadi gimana ujiannya nona Putri yang cantiik," goda Citra, Putri hanya diam menopang dagu dengan kedua tangannya.


"Kok lesu amat? Tadi aja lo semangat 45," kata Romi tertawa.


"Kalian semua kok ga bilang kalo ujian itu bakal sesulit ini." katanya dengan lesu.


"Lo terlalu bersemangat ga tega gue bilangnya." Satya.


"Kalo kaya gini mending gue homeschooling aja deh," katanya pasrah.


"Jangan patah semangat sayang, masih ada emot hari lagi ujian," kata Sarah merangkul Putri.


"Apaaaa empat hari lagi?! Berarti gue harus belajar terus tiap malam selama empat hari?" mereka semua tertawa melihat reaksi Putri yang kaget.


"Put, laki lo tuh." Bela melihat Tristan yang sudah menunggu di depan pintu.


"Apa yang gue harus bilang sama kak Tristan kalau tadi gue isi jawabnya ngitung kancing kaya yg lo bilang, Sat."


"Lo ngikutin kata gue? Sumpah tadi gue becanda, Put,"


"Emang lo ga bisa ngerjainnya." tanya Bela.


"Bisa sih, tapi cuma setengahnya, setengah lagi gue hitung kancing." katanya polos.


Hahahahahahaha tawa mereka semua.


"Ga apa-apa Put, kali-kali lo harus menguji adrenalin lo," kata Romi merangkul Putri dan berjalan keluar di ikuti yang lainnya.


"Rom, lakinya natap sinis lo tuh." kata Satya yang melihat mata tajam Tristan menatap Romi, dengan sigap Romi langsung melepaskan rangkulannya dan tersenyum lebar pada tristan.


"Kok kamu lama ngapain aja?" tanya Tristan pada istrinya.


"Tadi habis ngebahas soal ujian,"


"Gimana ujiannya?" deg ... Putri binggung apa yang harus dia katakan.


"Bisa kok kak, gampaaaang." temannya yang ada di belakang mereka tertawa mendengar Putri yang berbohong.


.


.


.


.


.


~Bersambung~


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN SEMUANYA


TEKAN ❤️ DAN LIKE NYA YA


SELALU TERSENYUM DAN BAHAGIA 😇😇

__ADS_1


__ADS_2